bab 8

1267 Kata
Bab 8 "Tak apa bu, lagian sekarang aku juga sudah terbebas dari cengkraman mereka," Balas ku, pada bu Yulis, tak lama kemudian bu Yumi pun datang membawa uang di tangannya. "Berapa semuanya Syah,?" "2.250ribu bu," "Ini uangnya coba di hitung lagi takutnya malah kurang." Aku pun menghitung uang dari Bu Yumi ternyata malah lebih 100ribu. "Ini kelebihan bu." "Udah gak papa ambil aja, anggap aja itu bonus buat kamu." "Iya Syah, ambil aja." celetuk bu Yulis. "Buka dong bu baju gamisnya saya penasaran pengen lihat, kalau bagus nanti saya pesan sama Aisyah aja deh kalau kepengen baju gamis." Bu Yumi pun membuka satu baju gamis yang Aisyah buat. "Wah bagus banget Syah ini model baru ya, soalnya ibu belum pernah lihat model seperti ini di pasaran, kamu bener-bener berbakat Syah, terus kembangkan bakatmu, dan buatlah orang-orang yang menghinamu menyesal Syah, karena telah meremehkan kemampuanmu." seru Bu Yulis sambil menimang-nimang baju gamis yang ada di tangannya. "Hey, ibu-ibu coba lihat ini baju gamis buatan Aisyah, bagus banget kan harganya juga sangat murah bu, cuman 150ribu, tapi tergantung model dan bahannya juga, ya kalau ibu-ibu pengen kualitasnya lebih bagus dari ini ibu-ibu bisa pesan yang bahannya lebih bagus aja, modelnya juga bisa pilih sendiri kan Syah.?" "Iya bu, siapa pun yang mau pesan bisa hubungi saya, saya siap membuatkan baju gamis yang ibu-ibu inginkan, kalau ada yang mau pesan seragam atau couple an saya juga bisa buatin loh." "Ukurannya gimana Syah.?" "Soal ukuran ibu-ibu bisa pilih sesuai kemauan ibu-ibu, ya kalau mau pilih ukuran All size seperti punya bu Yumi ini juga bisa, tapi kalau ibu-ibu mau ukuran yang pas atau jumbo ibu-ibu bisa datang ke rumah." Aku menjelaskan, siapa tau nanti bakal banyak ibu-ibu yang juga ingin pesan gamis buatanku, dan semoga aja ini akan menjadi jalan menuju sukses untukku. "Wah gitu ya Syah, nanti deh kalau kita mau pesan kita akan langsung datang ke rumah kamu saja, tapi kita minta alamat kamu yang sekarang Syah, dengar-dengar kan kamu sudah tak tinggal di rumah bu Narsih lagi." "Iya bu, saya memang sudah tak tinggal lagi di sana. Soal alamatnya nanti saya kirim lewat WA saja ya bu." "Iya Syah, nanti kalau kita mau ke rumah kamu kita semua bakal ngabarin kamu dulu." "Ayo Syah, masuk kedalam dulu, kita makan dulu yuk," "Ayo bu." "Iya loh kita sampek lupa gak nawarin kamu buat makan Syah, saking asiknya bahas baju bikinan kamu." "Gak papa kok bu, lagian saya juga belum terlalu lapar." "Ayo masuk dulu Syah." Bu Yumi menarik tanganku untuk mengikutinya masuk kedalam rumah. ** Sepulangnya dari rumah bu Yumi namun aku tak langsung pulang ke rumah, aku memilih berhenti di sebuah Mall hanya sekedar untuk melihat-lihat saja, karena aku juga kan belum pernah nyoba masuk kedalam mall, kemaren yang mau ke mall bersama Winda malah gagal gara-gara kecelakaan kecil itu, dan sekarang mumpung masih sempet aku mampir dulu sebentar. Sebelum nanti aku pergi kepasar untuk membeli kain keperluan menjahitku nanti. Aku melangkah masuk kedalam, melihat ke sekeliling yang lumayan ramai dengan pengunjung lainnya, aku manatap penampilanku sendiri yang sepertinya kurang cocok bila masuk kedalam mall mewah seperti ini, di tambah tatapan aneh orang-orang yang terus saja melihat kearahku, dan membuatmu merasa risih, aku tak jadi masuk lebih dalam, aku memilih keluar dari mall itu, karena melangkah terlalu terburu-buru, aku sampai tak memerhatikan jalan sehingga membuatku tak sengaja membertur d**a bidang seseorang. "Auuu, maaf... Maaf..." aku tak hentinya meminta maaf sambil mengusap dahi yang terasa nyeri. Karena tak mendengar suara aku pun mendongak, saat melihat pria dingin itu yang ada di depanku, membuatku membulatkan mata dengan sempurna aku begitu terkejut melihat dia juga ada disini, di tambah tatapan dinginnya itu, membuatku takut saja. "Pak Rayyan tak apa.?" "Heh wanita miskin kalau jalan itu lihat-lihat dong, kalau terjadi sesuatu sama pak Rayyan, emangnya kamu mau tanggung jawab." bentaknya membuatku menoleh kearah samping pria dingin itu. Tatapan wanita itu begitu nyalang, padahal tadi aku hanya tak sengaja menabrak pria dingin itu, enapa wanita itu terlihat sangat marah, apakah dia pacarnya.? Aku hanya bisa menerka-nerka. "Maaf saya tadi benar-benar tak sengaja jadi mbak jangan salah paham sama saya." aku mencoba menjelaskan agar masalah ini segera selesai. "Tubuh kotormu itu tak pantas menyentuh tubuh CEO kami," degusnya, jadi dia hanya bawahannya kanapa bisa semarah itu padahal tubuhku bersih gak kotor, lagian dia juga bukan pacarnya kenapa marah-marah gak jelas, si pria dingin itu juga hanya diam saja, dan malah menatapku sejak tadi membuatku risih saja, aku buru-buru pergi dari hadapan pria dingin itu. "Dasar wanita aneh." degus perempuan tadi yang masih bisa aku dengar, namun aku memilih melanjutkan langkah tanpa ingin menoleh kebelakang lagi. "Kenapa kamu keterlaluan seperti tadi, jaga ucapanmu, jangan pernah menghina atau mencaci wanita tadi lagi." ucap Rayyan dengan nada dinginnya. "Loh kenapa Pak,? Diakan memang salah karena telah menabrak tubuh bapak, apakah bapak kenal dengan perempuan tadi?" cerca Mila yang merasa penasaran dengan reaksi Rayyan yang seolah tak ingin Mila memarahi perempuan tadi. "Tak usah banyak tanya, turuti saja perkataan saya, cepat cari barang yang di inginkan oleh mama saya ingin kembali kekantor secepatnya." titah Rayyan, lalu melangkah lebih dulu, Mila pun harus memendam rasa penasarannya dan mengikuti langkah bosnya itu. "Bapak bisa tunggu disini bair saya yang mencari barang yang di inginkan oleh nyonya." "Hem." Rayyan hanya merespon singkat, Mila pun pergi mencari tas yang di inginkan oleh ibu Rayyan. ** "Siapa sih sebenarnya pria dingin itu kenapa tatapannya selalu seperti itu saat bertemu denganku, padahal aku tak mengenalnya," aku hanya bisa bergumam sendiri kala mengingat tatapan pria yang bernama Rayyan itu, sebenarnya aku juga penasaran apakah dia sebelumnya pernah bertemu denganku namun aku saja yang tak ingat, tapi rasanya selama ini aku tak pernah bertemu dengan dia, entahlah semakin memikirkannya, semakin membautku bingung saja. "Lebih baik aku sekarang pergi membeli kain saja, untuk membuat dress nanti." ** Malam harinya aku membuat dress motif bunga-bunga, dress yang aku buat ini hanya sebatas lutut saja. "Bagus Syah, sini biar aku coba nanti kamu foto dan bisa kamu posting siapa tau banyak yang suka," "Kamu mau jadi modelnya Win,?" "Iya itung-itung bantuin kamu biar lo cepet sukses, gue udah gak sabar pengen liat kelaurga David menyesal karena telah menyia-nyiakan Lo," "Oh ya, temen gue juga ada yang pesen dress ukurannya sih sama ukuran badan gue, nanti lo bisa ukur badan gue buat bikin baju pesanan mereka, soal modelnya nanti gue bakal liatin seketsa yang lo buat biar mereka bisa pilih sendiri." "Kenapa gak disuruh datang kesini aja Win, biar enak gitu, nanti mereka mau pilih kain yang polos atau yang motif gitu, kan gak mungkin aku yang milihin motifnya nanti malah gak cocok di temen kamu." "Iya juga sih Syah, nanti gue bakal ngajak mereka kesini ajalah biar mereka bisa pilih sendiri." Tok tok tok... Saat aku dan Winda tengah asik mengobrol terdengar suara ketukan dari luar pintu. "Siapa sih malam-malam datang kesini." "Biar aku cek dulu Win, kamu cobain dressnya aja." aku bangkit lalu berjalan ke arah pintu. Ceklek Pintu aku buka aku begitu terkejut saat melihat pria dingin itu yang berdiri di luar pintu. Aku pun buru-buru ingin menutup pintu, namun pria itu malah menahan pintu agar tak tertutup. "Maaf saya tak bisa mengizinkan anda masuk, apalagi di rumah ini hanya saya dan Winda, tolong pergilah." aku meminta pria itu untuk pergi. Namun bukannya pergi pria itu malah menarik tanganku hingga membuatku keluar dari rumah. "Lepas. Siapa kamu?, saya tak kenal sama kamu, dan kenapa malah datang kesini.?" aku mencerca nya dengan pertanyaan. Namun yang di beri pertanyaan hanya diam, dan malah berbalik dan langsung pergi begitu saja, membuatku menatap bingung kearah punggung pria yang mulai menjauh itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN