Hani menggeleng perlahan, air mata masih menggantung di sudut matanya. Ia melepaskan pelukan itu dengan lembut, namun tatapannya tetap menempel pada wajah Sean, seolah-olah takut kehadirannya hanya mimpi yang akan segera lenyap. “Tidak, Nak. Kamu tidak salah. Mama yang salah, karena sudah meninggalkan kamu. Wajar bila kamu tidak mengenal Mama karena saat itu usia kamu baru dua tahun. Kamu belum tahu wajah orang tuamu.” Hani mengulurkan tangan, jemarinya yang gemetar menyentuh wajah Sean, mengusap pipinya dengan kelembutan seorang ibu yang telah kehilangan dan kini menemukan. Sorot matanya dipenuhi keharuan yang hampir tak tertahankan, seperti menatap sebuah keajaiban yang kembali dalam bentuk nyata. “Anakku sudah kembali,” bisik Hani. Suaranya pecah, seperti kaca tipis yang akhirnya

