1. Salah Minum
"Thank you, Bro. Lo udah bisa datang ke acara gue," ucap Romi, sahabatnya, sambil merangkul Adam ketika sudah berada di pestanya.
"Hum ... Sebenarnya gue males, karena nggak ada Maya." Adam mendudukkan bokongnya di sofa empuk yang ada di sebuah cafe berbintang lima itu.
"Ya ampun, cuma ditinggal nginep semalam aja, lo udah kebakaran jenggot, haha," ledek Romi dan Adam meninju pelan lengannya.
Istri Romi pun datang menghampiri. Namanya Renata. Adam pun menyalaminya dan mengucapkan selamat atas acara anniversary pernikahannya.
Acara berjalan meriah. Waktu pun semakin malam. Banyak tamu undangan Romi dan Renata yang datang ke Cafe tersebut. Lalu, ada beberapa teman Romi dan Renata yang usil, mereka mencampurkan minuman Romi dengan obat perangs*ng pada minumannya yang mereka tahu itu milik Romi. Tujuan mereka hanya ingin mengerjai pasangan suami istri itu. Lebih tepatnya, ingin mengerjai Renata dengan obat yang diminum Romi nantinya.
"Besti kita pasti terkulai lemas kecapekan hadapi si Romi, wkwkwk," ucap salah satu temannya pada teman yang yang lain sambil cekikikan.
Namun tanpa mereka tahu, minuman itu malah diambil seseorang ketika mereka malah sibuk berbincang. Akhirnya, minuman itu malah salah sasaran.
~
Adam merasa sudah bosan berada di acara itu. Andai saja, dia p****************g, pasti dia akan tergoda dengan beberapa wanita cantik yang ada di sana. Namun Adam bukan pria seperti itu. Dia pun menghampiri Romi dan Renata untuk berpamitan. Ketika Adam akan pamitan, Romi dan Renata memintanya bersulang dulu. Adam pun asal mengambil minuman yang ada di dekat mereka dan mereka bertiga pun bersulang. Setelah itu, Adam diperbolehkan pulang.
Di dalam mobil, Adam merasa tiba-tiba gerah. Padahal pendingin di mobilnya menyala. Apalagi, di jalanan hujan turun dengan derasnya. Namun Adam semakin kepanasan. Lebih parahnya lagi, pikirannya muncul dengan pikiran-pikiran kotor. Hal itu membuat Adam membuka beberapa kancing kemejanya.
"Kenapa aku malah h*rny gini? ... Ya ampun, apa aku salah minum tadi, ya?" Pertanyaan itu langsung muncul begitu saja.
"Si*l ... Jangan-jangan si Romi ngerjain aku," ucapnya sambil memukul stir mobil.
~~~
Di tempat lain.
Hujan turun dengan lebatnya. Waktu menunjukkan pukul 12 malam. Ros merasa khawatir pada sang majikan yang belum juga pulang.
Tadi pukul 9 malam, Maya menghubunginya dan menanyakan keadaannya. Maya juga sudah tahu kalau Adam pergi ke acara Romi.
"Apa Pak Adam nggak akan pulang, ya?" Ros bicara sendiri. Dia tidak bisa tidur karena tadi sudah tidur dan terbangun oleh suara guntur lalu teringat bahwa majikannya belum pulang.
Tepat setelah Ros berucap seperti itu, suara deru mobil terdengar sayup-sayup di telinganya karena suaranya terkalahkan oleh hujan. Dia pun keluar dari kamarnya untuk memastikan bahwa majikannya sudah pulang.
Adam sudah terlihat masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya kembali ketika Ros menghampirinya.
"Pak Adam baru pulang?" tanya Ros.
"I-iya," jawab Adam singkat dan terbata. Dia terlihat tergesa dan meninggalkan Ros yang masih mematung.
"Pak Adam kok terlihat aneh, ya? Apa Pak Adam sakit? Oh, mungkin Pak Adam habis kehujanan di luar. Sepertinya aku harus memberinya teh hangat dulu." Ros berinisiatif membuatkan teh hangat dan mengantarkannya ke lantai atas menuju kamar sang majikan.
Tok ... Tok ... Tok ...
Sekali, dua kali, ketukan Ros tidak ada jawaban. Namun karena Ros khawatir, dia pun mengetuk pintu kamar majikannya untuk yang ketiga kalinya. Ros merasa senang karena akhirnya pintu kamar terbuka.
"Ada apa sih, Ros?" Suara Adam terdengar aneh oleh Ros. Seperti sedang menahan sesuatu.
"I-ini Pak, saya buatkan teh hangat untuk Bapak. Takutnya masuk angin karena kehujanan. Bukankah, Bu Maya selalu menyuruh saya buatkan teh hangat jika Bapak kehujanan?" ucap Ros merasa tidak enak.
"Maya," ucap Adam dengan menatap Ros yang sulit diartikan. Hal itu membuat Ros takut karena tatapannya tidak biasa.
Adam pun menerima secangkir teh hangat yang diberikan Ros. Tapi tidak dia minum dan malah diletakan di meja nakas.
"Kalau begitu, saya permisi, Pak." Ros hendak meninggalkan Adam. Namun, Adam lebih dulu menarik tangannya dan membawanya ke kamar.
Ros melotot dan terkejut. "Ada apa, Pak?"
Tanpa diduga, Adam mendorongnya hingga membuat Ros terbaring di ranjang.
"Apa yang Bapak lakukan?" Ros berteriak dan berusaha bangkit. Namun, Adam lebih dulu mengukungnya dengan mengunci kedua tangan Ros kanan dan kiri.
"Maya ... Aku sudah tidak tahan lagi, sayang," ucap Adam dan menci*mi leher Ros, lalu menyambar bibir Ros yang belum tersentuh oleh laki-laki manapun.
Ros memberontak dan berusaha melepaskan cium*n majikannya dengan mendorong d*da bidangnya. Tapi Adam malah semakin bergair*h dan menuntut.
Ros menangis dan berusaha lepas dari Adam. Tapi Adam seakan tuli dan melancarkan aksinya. Tangan Adam pun mulai beraksi dengan merem*s kedua benda kenyal milik Ros. Hal itu membuat Ros punya peluang untuk lepas. Tapi, Adam malah men*mpar pipinya.
"Aaawww ... Sadar, Pak. Saya bukan Bu Maya, hiks ...," Ros menangis dengan memegang pipinya yang terasa panas.
Adam hanya melihat Maya, sang istri, yang sedang dia kukung di bawahnya. Ros menangis keras dan memohon padanya agar menghentikan aksinya. Minta tolong pun percuma, tidak ada orang lain lagi di rumah itu. Tetangga pun tidak akan mendengarnya karena suara hujan yang begitu deras. Belum lagi, kamar Adam kedap suara dan tidak mungkin orang luar mendengarnya.
"Maya ... Aku sudah tidak tahan lagi," racau Adam dengan penuh nafs*.
"Saya mohon, tolong jangan lakukan itu, Pak. Saya bukan Bu Maya. Tolong, sadar, Pak!" pinta Ros sambil terisak namun tak berdaya karena kekuatan Adam benar-benar mengunci tubuhnya.
Adam tidak perduli dan berhasil merobek paksa pakaian Ros. Sama dengan robeknya hati Ros dan juga robeknya mahkota yang selama 20 tahun ini dia jaga.
~
~
~
Adam sudah menuntaskan hasr*tnya. Bibirnya menci*m kening wanita yang masih berada di bawahnya.
"Terimakasih, Maya, sayang. Kamu memang selalu membuatku melayang," ucap Adam yang basah dengan peluh dan berbaring di sisi gadis wanita yang tak lain adalah Ros, asisten rumah tangannya, bukan Maya, istrinya.
Ros merasa hancur berkeping-keping ketika mendengar racauan Adam. Ros tahu jika majikannya itu sedang dalam pengaruh obat. Entah obat apa itu, tetapi Ros tahu itu.
Tubuh Ros terasa remuk. Bayangkan saja, Adam melakukannya hampir 2 jam lamanya. Mungkin karena obat itu. Saat ini waktu sudah menunjukkan dini hari.
Ros duduk di sisi ranjang dengan menutupi tubuh polosnya dengan selimut sambil menangis. Sudut bibirnya sangat perih terkena air mata karena luka sobek akibat tamparan keras dari Adam dan bukan sekali saja. Pandangan Ros tertuju pada noda merah di sprei yang bisa dipastikan itu adalah darah keperawanannya.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku sudah tidak suci lagi." Tangisan Ros penuh derita jika siapa saja yang mendengarnya.
Adam kembali meracau, "Maya ... Aku sangat mencintaimu."
Hati Ros sakit mendengarnya. Dia sudah berdosa pada majikan wanitanya. Seharusnya dia bisa menjaga diri.
"Bagaimana jika Bu Maya tahu soal ini?" tanyanya pelan dengan masih menangis.
"Tidak ... Bu Maya tidak boleh tahu hal ini. Kasihan Bu Maya. Dia sangat baik padaku. Aku tidak mau kalau rumah tangga Bu Maya hancur gara-gara ini. Aku harus melakukan sesuatu."
Ros cepat-cepat memunguti pakaiannya yang tergeletak. Itu pun sudah tersobek karena Adam merobeknya paksa. Dia pun turun ke lantai bawah menuju kamarnya untuk membersihkan diri, itu pun jalannya tertatih karena organ bawahnya terasa sakit akibat ser*ngan Adam.
Ros mandi membersihkan diri sambil menangis. Sungguh dia tidak menyangka akan mengalami hal ini. Adam sebenarnya pria baik-baik. Hanya saja, Adam dalam pengaruh obat.
Setelah Ros selesai mandi dan berpakaian. Dia kembali ke kamar Adam. Tujuannya adalah, memakaikan baju untuk Adam yang tadi digunakan. Dia ingin seolah-olah Adam tidak melakukan apa pun. Adam tertidur pulas dan tidak bergeming dengan apa yang dilakukan Ros.
Begitu juga dengan sepreinya, Ros berusaha membersihkan noda darah keperawanannya itu entah bagaimanapun caranya.
Adam sama sekali tidak terganggu. Dia sangat terlelap dengan tidurnya. Mungkin pengaruh obat itu masih kuat. Namun hal itu membuat Ros merasa tenang. Setidaknya Adam tidak akan tahu kejadian yang sudah mereka lewati.
"Semoga saja, yang Pak Adam rasakan hanya mimpi," ucap Ros pelan.
Ros kembali ke kamarnya. Dia mengeluarkan sebuah koper untuk memasukkan beberapa pakaiannya. Dia tidak mungkin memasukkan semua pakaiannya karena terlalu banyak. Maya benar-benar begitu baik padanya, hingga dengan sering membelikannya pakaian. Ros merasa bersalah ketika memandangi beberapa pakaian itu.
"Aku harus cepat-cepat pergi dari sini," ucapnya bicara sendiri dan bergegas membawa bawaannya. Namun suara ponsel menghentikan kegiatannya. Dia pun melihat si penelepon.
"Bu Maya," lirih Ros. Tangannya bergetar menggenggam ponsel tersebut. Dia tidak berani mengangkatnya.
Maya sampai beberapa kali menghubunginya. Namun Ros sama sekali tidak mengangkatnya.
"Maafkan, Ros, Bu. Ros tidak berani bicara sama Ibu." Tangisan Ros kembali pecah dan memeluk ponselnya.
Ros menghentikan tangisannya. Dia berusaha kuat dan akan melupakan apa yang terjadi. Dia pun dengan cepat melangkah ke luar dari kamarnya dengan menyeret koper yang tadi. Tiba-tiba suara bel pintu menghentikan langkahnya.
Ting tong ... Ting tong ...
Deghhh ...
"Apa Bu Maya pulang subuh-subuh?" ucap Ros dengan takut.
°°° TBC