Setelah mendengar ucapan mamahnya yang seperti itu, nanda semakin lelah. Badannya butuh istirahat cuyy. Dia ga bisa berdiam diri di sana dan mendengarkan omelan mamahnya yang selalu menyalahkannya. Nanda tau itu tidak sopan tapi dia sudah terlalu muak.
“terserah mamah deh mau bilang apa, aku juga bisa capek. Sekolah sama kerja juga sama sama capek, kita sama sama capek. Oke? Aku mau tidur.” Setelah mengucapkan kalimat itu nanda langsung menutup pintu kamarnya. Sarah hanya tercengang melihat kelakuan anaknya.
“berani banget ya kamu, mamah belum selesai ngomong.” Sarah menggedor pintu lagi, nanda berteriak dari dalam kamar “besok aja ngomelnya mah, aku capek mau tidur. Mamah gausah buang tenaga buat gedor gedor pintu kamarku, capek. Ntar kalo pintunya jebol juga yang bakal disalahin aku.” Akhirnya sarah menyerah, membiarkan nanda menyambut tidur siangnya. Yang mungkin akan sampai nanti malam, atau bahkan pagi?
****
Yang ada di benaknya David sekarang adalah pertanyaan dia salah apa? abis nanda tuh se salah salahnya dia, nanda ga bakal nyuekin atau sampe ngehindar gitu dari david. Selama berpacaran dengan nanda, memang nanda tidak pernah menuntut apa-apa darinya. Baik uang, ataupun harus chatting 24/jam.
David sudah berkali-kali menghubungi Nanda, tetapi sama saja tidak jawab. Akhirnya dia menyerah, david yang sedari tadi mondar mandir mencoba menghubungi nanda kini hanya rebahan di tempat tidurnya. Sembari mengingat apa kesalahan yang telah dia lakukan.
“terakhir chat normal sama nanda tuh kapan ya gue?” ucap david bermonolog, dia mulai menscroll riwayat chat obrolan yang tidak pernah ia hapus. Setelah melihat tanggalnya, dia mulai mengingat kesalahan apa yang telah ia buat. “nanda pas itu terakhir nelpon gue malem malem katanya mau cerita, tapi masa gara-gara gue gamau aja dia marah? Ga mungkin deh nanda kaya gitu.” Ujarnya sendiri sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“waktu nanda nelpon tuh dia tanya gue lagi diman-YAH ANJIR!” kini david menyadari kesalahannya. Dia langsung mengirim pesan kepada nanda.
David
Nan, besok balik sekolah kita ngomong ya? Gue tau gue salah.
Setelah mengirimkan pesannya kini dia hanya bisa berharap nanda mau menemuinya. Nanda sangat berarti bagi david, dia benar-benar tidak bisa kehilangannya. Tetapi waktu itu, dia memang benar benar bosan hingga mencari seseorang untuk diajak pergi.
David memang merasa dirinya sangat jahat, tetapi rasa bosannya mengalahkan segala perasaannya. Nanda selalu tidak punya waktu bersamanya, ah bukan selalu sih lebih tepatnya jarang. Dia tau sejak awal nanda sudah menjelaskan jika dia bukan tipe pacar yang bisa diajak pergi setiap hari, tapi yang namanya bosan bagaimana lagi?
****
Regan kini tengah terbaring di atas kasur, pikirannya melayang. Ia bimbang, apakah ia harus berterima kasih kembali kepada nanda seperti yang disarankan Nanda atau tidak berterima kasih dan kembali ke keadaan semula seperti tidak ada apa apa karena yang dilakukan nanda hanyalah sebatas balas budi sesuai pendapat Alfan.
“kalo gue ngucapin makasih lagi artinya gue harus nyari dia dan gue mager. Tapi kalo gue ikut sarannya alpan ntar gue dikira gatau diri ga sih? Tapi kan kata die sendiri dia cuma balas budi. Berarti kita impas dong ya?” Regan pusing.
Akhirnya regan memilih mengambil hpnya, membuka i********: dan melihat-lihat postingan orang-orang yang pamer kemewahan. Yang sebenarnya regan tahu, yang diposting bukan segalanya dari mereka. Saat sedang gabut hanya scroll scroll tanpa melihat, sebuah ide muncul di kepala regan. Regan mencari akun seseorang, dia memasukkan kata kunci. Yaitu nama seseorang, Nanda.
“Anjir dia namanya pasaran apa gimana sih, banyak bener.” Maklum saja regan tidak pandai dalam hal stalk stalk orang gini, jadi regan sering menggerutu sebal. Tetapi gerutuannya terhenti ketika melihat sebuah akun yang menampakkan sebuah foto profil wajah perempuan.
Brilianiananda_
Sebuah nama account i********: yang sangat basic karena lengkap, singkat, dan polos. Sebuah foto profil bulat kecil menampakkan foto nanda yang mengenakan hoodie putih sedang duduk di depan rak sambil memegang beberapa buku. Rambutnya terurai, membuat wajahnya hanya terlihat sedikit. Tetapi regan tetap mengenalinya, hidung mancung dengan wajah datar itu sangat melekat di pikirannya.
“foto profil i********: ga senyum, postingan isinya cuman rak rak buku doang. Lo jadi pegawai perpus apa gimana sih?” ucap regan mengomentari postingan nanda. Isi i********: nanda hanyalah postingan foto rak buku ataupun novel. Regan semakin penasaran, akhirnya jarinya iseng memencet sorotan yang dipasang nanda.
Terdapat foto dirinya yang hanya terlihat dari belakang, nanda sedang memandangi rak tinggi yang berisi buku. Lalu story kedua, isinya hanya foto bayangan dia dengan rambut terikat, yang ketiga hanyalah foto punggung 3 orang dengan latar belakang gedung sekolah tinggi yang regan bisa tebak itu adalah sahabatnya walaupun terlihat ada seorang laki-laki di situ, dan story yang terakhir. Punggung dua orang, laki-laki dan perempuan yang nmasih memandangi beberapa lukisan. Yang bisa regan tebak jika itu nanda, dan laki-laki disebelahnya adalah orang yang mungkin spesial baginya. Melihat sorotannya hanyalah 3 story.
Sebenarnya regan tidak tau, nanda memang tidak suka foto atau tidak suka memposting fotonya. Karena dilihat dari isi instagramnya, dia tidak menampilkan wajahnya sendiri. Tidak seperti remaja masa kini yang biasa menunjukkan wajah mereka di sosial media. Padahal menurut regan, nanda cukup cantik untuk bisa eksis di media sosial. Ah, ralat. Maksud regan adalah sangat cantik.
“kalo dipikir-pikir gue kepo banget ye jadi cowo, ampe gabut stalking cewe ginian. Hadeh.” Regan langsung menutup instagramnya, mematikan handphone dan langsung memejamkan mata. Dia memikirkan apa yang tidak harus dipikirkan lagi, atau membuat skenario palsu yang pastinya tidak akan terwujud. Namanya juga berusaha untuk tidur, jadi dia harus membohongi diri sendiri agar pikirannya tidak kemana mana. Setelah beberapa menit, akhirnya regan tertidur.
Regan tidak sadar, jika sebelum menutup aplikasi i********: jarinya tidak sengaja memencet tombol follow. Iya, regan ga sengaja ngefollow Nanda.
***
Nanda bangun pagi pagi sekali, sekitar jam 3 hampir setengah 4. Dia tidur sore dan bangun pagi, hebat bukan? Nanda sangat lelah hingga dirinya mampu tidur selama itu. Nanda bangun langsung meregangkan badannya, tangannya meraba sekitar kasurnya mencari handphone. Dia mengecek jam dan juga mengecek beberapa notifikasi. Terdapat beberapa notifikasi yang muncul hari ini, notfikasi dari whatsaap, i********:, ataupun line. Dia membuka line, tempat obrolan nanda dengan jevan dan vina. Nanda hanya membaca obrolan mereka, terlalu telat untuk bergabung di dini hari. Lalu ia membuka notifikasi whatsaap, terdapat chat dari David yang meminta dia bertemu karena dia sudah mengetahui kesalahannya.
“udah tau beneran ni anak?” gumam nanda, lalu jemarinya mengarah ke logo i********: dan membuka aplikasi tersebut. Dia melihat pemberitahuan pengikut baru di sana, lalu membukanya. Nama yang terdengar tidak asing muncul dari sana.