Tara berdiri terdiam di depan bangunan yang selama ini membuatnya bersemangat untuk segera masuk. Kini tak ada lagi perasaan yang sama saat ia berdiri di depan bangunan yang disebutnya rumah itu. Kakinya pun terasa begitu berat, seakan tak ingin masuk ke dalam sana. Tak ada lagi orang yang membuatnya merasakan kehangatan saat berdiam diri di sana. Yang tersisa hanyalah kehampaan yang menyesakkan d**a. Mungkin, keputusannya menetap di sana malah menambah luka di hati. Mungkin saja, saran Abimanyu untuk menjual tempat itu adalah keputusan yang tepat. Tak mungkin Tara bisa baik-baik saja tinggal di tempat yang menyimpan banyak kenangan tentang mereka. Ada tawa, tangis, kebahagiaan, dan kesedihan yang terlihat jelas pada sudut ruangan yang ada di sana. Rintikan hujan turun tanpa aba-aba, men

