"Mama ... ."
Teriak seorang gadis dengan nyaring ketika memasuki rumah. Nyonya Agni meringis sambil menutup kedua telinganya.
"Kamu itu kebiasaan. Kalau pulang ke rumah itu ucapkan salam dan sopan. Ini malah kayak petasan aja," omel Nyonya Agni pada gadis itu.
Gadis itu adalah anak kedua Nyonya Agni. Namanya Alula. Dia masih sekolah menengah atas dan baru naik ke kelas 9. Dia periang, cerewet dan manja.
"Heee ... Assalamualaikum, Mamaku yang cantik."
Nyonya Agni mendelik, "Waalaikumsalam, putri Mama yang teng*l."
"Ih Mama ... ." Gadis itu pura-pura.ngambek dibilang teng*l. Sementara Nyonya Agni terbahak-bahak.
"Kenapa blokir ATM-ku? Aku 'kan jadi nggak bisa bayar ini itu. Jadinya aku dibayarin dulu sama temanku," protesnya sambil cemberut dan duduk di samping sang Mama dengan kesal setelah menci*m punggung tangannya.
"Salah sendiri, kenapa jalan-jalannya lama banget dan nggak sesuai dengan yang kamu kamu katakan. Katanya cuma 5 hari. Ini malah seminggu. Daripada kamu keenakan, ya terpaksa Mama blokir ATM itu." Nyonya Agni tak mau kalah dengan anak gadisnya.
"Ish ... Aku masih betah soalnya. Lagi pula liburan diam di rumah saja mana paten ... Sepi pula, nggak ada teman."
"Tapi nggak harus menghamburkan uang Mama 'kan? Mentang-mentang dikasih ATM. Kamu malah seenaknya."
Alula menggaruk tengkuknya yang tidak gatal guna menghilangkan rasa malunya. "Heee ... Maafkan anak gadismu ini ya Ratu ... Alula hilaf."
"Hilaf kok rak*s."
Alula pun memeluk sang Mama dan menci*mi pipinya. Jika sama-sama tak mau mengalah, bisa berabe urusannya. Bisa-bisa dia tidak akan dapat uang jajan seperti yang sudah-sudah jika terus mendebat sang Mama.
"Modus ... Mandi sana! ... Kamu bau acem," ucap Nyonya Agni bercanda dengan menutup hidungnya.
Tiba-tiba Arimbi datang dengan membawa secangkir teh hangat di nampan pesanan Nyonya Agni. Dia melihat adegan ibu dan anak bercanda gurau. Hal itu membuat dia sedikit iri karena tidak merasakan kasih sayang dari seorang ibu.
"Ini teh-nya, Nyonya!" ucap Arimbi sambil meletakkan secangkir teh itu di atas meja.
"Terimakasih," ucap Nyonya Agni.
Alula melihat ke arah Arimbi. Keningnya berkerut dan meneliti Arimbi.
"Dia siapa, Ma?"
"Oh iya ... Kenalin, dia keponakan Bi Rodiah. Namanya Arimbi. Dia sudah beberapa hari di sini," jawab Nyonya Agni.
"Nggak salah?"
"Apanya?" timpal sang Mama.
"Oh ya, Rim, ini putri saya. Namanya Alula. Semoga kalian bisa jadi teman serumah yang baik. Karena kalian seumuran."
"Salam kenal Non Alula," ucap Arimbi sopan. Alula mengangguk tersenyum.
"Maksudku ... Ini nggak salah, 'kan? ... Kenapa Arimbi mirip sama Mama." Alula heran kenapa ada orang lain yang mirip sang Mama. Sementara dirinya tak mirip.
Nyonya Agni terkekeh. "Kamu juga heran 'kan, kenapa Arimbi mirip sama Mama. Mama pun sama herannya. Tapi bukankah di dunia ini kita punya kembaran yang jauh?"
"Iya sih ... Tapi ini di nurul banget," lirih Alula dan terlihat berpikir keras.
