Reganputraadj_
“hah? Ni regan yang kemarin gue tolongin kan? Yang hampir pingsan di tengah jalan itu. Ni cowo ngapain ngefolloe gue coba? Aneh banget, gausah follback lah.” Setelah menutup aplikasi instagramnya dan memastikan tidak ada notifikasi lain, nanda bangun dari kasurnya menuju meja belajar. Dia membuka laptop dan menyiapkan beberapa buku. Dia harus belajar, dan menyiapkan beberapa chapter untuk dikirimkan. Nanda tau, dia tidak akan menjadi wanita penting jika dia hanya punya wajah yang menawan. Siapa yang peduli jika cantik tapi tak punya otak? Nanda juga mati-matian belajar karena ingin mengambil jurusan agar lebih mudah. Dia memang belum punya tujuan nantinya akan masuk ke universitas mana dan jurusan apa, tapi setidaknya dengan belajar dia bisa menambah peluang untuk diterima lebih mudah.
Setelah menyelesaikan beberapa tugasnya dan setelah selesai belajar, ia membuat 2 chapter cerita. Puluhan menit dia mengetik dan menghapus tulisannya sendiri. Jika tidak merasa cocok ya dia merasa alay dengan tulisannya sendiri. Yang nanda inginkan adalah dia bisa membuat cerita yang manis tapi tanpa merasa cringe, dan itu susah.
“kalo ada yang ngomong buat cerita gampang, gue tampol tuh mulut dia.” Gerutu nanda sambil tetap mengetik. Abisnya dia beberapa kali kehabisan ide untuk meneruskan plot yang telah ia buat, dan itu sangat menyebalkan. Terkadang juga dia kewalahan dengan idenya sendiri, tetapi juga dia kadang merasa kehabisan ide. Ya namanya juga manusia, ya angga sajalah itu wajar.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 6, setelah dia stress menyelesaikan 2 chapter tulisannya, nanda akan jogging. Dia juga masih ingat jika dia akan bekerja, jadi ya dia pagi-pagi sekali sudah menyiapkan pakaian joggingnya. Kini dia akan berlatih sprint, iya ga jogging tapi sprint. Entah kenapa, nanda merasa perlu menyiapkannya. Jantungnya terlalu lemah untuk pekerjaannya, dan dia tetap mau memaksa itu. Makanya dia akan berlatih lari sprint, sapa tau juga menambah kecepatannya kalo dia telat terus ngejar bus. Kan bisa bermanfaat juga tuh olah raganya.
Setelah selesai jogging, nanda segera membasuh tubuhnya dan bersiap-siap untuk tidur. Ketika dia akan memejamkan mata, ada satu notifikasi.
OM OM
Oi cil, rabu lo bisa ga??
Pesan dari om-om yang ditemuinya di halte itu mencegan nanda untuk tidur, dia hanya save nomor sebagai om-om karena belum tau nama mereka semua.
Nanda
Bisa om, dimana tempatnya?
OM-OM
Ntar gue kabarin.
Nanda
Oke om.
Setelah membalas pesannya dia memejamkan mata.
***
Pagi-pagi sekali Regan sudah bangun, ga pagi banget sih. Jam 7, karena ada kelas dadakan. Tetapi sampai di kampus, dosen membatalkan kelas dengan begitu saja. Dengan alasan ada kepentingan lain.
“yeuu, kepentingan lain apaan? Gue juga punya kepentingan kali.” Ucap bagas sebal karena dia sudah sampai di kampus terlebih dahulu dan telah menunggu lama.
“bangke, gue udah cepet cepet ga sarapan ternyata ga jadi kelas.” Ucap alfan sambil meminum satu botol aqua kecil.
“yaelah, kaya lo pada ga pernah gini aja.” regan santuy sambil selonjoran di taman kampus, tempat mereka bertiga kali ini berada.
“masalahnya ni, kalo kepentingan? Mahasiswa kan juga ada kepentingan. Mahasiswa juga manusia kali, dosen juga sama. Harusnya sama rata dong.”
“ntar, kalo kita ga masuk kelasnya. Dosen bakal bilang ‘seberapa penting urusan kamu sampai absen kelas saya?’” ucap alfan menimpali pendapat bagas.
“dosen kenapa ga mikir ya? Seberapa usahanya kita buat hadir di kelas mereka?”
“padahal kita udah berusaha banget, tapi dengan seenaknya ngajuin atau mundurin waktu.”
“masalahnya nih ya, mahasiswa kan asalnya ga dari satu komplek doang. Dikira dari rumah sampe kampus tu ga makan waktu? Ga makan usaha? Ga makan ongkos bensin?”
“gue juga bingung, kadang ngabarin kelasnya dadakan banget. Satu jam coy, satu jam sebelum kelas.” Bagas mengungkapkan pendapat dengan menggebu-gebu.
“mending kalo jarak kampus sama rumah deket? Kalo makan satu jam gimana coba? Kan banyak mahasiswa yang gak kost juga, buat ngirit biaya kan mereka laju. Dikira kita punya buroq apa?” Ucap alfan menambahi.
“btw pan, buroq tuh apa?” regan bertanya kepada alfan.
“weee, lo pelajaran agama bolos ke kamar mandi yee?” tuduh alfan.
“beda server dia cok.” Ucap bagas sambil menggeplak punggung alfan.
“oiya ya. Jadi gini gan, di agama kita tuh ada yang namanya sejarah gitu. Nah diceritain kalo buroq tu hewan yang berfungsi kendaraan nabi pas waktu isra mi’raj, perjalanan ribuan tahun gitu bisa nyampe dalam beberapa hari doang karena saking cepetnya larinya.” Ucap alfan memberikan penjelasan.
“terus sekarang masih ada ga?”
“ya ga ada, orang cuman ada pas jaman nabi. Itu juga termasuk mukjizat tuhan sih.” Bagas menjawab pertanyaan regan.
“keren juga ye.” Regan manggut manggut.
“jadi gimana gan?” tanya bagas.
“gimana apanya?”
“setelah dapet penjelasan dari alpan, tertarik gak?”
“tertarik apa?”
“pindah server?”
“yeuuu, gak dulu gas.” Ucap regan sambil melempar kulit kacang kepada bagas. Mereka bertiga hanya tertawa.
“bosen banget gue.” Ucap regan.
“sama.” Timpal bagas dan alfan bersamaan.
“lo belum sarapan kan pan? gimana kalo kita pergi cari sarapan aja?” regan mengusulkan.
“boleh juga, mau makan dimana?” tanya alfan.
“yang murah aja deh, gue ga ada duit.” Bagas mengusulkan pendapat, dan direspon anggukan mereka berdua.
“yang murah plus enak dimana ya?”
“geprek?”
“bosen banget anjrit, idup mati geprek mulu gue jadi anak kost.” Ucap bagas sambil meratapi nasib.
“terus mau lo apa?” tanya regan kepada bagas.
“terserah.” Jawab bagas.
“nasi goreng?” alfan mengusulkan pendapat.
“ogah, gue semalem baru makan nasi goreng. Beli depan kost karena ada abang abang lewat yang jual, eh asin banget. Gue trauma, ganti ganti. Ganti aja, yang lain.” Bagas menolak.
“mau lo apa gas?” kini alfan yang bertanya.
“terserah.”
“gudeg?” regan kembali bertanya.
“lo pada mau makanan manis di pagi hari? Terus kemarin juga baru makan gudeg sekarang mau gudeg lagi?” bagas menolak usulan regan.
“gini aja deh, sekarang lo pengennya apa? biar kita yang ikut lo.” Alfan mengusulkan pendapat.
“terser-“ ucapan bagas terpotong,
“lo ngomong terserah lagi, gue gampar tu cocot.” Ucap regan galak sambil mengacungkan telunjuknya ke bagas.
“hehe, yaudah iya iya.”
“terus sekarang lo mau makan apa?”
“gimana kalo kita makan nasi uduk aja? deket sma alaska? Enak plus murah tuh.”
“oke, gimana gan?” jawab alfan, lalu meminta pendapat regan.
“ok in aja, daripada ga jalan jalan kebanyakan terserah terserah.”
“kita ke nasi uduk nih?” tanya alfan sekali lagi.
“yoi.”