Setelah berjalan melewati beberapa orang, akhirnya jodi dan rama berhenti. kepala nanda yang membentur punggung keras Rama, membuat perempuan itu menghentikan langkahnya.
“kalo jalan, ngadep depan.” Tegur rama, nanda mengangguk. Melihat nanda yang masih menundukan matanya membuat rama sebal.
“lo mending pulang aja sono.” Ujar rama.
“engh..Kok gitu?” tanya nanda yang kini akhirnya tidak menundukan kepalanya.
“takut kan?” tuduh rama, nanda hanya diam. Nanda sebenarnya takut berada di sini, di lingkungan yang sangat asing baginya.
“kalo mau lari sana lari, inget jalan pulang kan? Sono pergi.” Usir rama.
“ram,” tegur jodi kepada rama.
“lo ga liat ni anak gemeteran jod? Dia ga bisa di sini.” Ujar rama, yang telah melihat tubuh nanda bergetar.
“dia baru ram, dia baru ada di sini. Ini pertama kalinya buat dia, lo jangan keras sama dia.”
“gue ga peduli.” Ujar rama, nanda hanya diam di tempat sembari gelisah menggaruk jarinya yang tidak gatal.
“lian.” Ucap jodi. Itu pertama kalinya dia memanggil nanda dengan namanya. “kalo lo takut, lo boleh pergi dari sini. Kita ga akan maksa.” Mendengar ucapan jodi, nanda menggeleng. Tindakan nanda membuat rama jengah. Dia berjalan ke arah nanda, lalu mengarahkan jarinya ke dagu nanda. Menarik dagu nanda hingga wajah itu mampu menatapnya. Nanda memejamkan mata.
“buka mata lo.” Perintah rama. Nanda perlahan membuka matanya. Dilihat sosok itu sedang menatap tepat di kedua matanya.
“lo mau mundur atau maju ke ring di sana?” ucap rama, nanda perlahan melirik ring yang berada di belakang punggung rama.
“m-m-aju.” Ucap nanda dengan gugup, rama yang mendengar jawaban nanda yang tidak puas mengulangi pertanyaanya.
“lo mau mundur atau maju?”
“ma-ma ju.”
“gue tanya sekali lagi, jawab yang tegas. lo mau maju atau mundur?”
“maju.” Akhirnya rama melepaskan dagu nanda. Nanda perlahan menatap ring itu. Di sana sudah terdapat laki-laki yang betubuh kurus menunggu di sana. Jodi yang mengerti tatapan nanda, bergerak maju kesampingnya. Menjelaskan kepada nanda.
“yang di sana, itu musuh lo. Baru nyoba pertama kali, sama kaya lo. Tingginya aja yang beda, tapi poin plusnya dia ga punya bakat bela diri kaya lo.” Jelas jodi kepada nanda.
“aturan di sini, lo bakal menang kalo bisa jatuhin lawan lo dan nahan dia dibawah lo selama 10 detik.” Ujar rama kepada nanda.
“jadi aku bakal menang kalo berhasil nahan dia dibawah selama 10 detik?” tanya nanda.
“iya.” Nanda mengangguk paham. Lalu ia mulai mengamati lawannya, tubuhnya yang lesu menandakan jika dia kurang beristirahat. Postur berdirinya yang tidak tegak, menandakan jika dia memiliki satu kaki terkuat. Lalu nanda perlahan maju, berjalan masuk ke ring. Ricuh langsung terjadi di sana.
“WOI CEWE YANG MAJU!”
“anjing, kalo kalah tuh orang bakal malu.”
“CANTIK WOI!”
“BOCIL NGAPAIN DI SINI ELAH.”
“HEH MUNDUR AJA LO, BALIK KE KETEK MAMAH.”
Cercacaan dan ricuh yang ada, tidak mengganggu nanda. Dia berjalan mantap ke ring. Lalu mulai mencopot jaket yang sedari tadi ia pakai. Sport bra hitam dan celana pendek hitam hanya melekat di tubuhnya.
“BEHHH”
“BUSET BODYNYA!”
“INI MAH BUKAN BOCIL!”
“WOI NENG BALIK AMA ABANG AJA, JANGAN MAIN DI SINI!”
Nanda tidak menghiraukan teriakan mereka. Nanda berdiri di tengah, mengamati lawannya yang kini sudah maju. Lawannya sudah melakukan kuda-kuda yang membuat nanda lebih mudah mengamatinya.
‘kuda kudanya ga kuat, kaki kirinya lemah.’ Batin nanda, lalu perlahan ia juga menyiapkan diri. Nanda membayangkan jika ia disini sedang turnamen kejuaraan taekwondo yang biasa ia ikuti, sehingga tidak akan terlalu gugup.
‘kepalan tangan kirinya kuat, tapi kanannya engga. Dia bakal gunain tangannya lebih sering daripada kaki.’ Batin nanda memperhatikan lawannya.
“siap?” nanda dan lawannya menganguk yakin. Lalu peluit tanda start berbunyi.
Nanda mulai memasang kuda-kuda dan berjalan perlahan melewatinya. Menunggu saat saat yang tepat untuk menyerangnya. Tapi seperti yang ia duga, lawannya maju terlebih dahulu hendak memukul dengan tangan kirinya. Nanda berhasil mengelak, dan melayangkan tendangan kaki kanannya ke perut lawan. Yang berhasil membuat lawannya mundur beberapa langkah.
“Dia pinter ram.” Ucap jodi yang sedari tadi mengamati, rama mengangguk menyetujuinya.
Setelah berhasil menendang mundur lawannya, dia diam mengamtinya. Ricuh memenuhi sekitar ring nanda, mereka sangat tidak sabar melihat pola pertandingan yang seakan main tenang.
Nanda maju terlebih dahulu, mendekati lawannya. Dia membuat gerakan maju untuk memancing, lalu menurunkan tendangannya ketika lawannya bergerak maju hendak memukulnya. Nanda tersenyum perlahan, lalu mengeluarkan tendangan yang telah ia kuasai. Nanda bergerak menendang dengan membabi buta, menyudutkan lawannya hingga ke pojok ring. Laki-laki itu tidak terima dengan tendangan nanda, akhirnya melayangkan pukulannya. Sayangnya nanda tidak memperhatikan tubuh bagian atas lawan karena fokus dengan kakinya, hingga sudut pipinya terpukul.
‘damn, it’s hurt.’ Gerutu nanda.
Nanda mulai menggunakan tubuh bagian atasnya, memukul pria itu. Tapi karena tubuh bagian atasnya tidak kuat, nanda dengan mudah dikunci lawannya. Ia dikunci dari belakang.
‘yo, strong girl.’ Bisikan lawan di telinganya terdengar.
Nanda mulai menyikut pria itu dan menendang dwi chagi, menendang dengan gerakan memutar tubuh dengan titik tujuan d**a dan ulu hati lawannya. Pria itu berhasil mundur. Tetapi seakan tidak menyerah, lawannya kembali maju dan menendang nanda.
‘not bad.’ Batinnya.
Karena tenaga yang dikerahkan nanda cukup terkuras, nanda kembali menendang lawannya. Menendang perut bagian sebelah kiri, berkali kali. Dan menendang perut bagian kanan berkali kali. Lalu selanjutnya dia menendang brutal perut kanan dan kiri lawannya hingga lawan tersebut mundur. Dan yang terakhir dia kembali menendang dwi chagi dengan sangat kuat, hingga lawannya terduduk jatuh. Nanda spontan mengunci lawannya di lantai, sampai hitung mundur pun terdengar.
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
Wasit mengangkat tangan nanda ke atas, pertanda nanda berhasil memenangi pertandingan itu. Nanda langsung memeriksa lawannya lagi, memeriksa apakah ia baik baik saja.
“sorry, lo ga sakit banget kan?” ucap nanda sambil menyentuh laki-laki itu.
“lo liat aja sendiri, sakit ga?” sentaknya.
“ya maaf, kan namanya juga biar menang.”
“lo cewe apa cowo sih? Sakit cuk.”
“kan udah minta maaf.”
“minggir.” Ucap laki-laki itu hingga mendorong nanda jatuh. Jodi dan rama memasuki ring dan menghampiri nanda. Jodi membantu nanda untuk berdiri.
“lo gapapa kan?” tanya jodi kepada nanda.
“gapapa kak.” Ujar nanda, rama menyampirkan jaket ke tubuh nanda agar tubuhnya tidak lagi dilirik oleh para pria di sana yang terlihat seperti singa kelaparan. Nanda memakai jaket tersebut.
“balik.” Ujar rama.
Rama berjalan mendahului mereka, jodi berjalan di samping nanda. Mereka berjalan hingga menuju mobil, sepanjang perjalanan mereka hanya diam.
“lo tidur aja.” ucap rama. Jodi menganggukan kepalanya setuju dengan ucapan rama, dan nanda menurutinya.
Setelah beberapa saat, mereka sampai di rumah rama. Tepatnya tempat tinggal jodi dan rama. Setelah mematikan mesin mobilnya, nanda di bangunkan oleh jodi. Mereka beristirahat di rumahnya.
“obatin dulu muka lo.” Ujar rama sembari memberikan kotak P3K kepada nanda. Nanda menurutinya. Dia mengobati lukanya sendiri, sambil menunggu rama dan jodi menghampirinya. Nanda lalu membuka jaketnya, memberi salep di luka yang terkena tendangan tadi. Saat nanda mengoleskan salep di perutnya bertepatan dengan jodi dan rama yang menhampirinya. Mereka berdua kompak balik badan, membelakangi nanda. Membiarkan perempuan itu mengoleskan salep dan menunggu menutup jaketnya. Nanda yang melihat itu menaikan alisnya.
“kenapa kak?”
“gapapa,” ucap rama singkat.
“nunggu lo selesai.” Jelas jodi.
“halah, tadi juga udah liat ko. Gapapa, balik badan aja.” ujar nanda, membuat jodi membalik badannya, tetapi ditahan oleh Rama.
“jod, ga sopan.” Cegah rama. Jodi akhirnya menuruti rama.
Usia jodi dan rama tidak terpaut jauh, tapi rama lebih tua dari jodi sehingga laki-laki itu menurutinya. Rama dan jodi juga ga tua tua amat, hanya berusia sekitar 29 tahunan dan 27 tahunan. Rama tentunya tau, walaupun usia nanda yang udah kelas 3 sma berarti sedikit lagi sudah usia legal tapi tetap saja dia tau diri. Rama memang dewasa, sedangkan jodi seperti sosok adik yang sangat perhatian.
“udah belum?” tanya rama kepada nanda.
“udah kak.” Ujar nanda. Rama dan jodi akhirnya membalik badan dan berjalan menuju regan, jodi memberikan perempuan itu air putih dan beberapa buah buahan segar.
“sehat banget kayanya ya, cuman air putih ama buah.” Sindir nanda.
“terus gue harus masakin lo makan malam gitu?” balas jodi. Nanda hanya terkekeh, tapi tetap memakan buah dan meminum air putih yang telah disuguhkan.
“nih bayaran lo.” Ujar rama sembari memberikan amplop kepada nanda.
“widi, langsung nih? Cash?” tanya nanda, rama mengiyakan. Lalu nanda mulai mengintip jumlah uang yang berada di dalamnya.
“cukup?”
“cukup, hehe” nanda tersenyum senang, membuat rama juga ikut tersenyum.
“anterin pulang jod.” Perintah rama kepada jodi yang sedang asik memakan buah.
“lah kan lo udah pulang ram.” Ujar jodi seadanya.
“maksud gue, anterin tu sebelah lo.” Jelas rama, jodi pun mengangguk dan berdiri dari tempat duduknya.
“ayok.” Ujar jodi ke nanda yang masih diam duduk di tempatnya.
“eh kak.”