~
~
~
Malam ini sangat cerah dan langit sangat hitam pekat. Hanya taburan bintang yang menghiasi hitamnya langit itu. Pemandangan yang sangat indah.
Namun, gadis yang duduk di kursi tepatnya di pinggir kolam itu terlihat tak menikmati pemandangan tersebut. Dia terlihat sedih dan muram.
"Kamu di sini, Rim. Bibi kira kamu sudah tidur duluan." Rodiah datang mendekat. Arimbi pun menoleh dan menghapus air matanya. Hal itu membuat Rodiah terkejut.
"Kamu kenapa, Rim?" tanya Rodiah penasaran kenapa keponakannya menangis.
"Bibi ... Hiks ... ." Arimbi menangis dan masuk ke pelukan sang bibi.
"Ada apa, Rim? ... Apa yang membuat kamu menangis? ... Apa kamu merindukan Nenek?"
Arimbi menggeleng sambil terisak.
"Lalu?" Rodiah semakin bingung dan mengelus rambut Arimbi dengan lembut. Arimbi sudah seperti anaknya sendiri. Apalagi dia pernah kehilangan sang anak. Jadi Arimbi bagaikan pengganti untuk mencurahkan kasih sayangnya.
"Kenapa Allah nggak adil sama aku?" celetuk Arimbi dan membuat Rodiah melepaskan pelukan Arimbi guna melihat wajah keponakannya itu.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?"
"Kenapa Allah nggak mengijinkan aku mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Boro-boro kasih sayang, berkesempatan melihat wajahnya saja tidak aku dapatkan."
Rodiah mulai memahaminya. Dia pun teringat kejadian sore tadi. Arimbi terlihat meneteskan air mata setelah mengantarkan teh pada Nyonya Agni dan berkenalan dengan Alula. Dia pun penasaran dengan apa yang membuat Arimbi menangis. Dia takut putri Nyonya Agni tidak menyukainya. Namun ternyata salah. Matanya melihat pemandangan ibu dan anak yang bahagia. Rodiah pun bisa menebaknya.
"Kamu nggak boleh bicara seperti itu. Allah tahu mana yang terbaik untuk kita. Allah juga punya alasan kenapa takdir kita nggak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Sudah ... Sudah ... Daripada kamu menangis dan marah. Lebih baik kamu salat malam dan memohon pada Allah. Lalu doakan orangtuamu agar tenang di alam sana." Rodiah menghapus air mata Arimbi.
"Terima kasih Bibi selalu baik dan sayang sama aku. Padahal aku bukan anak Bibi." Arimbi pun kembali memeluk sang bibi. Lalu dia pamit masuk ke dalam dan akan menjalankan salat malam.
Jujur, hati Rodiah pun sedih dengan takdir Arimbi. Apalagi jika mengingat asal usul siapa Arimbi. Air matanya pun akhirnya lolos dari pelupuk matanya. Lalu menyusul Arimbi masuk.
Tanpa mereka sadari. Nyonya Agni tak sengaja menguping pembicaraan mereka. Dia juga tahu Arimbi anak yatim piatu. Apalagi ibunya meninggal ketika melahirkannya. Dia pun mengerti apa yang dirasakan Arimbi saat ini, lalu teringat kejadian tadi waktu makan malam. Arimbi tampak memperhatikan Alula yang dia manjakan di meja makan. Saat ini hatinya terenyuh dan merasa sesak setelah mendengar perkataan Arimbi pada bibinya.
~
~
~
Pagi ini, Arimbi sedang menyiram tanaman di taman depan rumah. Wajahnya terlihat bahagia ketika menyiram tanaman bunga milik Nyonya Agni.
Tin ... Tin ...
Mobil taksi masuk ke pelataran rumah. Tak disangka, taksi tersebut berhenti di selang air yang sedang Arimbi gunakan. Hal itu membuat Arimbi sedikit kesal karena air selang itu jadi tidak mengalir. Dia pun menghampiri taksi itu dan juga ingin tahu siapa yang datang.
