Rendi menyapu dan melempar semua yang ada di meja depannya, ia mengumpat mengamuk tak jelas setelah dirinya masuk di ruang kerjanya. Kepergian Nur dari rumahnya seakan membuat lubang di hatinya yang sebelumnya terisi penuh. Entah apa itu, yang jelas tetesan airmata yang sempat menitik di punggung tangan Rendi, sontak membuat darahnya mendesir serta menghantarkan aliran listrik pada sekujur tubuhnya.
Jantung yang sebelumnya berdetak kencang karena amarah yang memuncak, mendadak berubah menjadi denyutan seakan di remas erat sehingga terasa sesak dan membuatnya sulit bernafas saat itu juga.
Apalagi saat dirinya melihat mata sebam Nur yang tampak sayu seakan memaksanya masuk ke dalam dan menyelami perasaan Nur saat itu juga.
"Kenapa ini? Ada apa dengan ku?" batinnya.
Amarahnya seakan berubah haluan menjadi bimbang. Apa karena ia terbiasa dengan kehadiran Nur selama ini sehingga kepergian gadis itu membuatnya merasa kehilangan? Tidak mungkin kan dia menaruh hati pada gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri? Bahkan Rendi lah yang memberi kesepakatan kepada tiga teman lainnya, agar mereka menganggap Nur bagian dari keluarga mereka. Masa iya benih-benih sayang kepada saudara berubah menjadi sayang kepada lawan jenis?
"Tidak... Itu tidak mungkin." gumam Rendi yang merasa geli sendiri sambil menggelengkan kepala.
"Itu pilihannya sendiri, tidak akan berpengaruh padaku sama sekali. Dia mau minggat, biar saja dia minggat. Memangnya siapa dia? Saudara kandung juga bukan- harusnya dia terima kasih seribu kali karena aku sudah membimbing serta membesarkan layaknya keluargaku sendiri." gerutunya kesal.
"Pantas saja keluarganya membuangnya, memang dasar manusia tak tau diri..." ejeknya yang masih uring-uringan sendiri.
Belum kelar dengan amarahnya, rahang Rendi mengeras tangannya mengepal karena sekelibat bayangan sebuah foto- Nur telah di peluk serta di cium keningnya oleh laki-laki lain, itulah yang membuatnya kesal dan beranggapan bahwa gadis itu telat pulang karena keasikan pacaran sedangkan dirinya harus menunggu sampai menjamur sedari tadi.
Meskipun belum genap satu jam dirinya menunggu gadis itu pulang.
Nur tidak tahu saja, apa yang ia lalui hari ini demi gadis itu.
Sore tadi Rendi bersama Herman harus meeting di sebuah villa daerah Bogor. Dalam perjalanan pulang-pergi serta waktu untuknya meeting kemungkinan tiga atau empat jam saja dan itu membuatnya senang. Dengan begitu, artinya malam yang ia rencanakan jauh-jauh hari demi gadis itu akan terlaksana.
Rendi memutuskan pulang langsung ke rumah bahkan seperti terburu-buru, demi menemui Nur setelah tahu meeting mereka selesai lebih awal, dengan niat hati ingin menebus janjinya pada Nur malam kemarin yang sempat tertunda itu.
Seharian ini perasaan bersalah merebak di hatinya gara-gara gadis polos itu, makanya ia berkeinginan merayakannya malam ini karena pikirnya ini masih hari kelahirannya juga.
Namun apa yang terjadi, semua malah seperti menjadi terbalik. Rendi harus bosan sendiri di rumah menunggu kedatangannya pulang yang menurut laporan dari anak buahnya, Nur telah pergi bersama teman satu kampusnya ke sebuah butik milik salah satu istri dari sahabat abang iparnya.
Rendi pikir itu tak masalah, karena Nur memang sempat mengatakan padanya bahwa gadis itu sangat menyukai segala hal mengenai kain benang serta jarum jahit.
Maka Rendi memilih untuk bersabar menunggu, menunggu yang baru saja setengah jam sudah membuatnya bosan. Rendi yang selalu memerintahkan salah satu anak buahnya agar mengikuti kemana saja Nur pergi, semakin membuatnya kalang kabut.
Gadis itu pergi ke rumah temannya yang Rendi pikir adalah seorang perempuan, namun ternyata seorang lelaki muda yang tak lain dan tak bukan kekasih Nur.
Sialan... Umpatan serta makiannya terus termuntahkan disaat dirinya yang terus melihat jarum jam dinding memutar.
Bayangkan sendiri, lelaki itu ingin mengajaknya jalan-jalan di pasar malam, karena kemarin jam dua belas malam adalah hari ulang tahun Nur yang mulai menginjak dua puluh dua tahun. Rendi ingin sekali mengajaknya pergi ke suatu tempat sehingga Rendi mengatakan pada Nur bahwa dirinya akan pulang lebih awal dan merayakan malam menyambut hari kelahirannya.
Semua gagal total, hari yang ia tunggu-tunggu tak sesuai rencana. Rendi terjebak segelas minuman yang di berikan oleh Yesi sehingga membuatnya terpaksa membawanya pergi ke hotel terdekat karena dirinya tak ingin Yesi mengetahui siapa jati dirinya sebenarnya.
"Apa?!"
Rendi begitu malas mengangkat telepon dari Gilang.
Ketus amat...
Rendi menghela nafas panjang, "Sorry, gimana hasilnya? Abis nganter Yesi tadi, lo jadi ketemu bang William, kan?!"
Gilang tertawa renyah lalu mengganti panggilan suaranya ke video.
Kayaknya sebentar lagi gue mati, bro... ujarnya dengan ekspresi wajah sendu.
"Cangkemuu Lang...!" seru Rendi kesal.
Haha, hey bercanda bro... Kemari lah, kita-kita di Venus sekarang.
Rendi menghela nafas panjang, ia pun mengganti pakaiannya dengan cepat lantas menyusul sang triple trouble maker.
*****
"Mana Depi?"
"Dia nggak bakalan datang." sahut Toni.
Rendi mengerutkan alis, melihat kondisi Gilang rupanya sudah hang over. Lelaki itu tidur terkulai di salah satu sofa, ruang VIP tersebut.
"Perasaan baru setengah jam setelah dia nelpon tadi, udah teler saja."
"Ren..."
Rendi yang hendak menyalakan ujung puntung rokoknya tertahan, "apa?"
"Istri Gilang sakit kanker, dan janin yang ia kandung bukan anak dia." jelas Toni sambil menunjuk Gilang.
"APA?!!!"
Rendi tersentak, tubuhnya sontak menoleh melihat Gilang yang sepertinya sudah tertidur pulas.
"Lo serius?"
Toni mengangguk, "tadi pas dia ketemu bang William buat mengetahui penyakit Liona, ternyata hasil pemeriksaannya adalah kanker otak stadium awal. Karena perutnya sudah masuk trimestri akhir, istrinya ingin melahirkan bayinya meskipun Gilang memintanya untuk melepasnya saja."
"Apa harus digugurkan?"
"Menurut dokter begitu, dengan begitu bisa lebih fokus dengan penyakit serta kesehatan Liona."
Rendi menatap Gilang begitu iba. Rasanya dirinya baru kemarin sore melihat Gilang bahagia mengucapkan ijab kabul, kenapa sekarang temannya yang satu itu malah mendapat kabar duka begini.
"Terus darimana lo tau, kalo Liona hamil bukan darah daging Gilang?"
"Calon bapaknya datang menghampirinya, dan minta maaf karena orangnya juga baru tau dari Liona sendiri."
Rendi melongo tak percaya, "siapa lelaki berengseek itu, Ton?!"
"Devian..."
"Devian siapa? Orang mana? Kerja di mana tu orang yang udah bikin Gilang segilaa ini?" ujar Rendi emosi.
"Sahabat kita sendiri, bro." jawab Toni lemas.
"Apa?!" seru Rendi tak percaya.
"Depi maksud lo?" Toni mengangguk.
"Are you kidding me?!"
Toni menggeleng, lelaki itu juga pusing sendiri sekarang.
"Bagaimana bisa Depi yang hamilin Liona?"
Toni juga bingung, lelaki itu mengendikan kedua bahunya karena tak mampu menjawab keterkejutan Rendi, "sekarang yang musti kita pikirkan, gimana nasib Gilang ke depannya. Bokapnya tadi juga datang ke kantor, lalu minta dia untuk kembali ke Jogja dan memimpin perusahaan mereka sendiri."
"Bukankah itu lebih baik?" sahut Rendi sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya, "Setidaknya Gilang tidak perlu pusing memikirkan Liona lagi, karena otaknya akan teralihkan dan fokus sama perusahaan keluarganya."
"Iya sih." ujar Toni lirih.
"Kita sudah terbiasa bersama- tapi karena masalah ini, gue harus jalanin Kancabatic Technologies sendirian. Apa gue bisa?"
Rendi terkekeh geli, "lo udah gede Ton, kalian juga pasti hidup sama keluaga kalian sendiri nantinya. Lagian banyak karyawan lo, masa lo mau nyerah gitu aja?"
Toni menghela nafas panjang, ia menegak minuman di depannya tanpa henti seakan dahaga menerjang.
"Lo sendiri kan tau? Keluarga gue adalah kalian, semenjak mereka membuang gue." ujar Toni, "gue sedih aja lihat nasib temen-temen gue." desahnya gelisah. "gini amat ya hidup gue..."
Rendi terkekeh, melihat kedua manusia di depannya tampak galau rupanya lucu juga.
"Gue salut sama Devian, meninggalkan benih pada istri sobat sendiri." ujar Rendi mendadak begitu antusias.
"Apa hebatnya?!"
"Bukan hebat sih, itu karma buat kalian." ejek Rendi.
"Sialan..."
Lelaki itu semakin tergelak tanpa peduli lirikan tajam dari Toni.
"Lo sendiri, gimana? Mainin perasaan Yesi, apa itu nggak sama aja?"
"Gue hanya mengikuti permainannya."
"Ck, permainan ranjang maksud lo?"
"Haha, anda betol...!"
Rendi kembali tergelak, tak lupa menyahut botol minuman tersebut dan ikut menegaknya.
"Kalian yang meracuni otak gue dengan segala macam hal selangkangaan, mustinya kalian bangga dengan gue, bukan?!"
"Bangga apanya, lo lebih terlihat playboy nggak kayak dulu."
Toni merogoh sesuatu dari sakunya, "ini, semalem gue lupa."
Rendi melirik sebuah kotak kecil di atas meja, "ambil aja buat lo."
"Bukannya itu buat Nur?" tanya Toni bingung.
Rendi menggelengkan kepala, "batal." jawabnya.
"Kenapa batal? Lo bahkan menyiapkan hadiah ini jauh-jauh hari." ujar Toni, "bahkan lo sendiri yang milih, sampe-sampe lo klimpungan ke sana kemari."
Rendi tergelak, "sejak kapan gue klimpungan, gue hanya susah cari masa senggang gue yang sibuk mikirin proyek di perusahaan akhir-akhir ini." elak Rendi.
"Tapi..." Toni menatap kotak tersebut, "lo yakin?" tanyanya lagi.
"Iya, yakin..." sahut Rendi, "lagian gue musti nemenin kalian bergalau-ria di sini, bukan?!"
"Ya... Ya.. Terserah lo saja."
Toni kembali meraih kotak kecil tersebut, "lumayan, Agnes pasti suka." kekehnya.
"Jangan cuma cari enak aja, lo juga harus nikah." tegur Rendi, "setidaknya kalo Gilang jadi kembali ke Jogja, lo nggak usah kesepian lagi."
"Kan masih ada elo sama Devian."
"Memangnya lo masih mau temenan ma Depi?"
"Kenapa tidak? Yang salah burung mereka, bukan pertemanan kita." sahut Toni.
"Haha, benar... Bukan salah bunda mengandung, salahkan bapak yang punya burung."
Rendi tergelak sendiri mendengar ucapannya sendiri, ikut kembali menegak minuman berakhohol itu demi menghindari otaknya yang masih terngiang-ngiang wajah Nur saat menatapnya sebelum gadis itu pergi meninggalkan rumah Rendi.