Sasya membuka matanya perlahan. Dia melihat langit-langit sebuah ruangan yang tidak dia kenal. Dia melihat sekeliling, sebuah ruangan yang juga tidak dia kenal.
Sasya menengok ke sebelah kanannya, dia melihat ada botol infus dengan selang yang terulur ke tangannya. Kepalanya kembali berputar. Dia memegangi kepalanya.
"Morning, Princess." Sapa seorang laki-laki dari sebelah kiri Sasya.
"Riki." Kata Sasya pelan.
Riki yang sedang duduk di samping kasur Sasya tersenyum melihat Sasya yang sudah tersadar.
"Kamu udah bangun?"
"Aku di Rumah Sakit?" Tanya Sasya.
Riki mengangguk.
"Gimana bisa aku disini?" Tanya Sasya bingung.
"Kamu lupa? Aku yang gendong kamu." Jawab Riki.
Sasya mengerutkan dahinya. Dia benar-benar tidak sadar bagaimana dia bisa sampai disini.
"Sudah nggak usah dipikirin. Yang penting sekarang kamu istirahat, biar cepat sembuh." Kata Riki mengusap pucuk rambut Sasya.
"Kak, jangan bilang Bang Juna ya." Pinta Sasya.
"Iya, aku tahu." Jawab Riki sembari berdiri. "Sudah kamu tidur lagi, aku disini kalau kamu butuh sesuatu." Kata Riki lalu merapikan selimut Sasya.
"Kamu kenapa baik banget sih sama aku?" Tanya Sasya pelan, tapi masih bisa di dengar Riki.
"Kenapa? Biar kamu baper." Jawab Riki sambil tersenyum manis.
"Kalau kamu kayak gini aku bisa beneran baper." Kata Sasya semakn pelan. Lalu memalingkan wajahnya dari Riki.
"Apa?" Tanya Riki. Kali ini Riki tidak mendengar dengan jelas.
Sasya menggeleng. Riki lalu duduk di tempatnya yang tadi.
Sesaat kemudian pintu kamar Sasya dibuka oleh seseorang hingga menimbulkan suara kencang. Riki dan Sasya seketika langsung menoleh ke arah pintu bersamaan.
"Sasya, lo nggak papa kan?" Teriak Hana sambil berlari menghampiri Sasya. Hana langsung memeluk tubuh Sasya sambil menangis.
"Gue nggak papa, lo nggak usah lebay deh." Kata Sasya sambil mengelus punggung sahabatnya yang sedang menimpa tubuhnya itu.
Hana lalu melepas pelukannya. Dia berdiri di samping Riki.
"Gue langsung ijin pulang waktu Kak Riki bilang bawa lo ke Rumah Sakit karena pingsan."
"Makasih ya udah khawatir sama gue." Kata Sasya.
Hana memukul lengan Sasya pelan.
"Auw." Pekik Sasya.
"Jelas gue khawatir lah, dari pagi sudah lemas, bilang mual sampai nggak mau makan. Gue di kantor sampai nggak konsen kerja tahu nggak?" Kata Hana.
"Maaf ya. Sekarang lo lihat kan gue nggak papa."
"Sampai dirawat disini ya berarri lo kenapa-napa, Quanesya Maharani." Kata Hana lagi sampai memanggil nama lengkap Sasya karena kesal.
"Sasya nggak papa, tadi juga dokter bilang dia sudah boleh pulang, tapi aku yang minta dia dirawat disinI biar dipantau semalam lagi. Kalau sudah benar sehat baru besok pulang." Kata Riki menjelaskan.
"Apa?!" Teriak Sasya dan Hana bersamaan.
Riki memasang wajah tidak bersalah.
"Sasya." Panggil seseorang yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Dafa? Ngapain kamu disini?" Tanya Sasya.
Riki dan Hana bersamaan melihat ke arah pintu.
"Daf, lo datang? " Kata Hana lalu menghadap Sasya. "Gue yang ngabarin Dafa kalau lo di Rumah Sakit." Kata Hana lagi.
"Sepertinya kalian berdua perlu bicara." Kata Riki.
Riki lalu memberikan kode pada Hana untuk ikut dengannya keluar dari kamar. Hana pun mengikuti Riki dari belakang.
Tinggalah Sasya dan Dafa berdua di kamar. Sasya mencoba untuk duduk, Dafa dengan sigap membantunya. Menaikkan kasur Sasya, memberikan bantal di punggung Sasya agar Sasya merasa nyaman. Sasya hanya diam saja.
"Kamu mau ngapain kesini?" Tanya Sasya.
"Aku cuma mau lihat keadaan kamu saja." Jawab Dafa.
"Sudah kan? Kamu sudah lihat aku baik-baik saja. Sekarang kamu boleh pergi."
"Sya, aku minta maaf. Aku sadar aku salah. Aku juga nggak akan jelasin apa-apa karena kamu juga pasti nggak akan percaya sama aku." Kata Dafa lalu memegang tangan Sasya.
Sasya masih terdiam.
"Aku tahu kamu lihat aku sama Mira kemarin. Aku juga lihat kamu pergi sama Riki. Tapi itu nggak seperti yang kamu pikirkan."
"Memang apa yang aku pikirkan? Kalau kamu terpkasa menerima ciuman dari Mira karena kamu tidak bisa menolak?"
"Sya, aku menolak. Aku sendiri kaget waktu dia cium pipi aku, aku coba sabar karena aku ingin memberitahunya di dalam mobil bahwa apa yang dia lakukan itu salah. Tapi dia malah cium aku lagi, saat itu juga aku langsung melepasnya. Dan saat itu juga aku lihat Riki meluk kamu."
"Aku nggak bisa, Daf. Aku nggak bisa terus-terusan kayak gini. Aku nggak bisa terus berpura-pura baik-baik saja saat kamu dekat dengan perempuan lain. Aku nggak kuat, Daf..."
Tangis Sasya pecah. Dafa mencoba memeluk Sasya, tapi Sasya langsung menjauh. Dafa sadar dia telah menyakiti Sasya terlalu dalam. Dia sangat menyesal.
Sementara di luar, Riki dan Hana duduk di kantin sambil memesan minuman.
"Kamu sudah bawakan baju gantin Sasya kan"? Tanya Riki pada Hana.
"Sudah, Kak." Jawab Hana.
Lalu pelayan datang membawakan minuman mereka.
"Terimakasih." Kata Riki dan Hana bersamaan ada pelayan itu.
"Sebenarnya Sasya kenapa sih? Pasti terjadi sesuatu deh antara dia sama Dafa. Apa dia lihat Dafa dan Mira lagi ngapain gitu ya, makanya dia sampai sakit gini." Kata Hana mencoba menebak sambil mengaduk-aduk es tehnya.
"Memang Sasya sering gini?" Tanya Riki. Dia sadar kalau Hana belum mengetahui kejadian yang sebenarnya.
"Iya, Sasya kalau kepikiran tuh pasti sampai sakit, maag nya kumat. Setiap habis berantem sama Dafa pasti dia sakit." Jawab Hana.
"Berantem karena hal yang sama?" Tanya Riki lagi.
"Dafa itu sebenarnya anak baik. Dia baik sama semua orang. Kekurangannya cuma satu, dia tidak bisa menolak, termasuk sama perempuan-perempuan yang mendekati dia."
"Jadi Dafa sering selingkuh?"
"Bukan selingkuh, dia cuma tidak bisa menolak perempuan yang mendekati dia. Dia selalu berpikir bahwa dia menganggap semuanya sama, hanya teman. Tapi yang dipikirkan Sasya jelas beda."
"Kalau dia menganggap semua sama berarti Sasya juga sama. Nggak ada bedanya dong pacar dengan teman." Kata Riki.
"Itu yang sering Sasya bilang, kalau dia bukan perempuan yang spesial buat Dafa, karena yang Dafa lakukan ke dia sama kayak yang dia lakukan ke perempuan lain, harusnya pacar dapat perlakuan yang beda dong dari perempuan lain." Kata Hana.
Tanpa sadar Hana telah menghabiskan satu gelas es teh karena bercerita terlalu semangat. Dia mengaduk-aduk es batu yang tersisa di gelasnya.
"Mau tambah lagi minumannya?"
"Hehe, boleh, Kak. Aku haus." Jawab Hana cengengesan.
Riki lalu memesan satu gelas es teh lagi untuk Hana.
"Kak Riki, aku boleh tanya nggak?" Tanya Hana dengan hati-hati.
"Boleh." Jawab Riki singkat.
"Kak Riki suka sama Sasya?"
"Hm." Jawab Riki. Lalu dia meminum es tehnya.
"Hah?" Hana terkejut.
"Kenapa?" Riki menatap Hana.
"Tunggu. Hm itu maksudnya apa? Kak Riki suka sama Sasya?"
"Iya, aku suka sama Sasya."
"Hah?" Hana terkejut untuk yang kedua kalinya.
"Kurang jelas?"
"Maksud aku, Kak Riki tetap suka sama Sasya walaupun Kak Riki tahu Sasya sudah punya pacar?"
"Iya, memang kenapa?"
"Sejak kapan, Kak? Sudah lama? Soalnya kan setahu aku Sasya pacaran sama Dafa sejak mereka SMA."
"Entahlah. Aku juga nggak tahu sejak kapan aku suka sama Sasya." Kali ini Riki yang menghabiskan es tehnya. Dan mengaduk-aduk es batu yang tersisa di gelasnya.
"Mau pesan lagi, Kak?" Tanya Hana.