7. Bertemu Lagi

1490 Kata
Keesokan harinya, Arimbi ikut sibuk dengan Rodiah di dapur menyiapkan sarapan untuk tuan rumah. Dia juga menghidangkannya di meja makan setelah siap. "Pagi, Arimbi ... Bagaimana tidur kamu semalam?" sapa Nyonya Agni yang duduk di salah satu kursi meja makan. Arimbi yang menyiapkan hidangan itu menoleh dan tersenyum ramah. "Pagi juga, Nyonya ... Alhamdulillah tidur saya nyaman. Terimakasih banyak atas ijin Nyonya untuk saya tinggal di sini." "Jangan sungkan ... Oh ya, saya juga punya anak perempuan. Dia sedang tidak di rumah. Dia sedang liburan bersama teman-temannya, merayakan kenaikan kelasnya. Huuufffttt, anak itu tidak betah di rumah. Padahal dia anak perempuan," ucap Nyonya Agni mengomel pelan. "Iya, Nyonya, semalam Bibi sudah cerita semuanya," timpal Arimbi. Anak perempuan Nyonya Agni baru naik ke kelas 12 SMA. Saat ini dia sedang liburan bersama teman-temannya. Rodiah pun datang meletakkan tambahan menu sarapan lagi. "Maaf, Nyonya, saya lancang menceritakan penghuni rumah ini." Nyonya Agni terkekeh. "Tidak masalah. Arimbi harus tahu siapa saja penghuni di rumah ini. Putra sulung saya juga pasti tidak keberatan jika Arimbi ikut tinggal di sini." "Oh iya, Den Athala kapan kembali dari luar negeri, Nyah?" tanya Rodiah. Arimbi pun sudah diberitahu bahwa Nyonya Agni juga memiliki seorang anak laki-laki. "Athala kalau sudah liburan suka lupa pulang. Biar saja itu semau dia. Apalagi, liburan kali ini bukan liburan saja, melainkan membuang kenangan indah mantannya," jawab Nyonya Agni dengan mendesis. "Kasihan, ya, Den Athala. Kekasihnya malah menikah dengan pria pilihan orangtuanya." Rodiah merasa iba. "Positif thinking saja. Mereka tidak berjodoh. Lagi pula, selama ini saya tidak suka sama pacarnya. Terlalu mengumbar aurat. Saya lebih suka gadis yang kalem dan tertutup." "Mama ... ." Suara Tuan Anthony membuat Nyonya Agni menghentikan ucapannya. "Papa sudah bilang, jangan bahas masalah Athala lagi. Kasihan dia," ucap Tuan Anthony sambil duduk di kursi meja makan. Sepertinya Tuan Anthony sudah membaik. Nyonya Agni cengengesan. "Iya, Pa. Abisnya, Mama gemes, sih." Sementara Tuan Anthony geleng-geleng kepala. Rodiah menyelesaikan pekerjaannya menyiapkan sarapan. Sementara Arimbi beres-beres di dapur dan pura-pura tidak mendengar apa yang majikan bibinya bicarakan. ~ ~ ~ Malam ini, Arimbi sedang mengecek keperluan kuliahnya di kamar. Liburan tinggal beberapa hari lagi. Dia harus sudah menyiapkan semuanya. Dia sangat bersyukur karena bisa mendapatkan beasiswa. Dia akan bersungguh-sungguh. "Apa keperluan kamu ada yang kurang, Rim?" tanya Rodiah ketika masuk ke dalam kamar dan melihat keponakannya tampak sibuk menyiapkan keperluan kuliahnya. "Aku rasa sudah cukup." Arimbi menjawab tanpa menoleh ke arah sang bibi. "Bibi doakan, semoga cita-cita kamu tercapai." Rodiah bicara sambil rebahan di ranjang. Badannya sudah minta diistirahatkan. "Aamiin ... Ucapan doa bibi sudah nggak kehitung." Rodiah pun terkekeh. ~ ~ ~ Keesokan harinya, Arimbi ikut Rodiah belanja ke supermarket. Rodiah juga menyuruh Arimbi menghafalkan jalan agar kelak bisa pergi sendiri. Arimbi pun benar-benar fokus pada jalanan. Hal itu membuat Rodiah tertawa. "Ya ampun, nggak segitunya juga kali, Rim." Arimbi merasa malu. Jujur, dia gemetar, takut jika dia nanti belanja sendiri akan nyasar. Tak berapa lama, taksi yang mereka tumpangi sampai di depan supermarket. Mereka pun langsung ke tempat di mana yang akan dibeli. Arimbi memegang catatan belanjaan yang sudah Rodiah siapkan sebelum tadi berangkat, sementara Rodiah yang memilih. Belum juga satu jam, keranjang belanjaan mereka pun sudah hampir penuh. Beberapa sayuran dan juga kebutuhan rumah sudah hampir dibeli. Namun Rodiah merasakan perutnya mulas. Hal itu tidak bisa ditunda. "Rim, Bibi mau ke toilet dulu, ya. Kamu tolong selesaikan saja apa yang belum dibeli," ucap Rodiah sambil melangkah pergi dengan tergesa. "Eh ... ." Arimbi geleng-geleng kepala melihat kelakuan bibinya. Dia pun ingat bahwa semalam bibinya makan malam mie instan dengan memakai rawit yang banyak. Pasti sekarang minta dikeluarkan. Arimbi meneruskan memilih belanjaan, yaitu membeli buah Durian, pesanan Nyonya Agni. Dia pun ke tempat di mana Durian itu tersedia. Dia tersenyum melihat apa yang dia cari. Namun, ketika dia memegang Durian itu, ternyata ada seseorang juga yang memegangnya. Dia adalah seorang pria. Keduanya saling memegang Durian tersebut. Lalu mereka saling tatap. "Kamu ... ." "Kamu ... ." Mereka bersamaan mengucapkan kata yang sama. Durian itu pun mereka lepaskan bersamaan juga. Namun ternyata, Durian tersebut bukan jatuh ke tempat asalnya, melainkan jatuh menimpa kakinya Arimbi. "Addduuuhhh ... Kakiku ... ." Arimbi mengaduh kesakitan. Tentu saja. Duri buah Durian itu 'kan taj*m-taj*m. Hal itu membuat kakinya terluka. "Astaga ... ." Si pria langsung mengambil buah Durian itu dan diletakkan ke tempat asalnya. Lalu dia menolong Arimbi dengan berjongkok melihat keadaan kaki Arimbi. "Apakah sakit?" tanya pria itu. "Tentu saja sakit, aaawww." Beberapa pengunjung berkerumun melihat insiden yang terjadi pada Arimbi. Lalu beberapa petugas supermarket pun menghampiri dan menyuruh para pengunjung bubar. Arimbi dipapah si pria. Sementara salah satu petugas supermarket menyiapkan kursi untuk Arimbi duduk. Petugas supermarket yang satunya pun mengambil kotak obat. Si pria langsung sigap mengobati luka Arimbi. Hal itu membuat Arimbi terharu dengan kesigapan si pria. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud mencelakaimu," ucap si pria merasa bersalah sambil mengobati dan meniup-niup lukanya. Hati Arimbi menghangat melihatnya. Arimbi yang tadinya memandangi si pria merasa tersadar dengan ucapan maafnya. Dia pun berdehem guna mengalihkan kegugupannya. "Ehem ... Ti-tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil. Lagi pula ini 'kan tidak disengaja." Pria itu mengangkat wajahnya dan memandang wajah Arimbi. Arimbi sampai menelan ludahnya dan terpesona dengan ketampanan si pria. "Sekali lagi maafkan aku. Lagi-lagi aku merepotkanmu. Lebih parahnya lagi, pertemuan kali ini malah membuat kamu terluka." Ya ... Si pria itu adalah pria yang tempo hari berebut taksi dengan Arimbi. "Pertemuan yang tidak indah," lirih Arimbi pelan. Namun masih terdengar oleh si pria. "Kenapa?" Si pria ingin mendengar jelas apa yang Arimbi ucapkan. Namun Arimbi dengan cepat menggeleng. "Apa kita ke rumah sakit saja! ... Aku takut lukamu parah dan terjadi impeksi." "Tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil." Tiba-tiba suara ponsel si pria berbunyi. Dia pun permisi mengangkatnya. Tak berapa lama... "Maafkan aku sekali lagi. Sebenarnya aku ingin sekali menggantikan uangmu waktu membayariku ongkos taksi. Juga bertanggung jawab atas luka kamu ini. Tapi lagi-lagi aku tidak bawa dompet, ya ampun. Saat ini pun aku sedang terburu-buru