"Oaaa ... Oaaa ... Oaaa ... ."
Suara tangisan bayi yang baru lahir itu membuat suasana di puskesmas menjadi hangat. Ya, Ros telah melahirkan seorang bayi. Walaupun banyak cibiran dari warga karena hamil tanpa seorang suami. Namun Ros tetap bertahan walaupun sering membuatnya stres. Ros pun lebih sering mengurung diri dari pada meladeni ocehan tetangga.
"Selamat ya, bayi kamu perempuan," ucap sang Bidan yang selama ini menangani kehamilan Ros. Ros menangis dan dipeluk sang Ibu.
Ros menerima sang bayi setelah dibersihkan dan sudah diadzani Dokter pria yang ada di puskesmas itu.
"Mau diberi nama siapa anak kamu, Mbak?" tanya adiknya ketika menyerahkan bayi itu ke pangkuan Ros.
Ros menerimanya sambil tersenyum getir. Namun wajahnya terlihat pucat. Mungkin kecapekan karena habis mengeluarkan tenaga untuk melahirkan. Hanya itu yang ada di pikiran semua orang yang ada di sana.
"Arimbi A Rosiana," ucap Ros sambil memandangi wajah bayinya yang mirip dengan pria yang mer*nggut kesuciannya hingga hamil.
Semua orang tersenyum dan menyukai nama itu. Namun, sang Ibu penasaran dengan nama yang disematkan pada cucunya, yaitu inisial A.
"Nama yang cantik, untuk cucu cantikku ini," ucap sang Ibu. "Tapi, inisial A itu siapa, Ros?" tanyanya heran. Sedangkan Rosiana adalah nama lengkap Ros.
Ros tidak menjawab dan malah memberikan Arimbi pada sang Ibu. "Ibu bisa tolong bawa anakku dulu ke luar. Aku ingin bicara berdua sama adikku" pinta Ros dan ibunya pun mengangguk sambil menerima sang bayi.
Tinggallah Ros dan sang adik di ruangan itu. Wajah Ros benar-benar pucat dan sang adik merasa khawatir.
"Aku titip anakku ya, Ro. Aku rasa, aku tidak bisa menemani Arimbi sampai besar nanti," ucap Ros pada sang adik yang bernama Rodiah.
Ucapan Ros membuat Rodiah mengerutkan keningnya. "Apa maksud kamu, Mbak?"
"Mbak rasa, Mbak sudah tidak kuat lagi. Janji sama Mbak, sampai kapan pun Ibu nggak boleh tahu siapa Ayah dari anakku."
"Tapi ... ."
Belum sempat Rodiah meneruskan ucapannya. Dirinya terkejut dengan keadaan Ros yang seperti sesak nafas. Dia pun berteriak dan memanggil Bidan yang mengurus persalinan sang kakak.
Namun selang beberapa menit ...
"Innalilahi wa innailaihi rajiun," ucap sang Bidan setelan memeriksa Ros.
Rodiah berteriak histeris. Begitu juga sang Ibu. Badannya langsung lemas. Untung saja, sang bayi yang tadi digendongnya lebih dulu dititipkan kepada Suster.
Sang Bidan mengucapkan maaf karena telah merahasiakan penyakit Ros, yaitu Kista. Ibunya Ros hanya bisa pasrah dan tidak bisa menyalahkan, lalu menggendong kembali dan memeluk erat cucu pertamanya itu. Dalam hati dia berkata, akan menjaga cucu pertamanya ini. Tidak perduli ayahnya siapa. Semoga kelak, bahagia menanti di masa depan Arimbi.
Beberapa jam kemudian. Tepatnya sore. Ros pun sudah dikebumikan. Rodiah dan Bu Rumana mengantarkan kepergian Ros ke tempat peristirahatan terakhirnya. Sementara sang bayi dititipkan pada sang Bidan.
~~~
Sementara Adam. Seharian ini entah kenapa dia merasa gelisah. Sampai-sampai dia tidak bisa fokus di Kampus. Jujur saja, semalam dia memimpikan asisten rumah tangannya yang sudah 9 bulan ini berhenti bekerja, yaitu Ros. Di mimpi itu, dia melihat Ros mengenakan pakaian serba putih dan berjalan ke arahnya sambil menyerahkan seberkas cahaya ke pangkuannya.
Belum sempat Adam bertanya, Ros sudah hilang dari pandangannya sambil tersenyum. Adam pun kebingungan di dalam mimpi itu.
Seperginya Ros waktu itu. Adam selalu mimpi buruk. Mimpi suara tangisan Ros dan juga suara t*mparan. Dia pun penasaran dengan apa yang terjadi padanya malam itu dan memeriksa CCTV rumahnya. Alangkah terkejutnya Adam setelah melihat rekaman CCTV itu. CCTV itu hanya sebatas pintu kamarnya. Kamarnya tidak dipasang CCTV karena privasi.
Di dalam CCTV itu, Ros ditarik olehnya ke kamar. Hingga Adam pun menunggu Ros ke luar di tayangan CCTV itu. Beberapa waktu kemudian, dia membekap mulutnya dengan melihat keadaan Ros yang berantakan ke luar dari kamarnya dengan tertatih sambil menangis.
Adam menghentikan tayangan CCTV itu dengan tangan bergetar. Dia bisa menebak apa yang dilakukannya pada Ros. Dia juga menebak bahwa Ros pulang ke kampungnya bukan karena ibunya sakit. Melainkan karena menghindarinya.
Hari demi hari, Adam dihantui rasa bersalah. Dia ingin sekali menemui Ros. Namun dia terlalu pengecut dan takut. Apa lagi semenjak Maya diketahui sakit kanker rahim dan harus dioperasi pengangkatan rahim secepatnya. Kalau tidak cepat dioperasi maka nyawa taruhannya. Namun Maya dan Adam harus rela tidak akan diberi keturunan lagi.
Maya butuh perhatian Adam semenjak pasca operasi. Sehingga Adam sedikit demi sedikit melupakan Ros. Namun tetap saja, di hati kecilnya masih memikirkan keadaan Ros.
~~~
Delapan belas tahun kemudian ~~~
Arimbi tumbuh menjadi gadis yang cantik. Tubuh semampainya bagaikan tubuh seorang model. Seringkali, sang nenek juga mengagumi kecantikan cucunya ini. Apalagi, Arimbi selalu menorehkan prestasi. Hal itu membuat para tetangga seakan lupa asal mula Arimbi dan malah sekarang sangat mengagumi Arimbi.
"Nek Rum, Arimbi sangat cantik dan pintar. Sepertinya, cocok disandingkan dengan anak saya."
Ya, neneknya Arimbi adalah Nenek Rumana dan sering disebut Nek Rum oleh warga.
Kalimat itu adalah salah satunya. Masih banyak lagi kalimat yang sering Nek Rum dengar. Beliau hanya tersenyum manis menanggapinya. Dia pun berpikir, bahwa ayah kandung Arimbi mungkin saja pria yang tampan. Apalagi perawakan Arimbi sama sekali tidak mirip dengan mendiang Ros. Hanya kebaikannya saja yang diturunkan mendiang Ros pada Arimbi.
Nek Rum juga berbohong tentang ayahnya Arimbi, bahwa ayahnya telah meninggal dunia di laut ketika sedang menjadi nelayan dan jasadnya tidak bisa ditemukan. Maka dari itu, tidak ada makam sang ayah jika Arimbi ingin berjiarah.
Nek Rum sudah sakit-sakitan. Arimbi yang sedang ujian kelulusan pun merasa tidak tenang dengan kesehatan sang nenek. Benar saja, sepulangnya ke rumah, dia menemukan sang nenek yang tergeletak di lantai. Dia pun meminta tolong pada tetangga untuk membawa sang nenek ke puskesmas. Namun sang nenek ternyata siuman.
"Nenek tidak usah dibawa ke puskesmas, Rim," pinta Nek Rum.
Arimbi menggeleng sambil menangis. "Nenek harus diperiksa!"
Nafas Nek Rum tampak tersenggal. "Jika Nenek tiada. Kejarlah cita-citamu. Nenek doakan yang terbaik buat kamu."
"Nenek jangan tinggalkan, aku!"
Tangan Nek Rum yang digenggam Arimbi terlepas. Itu pertanda bahwa sang nenek sudah tak bernyawa.
Tetangga yang berada di sana memeriksa denyut nadi Nek Rum. "Innalilahi wa innailaihi rajiun ... ."
"Nenek ...," teriak Arimbi.
~~~
Beberapa jam berlalu. Nek Rum sudah dikebumikan. Rodiah pun pulang dan ijin dari tempat kerjanya. Saat ini dirinya sedang memeluk Arimbi yang masih saja menangis.
"Istighfar, Rim. Nenek pasti sedih jika kamu menangis terus!" ucap Rodiah yang sekarang sudah berstatus janda.
Arimbi berusaha menghentikan tangisnya namun tidak bisa. Hingga selang beberapa menit dirinya tertidur di pelukan sang bibi.
~~~
Beberapa Minggu kemudian, Arimbi akhirnya lulus SMA dengan nilai tertinggi. Dia juga mendapatkan beasiswa ke Jakarta. Tentu saja hal itu membuat Rodiah merasa senang. Setidaknya ada alasan dirinya mengajak Arimbi ke kota daripada dia tetap keukeuh tinggal di kampung dan tidak ingin ikut dengannya. Alasan Arimbi tidak ingin ikut karena dia ingin selalu berada di rumah yang selama ini menjadi saksi bisu dirinya dan neneknya.
Mau tidak mau, Arimbi setuju ikut sang Bibi. Rodiah pun merasa lega. Namun Arimbi meminta waktu untuk membereskan barang-barangnya. Hingga sang Bibi pamit berangkat lebih dulu. Arimbi pun dibekali alamat tempat bibinya bekerja.
Beberapa hari kemudian, Arimbi akhirnya berangkat ke Jakarta. Sang sahabat yang bernama Sarah mengantarkannya ke stasiun dan dengan berat hati melepaskan Arimbi berangkat.
~
Arimbi akhirnya tiba di Jakarta. Dia pun menuruti perintah sang Bibi ketika sudah sampai di stasiun Jakarta untuk langsung naik taksi agar bisa langsung ke tempat tujuan. Sementara jika menggunakan angkutan umum akan lama sampainya. Namun baru saja dia memasuki taksi. Ada seorang pria yang masuk dari arah berlawanan dia masuk.
"Hei ... Kamu siapa? ... Ini taksiku!" ucap Arimbi sedikit terkejut.
Pria berkacamata hitam itu berdecak sebal. "Ck ... Siapa bilang ini taksimu. Aku yang lebih dulu menyetop taksi ini."
"Jangan ngarang! ... Jelas-jelas aku yang lebih dulu." Arimbi tidak mau kalah.
"Astaga ... Kamu ... ." Belum sempat si pria membela diri lagi. Suara supir taksi menginterupsi keributan mereka.
"Kenapa kalian malah ribut? Kalian harus ada yang mengalah," ucap supir taksi itu sambil menggeleng.
Arimbi terlihat sinis melihat sang pria. "Sebaiknya kamu mengalah dan turun!"
"Kenapa aku yang harus turun? Aku sedang terburu-buru," tolak si pria dengan bersedekap dad*.
"Aku juga sedang buru-buru. Hei ... Kamu itu pria. Seharusnya pria itu mengalah pada wanita."
Si supir taksi menghela nafasnya. "Jika kalian tidak mau ada yang mengalah. Baiklah, saya akan antarkan kalian berdua sekaligus."
Arimbi dan si pria itu akhirnya diantarkan si supir taksi sekaligus. Kebetulan juga arah mereka sama dan memudahkan si supir taksi. Si pria turun lebih dulu di Rumah Sakit. Namun sebelum turun, dia kebingungan karena dompetnya ternyata ketinggalan.
"Kenapa belum turun?" tanya Arimbi jutek.
"Ehem ... Dompetku sepertinya ketinggalan," jawab si pria.
"Modus." Arimbi mendengkus sebal.
"Aku serius ... Ya ampun, bagaimana ini."
"Bagaimana dengan ongkosnya?" tanya si supir taksi. Sementara si pria benar-benar merasa bingung.
Arimbi merasa risih melihatnya. "Sekalian aku aja yang bayar, Pak!"
~
~
~
Arimbi akhirnya sampai di alamat tempat bibinya bekerja. Dia pun dipersilakan masuk oleh seorang satpam di sana karena sudah diberi tahu Rodiah bahwa keponakannya akan datang. Namun Arimbi sedikit risih karena si satpam itu memperhatikannya.
"Akhirnya kamu sampai juga, Rim," ucap Rodiah dan memeluknya singkat. "Hayuk masuk. Bibi kenalkan kamu sama majikan!"
Arimbi mengangguk dan mengikuti Rodiah sambil menenteng tas besarnya.
"Permisi Nyonya, keponakan saya sudah tiba. Terimakasih sudah mengijinkannya untuk tinggal sementara di sini sebelum dapat kosan," ucap Rodiah sopan pada sang majikan yang sedang bersantai menonton TV.
Majikan Rodiah pun menengok ke arahnya dan berdiri. Sementara Arimbi yang tadinya menunduk, sekarang dirinya mengangkat wajahnya demi melihat wajah majikan bibinya.
Tatapan Arimbi terpaku. Begitu juga dengan majikan Rodiah. Mereka sama-sama terdiam tanpa saling sapa.
"Benar kata Bibi. Majikannya mirip denganku," batin Arimbi.
°°° TBC