Tok tok tok! Sean mengetuk pintu kamar Diana sekali lagi, kali ini dengan lembut namun penuh keteguhan. Di tangannya ada segelas s**u hangat dan sepotong roti yang baru saja selesai ia siapkan, berharap ini cukup menggugah Diana untuk membuka pintu. Sejak kemarin malam, perempuan itu tidak keluar dari kamarnya, bahkan ketika pagi telah berganti siang. Diamnya terasa bagai dinding tak tertembus, menyisakan Sean di luar kamar dengan keprihatinan yang terus membesar. “Dind, kamu boleh marah. Tapi jangan sampai lupa sarapan, ya?” katanya setengah berbisik, dengan nada penuh permohonan. “Sejak semalam kamu belum makan apa-apa. Setidaknya makan dulu, ya?” Ia mencoba membujuk Diana, berharap kalimatnya bisa menembus pintu yang tebal itu. Ia merendahkan suaranya, mencoba memberi kenyamanan.

