Bab 10
Aku sempat kecewa karena orang yang aku tunggu-tunggu belum datang juga hingga tiba waktu magrib.
"Lo kenapa sih Syah, mukanya gak enak di pandang banget lo, lagi ada masalah.?"
"Gak ada Win, cuman tadi aku dapat orderan yang lumayan banyak 25pcs gamis, dan katanya orang itu akan datang kesini, tapi sampai magrib gini kok malah gak dateng-dateng ya."
"Sabar Syah, siapa tau orang itu lagi ada keperluan lain sehingga belum bisa datang sekarang. Tunggu aja sampai habis isya' nanti, siapa tau orang yang kamu tunggu akan datang," Winda mencoba menenangkan.
"Ya semoga aja benaran datang dan jadi pesan bajunya Win, apalagi aku ingin segera mengembalikan uang kamu yang aku pinjam, setelah selesai membayar uang kamu, maka aku akan fokus menabung untuk menyewa ruko." tutur ku pada Winda.
"Kalau masalah uang gue gak usah di fikirin Syah, nyantai aja, lagian uangnya juga belum gue butuhin. Kamu fokus aja sama impian Lo, jika Lo sudah sukses nanti baru kamu fikirin uang gue."
"Tapi Win... "
"Gak usah tapi-tapian gue, hanya ingin melihat lo sukses Syah, itu aja udah cukup.!" seru Winda, sambil menepuk pundak Aisyah.
"Makasih Win," aku merasa terharu kala melihat ketulusan Winda yang selalu mendukungku dengan tulus, padahal aku bukan siapa-siapanya, aku hanyalah teman yang memang kenal sejak masih
sekolah dulu, namun pertemanan kami berlanjut hingga sekarang. Dan Winda memang tak pernah perhitungan soal uang selama ini, dia juga selalu dengan senang hati membantu biaya sekolahku dulu.
"Lebih baik sekarang kita salat magrib aja, siapa tau nanti orang yang mau pesan itu beneran datang, yakin aja jika memang rizki kamu tak akan kemana Syah,"
"Kamu bener Win, ya udah ayo shalat dulu." yang di katakan Winda memang benar, aku tak perlu khawatir jika memang sudah rizkiku pasti orang itu akan datang namun jika memang bukan rizkiku, ya aku harus ikhlas mungkin rizkiku bukan di orang itu, mungkin ada di pembeli lainnya.
***
"Makan dulu yuk Syah,"
"Ayo Win, aku juga lapar nih."
"Ayo keruang tamu Gue udah masak mie dia porsi, malam-malam gini makan mie kuah kayaknya enak, makanya tadi gue masak Mie, di tambah cuacanya pas banget gak tuh dingin gini."
"Kamu bener Win, itung-itung buat ngilangin buat balikin mood juga Win. Baunya udah nyengat banget bikin ngiler aja."
"Ya udah ayo makan dulu,"
Aku pun duduk mengambil satu mangkok mie yang telah Winda siapkan, makan mie di malam-malam seperti ini memang paling nikmat.
Saat aku dan Winda tengah asih menikmati makanan, terdengar suara orang di luar pintu.
"Siapa ya Win,? Apa orang yang mau pesan baju itu udah datang."
"Mungkin Syah, coba kamu cek dulu gue males yang mau buka pintu nanggung ini Mie gue lagi enak-enaknya." ucap Winda sambil menyeruput kuah mienya.
"Kamu makan aja dulu, biar aku yang buka." aku bangkit lalu berjalan menuju pintu.
"Maaf cari siapa ya mbak,?"
"Apa benar ini rumahnya Aisyah yang menjual baju di online itu.?" Wanita itu bertanya balik.
"Ah, iya benar mbak, mbak yang mau pesan gamis itu ya.?"
"Iya mbak, maaf kalau saya datangnya malah malem karena saya tadi masih ada keperluan."
"Iya gak papa kok mbak, ayo masuk dulu."
Aku mengajak orang itu untuk masuk.
Saat tiba di ruang tamu ternyata Winda sudah tak ada di sana dan bekas aku makan tadi juga sudah tak ada mungkin dia yang membawanya ke dapur.
"Ayo silahkan duduk dulu mbak."
"Iya mbak."
"Saya tinggal sebentar ya mau buat minum dulu."
"Nggak usah Syah, ini gue udah bawain minumannya." Winda datang dari arah dapur sambil membawa nampan.
"Ini silahkan di minum dulu mbak."
"Iya mbak, Terima kasih."
"Oh ya mbak, apa boleh saya lihat-lihat model baju yang lainnya,?"
"Boleh mbak, bentar saya ambilkan seketsanya dulu, nanti mbak bisa pilih sendiri yang mana yang mbak suka." aku pun bangkit menuju ruangan jahit, aku mengambil dua buku seketsaku lalu membawanya ke ruang tamu.
"Ini mbak, mbak bisa pilih, tapi beda model beda juga harganya ya mbak, kalau yang saya posting itu rata-rata harganya 150 atau di bawahnya, tapi kalau mbak mau model yang lebih bagus dan mewah harganya beda." aku menjelaskan karena harga di postinganku lumayan murah, tapi kalau ingin pilih model lain tentaunya beda harga karena kadang ada yang lebih banyak menghabiskan kain dan bahan-bahan lainnya.
"Iya mbak, saya faham kok."
"Ini kak kayaknya bagus."
"Coba lihat-lihat dulu dek, siapa tau ada yang lebih bagus lagi."
"Kalau saya boleh tau bajunya mau di pakai untuk acara apa mbak.?" aku bertanya pada kedua castamerku yang sedang melihat sketsa baju yang aku buat
"Bajunya mau di pakai untuk acara nikahan adik saya ini, rencananya kita sekeluarga mau pakai seragam biar samaan gitu. Oh ya kamu bisa buat baju koko kan, kalau bisa nanti sekalian buatin juga untuk para suami ipar dan sepupu saya, soal ukuran nanti bisa saya kirim lewat WA ya."
"Siap mbak, saya bisa bikin baju koko nya mbak, silahkan dipilih dulu model bajunya, dan nanti mau yang warna apa kainnya, mau di kombinasi apa polos,"
"Bentar ya mbak saya pilih model gamisnya dulu."
"Ini gimana menurut kamu.?"
"Iya itu aja kak, terlihat simple tapi elegan, kalau udah jadi baju pasti bakalan bagus banget itu kak, masih seketsanya aja udah keliatan bagus apalagi kalau udah jadi baju."
"Kamu bener dek, ini terlihat sangat bagus, tapi kita juga harus pilih warna kainnya yang bagus juga biar sesuai."
"Ayo mbak kalau mau pilih warna kain dan bahannya." Aku mengajak mereka menuju ruangan jahitku.
Aku membuka pintu ruangan jahitku, di dalam masih terlihat berantakan karena aku tadi belum sempat membereskan potongan kain yang masih berserakan di atas meja.
"Maaf mbak, ruangannya berantakan."
"Nggak papa mbak, namanya juga ruangan jahit ya pasti akan berantakan secara mbak kan bikin bajunya disini,"
"Iya sih mbak."
"Ini bahan lainnya mbak, mbak bisa pilih ingin kain yang bagus atau yang biasa aja." aku menunjukan kain yang ada di sini, aku hanya memiliki beberapa warna saja karena memang masih belum terlalu lengkap warnanya.
"Kalau yang ini ada warna apa aja mbak.?"
"Oh yang itu cuman ada tiga warna mbak, warna dusty pink, sama ungu muda dan warna sage."
"Kalau yang ini mbak.?"
"Itu ada lima warna mbak, itu di sebelah mbak pilihan warnanya." aku menunjuk kain serupa yang ada di samping mbaknya.
"Ayo dek kamu juga ikut pilih kakak bingung mau pilih yang mana bahannya bagus semua dan warnanya juga bagus-bagus, kakak bingung."
"Kakak aja yang pilih aku nurut aja, pilih warna yang sekiranya cocok di semua warna kulit kk."
"Kalau warna milo ini gimana bagus gak.?"
"Terserah kakak aja, kalau kakak suka pilih itu juga gak papa."
"Ya udah deh saya pilih yang ini aja bahannya dan warnanya yang warna milo ini ya mbak."
"Iya mbak, oh ya, baju gamisnya 25pcs kan, dan baju kokonya berapa pcs mbak, biar saya catat takutnya malah lupa nanti. ukurannya gamisnya juga gimana ini.?"
"Gamisnya 25pcs mbak, terus baju kokonya 20 pcs karena masih ada yang belum punya suami, soal ukuran ngukur di badan saya dan adik saya aja, soalnya badanya hampir sama,"
"Oh, kalau gitu bentar saya ukur dulu ya mbak."
Aku pun mengambil alat mengukurku, lalu mulai mengukurnya, aku mencatat setiap selesai mengukur lingkar pinggang dan dadanya, panjang bajunya dan lengannya pun tak lupa aku ukur.
"Yang pakai ukuran mbaknya berapa baju mbak.?"
"Yang pakai ukuran saya 15 pcs mbak, lainnya itu pakai ukuran adik saya."
"Baik mbak," aku pun mencatat dengan detail karena takutnya malah keliru nantinya.
"Ukuran baju koko nya nanti akan saya kirim ya mbak."
"Iya mbak."
"Oh ya saya lupa, harga baju yang saya pesan itu berapa ya mbak.?"
"Itu harganya 170 mbak,"
"Kalau baju kokonya berapa mbak."
"Kalau baju kokonya yang lengan pendek harganya 60 mbak, kalau yang lengan panjang 80rb, mbaknya mau pesan yang lengan pendek apa yang panjang.?"
"Yang lengan panjang saja mbak, di total aja semuanya, akan langsung saya bayar, nanti kalau udah selesai kabari saya mbak, bajunya akan saya jemput."
"Bentar mbak saya total dulu ya." aku pun menghitung dengan kalkulator biar lebih cepat.
"Semuanya enam juta lima puluh ribu mbak."
Wanita itu mengeluarkan uang dari dalam tas selempang yang ia gunakan, lalu menghitung uang itu.
"Ini mbak, coba dihitung lagi takutnya malah kurang."
Aku sampai gemetar mendapat uang sebanyak ini, rasanya ini seperti mimpi, karena dulu aku tak pernah memegang uang dengan jumlah banyak, paling banyak palingan hanya satu juta, karena aku tak pernah memegang semua uang gaji mas David gajinya selalu di kelola oleh ibunya, dan sekarang akhirnya aku bisa menikmati hasil kerja kerasku sendiri, inilah awal diriku menuju sukses.
"Uangnya lebih dia ratus ribu mbak ini." aku ingin mengembalikan uang yang lebih itu namun wanita di depan ku malah menolaknya.
"Tak usah di kembalikan mbak, itu sengaja saya lebihkan untuk mbak,"
"Gak usah mbak ini aja udah banyak, dan saya sangat berterima kasih karena mbak telah mau membeli baju di saya bahkan sampai memesan dengan jumlah yang banyak,"
"Nggak papa kak, ambil aja anggap aja itu memang rizki kakak."
"Tapii... "
"Sudah ambil saja mbak, kita pamit dulu ya karena udah lumayan malam juga ini."
"Iya mbak. Makasih banyak ya mbak."
"Iya sama-sama."
"Mari mbak, saya antar sampai depan."
Aku mengantar kedua wanita itu sampai di teras rumah.
"Hati-hati ya mbak, sekali lagi terimakasih."
"Iya sama-sama mbak."
Mereka pun pergi, aku kembali melangkah masuk.
"Win, aku gak lagi mimpi kan Win, masyaallah ini benar-benar rizki yang Allah berikan untukku Win, dengan uang ini aku bisa menabung dan sebagiannya nanti akan aku zakat kan untuk orang yang lebih membutuhkan,!" seruku, rasanya aku begitu bersyukur, allah selalu memberiku jalan untuk menuju sebuah kesuksesan.