Sakit 3

1110 Kata
Dafa bepapasan dengan Riki dan Hana saat keluar dari kamar Sasya. Dafa menatap Riki. Hana yang berada di tengah langsung menghindar. Dia masuk ke kamar Sasya lebih dulu. "Bang, aku titip Sasya ya. Dia masih marah. Aku coba kasih dia waktu biar tenang dulu." Kata Dafa. "Ya." Jawab Riki lalu menepuk pundak Dafa. "Aku pamit, Bang." Pamit Dafa. "Oke. Hati-hati." Jawab Riki. Riki masuk ke kamar Sasya. Kamar VIP yang sengaja dipilih Riki agar Sasya bisa beristirahat dengan nyaman. Dia melihat Hana sedang mengusap-usap rambut Sasya yang sedang menangis. Riki mendekati Sasya, berdiri di samping Hana. "Kamu harus kuat, jangan jadi perempuan lemah. Lakukan apa yang membuat kamu bahagia, tinggalkan apa yang membuat kamu menangis." Kata Riki. Lalu berjalan menuju sofa dan duduk di situ. Sasya memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian Sasya tertidur. Hana merapikan selimut Sasya, lalu mengusap pipi Sasya. "Kak, Sasya sudah tidur. Kakak mau disini atau aku saja?" Tanya Hana. "Biar aku yang jaga Sasya. Kamu pulang aja istirahat." Jawab Riki. "Ya sudah kalau gitu, aku pamit sekarang mumpung belum kemalaman. Kalau Sasya butuh apa-apa semua sudah aku siapin di tas yang sudah aku simpan di lemari." Jelas Hana. "Iya, terimakasih, Han." "Iya, aku pamit ya, Kak." "Hati-hati." Jawab Riki. Riki duduk sambil memegang tangan Sasya. Tak berapa lama dia meletakkan kepalanya di kasur Sasya. Riki pun tertidur sambil masih memegangi tangan Sasya. Riki terbangun karena merasakan tangan Sasya yang terus bergerak. Dia melihat Sasya yang sedang berusaha mengambil minum yang ada di meja samping kasur. Riki lalu bangun dan membantu Sasya mengambilkan gelas berisi air putih itu. "Kenapa nggak minta tolong?" Tanya Riki sambil menyerahkan gelas ada Sasya. "Aku nggak mau membangunkan kamu." Jawab Sasya. "Terus gunanya aku disini untuk apa?" Riki sedikit kecewa. "Maaf aku nggak mau merepotkan kamu." Kata Sasya. Lalu dia menyerahkan kembali gelas yang sudah diminumnya pada Riki. "Kalau nggak mau merepotkan jangan sakit." Kata Riki. "Siapa juga yang minta kamu bawa aku kesini?" "Jadi kamu mau Juna tahu, dan dia yang bawa kamu ke Rumah Sakit?" Sasya terdiam. "Aku mau pulang." Kata Sasya. "Pulang ke rumah Juna?" Sasya mengangguk. "Istirahat dulu semalam disini. Besok baru aku antar kamu pulang ke Jakarta." Kata Riki. "Hutangku semakim banyak. Apalagi kamu kasih aku kamar VIP kayak gini, entah kapan aku bisa melunasinya... Huaaaa..." Sasya lalu menangis dengan kencang. "Eh, kamu kenapa?" "Aku nggak mau berhutang sama kamu seumur hidupku. Huaaaa..." "Ssssttt, siapa bilang aku suruh kamu ganti biaya Rumah sakit ini? Aku yang minta kamu dirawat disini, jadi aku yang akan bayar semua biaya Rumah Sakitnya, aku nggak akan minta ganti kamu." Kata Riki dengan panik karena Sasya masih menangis dengan histeris. "Beneran?" Tanya Sasya yang langsung berhenti menangis. "Iya. Aku nggak akan minta kamu ganti biaya Rumah Sakit ini." "Kamu serius? Mana ponsel aku?" Tanya Sasya lagi. "Ponsel? Buat apa?" Tanya Riki bingung. "Mau rekam pernyataan kamu tadi. Kalau kamu yang bayar biaya Rumah Sakit ini tanpa perlu aku ganti." "Astaga, iya nggak usah direkam. Aku janji nggak akan minta kamu ganti biaya Rumah Sakit ini." Sasya tersenyum. "Puas?" Tanya Riki dengan kesal. "Hahaha..." Sasya tertawa puas. Riki menggelengkan kepalanya. "Aku khawatir kamu nggak sakit, tapi stress." Kata Riki. Sasya memukul lengan Riki dengan kencang karena kesal. Sasya lalu memainkan ponselnya setelah membuat drama tadi bersama Riki. Dia merasa sangat bosan karena hanya bisa duduk diam di kasur. Tiba-tiba perutnya terasa lapar, karena belum makan dari pagi. "Kamar VIP nggak dapat makan ya?" Tanya Sasya. "Kamu lapar?" Sasya mengangguk. "Aku tanya suster dulu." Riki lalu keluar menghampiri ruang suster. Tak lama dia kembali ke kamar Sasya. "Aku sudah bilang, sebentar lagi makanan akan dikirim kesini." Kata Riki lalu duduk kembali di kursinya yang tadi. 15 menit kemudian seorang pelayan datang membawakan makanan untuk Sasya. Riki menyiapkan meja untuk Sasya makan. Lalu membukakan penutup makanan dan memberikan sendok garpu pada Sasya. "Bisa makan sendiri kan?" Tanya Riki. Sasya mengangguk. Sasya memakan makanannya dengan lahap. Riki terpana melihat sikap Sasya yang berubah dibandingkan tadi siang sebelum diberi obat. Sekarang dia sudah kembali menjadi Sasya yang dia kenal. "Kamu yakin kamu mual karena maag?" Tanya Riki. "Maksud kamu?" Sasya mengerutkan keningnya. "Kamu yakin mual karena maag? Bukan karena yang lain?" "Dokter bilang gitu kan?" Jawab Sasya sambil mengunyah makanannya. "Kamu nggak terlambat datang bulan kan?" "Kamu ngomong apa sih? Kamu pikir aku hamil?" Sasya nampak kesal. "Aku kan cuma tanya. Karena malam panas kita waktu itu kan aku nggak pakai pengaman." Kata Riki. "Uhuk-uhuk!" Sasya terkejut mendengar perkataan Riki. Riki lalu memberikan minum pada Sasya. Wajah sasya berubah panik. Dia lalu mengambil ponselnya dan melihat kalender datang bulannya. "Apa yang aku pikirkan? Bulan kemarin kan aku sudah datang bulan, kanapa aku ikut panik?" "Bulan ini?" "Bulan ini memang belum waktunya. Memang kamu pikir aku melakukan itu tiap minggu?" "Jadi terakhir kamu melakukan itu sama aku kan?" Wajah Sasya memerah. Dia mengangguk malu. "Baguslah." jawab Riki sambil menyunggingkan senyumnya. "Maksud kamu apa sih?" Tanya Sasya bingung. "Ya, bagus. Kalau kamu hamil berarti aku yang akan tanggung jawab. Aku akan menikahi kamu." Jawab Riki dengan santai. Sasya melempar bantal ke wajah Riki. "Aduh, kamu kenapa sih?" Riki terkejut karena wajahnya dilempar bantal oleh Sasya. "Siapa juga yang mau menikah sama kamu?" "Kalau kamu hamil sama aku ya kamu harus mau menikah sama aku." "Siapa yang hamil?!" Kali ini Sasya melempar sendok ke arah Riki. Tapi Riki berhasil menghindar. "Kamu kenapa sih? Belum juga menikah udah KDRT!" "Kenapa ngomongin nikah terus sih. Aku nggak mau nikah sama kamu." Sasya menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Hahaha, jangan bilang gitu, nanti karma lho." "Riki!" "Hahaha, kamu lucu banget sih." Riki mencoba membuka tangan Sasya yang menutupi wajahnya sendiri. Sasya menolak, tapi tangan Riki lebih kuat. Riki mengambil tangan Sasya dan melihat wajah Sasya yang sudah merah seperti kepiting rebus. Riki menatap wajah Sasya yang berada tepat di depan wajahnya. Tawa mereka mendadak berhenti. Yang terdengar hanya suara degup jantung mereka masing-masing. Mereka masih terdiam selama beberpa detik. Pandangan Riki beralih ke bibir Sasya. Dengan cepat Sasya memundurkan wajahnya. "Jangan coba-coba ambil kesempatan ya." Sasya memperingati Riki. Riki tersenyum. "Aku tidak akan ambil kesempatan saat kamu sedang patah hati. Aku akan dapatkan ciuman dari kamu saat kamu sudah jantuh cinta sama aku." Kata Riki. Perkataan Riki sukses membuat jantung Sasya hampir keluar dari tempatnya. Apalagi saat Riki tersenyum dengan sangat manis, entah kenapa Sasya kembali merasakan pusing lagi di kepalanya. Sasya merebahkan tubuhnya di kasur, lalu menarik selimut dan menutupi tubuh hingga ke wajahnya. Riki tertawa melihat tingkah Sasya. Dia membereskan tempat makan dari kasur Sasya lalu menurunkan tempat tidur Sasya ke posisi tidur. Sasya masih menyembunyikan wajahnya di bawah selimut, sedangkan Riki memilih duduk di sofa dan memperhatikan Sasya dari sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN