Patuhi aku**

1791 Kata

Nur terus saja menatap, memaku jemarinya yang sempat membuatnya terkejut hingga pingsan. Ruangan itu tampak sepi, bahkan tak satu orang pun yang menemani dirinya malam ini. "Hai..." Nur menoleh, matanya melotot melihat siapa gerangan yang datang menjenguknya. "Apa kabar, manis?" "K-kenapa anda bisa ke sini?" Joseph menyeringai, ia menatap isi ruangan di mana Nur di rawat membuatnya sedikit terpukau. "Saya bingung, ini sebenarnya rumah sakit atau rumah pribadi." decaknya. Nur tampak was-was, kekhawatirannya benar-benar tidak pantas di anggap lelucon. Lelaki itu duduk di salah satu sofa begitu elegan, menyilangkan satu kakinya dengan mata memandang tak putus ke arah Nur. "Adik saya hamil." Nur menelan ludah kasar, matanya tampak berkaca-kaca sebelum dirinya mengatakan isi hatiny

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN