Pelajaran kini telah usai, sesuai janjinya David akan menemui Nanda. Sesudah guru yang ada di kelas nanda mengucapkan salam, David langsung nongol di pintu. yang membuat nanda bertanya-tanya ‘penting banget?’
Setelah semua murid yang berada di kelasnya telah keluar, David masuk ke dalam kelas nanda. Dia berjalan perlahan ke arah nanda duduk. Nanda hanya diam saja, menunggu laki-laki itu mendatanginya.
“Nan, gue mau ngomong.” Ucap david setelah sampai di depan bangku nanda.
“tuh lo udah ngomong.”
“empat mata, sama lo aja.” ucap david, karena sedari tadi jevan dan vina tidak berhenti-hentingnya memandangi mereka berdua.
“kenapa ga disini aja?” tanya nanda.
“ga enak nan, gue cuman mau ngomong sama lo.” Jelas david.
“oke.” Nanda mengiyakan ajakan david dan segera bangun dari tempat duduknya. Jevan dan vina yang melihat itu menatapnya,
“kalo ada apa-apa, telpon gue .” ucap jevan, nanda hanya mengacungkan jempol.
Nanda dan david berada di belakang sekolah, mereka hanya berdua. Untung saja letak belakang sekolahnya ini terang, dan dapat dilihat dari sudut manapun. Jadi nanda tidak perlu khawatir jika david melakukan macam macam.
“lo mau ngomong apa?” tanya nanda sesudah sampai di sana.
“nan, gue ada salah ya?” david bertanya balik kepada nanda, nanda hanya menaikan sebelah alisnya.
“ya menurut lo?”
“kalo gue ada salah, bilang dong nan.”
“menurut lo, lo bikin salah ngga?” tanya nanda memojokkan.
“gue salah nan.”
“apa?”
“gue ga jawab chat lo, gue ngabaiin lo sampe sampe lo nelpon gue. Gue minta maaf.”
“lo ngerasa bersalah?”
“iya nan, maaf ya?”
“was I really nothing to you?”
“hah?”
“ga jadi.”
“gue minta maaf ya?”
“lo cuman ngerasa salah itu aja?”
“iya.”
Jawaban David membuat nanda berpikir, ahh dia ga nyadar ya?
“cuman itu aja?”
“ada lagi ya nan?” David menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya benar benar menandakan dia tidak tau apapun.
“dav.”
“iya?”
“lo tau kan gue percaya banget sama lo?”
“iya gue tau.”
“ada satu hal yang perlu lo inget dav, gue bisa maafin semua kesalahan lo tapi engga dengan cara lo duain gue.”
David langsung terdiam, lo tau ya nan?
“kalo gue nglakuin itu?”
“gue akan beri satu kesempatan buat lo, cuman satu kesempatan.”
“beneran?”
“jadi lo duain gue ya?” tanya nanda, david langsung panik
“engga nan, gue ga duain lo.”
“yaudah bener.” Nanda berpura-pura tidak tahu.
Nanda memang sudah memikirkan ini sejak tadi malam, dia memang sakit. Tapi nanda juga tidak bisa kehilangan david. Mudahnya gini,
‘sama kamu aku sakit, tapi kalo ga sama kamu?aku jauh lebih sakit.’ Iya, David seberharga itu bagi nanda. Karena kehadiran david selalu bisa ngisi ruang kosong buatnya. Karena kehadiran david, nanda bisa senyum selain sama sahabatnya. Dan kehadiran david yang sudah terbiasa bagi nanda, membuatnya sulit melepaskan david.
‘I think I need you, and that’s so hard to say.’
Mungkin bagi sebagian orang yang melihat hubungan nanda dan david, mereka akan berspekulasi jika hanya david yang menyukai nanda. Padahal, nanda juga. Hanya saja, nanda menunjukkannya tidak secara terang-terangan. Dia bingung bagaimana cara mengungkapkan perasaannya, hingga hanya beberapa kalimat saja yang keluar dari bibirnya untuk menunjukan perhatiannya.
Jika kalian akan beranggapan bodoh karena nanda memaafkan david semudah itu, maka nanda sendiri juga akan setuju.
‘I’m that kind of person who notices everything but stays quiet.’ Jika nanda disuruh mendeskripsikan dirinya, maka dia akan menyebutkan kalimat itu. Iya nanda sadar, cheating is a choice, not mistake. Tapi she still need him in her life, jadi nanda tidak bisa melepaskannya begitu saja. Dia akan memberikan satu kesempatan untuk david, hanya satu. Jika david nantinya akan mengulangi kesalahan, maka nanda akan benar-benar pergi meninggalkannya.
“kalo lo udah ga ada rasa sama gue, bilang ya dav?”
“kenapa nan?”
“gue lebih milih ditinggalin lo dengan penjelasan, daripada ditinggalin lo dengan kebohongan.” Ucapan nanda membuat david terdiam, david sangat merasa ucapan nanda menamparnya.
“kenapa lo bisa ngomong gitu nan?”
“I watched you slowly unloving me...”
*****
Regan kembali ke rumah orangtuanya untuk mengambil laptop dan beberapa barang-barang pribadinya. Setelah kepergian papahnya, mamahnya hanya berada di dalam rumah. Regan juga khawatir akan kondisi mamahnya.
“mah? Gamau ikut ke rumah yang deket kampus?” regan bertanya kepada mamahnya yang masih membersihkan barang-barang milik mending ayahnya.
“ngga Regan, mamah di sini aja.” tolak Lesna halus.
“kenapa mah? Kan ada regan di sana. Mamah ga bakal kesepian.”
“mamah sayang kalo ninggalin rumah ini, kan mamah sama papah tiap hari tinggalnya di sini. Bukan rumah yang ada di sana.”
“mamah beneran gamau pindah ke sana?” tanya regan sekali lagi.
“iya regan, mamah di sini aja. nanti kan ada mbak sarwi yang nemenin mamah di rumah. Jadi ga kesepian mamah.”
“tapi kan mba sarwi cuman bersih-bersih rumah, itu juga kalo udah selesai langsung masuk rumah kan?”
“nanti mamah suruh nemenin, gampang kan? Udah kamu gausah khawatir sama mamah.” Lesna menenangkan anaknya, dia tau jika regan khawatir tapi dia enggan meninggalkan rumah yang berisi kenangan bersama suaminya.
“yaudah bener ya? Mamah kalo kesepian telpon regan ya? Kalo ada apa-apa telpon regan, kalo butuh apa-apa telpon regan, kal-“ ucapan regan terpotong
“iya iya sayang, mamah tau. Sekarang barang-barang penting kamu di kamar udah diambil semuanya?” lesna menyela ucapan regan, karena ia tau anaknya itu akan sangat bawel. Persis seperti suaminya.
“ishh, iya ini udah.”
“yaudah sana berangkat.”
“iya iya, mamah ngusir banget? Ga seneng ya anak sendiri pulang ke rumah?”
“seneng sayang seneng.”
“idih ucapan berbanding terbalik dengan perbuatan, ga boleh tau mah.” Lesna hanya tertawa mendengar ucapan regan.
“iya iya, kamu hati hati ya nyetirnya?”
“iya mah, nanti kalo regan ada waktu luang regan pasti nemenin mamah ko.” Regan dan lesna berjalan menuju mobil.
“iyaa, mamah tunggu ya. Kamu jangan lupain mamah ya?”
“ya kali anak lupa sama ibunya sendiri.”
“kan mungkin, kalo ada pacar mah siapa tau? Hayo?”
“mamahhhh.” rengek regan seperti anak kecil, mamahnya ini selalu bertanya tentang keberadaan pacarnya yang saat ini tidak ada. regan ya bingung jawabnya.
“apa sayang?”
“regan belum punya pacar.”
“yaudah tinggal cari.” ujar lesna simple
“idih dikira cari pacar kaya beli permen apa, susah tau mah.”
“masa anak mamah cakep gini ga ada yang mau?”
“iya ga ada huhu.” Regan berakting sedih di depan mamahya, lesna menabok lengan pria itu.
“halah kamu ini, palingan kamunya aja yang terlalu pilih pilih.”
“ih beneran.”
“yaudah iya, mamah percaya.”
“yaudah regan berangkat dulu ya mah?”
“iya sayang, sana.” Regan langsung memasuki mobil dan menutup pintu. Ketika mobil akan berjalan, lesna mengetuk kaca jendela mobilnya.
“regan?” panggil lesna dengan lembut, regan segera menurunkan kaca mobilnya.
“iya mah?”
“jangan ngebut ya.” Ucapan lesna membuat regan tersenyum, pasti mamahnya mengkhawatirkannya seusai kejadian yang menimpa papahnya.
“iya mah.”
“regan, kalo udah sampe kabarin mamah ya?”
“iya mamah sayang.”
“janji?”