Sean berdiri terpaku di tengah ruangan, matanya masih tak bisa lepas dari bayangan Diana yang baru saja melesat pergi dengan wajah merah padam, meninggalkan jejak amarah yang begitu kentara. Ruangan yang semula penuh canda tawa itu tiba-tiba berubah sunyi, meninggalkan Sean di tengah kecanggungan, sementara Thania masih berdiri tak percaya dengan kue yang berceceran di wajahnya. Sejenak, hanya suara bisikan terkejut beberapa orang staf yang memenuhi udara, membangkitkan Sean dari keterkejutannya. Dengan perasaan bersalah yang menyelinap, Sean berbisik, “Sorry, Thania.” Namun permintaan maaf itu nyaris tak terdengar; fokusnya sudah terpecah, matanya mencari-cari bayangan Diana. Ia tak peduli dengan ekspresi malu atau kesal yang tergurat di wajah Thania. Tanpa pikir panjang, ia segera

