“Kok dadakan banget sih?” Diana berteriak, matanya menatap tajam ke arah Sean yang berdiri tegak di hadapannya. Baru saja lelaki itu memberi tahu bahwa dia akan terbang ke Belanda malam itu juga. Sean mendekat, tangannya dengan lembut memegang kedua lengan Diana, memaksanya untuk tetap diam dan mendengarkan. “Aku minta maaf. Tapi kamu kan tahu, aku sering banget kayak gini. Pamit mendadak untuk urusan kerja atau ke luar kota.” Suaranya rendah namun tegas. Diana mendesah kasar, nadanya masih tak puas. “Iya, sih. Tapi kali ini beda. Kamu nggak cuma kerja. Kamu mau cari Omma dan Oppa juga!” Sean mengangguk pelan, senyum kecil penuh pengertian mengembang di bibirnya. “Aku tahu. Tapi justru karena itu aku harus pergi sekarang. Semua kejanggalan ini semakin jelas, Diana. Aku perlu memastikan.

