“Regan hiks hiks hiks, Regan..papah kamu gan… hiks” ucap lesna terbata bata sambil menangis.
“papah kenapa mahh?” suara regan sudah bergetar, matanya sudah memanas. Ia takut jika kalimat yang selanjutnya akan ia dengar adalah suatu kabar buruk.
“papah kamu gaada regan.” Ucap mamahnya yang kini tengah menangis meraung raung, tangisan yang membuat siapapun yang mendengarnya akan merasakan patah hati. Apalagi Regan, seorang anak yang mendengar mamahnya menangis meraung-raung karena papahnya telah tiada.
Perlahan dia menurunkan handphonenya, ia terpaku. Matanya perlahan memanas, dadanya semakin sesak, tetes demi tetes air dari matanya mulai perlahan turun.
“mamah? Papah dimana?” seakan enggan menerima kenyataan yang ada, Regan bertanya lagi kepada Lesna.
“papah kamu udah ga ada regan, papah kamu gaada nak. Papah kamu meninggal.” Ucap lesna yang berusaha mengendalikan tangisnya.
Regan langsung mematikan teleponnya, seluruh anggota tubuhnya bergetar. Air mata yang jatuh dari matanya, kini semakin deras. Isak tangisnya mulai terdengar, ia menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya. mie instan yang tadi ia masak kini telah mendingin.
Sosok Regan yang biasanya ceria, telah pergi. Yang tersisa hanyalah sosok Regan yang sangat rapuh, yang masih terisak dibawah sofa besar yang ia miliki.
*****
Alfan dan Bagas buru-buru pergi ke rumah Regan setelah mendengar kabar papah regan telah tiada, bagaimanapun seluruh keluarga mereka dekat. Jadi mereka selalu berkabar satu sama lain. Ketika mendengar kabar jika papah regan tiada, bagas dan alfan sama sama shock mendengarnya. Mereka juga merasa sedih, karena papah regan adalah sosok yang sangat baik hati dan sangat lembut. Mereka buru-buru menuju ke rumah Regan, karena teringat regan yang masih tinggal di rumahnya seorang diri. takut jika laki-laki itu melakukan hal yang diluar nalar. Regan dengan papahnya sangat dekat, mereka berdua sangat menempel. Maka dari itu ketika regan mendengar bagas diajak mancing oleh papahnya dia merasa kesal dan cemburu, masalahnya dalam pikirannya ‘papah hanyalah milik regan’. Memikirkan dua orang ayah dan anak yang sangat dekat itu, bagas dan alfan semakin cemas.
Mereka berdua menaiki mobil Alfan untuk menuju rumah regan, hari sudah malam dan dia hanya di rumah seorang diri dengan keadaan yang tidak stabil, sekarang pasti merasa tersakiti oleh takdir.
Sementara itu, regan di rumahnya kini masih terisak. Ia sama sekali belum bangun dari posisi duduknya. Rambutnya sudah berantakan karena ia acak acak sedari tadi, matanya sudah sangat sembab, hidungnya sudah merah, bajunya sudah sangat basah.
Setelah 5 menit berlalu, regan mulai berdiri dari tempat duduknya. Ia mulai berganti baju, mengambil hoodie hitamnya dan sepatunya. Tangannya mengambil kunci mobil yang terletak di laci meja. Regan akan pulang ke rumahnya, malam ini juga.
Saat ia akan membuka pintu, ia dikejutkan oleh kedua sahabatnya. Alfan dan Bagas sudah ada di depan pintu rumahnya, mungkin karena regan terlalu larut akan kesedihannya ia jadi tidak mendengar bunyi suara mobil yang memasuki rumahnya.
“mau kemana lo?” ucap alfan yang masih mengadang di depan pintu.
“bukan urusan lo.” Ucap regan sangat ketus, ia tidak ada dalam keadaan mood yang bagus hingga menanggapi alfan.
“lo mau kemana gan?” kini bagas yang bergantian bertanya kepada regan, matanya tidak lepas memperhatikan wajah regan yang sudah tertutupi hoodie itu. Tapi bagas dan alfan tau, jika regan menyembunyikan wajah sembabnya.
“minggir.”
“lo mau kemana?” alfan melangkah maju.
“minggir, ini bukan urusan lo.”
“ini urusan gue.” Alfan tetap berada di tempatnya, bahkan tidak bergerak sama sekali. Tingginya yang hampir sama dengan regan, mampu membuat laki-laki itu tidak bergerak melewatinya.
“lo ga ada hubungannya.” Ucap regan sembari mendorong pundak alfan agar laki-laki itu menyingkir.
“GAN!” kini bagas yang berteriak.
“APA!” emosi regan meluap ketika mendengar nada tinggi bagas, ia masih kacau. Regan tidak bisa mengendalikan emosinya.
“LO MAU KEMANA?!”
“GUE MAU BALIK KE RUMAH, MINGGIR!”
“GAK!” seru kedua lelaki itu. Sontak saja, semakin mengundang emosi regan. wajahnya kian memerah, tangannya mengepal keras.
“BOKAP GUE GAADA! GUE MAU BALIK! PUAS?!”
“kita tau.” Ucap mereka, regan pun berhenti ngotot untuk melewati pintu. Lalu alfanpun membuka suara “kita tau gan, kita tau. Makanya kita langsung kesini nyusul lo.”
“lo mau balik kan? Kita temenin.” Ucap bagas sambil menarik kunci mobil regan dan menaruhnya kembali di laci. “lo boleh balik, asal kita yang nganter. Lo masih ga stabil, lo bahayain diri lo sama bahayain orang lain juga.” Ucap bagas yang kini mengambil handphone Regan yang daritadi tergeletak. Regan tidak ingat untuk membawa handphonenya.
“lo masuk mobil, biar gue sama bagas yang ngambilin perlengkapan buat lo.” Ucap alfan menyuruh regan untuk naik terlebih dahulu, sementara mereka berdua mengambil beberapa pakaian ganti dan pakaian untuk pemakaman. Mereka tau regan tidak akan terpikirkan semua itu. Regan menurut, dengan bahu yang sudah lemas ia memasuki mobil dengan diam. Hp yang tadi diambil bagas sudah masuk ke sakunya. Air matanya kini perlahan menetes lagi, ia kembali terisak di dalam mobil.
Alfan dan Bagas yang sudah selesai mengemasi barang regan, sudah keluar dari rumah dan mengunci semua pintu. Alfan hendak membuka pintu, tetapi bagas menhentikannya.
“jangan, biarin dia sendiri dulu di dalem.” Ucap bagas yang melihat regan sedang menunduk sambil mengusap kedua matanya terus-terusan.
“oke.”
Setelah beberapa menit tangisan regan berhenti, alfan dan bagas mengetuk pintu mobil. Untuk memberi tanda jika mereka berdua akan masuk, menghindarkan regan dari rasa malu. Sebenarnya nangis bukan hal yang salah untuk seorang laki-laki, tapi entah kenapa regan tetap merasa malu jika ada yang memergokinya masih menangis. Ketika mendengar ketukan, regan buru-buru mengatur nafasnya. Ia semakin menurunkan hoodienya, menutupi sebagian wajahnya.
“sorry, lama. Tadi bagas kebelet.” Alfan memberikan alasan yang sepenuhnya bohong, mendengar itu bagas mendelik kesal. Ia tidak terima jika dirinya dijadikan sebagai alasan. Tapi karena kondisi regan yang seperti itu, regan tidak peduli.
Mereka menuju rumah orang tua regan yang berjarak 1 jam dari tempatnya. Regan menyandarkan kepalanya di jendela, ia menatap kosong jalanan yang dilewati. Regan sekarang sudah tidak mempunyai tenaga sama sekali. Sepanjang perjalanan mobilpun hening, baik alfan maupun bagas sama-sama tau jika mereka tidak berhak untuk membuat keributan di waktu ini. Mereka memberikan sahabatnya tempat untuk berduka, dan mereka mempersilahkan regan untuk melakukan apapun.
Kondisi rumah orang tua regan sangat ramai ketika sampai di sana, kiriman bunga bela sungkawa juga memenuhi sekitar rumah regan. sosok ayah regan adalah sosok yang sangat baik hati, baik bagi keluarga, tetangga, ataupun rekan kerjanya. Ayah regan tidak pernah menunjukkan emosi yang kasar, dia cenderung berdiam diri ketika ada masalah sehingga orang lainpun tidak akan tahu bagaimana emosi beliau.
Regan turun dari mobil secara perlahan, hoodienya masih tetap menutupi wajahnya. Regan enggan bertatap mata dengan orang-orang yang berada di sana. Matanya hanya menuju ke arah bawah, ia sudah hafal letak bagian rumahnya sehingga bisa mudah saja melewati itu. Langkah demi langkah, regan semakin dekat dengan tempat berkumpulnya isak tangis semua orang.
Langkah kakinya berhenti ketika sudah sampai di depan peti putih, ia perlahan menurunkan hoodienya. Ia melangkah maju ke depan, menuju orang yang sudah tergeletak di dalamnya. Ia melihat wajah tenang ayahnya yang kini sudah tidak bernafas. Air matanya perlahan menetes kembali, pertahanannya runtuh ketika melihat tubuh kaku ayahnya terbaring di sana. Ada beberapa luka yang terlihat di wajah dan tangan milik ayahnya. Regan perlahan terduduk, lututnya lemas. Ia tidak kuat untuk berdiri, tangannya masih setia memegang peti itu. Seolah-olah tidak ingin melepaskannya pergi. Air matanya kini perlahan jatuh dengan deras, bahunya mulai bergetar.
Alfan dan bagas yang melihat kondisi regan yang begitu terpuruk tidak kuasa menahan tangisnya, bagaimanapun regan yang ia kenal adalah sosok laki-laki yang bisa berpikiran dewasa dan berpikiran tenang. Ia tidak pernah menunjukan emosi sedihnya kepada siapapun, sama persis seperti mendiang ayahnya.
Kedekatan alfan dan bagas dengan sosok ayah regan juga membuat mereka menangis, bagaimanapun juga orangtua regan sudah seperti orang tua mereka sendiri. Mereka perlahan berjalan melangkah menuju regan, memeluk sahabatnya yang sedang dalam posisi berduka. Bahu regan semakin bergetar, dia tidak menangis meraung-raung. Tapi getaran bahunya yang sangat terlihat jelas menjadikan semua orang dapat melihat jelas, jika anak itu sangat terpukul dengan kepergian ayahnya. Alfan dan bagas memeluk regan dengan air mata yang menetes berjatuhan, mereka menangis dalam diam.