Sakit

1059 Kata
Sasya bangun dengan memegang kepalanya, entah kenapa dia merasakan pusing yang sangat hebat, hingga dia tidak sanggup berdiri. Sasya sampai di kos tadi malam diantar Juna, karena Juna tidak bisa membiarkan Sasya pulang ke Bandung sendiri. Setelah perdebatan panjang, karena Sasya menolak untuk tinggal di Jakarta beberapa hari lagi sampai keadaan hatinya membaik, akhirnya Juna menyerah dan mengizinkan Sasya pulang ke Bandung dengan syarat kalau dia sendiri yang mengantarnya. Sasya dengan terpaksa menyetujui syarat Abangnya itu. Sampai di kos Sasya, Juna langsung menyuruh Sasya istirahat, dan dia pun segera kembali ke Jakarta. Dan pagi ini Sasya bangun hendak bersiap ke kantor, tapi dia tidak sanggup berdiri. "Sya, lo dah bangun belum?" Teriak Hana dari luar kamar Sasya. Sasya tidak sanggup berdiri, dia hanya terdiam sambil memegangi kepalanya. "Sya..." Hana akhirnya membuka pintu kamar Sasya yang ternyata tidak dikunci. Hana melihat Sasya yang masih terbaring, lalu menghampirinya. "Sya, lo nggak papa?" Tanya Hana. Sasya tidak menjawab. Dia masih memegangi kepalanya. Hana mendekati Sasya. Dia panik melihat wajah Sasya yang begitu pucat. Dia pun lalu memegang kening Sasya. "Astaga, Sya. Badan lo panas banget. Lo nggak papa? Mau gue antar ke dokter?" "Kepala gue pusing banget." Kata Sasya dengan lemas. "Mau ke dokter?" "Nggak usah, Han. Tolong ambilin obat sakit kepala aja di laci meja gue." Pinta Sasya. "Tapi lo belum makan, gue ambilin sarapan dulu ya." Kata Hana, lalu beranjak ke dapur mengambilkan Sasya makanan. Beberapa saat kemudian Hana kembali masuk ke kamar Sasya dengan membawa satu nampan berisi nasi goreng dan air putih. "Makasih, Han." "Ya sudah, gue tinggal siap-siap dulu ya. Lo nggak usah kerja dulu hari ini." Kata Hana. Sasya mengangguk. Sasya memakan sarapannya, tapi dia hanya bisa menelan 2 sendok nasi saja, perutnya terasa mual. Dia lalu meminum obat sakit kepala yang sudah disiapkan Hana, lalu dia merebahkan dirinya di kasur lagi. Beberapa saat kemudian Hana kembali masuk ke kamar Sasya, dia melihat Sasya sudah memejamkan matanya kembali. Hana memegang kening Sasya sekali lagi, masih panas. Hana mengkhawatirkan keadaan Sasya "Sya, gue berangkat dulu ya. Kalau berasa sakit banget lo langsung telepon gue ya." Bisik Hana di samping Sasya. Sasya mengangguk. Lalu Hana keluar dengan membawa nampan berisi nasi goreng yang tidak dihabiskan oleh Sasya. "Nanti siang gue bawain makanan lagi." Kata Hana. Sasya mengangguk dengan mata masih terpejam. Siang harinya, Hana kembali dengan membawa makan siang untuk Sasya. Dia memasuki kamar Sasya, dan melihat Sasya masih terbaring lemas. Hana memegang kening Sasya lagi. Masih panas. Hana menyiapkan makanan untuk Sasya. Lalu membantu untuk duduk agar Sasya bisa makan dan meminum obatnya lagi. "Sya, makan dulu ya. Ini gue bawain obat penurun panas. Dari pagi panas lo belum turun-turun." Sasya menuruti perintah Hana. Dia mencoba membuka mulutnya dan memakan nasi yang disuapi Hana. Tapi sama seperti pagi tadi, dia hanya bisa memakan 2 sedok nasi karena perutnya masih terasa mual. Hana tidak bisa memaksa Sasya. Karena wajahnya terlihat sangat pucat saat menahan rasa mualnya. Dia lalu menyuruh Sasya berbaring lagi. Sasya langsung memejamkan matanya. "Obatnya jangan lupa diminum ya, Sya." Hana mengingatkan Sasya. Sasya mengangguk. "Gue balik kantor lagi ya. Kalau ada apa-apa langsung telepon gue." Sasya mengangguk lagi. Dia benar-benar lemas hingga tidak sanggup untuk berbicara. Saat Hana hendak keluar kamar Sasya, ponsel Sasya berbunyi. Hana mengambil ponsel Sasya, dan melihat sekilas sebelum diberikan pada Sasya. Riki mengirim pesan pada Sasya. Hana melihat Sasya sudah tertidur. Hana lalu berinisiatif untuk membuka pesan dari Riki itu. " Gimana keadaan kamu? Aku harap kamu nggak terus-terusan kepikiran soal pacar kamu kemarin." Hana mengerutkan keningnya. Dia penasaran bagaimana Riki bisa tahu kalau kemarin Sasya bertemu dengan Dafa. Dan apa yang sebenarnya terjadi. Apa Sasya sempat bertemu Dafa. Hana semakin penasaran karena Sasya belum cerita bagaimana kelanjutannya saat dia mengejar Dafa ke parkiran, dan dia sendiri juga lupa menanyakannya, karena pagi tadi dia melihat Sasya sudah tidak berdaya. "Kak, ini Hana. Sasya sakit, panas tinggi, tapi dia menolak untuk diajak ke dokter. Kakak bisa bantu aku membujuk Sasya. Aku khawatir sekali." Hana memberanikan diri membalas pesan Riki, karena dia sangat mengkhawatirkan sekali sahabatnya itu. Setelah membalas pesan Riki, Hana lalu menyimpan kembali ponsel Sasya, dan keluar dari kamar Sasya untuk kembali ke kantor. Di tempat lain, Riki membaca pesan yang ditulis Hana dari ponsel Sasya. Lalu secepat kilat dia menyambar jasnya dari kursi dan segera meninggalkan ruangannya. Riki mengemudikan mobilnya dengan kencang, dia panik karena mendengar Sasya sakit. Tak butuh waktu lama dia sampai di kos Sasya. Riki turun dari mobil lalu langsung menuju ke kamar Sasya. Dia mengetuk pintu kamar Sasya. Setelah beberapa saat belum juga ada jawaban dari Sasya. Riki lalu membuka pintu kamar Sasya yang tidak dikunci. "Sya..." Panggil Riki. Sasya bergerak, Riki mendekati Sasya. Betapa terkejutnya Riki saat melihat Sasya sudah bermandikan peluh, dan meringis karena kesakitan. "Sya, kamu nggak papa?" Tanya Riki panik. Sasya tidak menjawab. Rik memegang kening Sasya. Dia pun terlonjak kaget. Tanpa pikir panjang Riki lalu menggendong Sasya dan membawanya keluar dari kamar. Tak lupa dia menyambar ponsel Sasya untuk memberi kabar pada Hana. Riki membawa Sasya masuk ke mobilnya lalu membawanya ke Rumah Sakit terdekat. Sampai di Rumah Sakit, Riki membawa Sasya ke ruang IGD. Dia menyerahkan Sasya pada dokter dan suster yang dengan sigap langsung memeriksa keadaan Sasya. Riki menunggu di ruang tunggu. Sambil menunggu dia mengetik pesan pasan Hana menggunakan ponsel Sasya untuk memberitahukan pada Hana bahwa Sasya sedang berada bersamanya di Rumah Sakit. Beberapa saat kemudian, dokter memanggil Riki untuk menjelaskan keadaan Sasya. "Gimana keadaan Sasya, Dok?" "Maaf, kalau boleh tahu anda siapanya ya?" Tanya dokter pada Riki. "Saya temannya, Dok." Jawab Riki. "Hmm, begini, Pak. Pasien tidak ada penyakit serius. Kalau menurut saya, mungkin pasien sedang banyak pikiran hingga tubuhnya drop, pasien juga mengalami dehidrasi, jadi kami pasang infus. Dan juga pasien mengalami maag akut. Apa sebelumnya pasien punya riwayat penyakit maag?" "Maag? Saya kurang tahu, Dok." "Ya sudah kalau begitu biarkan pasien istirahat dulu disini sampai infusnya habis. Sambil kami terus pantau apakah perlu rawat inap atau tidak." "Oh iya, Dok. Terimakasih. Saya boleh menemani di dalam kan, Dok?" "Iya, silahkan." "Terimakasih, Dok." Riki lalu masuk menemui Sasya yang sedang terbaring lemas dengan tangan sudah terpasang infus. Riki duduk di samping kasur Sasya. Dia menggenggam tangan Sasya. Tangan satunya terulur ke wajah Sasya, mengusap pipi Sasya dengan lembut karena tidak mau membangunkan Sasya. "Segitu terpukulnya kamu, Sya." Kata Riki pelan. Dia lalu mencium kening Sasya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN