Nonton Bioskop

1090 Kata
"Kak Sasya!" Jeni yang baru masuk ke rumah bersama Irene melihat Sasya yang sedang duduk di teras bersama Mamanya. "Jen, baru pulang les? Eh, ada Irene juga." Tanya Sasya. "Iya. Kak Sya kok di rumah?" Tanya Jeni sembari duduk di samping Sasya. Begitu pun Irene. "Kakak kamu lagi sakit, makanya dia pulang." Jawab Mama Sasya. "Kak Sya sakit apa?" Tanya Jeni yang langsung mengecek dahi Sasya. "Kak Sya cuma nggak enak badan. Pengen makan masakan Mama." Jawab Sasya cengengesan. "Jen kira sakit apa." Jeni lalu melepas tangannya dari dahi Sasya. "Oya, Ma. Jeni sama Irene mau ijin keluar ya habis ini." Kata Jeni pada Mamanya. "Mau kemana?" Tanya Juna yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang mereka. "Kita mau nonton sama teman-teman." Jawab Jeni. "Kenapa malam-malam? Besok kan sekolah." Kata Juna. Irene yang mendengar perkataan Juna langsung menundukkan kepalanya karena takut. "Abang, minggu ini tuh kita libur minggu tenang, karena minggu depan kita ujian. Makanya tadi pulang les kita janjian sama teman-teman mau nonton. Kita ketemuan langsung di bioskop jam 7 malam." Jelas Jeni. "Biarin lah, Bang. Mereka kan capek belajar terus. Biarlah dulu mereka refreshing." Kata Mama Sasya. Juna nampak berpikir sejenak. "Oke." Jawab Juna. Jeni dan Irene langsung tersenyum. "Tapi Abang antar." Kata Juna lagi. Dengan cepat senyum Jeni dan Irene menghilang dari wajah mereka. "Abang, masak mau main saja diantar sih." Jeni merajuk. "Kalau nggak mau nggak usah pergi." Jawab Juna tegas. Lalu dia beranjak ke dapur. Jeni menatap Mamanya dengan tatapan memohon. Mama Jeni tersenyum melihat Jeni merajuk. "Mama nggak bisa bantu. Kalau kalian mau nonton ya harus mau diantar Abang." Jawab Mama Jeni lalu meminum tehnya. "Ih, Mama kok malah belain Abang sih." Jeni semakin merajuk. "Nggak papa, Jen. Daripada nggak jadi. Nggak enak sudah janji sama anak-anak." Kata Irene berusaha menenangkan Jeni. "Kak Sya ikut juga boleh nggak?" Goda Sasya. "Kak Sya!" Teriak Jeni kesal. "Hahaha..." Sasya dan Mamanya tertawa bersama. Pukul 6.30 malam Juna sudah duduk di ruang tamu memakai celana jins dan kaos yang ditutupi jaket. Jeni dan Irene menghampiri Juna yang sedang memainkan ponselnya. "Bang." Panggil Jeni. "Hm. Jadi pergi?" Tanya Juna tanpa rasa bersalah. "Jadilah. Sudah janji sama teman-teman." Jawab Jeni masih dengan cemberut. Juna berdiri lalu mencubit pipi Jeni sambil tersenyum puas. "Pintar." Puji Juna. Jeni menepis tangan Juna karena kesakitan pipinya dicubit oleh Abangnya itu. "Sakit, Bang!" Teriak Jeni. "Ayo berangkat." Ajak Jeni. "Sebentar, tunggu Sasya dulu." Kata Juna. Tak lama Sasya menghampiri mereka dengan tampilan yang sudah siap untuk pergi. "Kak Sya ikut juga? Nggak sekalian Mama sama Papa ikut juga?" Kata Jeni dengan nada sedikit meninggi. Irene langsung mengusap lengan Jeni. "Maaf, Kak Sya cuma disuruh Abang." Kata Sasya sambil menahan tawa. "Sudah, Jen. Ayo berangkat." Ajak Irene sambil menggandeng tangan Jeni. Mereka berempat keluar dari rumah menuju mobil Juna. Saat hendak masuk mobil, ada satu mobil masuk ke halaman rumah mereka. Juna melihat mobil yang sangat dia kenal. Begitu juga Sasya yang jantungnya langsung berdegup kencang melihat seeorang yang turun dari mobil itu. "Kak Riki." Kata Jeni yang juga terkejut melihat Riki. Juna menghampiri Riki. Jeni, irene dan Sasya menunggu di mobil. Mereka melihat Juna dan Riki sedang berbicara, tapi mereka tidak bisa mendengarkan apa yang kedua pria itu bicarakan. Tak lama Juna masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. "Sya, pindah belakang ya, Riki mau ikut juga." Kata Juna. Sasya melihat ke arah luar, dan benar, Riki sudah berada di depan pintunya. "Kak Riki ikut juga?" Tanya Jeni. Kali ini ekspresi Jeni terlihat sangat senang. Juna tidak menjawab. Sasya keluar dari pintu depan dan masuk ke kursi belakang, lalu duduk di samping Irene. Riki duduk di samping Juna yang sudah melajukan mobilnya. Setelah drama panjang keluarga mereka, akhirnya mereka sampai juga di bioskop. Dimana teman-teman Jeni yang berjumlah empat orang sudah menunggu di ruang tunggu bioskop. Jeni dan Irene menghampiri teman-temannya. Juna, Riki dan Sasya berjalan di belakang mereka. Salah satu teman Jeni memberi satu tiket pada Jeni, lalu berjalan ke arah Irene dan duduk di samping Irene. Dia lalu memberi tiket pada Irene sambil tersenyum manis. "Ini tiket buat kamu. Nanti kamu duduk disebelah aku ya." Kata teman Jeni yang berjenis kelamin laki-laki itu. "Ciee... Aldo... Sudah terang-terangan nih deketin Irene." Kata teman Jeni satu lagi yang juga laki-laki. "Namanya juga usaha. Boleh kan, Jen?" Tanya teman Jeni bernama Aldo itu pada Jeni. "Kok tanya gue, tanya anaknya lah." Jawab Jeni. "Irene terserah duduk dimana saja, sama saja kok." Kata Irene. Aldo tersenyum penuh kemenangan. Juna melihat mereka dari jauh dengan tatapan tidak suka. Lalu dia berjalan membeli tiket, karena dia memutuskan untuk ikut nonton bersama Jeni dan teman-temannya. Juna membagi tiket dan popcorn pada Riki dan Sasya. "Kita ikut nonton? Katanya mau nunggu di Cafe bawah aja?" Tanya Riki. "Sudah, ikut nonton dulu saja. Kayaknya filmnya lumayan seru juga." Kata Juna. Riki heran melihat Juna, dia tahu benar Juna tidak suka menonton bioskop. Riki menatap Sasya dan melihat Sasya sedang senyum-senyum sendiri melihat Abangnya yang sedang cemburu melihat Irene didekati laki-laki lain. "Kamu kenapa senyum -senyum sendiri?" Tanya Riki. "Hm? Nggak papa." Jawab Sasya. "Seumur-umur kenal Juna, baru ini lihat Juna masuk bioskop, biasanya dia paling nggak mau diajak nonton bioskop." Kata Riki. "Kalau lagi jatuh cinta, apa saja pasti dilakukan." Kata Sasya. "Jatuh cinta? Siapa? Tanya Riki. Tapi Sasya tidak menjawab. Dia lalu berdiri dan berjalan masuk ke dalam bioskop mengikuti Abangnya yang sudah terlebih dahulu masuk. Riki pun mengikuti mereka. Juna, Riki dan Sasya duduk bersebelahan di kursi bagian tengah, beberapa kursi di belakang Jeni dan teman-temannya. Juna duduk di tengah-tengah Riki dan Sasya. Sasya menonton sambil memakan popcorn yang ada di tangannya. Sedangkan Juna pandangannya fokus pada Irene yang duduk di beberapa kursi di depannya. Dia melihat Irene duduk di sebelah Aldo. Aldo beberapa kali terlihat membisikkan sesuatu pada Irene, lalu Irene tertawa kecil mendengar bisikan dari Aldo. Sesekali juga Irene gantian membisikkan sesuatu pada Aldo. Dada Juna sesak melihat kedekatan Irene dan Aldo. Dia mengambil popcorn yang terletak diantara dia dan Riki. Tanpa sadar Juna memegang tangan Riki yang sudah lebih dulu masuk ke wadah popcorn. "Apaan sih lo, Jun? Gantian kalik." Protes Riki. Juna buru-buru mengeluarkan tangannya dari wadah popcorn. "Sory, gue nggak tahu kalau lo doyan popcorn. "Jawab Juna. Sasya melirik kedua pria disebelahnya sambil menggelengkan kepalanya. Tak lama, film yang mereka tonton memperlihatkan adegan hantu yang datang dengan tiba-tiba, membuat semua penonton berteriak karena terkejut. "Aaaaaaa....!!!" Tanpa sadar lagi Juna berteriak dan memeluk Riki karena dia juga terkejut. Riki yang juga terkejut dan ketakutan memeluk balik Juna. Tanpa sadar mereka berdua saling berpelukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN