bab 9

1246 Kata
Bab 9 Pagi ini seperti biasa setelah selesai sarapan dan membereskan rumah aku kembali melakukan rutinitasku di depan mesin jahit, untuk membuat dress-dress dan beberapa gamis, walaupun tak ada yang memesan namun aku ingin membuat untuk stok, dan nanti akan aku promosikan lewat situs jual beli online, hasil yang kemarin dari bu Yumi aku belikan bahan-bahan kain yang aku butuhkan, dan sisanya aku tabung untuk menyewa ruko, siapa tau nanti aku benar-benar bisa membangun butik sendiri, aku akan berusaha dari Nol, karena semua tak akan mudah aku gapai, jika ingin sebuah kesuksesan aku paham, jika aku harus bekerja keras, dan abai dengan tanggapan orang-orang yang ingin menjatuhkanku, apalagi orang-orang yang tak pernah senang jika melihatnya sukses. "Aku harus tetap semangat, aku pasti bisa," gumamkiku sambil menyemangati diri sendiri. "Bismillah semoga hari ini berjalan dengan lancar, dan semoga saja nanti bakal banyak yang beli dress jualanku." Aku pun membuka buku seketsa hasil rancangan ku sendiri, aku kembali merancang beberapa model baju yang menurutku bagus dan belum ada di pasaran, jadi semoga kali ini akan lebih banyak lagi peminatnya, aku sudah tak sabar ingin segera mengembangkan kemampuanku, dan akan aku buktikan bahwa aku memang memiliki bakat dalam bidang ini, bukan seperti yang ibu Mas David bilang jika aku tak memiliki bakat selain menjadi banalu, mengingat perkataan pahit itu, membuatku semakin semangat untuk membuat mereka semua menyesal dan mengakui bakatku, mungkin aku memang tak pernah mendoakan mereka yang jelek-jelek, namun harapanku hanya satu mereka semua bisa merasakan apa yang aku rasakan dulu ketika aku masih berada dikeluarga itu. Karena aku yakin sebuah hukum karma itu pasti ada dan nyata. Saat diri ini sedang asik menjahit baju, terdengar sebuah ketukan di pintu, aku pun bangkit meninggalkan Meja jahit, lalu berjalan menuju pintu. "Maaf sedang mencari siapa ya Mas.?" aku bertanya saat melihat seorang pria yang berdiri di teras rumah. "Apakah betul ini rumah mbak Winda.?" "Iya betul, tapi Windanya lagi gak ada di rumah Mas," "Saya hanya ingin menyerahkan ini mbak, tapi ini bukan untuk mbak Winda namun untuk Aisyah." "Dengan saya sendiri Mas. Maaf kalau boleh tau ini paket dari siapa ya.?" "Saya juga kurang tau mbak, mbak bisa lihat sendiri isinya, kalau begitu saya permisi dulu." "Iya Mas, terima kasih." setelah menerima paket itu akupun kembali masuk kedalam rumah, aku membuka paket itu karena sudah merasa sangat penasaran, saat melihat logo dari surat itu aku sudah tau jika ini adalah surat cerai yang selama ini aku tunggu-tunggu, aku sama sekali tak terkejut kala menerima surat cerai ini, namun jika boleh jujur aku masih merasa sakit hati, d**a ini masih terasa sesak, entahlah, padahal aku sudah berusaha untuk melupakan semuanya, namun itu semua tak mudah, bagaimanapun Mas David pernah mandi laki-laki yang menduduki tahta tertinggi di hati ini, namun dalam sekejap mata semua itu sirna, dan kini statusku benar-benar janda. Tapi tak apa aku harus tetap kuat, walaupun dua tahun waktu yang ku habiskan bersama Mas David, tentunya sebelum termakan hasutan dari ibu dan saudaranya, Mas David tak pernah berlaku kasar padaku, bahkan seringnya tercipta momen manis dan romantis diantara kamu berdua. "Huuh, sepertinya aku harus segera sadar agar tak kembali memikirkan masalalu, yang lalu biarlah berlalu aku tak akan pernah mengingatnya lagi, aku harus membuang jauh-jauh kenangan manis yang pernah Mas David berikan, mulai saat ini aku berjanji pada diriku sendiri, jika aku tak akan lagi mudah termakan rayuan pria manapun, aku akan fokus pada tujuan awal ku saja, ya itu membangun sebuah butik dan aku bisa menjadi pengusaha yang sukses sepertinya pengusaha di luar sana." aku bergumam sendiri, lalu aku pun bangkit, kambali menuju ruang jahit, karena masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan dari pada memikirkan tentang masa lalu lebih baik aku membuat baju saja, toh sekarang statusku sudah pasti, dan aku telah sepenuhnya bebas dari Mas David dan keluarganya. Aku kembali memfokuskan diri pada rancangan ku. Setelah 4 jam lebih aku berhasil membuat 3 buah gamis, tapi tubuhku terasa sangat pegal karena kelamaan duduk, aku pun bangkit lalu merebahkan tubuh di atas lantai. "Ahh, akhirnya bisa rebahan juga, pinggang ku rasanya sampek encok gara-gara kelamaan duduk." aku memijit-mijit pinggang ku sendiri sambil rebahan. ingin sukses itu benar-benar butuh kerja keras, tapi aku baru juga beberapa jam duduk tapi tubuhku sudah merasa sangat pegal, mungkin karena aku belum terlalu terbiasa dengan semua pekerjaan ini, namun aku yakin jika sudah terbiasa nantinya, pasti tak akan sepegal ini. Aku rebahan sambil memainkan ponsel, ingin melihat apakah ada pembeli di baju yang aku posting kemarin. "MasyaAllah ini benaran.?" aku sampai bangkit saking terkejutnya, kala ada sebuah akun yang mengomentari bajuku, dan juga mengirim pesan padaku, dia katanya ingin memesan 25pcs baju gamis, orang itu juga sampai ingin langsung membayar uang bajunya sekarang juga. Aku buru-buru membalas pesan itu dengan senyuman yang tak hentinya aku Sungging kan, ini benar-benar terasa bagai mimpi saja, rasa penatku juga menjadi hilang hanya gara-gara menerima orderan banyak. (Apakah mbak serius ingin memesan baju di saya.?) aku membalas pesan itu. Selang beberapa menit nomor itu membalas pesanku. (Iya mbak saya serius, soal ukuran nanti saya akan datang langsung ke alamat yang sudah mbak tulis di postingan mbak,) (Baik mbak, jika begitu saya akan menunggu kedatangan mbak.) (Jika ada waktu nanti sore saya akan datang ketempat mbak.) (Baik mbak, saya tunggu.) aku menyunggingkan senyum, "Ya Allah engkau memang maha baik, selalu memberi hambamu ini jalan untuk menjemput rizki dari mu ya rab." aku sampai menitikkan air mata haru, rasanya Allah begitu baik padaku, baru tadi pagi aku menerima surat cerai, dan siang harinya Allah memberiku sebuah rizki yang tak terduga, aku tak hentinya mengucapkan kalimat alhamdulillah, sebagai tanda syukurku, atas segala rizki yang telah Allah berikan padaku selama ini. Dengan penuh semangat aku bangkit lalu kembali duduk di kursi kali ini rasanya aku lebih semangat untuk mengerjakan baju-bajuku yang belum aku selesaikan, karena setelah membuat baju-baju ini, aku akan membuat baju lain lagi, sebelum nantinya aku membuat baju pesanan castamer baruku itu. *** "Syah Lo udah makan belum?, kalau belum makan dulu yuk, ini aku tadi beli nasi padang dua bungkus untuk kita berdua." ucap Winda yang baru saja pulang kerja dan dia melihat Aisyah masih saja sibuk berkutat di depan mesin jahitnya. "Bentar Win, nanggung ini sisa dikit lagi selesai." aku menjawab tanpa menoleh kearah Winda. "Tinggalin dulu Syah, bagaimanapun Lo juga harus jaga kesehatan, kalau lo jatuh sakit lo gak bakal bisa buat baju lagi, jadi lebih baik sekarang lo ikut makan dulu sama gue." Winda menarik tanganku, untuk mengikutinya menuju ruang tamu. "Nih makan dulu, jangan malah fokus kerja mulu, lagian lo jangan terlalu memaksakan diri Syah, kalau merasa capek sebaiknya istirahat dulu, gue gak mau lo malah sakit nantinya." "Iya Win, aku tau kok, kamu gak usah khawatir." "Gimana gue gak mau khawatir Syah, kalau lo sampek lupa jaga kesehatan lo sendiri, gue tau lo ingin cepat sukses, tapi lo juga harus inget, kalau lo ingin sukses badan lo juga harus sehat Syah." "Iya-iya, katanya mau makan kok malah di omelin aku Win." "Ya udah cepet makan." Winda pun duduk di depanku, lalu membuka nasi padang itu, kami memakan nasi padang itu dengan lahap, aku yang memang merasa sangat lapar pun melahap habis nasi padang itu hingga tak tersisa sedikitpun. "Lo lapar, apa kelapran Syah, makannya cepet banget punya gue aja masih tinggal separoh gini." "Dua-duanya Win. Makasih nasi padangnya enak Win, sering-sering aja kayak gini." ucapku sambil tertawa pelan. "Enak aja, bisa tekor gue kalau tiap hari beli nasi padang." balas Winda sambil mengerucutkan bibirnya. Aku hanya tertawa melihat ekspresi Winda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN