Alastair menatap tubuh rapuh yang ia turunkan di atas ranjang. Serangan yang baru saja ia lakukan tak akan melukai Jazlyn. Serangan itu hanya berfungsi melumpuhkan tanpa menghancurkan organ-organ penting. Ranjang yang dilapisi dari bulu rubah melesak semakin dalam saat Alastair menekan bobotnya ke salah satu sisi. Rambut keemasan Jazlyn tergerai indah di atas bantal bersulam perak, seperti benang-benang sutra yang terjalin satu sama lain. "Sudahkah kau memahami kekuatanku, Sia? Kau bukan apa-apa di mataku!" Kerutan di pelipis Jazlyn semakin dalam. Perlukah Alastair mengingatkan keadaan ini lebih jelas lagi? Tidak bisakah ia memberikan sedikit harga diri bagi Jazlyn? Sungguh lelaki biadàb. "Ya, Yang Mulia. Aku bukan apa-apa di matamu dan tak akan pernah menjadi apa-apa. Selamanya."