Seorang pria keluar dari taksi itu. Taksi itu pun melaju kembali setelah penumpangnya keluar. Tiba-tiba selang air yang dipegang Arimbi kembali berair. Tak disangka air selang itu malah menyemprot ke arah si pria.
"Astaga ... Apa-apa-an ini?" pria itu berteriak.
Arimbi melepaskan selang itu dan membekap mulutnya. "Ya ampun, gawat."
Si pria terlihat marah dan kesal karena basah kuyup. "Siapa kamu? ... Berani-beraninya membuatku basah."
Arimbi sangat takut dan menghampiri si pria. "Maaf ... Sa-saya tidak sengaja."
"Tidak sengaja kamu bil-." Tiba-tiba ucapan si pria menggantung. Sementara Arimbi menundukkan wajahnya karena tidak berani melihat ke pria yang dia buat basah kuyup.
"Siapa kamu? ... Kena-." Lagi-lagi ucapan pria itu menggantung.
"Ya ampun, Athala ... Kamu kenapa datang-datang sudah basah kuyup kayak gini?" ucap Nyonya Agni.
Pria itu adalah Athala. Putra pertama dari Nyonya Agni dan Tuan Anthony. Dia baru pulang dari Luar Negeri.
"Maaf, Nyonya, ini salah saya. Tadi selang airnya ketindihan taksi dan nggak mengalir. Pas si taksi itu pergi, saya nggak sadar kalau airnya kembali mengalir lalu mengenai orang ini. Sekali lagi maafkan saya." Arimbi lebih dulu menjelaskan.
Athala benar-benar kesal mendengar ucapan Arimbi. Sementara Nyonya Agni terkekeh.
"Yang kamu sebut orang ini tuh anak saya. Namanya Athala," ucap Nyonya Agni. Arimbi terkejut mendengarnya.
"Ya ampun, maafkan saya Nyonya. Maafkan saya juga Den Athala!" ucap Arimbi dengan masih menundukkan wajahnya. Dia tidak berani memandang wajah Athala. Dia juga ingat cerita bibinya bahwa anak laki-laki Nyonya Agni bernama Athala.
Athala mend*sah sebal.
"Lalu ... Siapa gadis ini, Ma?" tanya Athala pada Nyonya Agni.
"Dia Arimbi. Keponakan Bi Rodiah."
"Apa?" Athala tercekat.
~
~
~
Athala baru selesai mandi. Pikirannya benar-benar dibuat bingung. Dia tidak mengerti, kenapa keponakan Rodiah malah mirip dengan mamanya.
"Astaga ... Kenapa aku memikirkan hal itu. Kayak nggak ada kerjaan saja."
Brakkk ...
"Kakak ...," teriak Alula yang masuk ke kamarnya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Sudah berapa kali aku bilang, kalau masuk ke kamar orang itu ketuk pintu dulu!" protes Athala dengan kesal.
"Helllooowww ... Aku udah ketuk pintu dari tadi. Tapi nggak ada jawaban dari kakak. Jadi aku masuk saja." Alula tampak kesal karena diomeli sang kakak.
"Iya kah?" Athala benar-benar tidak mendengarnya.
"Iya ... Kakakku yang ganteng."
Athala mencebikkan bibirnya.
"Ngapain kamu ke sini? ... Aku mau istirahat."
"Mau ngomongin sesuatu."
"Apa itu?"
Alula duduk di sisi ranjang sang kakak. Sementara Athala sedang merapikan rambutnya di depan cermin.
"Apa kakak nggak penasaran dengan Arimbi? ... Maksudku ... Kenapa wajah Arimbi mirip dengan Mama kita?"
Athala menghentikan kegiatannya. Dia berbalik memandang sang adik. "Apa maksudmu?"
"Aku curiga ... Jangan-jangan Mama punya pria lain."
"Hah ... ."
°°°TBC