bab 11

1044 Kata
Bab 11 . Aku hampir saja kesiangan gara-gara tadi malam aku tidur sekitar jam 3 pagi, karena mengerjakan baju pesanan orang, di tambah semalam aku juga mendapat orderan tambahan. Sehingga membuatku harus bekerja ekstra agar pesanan orang itu selesai tepat waktu. Ingin sukses itu tidaklah mudah aku harus bekerja keras agar bisa mencapai semua impianku. "Win, bangun shalat subuh dulu, kita udah hampir kesiangan," aku mengguncang tubuh Winda yang masih terlelap di sampingku, karena semalam Winda ikut membantuku sehingga dia mungkin masih merasa ngantuk juga. "Emmm, Gue masih ngantuk, Syah, bentar lagi ya." "Gak ada bentar-bentar lagi Win, ini udah hampir telat salat subuhnya, ayo cepat bangun." aku menarik tangan Winda agar dia duduk. Setelah Winda membuka matanya, dan sepenuhnya sadar, baru aku masuk kedalam kamar mandi untuk mengambil wudhu. "Winda ayo cepetan ambil wudhu," ternyata Winda malah memejamkan matanya lagi. "Iya Syah, Gue bangun," Dengan langkah sempoyongan Winda menuju kamar mandi, aku segera memakai mukena, lalu menunggu Winda untuk salat berjamaah. ** "Gue berangkat dulu Syah, udah mau telat ini." Winda berlari keluar dari dalam rumah. "Hati-hati Win," Aku berteriak mengingatkan. "Iya Syah," Winda balas berteriak, terdengar suara motornya, sudah mulai menjauh, aku pun melangkah menuju pintu karena pintu rumah tak di tutup oleh Winda. Saat aku ingin menutup pintu tiba-tiba ada suara seseorang yang memanggilku. "Tunggu," Aku pun urung untuk menutup pintu lalu menoleh kearah depan, pria itu lagi mau apa dia pagi-pagi datang kesini. Pria itu semakin melangkah maju. "Saya ada perlu," ujarnya dengan suara dinginnya. Ada perlu apa sih, padahal aku tak begitu kenal dengannya. "Maaf ada perlu apa ya.?" aku bertanya dengan nada sopan, walaupun nada pria itu terdengar dingin dan tak ramah, tapi aku masih berusaha tetap sopan padanya. "Apa boleh saya duduk.?" "Ah, ya, silahkan duduk," aku mempersilahkan pria bernama Rayyan itu untuk duduk di kursi yang ada di teras rumah. "Boleh saya lihat desain baju kamu?" Aku mengerjitkan alis, kenapa orang ini tiba-tiba ingin melihat desain bajuku. Apakah dia tau aku menjual baju dan mendesain nya sendiri. "Boleh apa tidak?" Ulangnya, membuatmu tersedar. "Bo-boleh," aku menjawab lalu bangkit dan pergi ke dalam rumah. "Dasar pria aneh," aku bergumam sendiri, sambil mengambil dua buku yang berisikan sketsa yang aku buat, karena aku belum sempat membuat sketsa baru lagi. Setelah mengambil dua buku itu aku pun kembali ke teras rumah. "Ini." aku meletakkan buku itu di atas meja. Lalu aku kembali kedalam, aku lupa belum membuatkan minum untuk Rayyan. Setelah membuat minum aku membawa nampan ke teras rumah, biarlah telat buat minumnya dari pada tidak sama sekali. "Silahkan diminum." ucapku sambil meletakan nampan di atas meja. "Hem," Responnya singkat nampak pria dingin itu masih fokus menatap sketsa yang aku buat, untuk apa sih dia melihat hasil sketsaku, apa dia juga ingin memesan baju, tapi kan yang ada di sketsa itu hanya baju perempuan tak ada sketsa baju laki-lakinya. "Maaf kalau boleh saya tau, untuk apa anda melihat sketsa saya?" "Saya hanya ingin melihat hasil rancanganmu saja, jika cocok dan bagus saya mau kamu bekerja sama dengan saya." Ujar Pria itu tiba-tiba, tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba dia memintaku untuk bekerja sama dengan dia, entahlah kesambet setan apaan ini orang. Tanpa basa-basi dulu malah langsung ngajak gitu aja. "Perusahaan saya bergerak di bidang fashion, jadi saya ingin kamu bekerja sama dengan saya, kamu tenang saja, bekerja sama dengan saya kamu tak akan rugi," Tuturnya sepertinya dia mengerti apa yang aku takutkan, bukan aku takut rugi namun aku sebelumnya belum pernah bekerja sama dengan perusahaan seperti ini, dan ini juga hal baru untukku, aku hanya takut tak bisa bekerja sesuai yang pihak kantor inginkan, hanya itu yang aku khawatirkan. "Tapi saya hanyalah perancang busana biasa rancangan saya tak sebagus karya desainer di luar sana, bukan maksud Saya ingin menolak niat baik Anda, namun saya merasa belum terlalu cocok untuk bekerja sama dengan perusahaan Anda, saya takut Anda malah kecewa terhadap saya nantinya." "Kata siapa saya akan kecewa, justru saya suka melihat hasil rancangan kamu, jika kamu mau, kamu bisa menghubungi Saya." Pria itu mengulurkan sebuah kartu nama kearahku, aku pun mengambilnya. "Saya permisi." ujarnya lalu bangkit dan berjalan menuju mobilnya sendiri. Sedangkan minuman yang aku buat belum di sentuh sama sekali, aku merasa jengkel, jika tau tak akan di minum maka ku tak akan susah paya membuatkan minuman untuknya. "Dari pada mikirin tuh laki-laki lebih baik aku lanjutkan membuat baju saja, pesanan masih numpuk ini. Belum ada yang kelar, semoga aja semua pekerjaan yang melelahkan ini suatu saat nanti akan menjadi lillah. *** Sore pun telah tiba, aku hanya istirahat untuk makan saja, rasanya seluruh tubuhku terasa sangat sakit dan ngilu. "Kenapa lagi Syah, kalau pegel istirahat dulu kali, Syah, pikirin juga kesehatan lo, jangan paksain diri kalau gak kuat." ucap Winda yang melihat Aisyah merupakan otot-ototnya di atas kursinya. "Iya Win, ini juga niatnya mau istirahat sekalian mau salat ashar juga." jawabku bangkit lalu berjalan menuju kamar mandi, rasanya sore ini aku benar-benar kelelahan di tambah aku juga harus mengurus banyak orderan dan membuatku bingung saja, semoga aja gak akan keliru. Rancangan bajuku. "Gimana Syah, udah selesai berapa pesanan orangnya.?" "Masih dapet 6 pcs Win, tapi moga aja tuh pesanan cepet kelar, biar aku bisa nyelesain pesanan lainnya." "Semangat Syah, nanti bakal gue bantuin lagi biar cepet kelar." tutur Winda. "Bantuin aku masak yuk." ajakku pada Winda yang sedang asik memainkan ponselnya di atas sofa. "Mau masak apa,? Syah." tanya Winda padaku. "Masak apa aja Win yang penting kan enak, ya nggak.?" "Iyah sih Syah, tapi kalau gak enak kan gak bakal di makan juga, sayang loh malah mubazir, nantinya." "Iya sih Win, tapi kan kalau masaknya lumayan banyak kita masih bisa bagiin ke tetangga kita." balasku. "Win, tadi temen abang kamu datang kesini dan dia malah ngajak aku buat kerja sama dengan perusahaan dia." di sela-sela kegiatan memasak aku menceritakan pada Winda, tentang kedatangan Rayyan tadi pagi. "Mau apa dia kesini Syah, dia mau nyakitin kamu.?" "Nggak Win, dia cuman ingin melihat buku sketsaku." aku buru-buru menjelaskan sebelum Winda emosi. "Aku kira dia cari masalah dengan Lo," "Nggak Win, udahlah gak usah bahas yang lain-lain lagi, kita lanjut masaknya saja." "Tapi gue hanya ingin memberi saran jika Lo mau, Lo bisa menerima tawaran pria kutub itu ,Syah." Aku masih bingung antara ingin menerima atau malah menolaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN