Hari sudah pagi, dan kini Nanda sudah bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Semua perlengkapan baik itu buku pelajaran, bekal, ataupun botol minum sudah ia masukkan di tasnya. Ia mengambil earphone yang berada di atas lemari, tak lupa mematikkan laptopnya yang sedari tadi menyala karena pekerjaan menulisnya.
Nanda berangkat seperti biasa dengan menggunakan bus, sesudah 15 menit ia sampai di sekolahnya. Nanda berjalan menuju kelasnya dengan langkah kaki yang santai, menaiki tangga dengan perlahan. ‘perlahan tapi capek.’ Begitu kira-kira isi hati nanda, hampir setiap hari ia menaiki tangga menuju kelasnya tapi tetap saja ia belum terbiasa dan pasti mengeluh.
Nanda memasuki kelasnya dengan santai, teman-temannya sudah kelabakan mencari apa saja perlengkapan yang hilang. Ini hari senin, jadi wajar saja seluruh siswa siswi panik. Karena jika mereka tidak memakai pakaian lengkap maka mereka akan dihukum berjemur di lapangan selama 1 jam dengan matahari yang sudah naik.
Nanda menaruh tasnya dan duduk santai, vina dan jevan baru baru saja masuk kelas. Mereka sudah sampai dari tadi jika dilihat dari tasnya sudah mereka taruh di meja, tapi vina dan jevan mampir ke kantin dulu untuk membeli cemilan ataupun sarapan.
“darimana lo?” nanda menyapa
“kantin.” Ucap vina dengan singkat lalu duduk di sebelah meja nanda. Jevan menaruh s**u coklat dan roti coklat di meja nanda tanpa berkata apa-apa. nanda hanya mengucapkan terima kasih kepada jevan yang ditanggapinya dengan jawaban ‘heem’. Jevan sudah terhitung biasa memberikan nanda sarapan, mungkin karena dia tahu nanda sempat cerita jika hari senin adalah hari termagernya untuk sarapan.
Bel sekolah sudah berbunyi, tanda upacara akan segera dimulai. Semua siswa dan siswi sudah merapihkan seragam mereka dan membawa topi mereka. Jevan dan vina sudah berdiri terlebih dahulu dan menunggu di depan pintu, sementara nanda masih asik mencari topinya yang entah ia simpan dimana. Karena jevan melihat wajah nanda yang gusar, ia dengan cepat menghampiri nanda.
“kenapa?”
“topi gue jev.” Ucap nanda memelas, jevan paham karena nanda termasuk orang-orang yang ceroboh dalam membawa hal hal yang penting.
“ilang ya?” vina kini sudah berada di depan mereka. Nanda hanya mengangguk lemas, ia akan dihukum pagi ini. Malas sekali melihat pagi ini sudah panas.
“lo berdua turun duluan aja.” ucap jevan menyuruh vina dan nanda untuk berbaris di lapangan terlebih dahulu karena semua siswa sudah berkumpul di sana.
“lo mau kemana?” tanya nanda yang melihat jevan beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.
“nyariin topi buat lo.”
Akhirnya nanda dan vina terpaksa turun terlebih dahulu sebelum diseret oleh guru yang akan mengeceki kelas satu persatu, memastikan murid muridnya mengikuti upacara semuanya. Nanda dan vina baris di barisan paling belakang, mencari aman karena nanda tidak memakai topi. Jevan entah dimana, dia belum terlihat sampai sekarang.
Semua guru yang piket untuk mendisplinkan semua siswa mulai berpencar, mereka melihat murid-murid yang tidak memakai seragam lengkap. Para guru mulai berkeliling di bagian paling belakang, yang sialnya nanda juga berada di barisan itu. Dia tidak tahu akan itu, kalo tahu si nanda udah baris di bagian tengah berhubung tingginya ga tinggi tinggi amat dia bisa bersembunyi dibalik punggung siswa yang lebih tinggi darinya. Tapi ya mau gimana lagi, dia sudah terlanjur baris di barisan belakang. Bulir bulir keringat sudah mulai muncul di pelipis nanda, gadis itu terlihat kepanasan karena sinar matahari kini tepat menyinarinya.
Ketika nanda mengelap keringatnya, tanpa sengaja ia bertatapan dengan bu yeni. Guru fisikanya yang super galak dan kebetulan ini jadwal piketnya beliau. Nanda semakin menundukkan kepalanya.
“kenapa nan?”
“bu yeni anjrit vin, bu yeni yang jaga hari ini.”
“aduh nan, kalo gitu gue angkat tangan. Gue ga bisa bantu lo.”
“ya tuhan gimana nih.”
“udah lo doa aja.”
Perasaaan nanda semakin tidak karuan ketika melihat ke bawah, bayangan bu yeni semakin mendekat. Ketika bu yeni kurang berapa langkah saja mendekatinya ada seseorang yang menarik tangannya.
“jev?!” nanda ditarik oleh jevan, jevan dengan cepat memakaikan topi itu ke Nanda lalu merapihkannya agar tidak terlihat miring.
“topi lo mana?” vina kini yang bertanya kepada jevan.
“gue ga nemu topi buat lo, sekarang lo make topi gue aja dulu.”
“jev, jangan.” Ucap nanda sambil berusaha melepaskan topi diatas kepalanya, yang sontak saja ditahan oleh jevan.
“gue udah berusaha rapihin tuh topi buat muat di kepala lo, lagian gue juga udah lama ga berjemur.” Ucapnya gampang, lalu jevan menuju ke barisan murid-murid yang sedang dihukum karena tidak berpakaian lengkap.
Bu yeni yang melihat nanda sudah memakai topi sontak memundurkan langkahnya dan putar balik, tidak jadi menarik nanda ke barisan murid yang akan dihukum. Sementara itu, nanda hanya terdiam di tempatnya. Ia sangat merasa tidak enak kepada jevan, karena kesalahannya sendiri jevan harus dihukum.
Upacara berjalan dengan sangat lama, mata nanda tak henti hentinya melirik ke arah jevan yang sedari tadi meniup niup poni rambutnya yang kini telah jatuh karena basahnya keringat. Setelah upacara selesai, nanda buru-buru menghampiri jevan.
“jev, gue aja ya yang nerima hukumannya? Ntar gue yang jelasin ke guru, lagian bu yeni udah liat ko tadi gue ga make topi.”
“gausah nan, udah tanggung. Gue udah basah juga, sana lo masuk kelas aja.” ucap jevan sambil menggerakan tangannya membuat gerakan seperti mengusir nanda. Nanda dengan berat hati meninggalkan jevan yang kini tengah terjemur, menggantikan posisinya.
Setelah berada di kelas, vina dan nanda tidak henti-hentinya melirik ke arah bawah memastikan apakah jevan tetap baik-baik saja. Jam kelasnya saat ini kosong, karena guru yang mengajar berhalangan hadir karena suatu alasan tertentu dan hanya diberi tugas. Sebagai siswa yang rajin mereka mengerjakan tugasnya dengan cepat, ga rajin sih lebih tepatnya terpaksa. Jadi mereka bisa bebas melihat jevan dari atas.
“gue ga tahan kalo gini, tugas lo udah belom?” tanya nanda ke vina
“belum, kurang dikit lagi nih.” Jawab vina sambil tetap fokus mengerjakan tugasnya, sementara teman-teman yang lainnya hanya bersantai di dalam kelas. Ada yang tidur, main game, tiktokan, main uno yang sebenarnya dilarang untuk dibawa ke sekolah. Yang mengerjakan tugas hanyalah siswa siswi rajin di kelas, dan hari ini nanda dan vina termasuk di dalamnya ya walaupun rajin karena terpaksa sih.
“gue duluan aja ya? Mau beliin air minum buat jevan, tuh cowo kan sukanya yang dingin.”
“oke sono.” Ucap vina yang masih stay fokus terhadap buku catatannya sendiri.
Setelah mendapat persetujuan vina, nanda bergerak menuju ke bawah dimana terdapat kantin di sana. Nanda membeli sebotol aqua dingin dari kantin dan segera membawanya ke lapangan, di tengah jalan ia terpikirkan ide jahil sekaligus permintaan maafnya. Ia kebetulan membawa spidol putih permanent yang tidak sengaja ia masukkan ke dalam sakunya tadi. Nanda mengeluarkan spidol putihnya lalu menuliskan beberapa kalimat di samping botol putih itu. Setelah menuliskan niatnya, ia segera menuju ke lapangan tempat dimana jevan masih dihukum.