6. Kembali Terusik

1195 Kata
Arimbi benar-benar tidak menyangka, bahwa majikan bibinya mirip dengannya. Dia kira itu hanya karangan bibinya supaya ingin ikut dengannya ke Jakarta. Dia pun bisa mengerti kenapa satpam di depan memperhatikannya. Ini pasti karena dirinya yang mirip dengan majikannya, atau majikannya yang mirip dengannya. Entahlah. "Ternyata benar, kamu mirip dengan saya," ucap majikan bibinya. "Nyonya percaya 'kan, sekarang?" Rodiah terkekeh. Majikannya pun terkekeh dan meraih tangan Arimbi. "Kamu presis seperti waktu saya gadis." Hati Arimbi terasa hangat digenggam tangannya. "Nyonya bisa saja." "Saya Nyonya Agni. Senang, bisa bertemu denganmu, Arimbi. Kamu nggak usah sungkan di sini. Saya sudah banyak mendengar cerita tentang kamu." "Terimakasih Nyonya." Percakapan mereka terpotong karena suara orang dewasa di lantai atas. "Bibi ... Apa Cream Soup saya masih belum siap?" Rodiah menepuk jidatnya, "Ya, ampun." Dia melupakan tugasnya karena asyik dengan kedatangan Arimbi. Sementara Nyonya Agni terkekeh. Rodiah pun lebih dulu mengajak Arimbi ke kamarnya. Setelah itu dia meninggalkan Arimbi karena harus membuat Cream Soup pesanan suami Nyonya Agni yang sedang sakit saat ini. ~ ~ ~ Arimbi merasa tidak enak berdiam saja di kamar bibinya. Sementara bibinya terdengar sedang memasak di dapur karena letak kamarnya berdekatan dengan dapur. Dia pun ke luar kamar dan menghampiri bibinya. "Apa ada yang bisa aku bantu, Bi?" tanya Arimbi. "Duh, kebetulan banget kamu ke sini. Bibi kebelet, nih. Bisa tolong gantikan Bibi masak sebentar. Cuma tinggal ngetes rasa aja sih dan matikan kompornya," ucap Rodiah sambil ngacir ke toilet. Arimbi menggeleng pelan dan merasa lucu. Arimbi melihat masakan tersebut. Yaitu Cream Soup. Dia mencuci tangan terlebih dahulu dan mengetes rasa masakan itu. Dia pun berinisiatif menambahkan gula ke dalam masakan itu dan setelah dirasa cukup, kompornya dimatikan. Tak berapa lama, Rodiah ke luar dari toilet dengan wajah lega. "Apa sudah pas?" "Ya, aku rasa sudah pas. Cek lagi saja sama Bibi!" "Tidak usah. Bibi buru-buru harus menghidangkannya karena Tuan Anthony sudah sangat kelaparan." Rodiah menata Cream Soup itu dan membawanya di nampan menuju kamar majikannya. ~ ~ ~ Suami Nyonya Agni bernama Tuan Anthony. Saat ini dia sedang sakit dan meminta makanan kesukaannya yaitu Cream Soup. "Maafkan saya, Tuan. Tadi ada keponakan saya datang, jadi melupakan pesanan Tuan," ucap Rodiah sambil meletakkan Cream Soup tersebut. Lalu setelah itu diambil kembali oleh Nyonya Agni untuk menyuapi Tuan Anthony. "Tidak apa-apa. Istri saya sudah menceritakannya barusan." Tuan Anthony sangat antusias dengan makanan kesukaannya. Namun saat suapan pertama, dia merasa rasanya berbeda. Dia pun terdiam dan melihat ke arah Rodiah dan istrinya. "Kenapa rasanya berbeda?" "Memangnya kenapa, Pah?" Nyonya Agni keheranan. Rodiah yang hendak ke luar dari kamar itu seketika menghampiri majikannya. "Ada apa, Tuan?" "Kenapa rasa Cream Soup ini manis?" Rodiah terdiam dan mengingat bahwa tadi yang meneruskan masakannya adalah Arimbi ketika dia sedang ke toilet. "Benarkah?" Nyonya Agni mencicipinya. "Iya, ini terlalu manis." "Maafkan saya, Tuan. Sepertinya keponakan saya menambahkan gula ke Cream Soup ini," ucap Rodiah. Dia merasa bersalah karena belum apa-apa, Arimbi sudah membuat kesalahan. "Maafkan keponakan saya, Tuan. Kalau begitu, saya buatkan yang baru dan menyuruh keponakan saya untuk minta maaf." "Tidak usah. Saya sudah sangat lapar. Lagi pula, rasanya tidak buruk." Karena perutnya terasa lapar, Tuan Anthony pun dengan lahap memakan Cream Soup itu hingga habis. Rodiah pun permisi ke luar dari kamar tersebut. "Buat apa protes kalau Papa habiskan Cream Soup-nya?" Nyonya Agni terkekeh. ~ ~ ~ Rodiah mengetuk pintu kamar majikannya dan permisi masuk ke dalam dengan diikuti seseorang di belakangnya, yaitu Arimbi. "Ini keponakan saya, namanya Arimbi, dan dia mau minta maaf soal Cream Soup itu. Maklum orang kampung. Dia kira itu kolak, jadi dia bilang kurang gula dan menambahkan gula." Rodiah menjelaskan. "Maaf, Tuan," ucap Arimbi sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak berani melihat majikan bibinya. Tuan Anthony sedang meneguk air putih. Setelah selesai, dia letakkan di nakas. Dia pun melihat ke arah Arimbi. Begitu juga dengan Arimbi yang secara bersamaan melihat ke arahnya. Arimbi takut dimarahi. Apalagi, tatapan Tuan Anthony sulit diartikan. "Hmmm ... Saya tidak masalah dengan rasa Cream Soup itu. Anggap saja itu hadiah perkenalan kamu sama saya." "Seriusan, Tuan?" Arimbi merasa lega. "Hum ...," angguk Tuan Anthony yang bisa Arimbi tebak umurnya sekitar 50 tahun ke atas. "Syukurlah kalau tidak marah." Rodiah pun sama leganya. "Kalau saya marah, Cream Soup itu pasti masih nganggur di mangkuk." Rodiah pun melihat mangkuk kosong itu sambil tersenyum. "Hanya saja ... Saya tidak percaya kalau Arimbi ini adalah keponakan Bibi." "Kenapa, Tuan?" tanya Rodiah. "Kalian bagaikan bumi dan langit. Apa Arimbi benar-benar keponakanmu?" "Pah ... ." Nyonya Agni meremas tangan sang suami. Begitu juga Rodiah dan Arimbi saling pandang. Rodiah terkekeh dengan pernyataan Tuan Anthony. "Arimbi benar-benar keponakan kandung saya. Kenapa Tuan bicara seperti itu?" "Jelas, saya bicara seperti itu. Bibi pendek, item manis dan rambutnya ikal. Sementara Arimbi nggak ada mirip-miripnya sama Bibi." Ucapan Tuan Anthony membuat Arimbi mengingat hal serupa. Tetangga di kampung selalu menyebutnya anak pung*t. Dia tidak mirip dengan ibunya, bibinya, dan juga neneknya. Namun setiap kali dipertanyakan, jawaban bibi dan neneknya bilang dia mirip dengan ayahnya yang sudah meninggal. Tetapi setiap Arimbi ingin tahu seperti apa sosok ayahnya, mereka juga bilang tidak punya fotonya. "Arimbi mirip dengan ayahnya," jawab Rodiah. "Benarkah ...?" Tuan Anthony merasa tidak percaya. Namun sebenarnya hal itu membuatnya bertanya-tanya, kenapa Arimbi malah mirip dengan seseorang. ~ ~ ~ Malam pun tiba. Nyonya Agni sedang berdiri di balkon kamarnya. Pikirannya sedang melayang memikirkan sesuatu. Sesuatu yang baru saja singgah di pikirannya. Sesuatu yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Namun hal itu nyata dan tidak bisa dipungkiri. "Kenapa Arimbi keponakan Bi Rodiah mirip denganku? Apa hanya perasaanku saja, atau hanya penglihatanku saja yang buram? Hmmm ... Tapi aku belum tua-tua amat. Kesehatan mataku selalu aku cek rutin." Nyonya Agni berbicara sendiri tentang kemiripannya dengan keponakan asisten di rumahnya. "Apa Mama punya saudara jauh yang anaknya hilang?" celetuk Tuan Anthony membuat Nyonya Agni terkejut. "Apa-an sih, Pah." "Apa yang Mama pikirkan, juga Papa pikirkan. Tapi Papa tidak mau banyak pikiran. Papa takut pikiran itu malah semakin membuat Papa terus memikirkannya." Ucapan Tuan Anthony membuat Nyonya Agni memutar bola matanya jengah. "Ck ... Kita sepertinya butuh liburan." "Papa sedang sakit. Mana bisa liburan." "Justru itu, papa butuh liburan, supaya otak papa tidak banyak pikiran." "Sepertinya ide bagus." Mereka pun saling terkekeh dan masuk ke dalam kamar karena udara di balkon tidak baik untuk kesehatan Tuan Anthony. ~ ~ ~ Arimbi tidak bisa tidur. Mungkin efek tempat tinggal yang baru. Begitu juga dengan suhu di tempat itu saat ini. Jika di kampung, pukul 11 malam itu sangat dingin. Beda halnya dengan di kota. Suhu di kota sangat panas jika saja tidak dibantu pendingin ruangan atau kipas angin. Namun, yang Arimbi rasakan saat ini bukan situasi keadaan yang dia rasakan di tubuhnya. Melainkan situasi hati dan pikirannya. Pernyataan Tuan Anthony membuat dia berpikir keras kembali tentang ketidak miripannya dengan sang bibi. Hal itu membuatnya kembali terusik setelah sekian lama dia abaikan dengan ucapan para tetangga di kampung. Belum lagi ada celetukan tetangga bahwa dirinya anak har*m. "Huuufffttt ... Kenapa pemikiran konyol itu datang kembali di benakku?" tanyanya dengan lirih sambil melihat sang bibi yang terlelap di sebelahnya dengan damai. "Siapa aku sebenarnya?" lirih Arimbi dengan menelisik wajah Rodiah. Matanya mengeluarkan cairan bening. °°° TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN