Kapan mas?

1524 Kata

Yesi tersenyum ke arah Nur, "hai..." sapanya. Yesi merasa tak enak hati setelah melihat reaksi Nur yang tampak was-was. "Maaf..." sesalnya. "Aku tau, waktu itu terlalu berlebihan." ujung mata Yesi sudah basah saja. "Santai aja kak, aku ngerti kok." Yesi tersenyum senang setelah melihat ketabahan Nur, "aku hamil." ujarnya pada gadis itu. Nur terkejut, tentu saja. Bahkan kini kedua jemarinya mengepal di bawah selimut. Dirinya mencoba bersikap biasa saja walau dalam hati terasa amat sakit. "Ekhem, selamat... Aku akan punya keponakan, duh senengnya." ujarnya riang mencoba mengusir rasa canggung di antara mereka. "Tapi ini rahasia, cukup kita berdua." cicit Yesi. "Loh kenapa kak?" Nur menatap wanita itu penuh ribuan tanya, "Mas Rendi pun juga nggak boleh tau?" "Jangan...!" sahut Yesi p

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN