Malam semakin larut, ada empat orang yang lembur di ruangan itu. Mereka tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sesekali bertanya, selebihnya menenggelamkan diri dalam pekerjaan mereka. Begitupun dengan Tara dan Dania yang tak lagi bertukar kata setelah sandiwara Tara tadi. Walau Dania mencoba menyembunyikan amarahnya, Tara dapat menebak jika wanita itu tak sabar untuk memarahi atau menuntut penjelasan pada Abimanyu. Suara dokumen tebal yang dilempar kasar ke meja, menganggu fokus Tara dan tak kuasa mencegah diri menoleh pada meja sebelahnya. Kini wajah wanita itu tampak sangat kesal, mungkin ia telah mencapai batas kesabarannya. Tara tersenyum. “Ada apa, Nia? Kok, malah banting-banting dokumen gitu?” Tara berusaha bersikap ramah, walau sebenarnya ia bisa menebak alasan dari perbuat

