Pagi ini keluarga Tuan Anthony sudah lengkap. Kedua anaknya sudah pulang dari acara liburan masing-masingnya itu. Saat ini mereka sedang sarapan bersama.
"Keperluan sekolah kamu sudah siap semua, Al? ... Udah nggak ada yang mesti dibeli lagi kah?" tanya Nyonya Agni pada Alula. Namun Alula tampak tidak mendengarnya, alias pura-pura tidak mendengar.
"Al ... Kamu nggak denger pertanyaan dari Mama?" Nyonya Agni merasa aneh. Pasalnya, dari tadi Alula seperti patung. Diajak bicara pun hanya sekedarnya saja. Sementara biasanya Alula selalu ceria dan cerewet.
Tuan Anthony pun bisa menebak. Sepertinya putrinya itu sedang merajuk. "Ada apa, Al? ... Kalau ada masalah itu dibicarakan. Jangan diam saja!"
Athala yang berada di sana sebenarnya ingin tertawa dengan Alula yang pura-pura merajuk. Tadi malam, ketika Alula ke kamarnya, Alula mengatakan bahwa dia akan pura-pura merajuk sampai sang Mama menceritakan siapa Arimbi sebenarnya. Namun Athala tidak mau ikut campur.
"Aku kenyang. Kalau gitu, aku ke kamar lagi, ya!" Alula pamit dari meja sarapan.
"Sarapan kamu belum habis, Al!" ucap Nyonya Agni. Namun Alula cuek saja melenggang pergi dari sana.
"Kenapa sih tuh anak? ... Perasaan, semalam normal-normal aja. Kenapa sekarang jadi nggak normal."
"Pufffttt ... ." Athala menahan tawa karena mendengar ocehan sang Mama yang menurutnya lucu. Sang Mama pun mendelik melihatnya.
"Mungkin dia lagi PMS, Ma," ucap Tuan Anthony dengan tenang.
"Nggak mungkin ... Mama hafal kok jadwal PMS dia ... Hmmm, atau jangan-jangan .... ."
Tuan Anthony penasaran dan memandang sang istri, "Jangan-jangan apa?"
"Jangan-jangan, Alula lagi patah hati, atau putus cinta," celetuk Nyonya Agni.
"Sejak kapan Alula punya pacar?" Pasalnya Tuan Anthony melarang Alula berhubungan dulu dengan lawan jenis.
"Ya nggak tahu ... Ini 'kan cuma asumsi Mama aja."
Athala yang menjadi penonton di meja makan itu hanya geleng-geleng kepala. Dia pun menyelesaikan sarapannya.
"Aku sudah selesai sarapan. Kalau gitu, aku pamit ke kamar, mau siap-siap untuk pergi," ucap Athala sambil meninggalkan meja makan.
"Mau pergi ke mana, Thal? Kamu kenapa sih nggak betah lama-lama di rumah?" Nyonya Agni merasa jengah dengan tingkah Athala yang jarang di rumah.
"Athala pengen puas-puasin dulu main. Sebelum kembali lagi ke kantor. Tahu sendiri 'kan kalau aku sudah di area kantor bakal gil* kerja." Athala sudah seminggu cuti dari kantor. Setelah mengucapkan kalimat tersebut Athala pun melenggang pergi.
"Anak-anak semakin dewas* saja, ya. Makin sulit juga menahan mereka," ucap Nyonya Agni.
"Biarlah, Ma ... Asal mereka masih bisa kita pantau." Tuan Anthony selalu bijak jika menghadapi masalah dan selalu membuat Nyonya Agni merasa tenang dan nyaman.
"Oh ya. Hari ini Mama mau ketemu pelangg*n. Dia mau pesan beberapa tanaman bunga lagi. Jadi, Papa nggak apa-apa 'kan Mama tinggal?"
"Di hari libur, Mama masih terima pelangg*n aja. Tapi, semoga Mama semakin banyak pelangg*n."
"Aamiin ... ."
Nyonya Agni memiliki Toko Bunga. Saat ini dia sudah mendirikan cabang ke lima yang tersebar di pulau Jawa. Tuan Anthony sangat mendukung usahanya.
Tiba-tiba Arimbi datang membawa teh herbal untuk Tuan Anthony. "Ini teh herbalnya, Tuan!"
"Terimakasih," ucap Tuan Anthony dengan ramah.
Nyonya Agni memiliki ide ketika melihat Arimbi. "Oh ya, Rim, kamu mau nggak ikut sama saya!"
"Ke mana, Nyah?" tanya Arimbi.
"Ke Toko Bunga saya."
"Emang boleh?" Arimbi tampak malu-malu.
"Tentu saja boleh. Kamu harus tahu daerah sini. Termasuk usaha yang sedang istri saya miliki," ucap Tuan Anthony dan diangguki Nyonya Agni.
"Kalau begitu, saya ijin Bibi dulu ya, Tuan, Nyonya."
"Ya, silakan. Kita pergi jam 9 ya. Kamu harus sudah siap," pinta Nyonya Agni.
"Iya, Nyonya."
Tiba-tiba ada suara ponsel di tempat Athala makan tadi. Ternyata ponsel Athala tertinggal. Nyonya Agni pun mengambilnya.
"Athala pasti melupakan ponselnya ... Oh ya, Rim, tolong kasih ke Athala, ya! ... Dia lagi ada di kamarnya."
Arimbi yang sedang membereskan bekas sarapan di meja itu menghentikan aktivitasnya dan menyetujui perintah Nyonya Agni.
~
~
~
Tok ... Tok ... Tok ...
"Masuk ...!"
Suara Athala dari dalam kamar menyuruh Arimbi masuk. Arimbi pun dengan pelan masuk karena pintunya tidak tertutup sempurna.
"Permisi, Den ... Saya mau mengantarkan ponsel Den Athala yang tertinggal di meja makan."
Athala awalnya tidak memperhatikan siapa yang masuk. Namun setelah mendengar perkataan Arimbi, dia pun melihat ke arahnya dan mendekatinya.
"Oh ... Aku melupakan ponselku ternyata."
Arimbi pun memberikan ponsel itu sambil menunduk. "Ini, Den ... Kalau begitu saya permisi."
Namun suara Athala menghentikan langkahnya.
"Kamu kenapa selalu menunduk jika bertemu aku? Memangnya aku ini hantu," ucap Athala.
Arimbi berbalik dan bergeleng. "Ti-tidak, Den. Saya nggak bermaksud takut."
"Lalu ... ." Athala butuh penjelasan.
"Sa-saya ... Hanya ... Tidak enak soal kejadian kemarin. Saya takut Den Athala masih marah."
Athala terkekeh. "Astaga ... Aku sudah melupakan kejadian itu. Lagipula, aku bukan orang pend*ndam. Malah aku orang yang baik hati dan juga TAMPAN."
"Apa ...?"
Ucapan Athala yang penuh percaya diri itu membuat Arimbi spontan menatap wajahnya.
Seketika mereka saling pandang beberapa detik. Namun Arimbi kembali menunduk.
"Sekali lagi, maafkan saya ... Kalau begitu, saya permisi, Den."
Athala mendengkus sebal dengan Arimbi yang bersikap biasa saja karena melihat ketampanannya. Biasanya, dia selalu dipuja para gadis karena ketampanannya itu.
~
~
~
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 9. Nyonya Agni harus bergegas berangkat ke Toko Bunga miliknya. Namun dia ingin lebih dulu menawarkan Alula ingin ikut atau tidak.
"Alula ... Kamu mau ikut nggak ke Toko Bunga Mama!"
Nyonya Agni di depan pintu kamar Alula sambil mengetuk-mengetuk pintunya. Namun Alula sama sekali tidak bersuara.
"Ya udah, kalau kamu nggak mau ikut, Mama pergi dulu ya. Mama juga mau ajak Arimbi. Tadinya biar seru kamu juga ikut. Eh kamu lagi badmood kayaknya. Mama tinggal, ya!"
Alula sebenarnya di balik pintu. Dia sedikit cemburu karena Arimbi ternyata diajak sang Mama. Hal ini membuat dia semakin tidak suka pada Arimbi dan marah pada sang Mama.
Setelah mendengar suara mobil sang Mama melaju, Alula pun ke luar dari kamarnya. Dia berniat akan mengikuti sang Mama diam-diam.
"Kamu beneran mau mata-matain Mama?" Athala yang kamarnya berdekatan dengan Alula tampak berbarengan ke luar kamar.
"Iyalah, daripada aku mat* penasaran."
"Astaga ... ." Athala geleng-geleng kepala.
"Hayuk berangkat!" ajak Alula dengan menggandeng lengan sang kakak.
"Ke mana?"
"Ikutin Mama dong!"
Athala melepaskan tangan Alula. "Aku udah bilang, nggak ikutan."
"Loh ... Aku kira Kak Thala udah siap gini mau ikut sama aku? ... Bukankah kita taruhan, kalau Mama terbukti menyembunyikan fakta siapa Arimbi maka aku yang menang. Kalau Mama terbukti nggak salah dan Arimbi nggak ada hubungan apa pun sama Mama berarti Kakak yang memang."
"Tapi aku nggak janji jadi mata-mata kayak kamu. Buang-buang waktu aja. Lagi pula yang punya pikiran negatif itu 'kan kamu bukan aku. Lagi pula aku punya acara sendiri. Aku pergi, ya ... Bayyy."
"Ishhh ... ."
~
~
~
Arimbi dan Nyonya Agni sedang berada di Toko Bunga. Pertemuan pelangg*n Nyonya Agni pun berjalan lancar. Pelangg*n itu memuji Arimbi yang mirip dengan Nyonya Agni.
"Kok bisa sih Bu, Arimbi mirip dengan Anda?" tanya salah satu pelangg*n dan juga beberapa karyawan Nyonya Agni di Toko Bunga itu ikut penasaran.
Nyonya Agni melihat ke arah Arimbi. "Mungkin ... Tuhan mengirimkannya untuk menjadi anakku. Saya juga akan secepatnya mengangkat dia anak."
"Cocok tuh Bu. Bukankah Arimbi ini yatim piatu seperti yang Anda ceritakan tadi," celetuk salah satu pelangg*n lagi.
Arimbi seketika memandang wajah majikannya. Dia tidak menyangka akan mendengar kalimat itu.
"Nyonya," lirihnya pelan dengan bibir bergetar dan matanya mulai berkaca-kaca. Jangan tanya hatinya. Saat ini hatinya tak karuan.
"Apaaaaa ... ?"
Semua mata tertuju pada suara lantang itu. Siapakah dia?
°°° TBC