juga, sama kayak waktu itu." Si pria benar-benar malu. Dia memang benar-benar tidak membawa dompet. Pikirnya, hanya ke supermarket tidak perlu dompet atau uang kes, karena jaman sekarang pembayaran bisa dilakukan lewat ponsel. Arimbi terkekeh. "Tidak apa-apa. Aku ikhlas soal ongkos itu. Walaupun sedikit kesal karena kamu tidak mau mengalah. Mengenai luka ini, luka ini nggak seberapa." Si pria itu tersenyum miris. Dia benar-benar malu karena tidak mau mengalah saat itu. Namun dia punya alasan kenapa seperti itu. Dia pun memiliki ide. "Pinjam ponselmu!" "Untuk apa?" tanya Arimbi heran. "Pinjam saja!" Arimbi pun memberikan ponselnya. Walaupun sedikit malu karena ponselnya ponsel jadul. Pria itu mengambil ponsel Arimbi dan mengetikkan nomornya di ponsel tersebut. Lalu ponsel miliknya berdering. Dia pun melihat layar ponselnya dan tersenyum. "Aku save nomormu. Nanti aku hubungi kamu untuk bertanggung jawab atas apa yang merugikanmu. Untuk sekarang ini aku harus cepat-cepat pergi. Kalau begitu aku permisi pergi dulu," ucap si pria sambil mengembalikan ponsel Arimbi dan bergegas pergi dengan mengambil Durian yang tadi dan menuju kasir. Arimbi menerima ponselnya dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia malah terdiam dengan melihat kepergian si pria tersebut. Tiba-tiba ... "Ya ampun, Arimbi ...," teriak Rodiah. Hal itu membuat Arimbi tersentak. "Kamu kenapa?" tanya Rodiah melihat kaki Arimbi terluka. "Tidak apa-apa. Tadi kena Durian yang jatuh," jawab Arimbi santai. "Ya ampun." Rodiah membekap mulutnya. Arimbi pun menceritakan semuanya. Rodiah dengan cepat membereskan acara belanjanya. Arimbi merasa tidak enak karena kakinya terluka jadi sang bibi melarangnya untuk membantu. Mereka pun akhirnya pulang ke rumah. Nyonya Agni terkejut dengan kaki Arimbi yang sedikit pincang. Karena yang dia tahu Arimbi tadi sebelum belanja baik-baik saja. Dia pun menawarkan Arimbi ke rumah sakit setelah tahu ceritanya. Namun Arimbi menolak. ~ ~ ~ Malam pun tiba. Arimbi sudah siap untuk tidur. Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Tiba-tiba ponselnya berdering. Tangannya meraih ponsel yang dia letakkan di meja samping tempat tidur. Dia melihat layar ponselnya dan menampilkan nomor tidak dikenal. Keningnya pun berkerut melihat nomor tersebut. "Nomor siapa ya?" tanyanya pelan pada diri sendiri. Lalu ponsel berhenti berdering. Dia pun mengedigkan bahunya dan mematikan volume ponselnya sebelum dia letakkan kembali ke atas meja. Dia pun merebahkan tubuhnya di samping sang bibi lalu tidur. Sementara di tempat berbeda namun di waktu yang sama. Seorang pria merasa frustasi karena teleponnya tak kunjung diangkat. Dia pun menghela nafas, "Mungkin dia sudah tidur. Hufffttt ... Padahal aku ingin tahu kabar dia sekarang. Apa lukanya sudah baikan atau belum?" Pria itu bernama Azkal. Dia adalah pria yang berebut taksi dengan Arimbi. Juga yang tadi pagi membuat kaki Arimbi terluka karena Durian. Azkal merasa bersalah. Dia sudah dua kali merugikan Arimbi. Pertama, ketika tak ingin mengalah berebut taksi. Itu karena dia sedang terburu-buru pergi ke rumah sakit. Kedua, Arimbi terluka karena dirinya dan harus buru-buru pamit karena Durian itu pesanan seseorang yang dia sayang. "Sayang sekali, aku lupa tidak menanyakan namanya," ucapnya pelan sambil memandang layar ponsel yang menampilkan nomor Arimbi yang diberi nama "Durian" olehnya. °°° TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN