25

1441 Kata
“ya gue gatau, but she’s kind.” “of course, kalo ga lo bakal ditinggalin gitu aja di jalanan. Apalagi dengan badan lo yang gede gini, dia pasti kesusahan mapah lo.” Alfan berpendapat “iya juga.” “dia mapah lo dari mobil lo yang mogok itu?” “dia mapah gue sampe gue nepi ga kehujanan, terus manggil taksi or grab? I don’t know pokoknya mobil dah, terus ya gitu. Dia mapah gue dari depan sampe ke atas kamar.” “You said you didn't bring an umbrella last night, ga mungkin kan dia ngebiarin lo tidur dalam keadaan basah-basahan gitu.” “ngeliat kasur die yang kering kerontang gitu sih, tuh cewe ga ngebiarin nih anak tidur dalam keadaan basah deh pan.” “she didn’t.” “and?” alfan menuntut penjelasan. “and what?” “gimana caranya lo mandi?” “did she help you to take bath?!” “ahh, she did. Hehe” regan menjawab dengan cengengesan, menimbulkan kesalah pahaman diantara mereka. “don’t you dare to said that she help you to take off your clothes gan.” Alfan bertanya dengan alis yang terangkat sebelah. “lo ga kan gan?” bagas bertanya memastikan. “dia bantuin buka baju gu-“ bagas memotong kalimat regan “LO GA DIGREPE GREPE KAN?” “ga tot, ya kali.” “terus?” alfan menyuruh regan untuk meneruskan penjelasannya. “ya dia buka baju gue, ngambilin baju celana sempak juga. Yang untungnya tu sempak di laci gue baru beli semua alias masih di boxan.” Bagas langsung mengecek isi laci lemari regan, “lo sempaknye satu kali pakai apa gimana deh?” “yaelah kebetulan aje itu, gue ganti isi sempak. Terus dia nyiapin air anget buat gue, nuntun gue mandi sambil bawain baju ganti. Terus gue mandi, udah selesai manggil dia. Yang udah pastinya udah make bawahan.” Regan memberikan penjelasan ketika melihat bagas hampir membuka mulutnya. “baik bener tu cewe.” “dia bahkan masakin gue bubur dan jagain gue sampe pagi.” “menurut gue, itu balas budinya kebanyakan.” Alfan berkomentar “bener, ni manusia satu harusnya dia tinggalin aja di sana.” Bagas menimpali ucapan alfan. “yeuuu, untung aja gue nyampe rumah.” “tuhan masih sayang lo gan.” Ucap alfan “mungkin, kalo ga dia bakal biarin gue pingsan di sana terus ada mobil ngelindes gue.” “bersyukur lo nyet, masih diberi nafas sampe sekarang.” Bagas mengubah suasana obrolan mereka, regan hanya tertawa menanggapinya. Setelah itu mereka memakan buah buahan yang telah dipotong nanda sembari menghibur regan agar tidak terlalu kesepian di suasana kehilangannya.                                                                **** Bel pulang sekolah sudah berbunyi, nanda sudah membereskan tasnya bersiap untuk pulang. Kini yang ia inginkan hanya sebuah kasur yang empuk, nanda ingin segera merebahkan dirinya. Nanda bangun dari tempat duduknya saat dia telah membereskan semua barang-barangnya, dia akan segera pulang. Tetapi sebelum nanda hampir sampai di pintu, langkahnya terhenti. Ada david yang berdiri di depan pintu kelas nanda. “what are you doing?” “lo kenapa?” Jevan dan vina hanya bertatapan, nanda tidak pernah berbicara seperti itu kepada david. Ini pertama kalinya mereka berdua mendengar nanda berbicara dengan nanda yang sedikit ketus. “gue gapapa, lo minggir dong dari pintu gue mau pulang.” Jevan dan vina semakin bertatapan seakan ‘ni anak kenapa nih?’ “kita ngomong dulu.” “ya kan daritadi udah ngomong.” “berdua nan.” “yaelah daritadi yang ngomong juga cuman kita berdua.” “what’s wrong with you nan?” “nothing.” “terus kenapa kaya gini?” “david, gue mau pulang. Gue ga dalam keadaan baik-baik aja buat ngomong sama lo sekarang, gue cape. Gue butuh istirahat, besok aja.” Nanda mendorong bahu david kuat sehingga cowo itu minggir, memberi ruang untuk nanda pergi. Tetapi david memegang tangannya. “nan.” “apasi dav, gue ma pulang.” “kita ngomong dulu.” “lepas dav, cengkraman lo sakit.” Setelah melihat keadaan mereka berdua yang seperti tidak baik baik saja, jevan dan vina menyusul nanda. Cengkraman di tangan nanda yang kuat membuat jevan maju. “oi, you hurt her.” Ucap jevan sambil berusaha melepaskan cengkramannya. “it’s not your business jev.” “it’s my business if you hurt her, dia sahabat gue dan gue ga akan tinggal diam kalo lo lukain dia. Sekarang bisa lepas ga? Itu cengkraman lo bikin tangan nanda merah.” Akhirnya setelah mendengar ucapana jevan, david melepaskan nanda. Nanda sontak mengelus tangannya, jelas memerah dan perih. “lo gapapa nan?” tanya jevan “gue gapapa jev.” “nan, gue mau kita ngomong dulu.” “maaf nih dav, gue tau ini bukan urusan gue. Tapi gue liat nanda masih gamau ngomong sama lo, dan dia emang beneran cape hari ini. Dia tadi dihukum karena telat, lo tau kan hukuman telat itu apa? dan tadi ditambahin dijemur dilapangan. Jadi gue mohon lo ngertiin dia sekarang.” Vina mengisyaratkan nanda untuk segera pergi. Nanda mengucapkan terima kasih tanpa bersuara, lalu buru-buru pergi. “tapi-NAN!” david tetap tidak terima melihat nanda pergi. “dia masih cape, butuh istirahat. Besok aja napa, orang masih satu sekolahan.” Jevan bersedekap d**a sambil melihat ke arah david. David hanya mendengus malas. Akhirnya david meninggalkan jevan dan vina. “tumben banget nanda judes ke david.” “gue juga kaget dia ngomong gitu ke david.” “david bikin salah apa ya?” “mungkin.” Jevan mengendikan bahu, tanda tidak tahu. “nanda kan orangnya susah marah, tapi ngeliat sikap dia ke david tadi kayanya tu anak beneran salah deh. Salah apa ya dia?” ucap vina sambil berjalan bersama jevan menuruni anak tangga, untuk pulang dari sekolah. Jevan hanya diam saja mendengar celotehan vina. “apa mungkin dia ketauan selingkuh ya? Bareng sama cewe lain mungkin?” kalimat nanda membuat jevan menghentikan langkahnya. “kalo dia sampe berani ngelakuin itu, berarti dia emang bikin nanda sakit.” “ya kalo emang gitu?” “I swear to God, I will punch him right in the face.” Ucap jevan tegas.                                                                                **** Setelah berhasil melarikan diri dari david, nanda buru-buru pulang ke rumah. Takutnya aja tu cowo nyusul dan mengikutinya, karena selama pacaran nanda tidak pernah membiarkan david mengantar dia pulang tepat di depan rumahnya. Untuk menghindari hal-hal yang tidak perlu. Yang dibiarkan tahu rumah nanda hanyalah jevan, vina, dan pihak sekolah. Setelah beberapa menit dia dalam perjalanan di bus dan beberapa menit perjalanan kaki, akhirnya nanda sampai di rumahnya. Dia langsung menuju kamarnya dan segera mengunci pintunya. Nanda langsung membereskan tempat tidur, merapikan yang berantakan, dan segera membersihkan dirinya di kamar mandi alias mandi. Kebiasaan yang telah lama ia buat ketika dia ingin tidur lama. Sesudah membersihkan diri, nanda akhirnya naik ke atas kasur dan merebahkan dirinya. Rasa lega mengalir begitu saja, punggungnya kini dapat ia istirahatkan. Nanda akan segera meuju ke alam mimpi. Tetapi baru 5 menit dia akan tertidur, pintu kamarnya sudah digedor-gedor dari luar. sangat berisik, dan nanda benci berisik. Dia tidak tahan, akhirnya bangun dari tempat tidurnya. Gagal mengistirahatkan diri. “apasih ge-“ ucapannya belum selesai, tetapi lemparan baju yang mengenai tubuhnya menghentikan kalimatnya. Sarah, mamahnya berdiri di ambang pintu yang telah melemparkan pakaiannya. Nanda menghela nafas. Baju yang biasanya berukuran pas kini terlihat lebih kecil, seperti baru direndam dengan air panas. “ngapain kamu hela nafas?” sentak sarah dengan nada tinggi. “bukan aku mah.” Nanda menjawab dengan sabar. “halah, yang tukang cuci di rumah ini ya cuman kamu doang. Ga ada yang nyuci selain kamu.” “bukan aku mah, aku belum nyuci pagi ini.” “terus siapa kalo bukan kamu?” “ya mungkin anak mamah yang pertama itu, bukan aku.” “karina ga mungkin seceroboh ini, ga kaya kamu.” “aku belum nyuci mah, cucian aku masih banyak di sana belum aku cuci semua. Mamah tanya aja ke kak karin, orang aku belum nyuci.” “terus kenapa kamu belum nyuci?” “nyucinya nanti.” “kenapa harus nanti?” “aku capek mah, mau tidur.” “capek ngapain kamu? Orang sekolah doang, di kelas paling tidur kan kamu? dengerin celotehan guru.” “mah.” Nanda sangat malas berurusan dengan ini. “kamu cape ngapain? Kamu cuman sekolah bukan cari uang kaya mamah. Capeknya kamu ga ada seberapa sama capeknya mamah.” Sarah tidak tahu jika nanda bekerja, sarah tidak tahu jika nanda membiayai dirinya sendiri. Sarah bahkan lupa jika dia belum membiayai anak bungsunya itu biaya sekolah, dia hanya mementingkan dirinya sendiri dan seolah-olah dia merasa yang paling tersakiti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN