29

1275 Kata
“iya, janji.” Setelah mengucapkan itu, lesna mengangguk dan membiarkan anaknya pergi. Regan paham akan kekhawatiran mamahnya, karena dia belum memberi tahu kejelasan tentang kecelakaan itu. Mamahnya juga dalam keadaan duka, dia tidak mau menambah beban mamahnya. Regan beberapa hari lalu menggunakan waktu kosongnya untuk mengotak atik rekaman cctv. Dan menghubungi temannya yang tau bagaimana cara mengubah rekaman cctv menjadi rekaman yang berkualitas hd. Setelah melakukan beberapa pencarian, regan dapat melihat jelas senyum dan tatoo seseorang itu. Untuk saat ini, regan hanya diam. Membiarkan para pelaku menikmati kebahagiaanya karena ayahnya sudah tiada, tapi suatu saat nanti dia pasti akan membalaskan semua perbuatan mereke kepada ayahnya. Kalo karma itu gaada, maka akan gue buat karma itu ada.                                                                                **** Hari ini tepat pada hari rabu, dimana Nanda membuat janji dengan om-om random yang ditemuinya. Dia berada di halte, tempat dia bertemu pertama kali dengan om-om tersebut. Nanda telah menunggu di sana kurang lebih 10 menit, dan batang hidung kedua pria berusia matang itu belum juga muncul. “dimana sih? Katanya janjian jam setengah 5, ini jam 5 aja udah lewat.” Keluh nanda. Nanda menggoyang goyangkan kakinya, mengusir rasa bosan yang melanda. Setelah 5 menit menunggu, akhirnya mereka pun muncul. “oi cil.” Sapa mereka, nanda memicingkan mata. “aku punya nama om, jangan panggil cal cil cal cil doang.” Ujar nanda. “dih, kita juga punya nama lo panggil om om doang.” Bela kedua pria tersebut. “yaudah panggil aja, lian. Aku harus manggil om apa?” tanya nanda, lalu mereka memperkenalkan diri. “gue jodi.” Ujar laki-laki yang menurut nanda om-om, padahal ya ga juga. Mereka masih muda, hanya kisaran 20an akhir hampir mencapai 30. Tetapi karena badannya yang sangat besar untuk seusianya, nanda jadi manggil om-om aja sih. “gue rama.” Ujar laki-laki yang menggunakan kalung rantai di sebelah jodi. “ohhh. Okee, om jodi om rama.” “btw gue belum setua itu buat dipanggil om.” “gue juga.” “halah, tapi kan om jodi om rama lebih tua banget dari aku. Yaudah panggil om aja, terima aja si.” Bantah nanda, mereka hanya memutar kedua bola matanya. “jadi gimana? Lo bisa ga?” ujar jodi sambil duduk di sebelah kanan nanda. “bisa sih, tapi kenapa bayarannya 2jt doang ya om?” tanya nanda penasaran. “anying aneh banget gue dipanggil om, panggil aja bang atau kak aja deh lo.” “dih ngarep banget.” “ya emangnya lo mau gue panggil cal cil?” “engga.” “yaudah sama.” “ck, oke. Kak.” Ujar nanda, “jawab dongg.” “lo kan belum tau keadaan di sana, jadi bahaya kalo lo tanding sama yang udah pro. Gue gamau bikin anak orang mati.” Ujar Rama yang duduk di sebelah kiri nanda. Nanda hanya manggut manggut aja. “emang seserem itu ya kak?” “iya, seserem itu. Lo mau mundur?” tanya rama. “kalo lo mau mundur sekarang gapapa, masih ada waktu. Kalo lo udah ada di sana, lo ga bisa mundur.” Ujar jodi. “ga, aku ga mundur kak. Kan butuh uang, kalo mati juga yaudah mati aja.” ujar nanda terkesan tidak peduli dengan nyawanya, ucapan nanda membuat jodi spontan menjitak kepalanya. “heh cil, idup lo masih lama. Lo masih muda, jangan mikir mau mati mati terus napa.” ujar jodi. Bibir nanda mengerucut sebal, sambil mengelus kepalanya yang telah dijitak jodi. “lah kan kenyataan, kalo takdirnya mati ya mati aja si. Masa aku harus gamau mati. Kan setiap manusia pasti mati. Kak jod sama kak rama juga gatau kan, ntar matinya kapan.” “enak aja, lo nyumpahin kita mati cepet gitu?!” sentak rama. “tanya doang kak elah, galak banget idih.” “makanya kalo ngomong jangan sembarangan. Jadi sekarang gimana? Lo setuju ga?” tanya jodi. Nanda hanya menganggukan kepala, tanda memberi jawaban. Lalu mereka bertiga pergi menuju mobil jeep hitam yang terparkir agak jauh dari halte. “widi, mobil culik yang ada di sinetron ini mah.” Kagum nanda, Jodi dan Rama hanya menatap anak itu heran. “lagak lo kaya ga punya mobil aja.” ucap jodi. “punya sih…” “nah kan punya.” “tapi ga pernah naik mobil.” Ucap nanda sambil menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. “kok bisa?” tanya rama yang masih fokus menyetir, nanda lalu menjawab dengan singkat. “ga boleh naik.” “sama?” “keluarga.” “lo anak tiri?” tanya jodi kepo, ia biasa menonton sinetron sinetron anak tiri yang tersisihkan gitu jadi curiga sama nanda. “anak kandung ck.” Sanggah nanda. “kok bisa ga dibolehin? Lo punya sodara?” tanya rama. “punya, 1. Ada kakak, tapi ya gitu. Mereka sama aja.” ujar nanda. “lo ga pernah tanya emang?” “enggak, orang ga pernah ngobrol. Kalo ketemu di rumah ya palingan aku dimarahin terus. Jadi males.” “oh gitu.” Ujar rama dan jodi. Batin mereka juga sama sama mengkasihani nanda, perempuan remaja yang kecil hidup di tengah keluarga yang seperti itu. Mereka akhirnya diam selama beberapa menit. “btw kak, kita mau pergi ke tempat itu ko lama banget ya?” tanya nanda yang sedari tadi memerhatikan jalan yang dilaluinya. “ga jauh kok, tu bentar lagi nyampe. Gudang yang ada di tengah hutan itu di sana.” Tunjuk rama ke depan agar nanda bisa melihat.. “ko letaknya melosok gini?” “yaelah cil, kalo ga mlosok ya bakal digrebek sama pakpol.” Ujar jodi. “emang kenapa?” “ram, ni bocil satu bawa balik aja ga si? Polos banget kasian kalo dibawa ke dalem.” Ujar jodi yang membuat rama tertawa, nanda hanya mengerjap polos menatap mereka berdua. “yaudah, kita ajarin biar ga polos polos amat. Dunia bahaya buat anak polos macam dia jod.” “bener.” Jodi setuju dengan ucapan rama. Nanda hanya diam saja mendengarkan percakapan mereka bedua, kalo dibilang nanda polos ya jujur aja. bagi dirinya, nanda ga polos polos amat. Tapi nanda baru tau jika ada dunia yang lebih gelap dari hidup di dalam rumahnya. “nih, udah sampe. Turun.” Ujar rama setelah memberhentikan mobil tepat di depan garasi. Nanda turun dari mobil dan menatap sekitar. Gudang besar yang ditumbuhi rumput liar dan tanaman rambat yang sudah mencapai atas tembok. Hening menyelimuti lingkungan mereka, membuat nanda bingung. “kak.” “apa?” sahut mereka berdua bersamaan. “ko sunyi banget? Bukannya ini tempat berantem?” tanya nanda. Jodi dan rama hanya tersenyum mendengar pertanyaan nanda. Lalu mereka berjalan perlahan ke depan pintu, lalu membukanya dengan perlahan. Lingkungan yang tadinya sangat sunyi seperti tidak ada kehidupan, berubah menjadi lingkungan yang sangat bising ketika pintu terbuka. Sorak sorak ramai dari ratusan orang yang ada di dalam memekakkan teinga nanda. Nanda kehabisan kata-kata. Dia baru melihat yang seperti ini untuk pertama kalinya. “oi cil, ngedip.” Tegur jodi. Nanda lalu spontan mengedipkan mata, jodi hanya terkekeh melihatnya. “masuk.” Perintah rama, nanda menurutinya. Dia berjalan perlahan, mengekor di belakang punggung mereka berdua. Sepanjang perjalanan dari pintu sampai hampir di tengah ruangan, nanda melirik keadaan kanan kirinya. Bau rokok ada dimana mana, alkohol yang terlarang pun dapat ditemukan dengan mudah di sana. Ratusan pria bertubuh kekar ada di luar, sebagian ada di ring. Ada banyak pria tua dengan pakaian rapi berdasi, yang bisa nanda tebak jika para pria beruban tersebut melakukan taruhan dengan nominal yang cukup tinggi. Disamping mereka, banyak wanita wanita cantik berkaki jenjang dengan pakaian yang kurang bahan. “dunia yang gue liat, belum seberapa ternyata.” Batin nanda setelah memasuki tempat itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN