Riki membawa sasya keluar dari Rumah Sakit keesokan harinya setelah Riki selesai mengurus administrasi. Sasya diantar pulang ke Jakarta oleh Riki, seperti janji Riki kemarin. Sampai di rumah, Sasya masuk dan tidak menemukan satu orang pun di rumah. Dia melirik jam di tangannya. Baru jam 11 siang. Pantas saja.
Riki masuk membawakan tas Sasya lalu langsung pamit pulang karena dia harus bekerja. Untung saja pekerjaannya di Bandung bisa diserahkan pada Pak Hasan, asistennya, jadi dia tidak perlu kembali ke Bandung lagi.
Sasya menuju ke dapur, mencari keberadaan Mamanya. Dia tahu jam segini Mamanya pasti sedang sibuk memasak untuk makan siang.
"Mama." Panggil Sasya.
Mama Sasya yang sedang memotong sayur terkejut mendengar suara Sasya.
"Sasya." Mama Sasya langsung menghampiri Sasya dan memandang Sasya dari dekat, kedua tangannya merangkup wajah Sasya. "Kamu nggak papa, sayang?"
"Sasya nggak papa, Ma."
"Kamu sakit? Kenapa hari kerja gini kamu bisa pulang? Pasti ada apa-apa kan?" Tanya mama Sasya panik, lalu memegang kening Sasya yang ternyata tidak panas.
"Sasya cuma nggak enak badan, Ma." Jawab Sasya sambil tersenyum.
"Tuh kan benar. Ayo Mama antar kamu ke kamar." Mama Sasya menggandeng tangan Sasya.
"Tapi Sasya laper, Ma. Sya pengen makan masakan Mama." Kata Sasya dengan manja.
"Mama belum selesai masak. Kamu tunggu sebentar ya, sebentar lagi selesai, ini dibantu Mbak Lastri." Kata Mama Sasya.
Sasya mengangguk dengan semangat.
Sasya duduk di meja makan sembari melihat Mamanya yang sedang masak. Sasya sangat merindukan sang Mama. Ingin sekali dia menagis di pelukan Mamanya, tapi dia tidak ingin membuat Mamanya khawatir. Tapi saat ini melihat Mamanya saja perasaannya sudah mulai membaik.
Sampai di kantor, Riki duduk di kursi kerjanya, lalu membuka laptopnya dan mulai mengerjakan pekerjaannya yang tertunda. Di depannya sudah menumpuk berkas yang harus dia periksa dan ditanda tangani. Lalu seseorang mengetuk pintu ruangan Riki.
"Masuk." Kata Riki sambil menatap pintu melihat siapa yang datang.
Perlahan pintu dibuka.
"Juna."
Juna masuk menghampiri Riki.
"Tumben lo kesini nggak ngabarin dulu." Kata Riki sambil berdiri dan menghampiri Juna, lalu mengajak Juna duduk di sofa.
"Mampir bentar, tadi habis ketemu orang di bawah." Jawab Juna.
"Oh, gue kira ada perlu apa."
"Jadi kalau nggak perlu apa-apa nggak boleh kesini?"
"Nggak gitu. Sensi amat sih lo. Lagi PMS?" Goda Riki.
Juna hanya tersenyum sinis.
Pintu diketuk lagi. Riki dan Juna melihat kearah pintu bersamaan.
Papa Riki muncul dari balik pintu.
"Rik, lagi sibuk nggak? Eh, ada Juna juga."
"Siang, Om." Sapa Juna.
"Siang, kebetulan Om mau ajak Riki makan siang, Juna sekalian ikut yuk." Ajak Papa Riki.
"Oh iya. Sudah jam makan siang ya. Kita makan siang bareng, Jun." Ajak Riki.
Ketiganya lalu berjalan ke restoran bersama.
Juna, Riki dan Papanya sedang makan siang di restoran.
"Gimana perusahaan kamu? Papa kamu masih aktif, Jun?" Tanya Papa Riki.
"Masih, Om. Sama kayak Om gini, tiap hari masih sibuk." Jawab Juna.
"Haha, tua bukan alasan utuk bermalas-malasan." Kata Papa Riki.
"Benar, Om." Ketiganya lalu tertawa.
"Ngomong-ngomong kalian masih betah jomblo nih? Kalan sudah tidak muda lagi lho." Goda Papa Riki.
"Enak saja. Kita masih muda kalik, Pa." Riki membela diri.
"Ya setidaknya kalian punya pacar yang bisa diajak menikah sebentar lagi, jangan sampai karena sibuk bekerja sampai menunda-nunda nikah."
"Santai, Om. Kalau sudah ketemu jodohnya sih, maunya langsung menikah." Kata Juna.
"Masalahnya belum ketemu jodohnya, hahaha." Timpal Riki.
Juna dan Papa Riki ikut tertawa.
"Terus kabar calon yang mau kamu kenalin ke Papa gimana, Rik?" Tanya Papa Riki pada anaknya.
Riki terkejut. Dia langsung melirik pada Juna.
"Hm, sabar, Pa. Nanti pasti akan aku bawa kehadapan Papa." Jawab Riki lalu meminum air putih.
"Siapa? Sheila?" Tanya Juna.
"Bukan, enak saja." Bantah Riki.
"Om pikir juga Sheila. Ternyata bukan." Kata Papa Riki.
"Om kenal Sheila?" Tanya juna.
"Iya, ternyata Sheila anak teman bokap gue." Jawab Riki.
"Oh, terus siapa? Kok gue nggak tahu." Tanya Juna penasaran.
"Lhoh, Juna juga nggak tahu?" Tanya Papa Riki.
"Nggak, Om."
"Anak Bandung. Makanya sekarang dia jadi sering bolak-balik Bandung."
"Uhuk-uhuk!" Riki tersedak.
Juna manatap Riki dengan tajam.
"Papa sok tahu." Riki mencoba mengelak. Dia tidak mau Juna curiga padanya.
"Lho, memang iya kan. Kemarin kamu bilang mau ketemu sesesorang di Bandung, perempuan itu kan yang mau kamu kenalin ke Papa?"
Riki melirik Juna. Juna masih menatapnya dengan tajam, membuat Riki semakin salah tingkah.
"Haha, sok tahu nih, Papa."
Di rumah Sasya. Sasya sedang duduk di teras sambil menikmati teh buatannya Mamanya. Dia memandangi bunga-bunga yang bermekaran dengan indah memenuhi taman Mamanya itu. Kebalikan dari hatinya yang saat ini sedang layu.
Sesaat Sasya terlintas bayangan bersama Dafa di masa lalu, saat mereka selalu bersama. Sasya selalu menemani Dafa kemanapun Dafa manggung. Dari mulai masih mengikuti pensi dari satu sekolah ke sekolah lain sampai saat Dafa dan teman-temannya manggung dari Cafe satu ke Cafe lain. Mereka menyusuri jalan berboncengan motor melewati panas dan hujan bersama. Saat dimana Dafa berhenti di pinggir jalan hanya untuk membelikan Sasya minuman dingin karena teriknya sinar matahari dan saat dimana Dafa memberikan jaketnya pada Sasya agar Sasya tidak basah karena hujan. Dia tidak menyangka lima tahun sudah mereka lewati bersama.
Tapi perlahan kebersamaan itu kian berkurang. Saat Sasya mulai bekerja di Bandung dan Dafa sibuk manggung untuk mencari nafkah. Karena Dafa tidak kuliah dan hanya itu yang bisa dia kerjakan untuk menafkahi Ibu dan adik-adiknya. Akhir pekan yang menjadikan waktu mereka satu-satunya untuk bisa bertemu, semakin lama tidak ada lagi karena kesibukan mereka masing-masing.
"Sasya, kamu kok disini?" Tanya Juna yang tiba-tiba sudah berada di belakang Sasya dan membuyarkan lamunannya.
"Abang." Sasya menghampiri Juna lalu memeluknya.
"Abang bilang juga apa. Istirahat dulu dirumah. Nggak nurut sih, jadi bolak-balik kan." Kata Juna sambil mengusap punggung adiknya.
"Sasya cuti tiga hari, Bang. Lusa sudah harus kerja lagi." Kata sasya sambil mengurai pelukannya.
"Ya sudah, kamu tenangin diri dulu di rumah." Juna mengusap kepala Sasya.
Sasya mengangguk.
"Ngomong-ngomong kamu kesini naik apa? Diantar Riki?" Tanya Juna.
"Iya, kok Abang tahu?" Sasya terkejut darimana Abangnya tahu dia pulang bersama Riki.
"Iya, Abang tadi ketemu Riki waktu rapat di hotelnya Riki." Jawab Juna bohong. Padahal dia hanya menebak kalau Sasya pulang bersama Riki. Ternyata tebakannya benar.
Juna semakin curiga dengan Riki. Apa perempuan Bandung yang diceritakan Papa Riki tadi adalah Sasya, adiknya. Jika memang benar, dia tidak tahu harus merasa senang atau marah karena pasalnya di satu sisi Sasya terlepas dari Dafa jika bersama Riki. Tapi di sisi lain, dia tahu sifat Riki yang tidak bisa serius saat menjalin hubungan dengan wanita.