"Saya berangkat kerja dulu bi, jangan masak buat saya nanti malam karena mungkin nanti malam saya tidak pulang."
"Baik den, hati-hati..."
Rendi masuk ke dalam mobil, "jalan pak."
Kendaraan itu melaju meninggalkan pekarangan rumah Rendi, membelah jalanan yang belum begitu ramai karena Rendi memutuskan berangkat lebih awal dari biasanya.
"Pagi..."
Rendi mengangguk, ia langsung menerima sebuah berkas yang di sodorkan oleh Herman, "saham kita naik enam puluh persen di perusahaan Budiono Enterprise Corp." jelas Herman senang.
"Selamat..." cibirnya.
Herman tergelak, ia membuntuti langkah Rendi yang masuk ke dalam kotak besi itu, "selamat untukmu, pastinya. Karena otakmu, kita bisa menguasai perusahaan itu. Dengan begitu secepatnya, kau akan menjadi pemimpin di sana."
"Kali ini, aku tak suka caramu memanfaatkan iparku, Herman." ujar Rendi dingin.
"Hanya sekali... Ayolah."
"Aku hanya ingin semua usahaku adalah hasil kerjaku sendiri, bukan sepertimu yang bertingkah layaknya benalu." tegasnya.
Herman mencebik karena cela'an itu, dirinya juga ingin seperti Rendi yang cerdas dan pandai dalam segala hal tentang bisnis mereka. Sayangnya, sikap Herman yang sadar karena kekanakan serta sering emosi tanpa jelas membuatnya mudah sekali rubuh tanpa musuh menyentuhnya.
"Ayolah, kenapa kau marah-marah seperti anak gadis.. Lagian mas Bimo tak masalah dan sangat menyetujui proyek yang kita ajukan, dia bahkan bangga padamu." gerutu Herman.
"Wajahmu tampan, tapi sayang otakmu bodoh." ejek Rendi yang membuat Herman mendelik kesal.
"Setelah pencapaian usahamu selama sepuluh tahun lebih ini, harusnya kau yang memimpin di sana, kenapa kau tetap ingin aku yang menjadi pemimpinnya, itu aneh bukan?!" lanjut Rendi.
Rendi melangkah keluar lebih dulu dari lift tersebut, "mulai sekarang lakukan semua itu sendiri, aku rasa kau sudah pandai untuk menjadi seorang pemimpin yang lebih besar dari perusahaan ini. Dan setelah sayapmu semakin melebar, kau akan mudah menemukan putrimu yang hilang tanpa perlu mondar-mandir menemui istrimu saat kau merindukannya."
"NO...! Aku hanya ingin membuat keluarga bajingaan itu menderita, itu sudah cukup bagiku. Lagian Alo tak mempermasalahkan itu."
"Tetap saja kau harus berjuang sendiri Herman, setidaknya demi hidupmu sendiri."
"Hidup apa? Bahkan perusahaanku sekarang tak begitu buruk, dan itu juga karena kau. Hidupku sudah di takdirkan menjadi tangan kananmu, Ren. Tidakkah kau merasa, kalo kita ini jodoh? Semenjak mengenalmu di sekolahmu waktu itu, aku yakin kau akan menjadi orang besar. Dan feeling ku mengenaimu semuanya benar, bukan?!"
Rendi geleng-geleng kepala menanggapinya, hanya karena dendam kepada lelaki yang menyakiti kakak perempuannya, membuat Herman memiliki pemikiran aneh dan tak masuk akal.
"Terserah kau saja, tapi bagaimana pun juga terima kasih dengan begitu kau membuatku lebih kaya serta lebih pusing karena menambah beban hidupku saja."
"Haha, sama-sama... Itu pantas buat manusia berotak komputer sepertimu." sahut Herman riang mereka memasuki ruang rapat yang ternyata sudah di hadiri oleh beberapa anggota lainnya.
*****
"Emak..."
Rendi mengecup puncak kepala emak, lalu mengambil duduk di samping wanita paruh baya itu yang sedari tadi memejamkan mata tampak sedang merapal doa.
"Wes madang, Ren...?!"
"Belum mak..."
"Loh..." emak memukul bahu putra bungsunya, "buruan makan, jam berapa ini?"
Rendi terkekeh lalu merangkul emak, mengusap lengannya dan berbisik, "emak nggak usah khawatir, mbak Riri itu kuat." ujarnya.
"Emak tau, cuma mikir kok mas mu nggak dateng-dateng."
Rendi menoleh ke arah koridor rumah sakit yang terdapat beberapa orang datang berlarian menghampiri.
"Itu mas Bimo..." tunjuknya.
Emak ikut menoleh ke arah yang di maksud Rendi.
"Emak..." Bimo meraih tangan emak dan langsung mengecup punggung tangannya.
"Buruan masuk, Riri udah nungguin."
"Baik, mak."
"Kenapa kamu ketawa?" tanya emak heran.
"Mas Bimo panik mak, hehe..."
"Haish..." emak mencubit lengan Rendi, "kamu nggak boleh begitu, mbak mu di dalam lagi berjuang melahirkan." ujar emak.
Rendi meringis mengaduh sambil mengusap permukaan kulit lengannya.
"Kamu juga bakal kayak mas mu, jangan meledek."
"Laaah, siapa yang ngledek mas Bimo?"
Emak melengos, meninggalkan Rendi yang masih bingung.
"Emak temenin ponakanmu dulu, kamu makan sana."
perintah emak tanpa menoleh ke arahnya.
Siapa sangka, saat Rendi melangkah keluar untuk membeli makanan, ia melihat Gilang serta Devian duduk di kantin rumah sakit. Karena beberapa hari yang lalu istri Gilang juga baru saja melahirkan, maka Rendi memutuskan bergabung dengan kedua lelaki itu.
"Hey... Kalian di sini juga ternyata." seru Rendi yang di tanggapi anggukan Devian.
"Gimana keadaan Liona?" sebenarnya Rendi bingung ingin bertanya pada siapa, karena sikap kedua lelaki yang duduk berhadapan itu tampak canggung.
"Bayinya selamat." sahut Devian.
"Syukurlah." ujar Rendi lega.
Gilang tampak diam, lelaki itu hanya memainkan tepian bibir gelas menggunakan jari telunjuknya dengan gerakan memutar.
"Gue nggak nyangka, kalo lo bakal jadi seorang ayah, Depi." ujar Rendi terkekeh sambil menoel ujung dagunya.
Namun Devian hanya diam, tatapan matanya memaku ke arah Gilang yang seakan tak peduli dengan keberadaan dirinya serta Devian.
"Sebenarnya apa yang terjadi?!" Gilang menatap Devian datar, "elo tau kalo gue bakal nikah dengannya waktu itu, kenapa lo nggak tahan gue?"
"Liona dia-" Devian menyenggol kaki Rendi yang membuat lelaki itu ikut menoleh ke arahnya.
"Dia merasa tertekan setelah menikah denganmu."
"Tertekan?!" sahut Gilang tertawa geram.
"Lo selalu melarang dia melakukan segala macam hal sehingga dia datang untuk mengajukan perceraian."
Rendi menghela nafas panjang, "gimana caranya dia hamil anak lo?" sela Rendi yang akhirnya melontarkan rasa penasaran dia dengan apa yang menimpa kedua sahabatnya itu.
"Gilang tidak mau memiliki keturunan, dia selalu menggunakan kondo'm dan itu melukai perasaan istrinya." jawab Devian sambil mengusap wajahnya sendiri karena merasa frustasi dengan keadaan sekarang ini.
"Gue datang menemuinya karena dia bilang kalo Gilang telah memukulnya dan dia minta pertolongan dari gue." jelasnya lemas, perasaan bersalah serta marah bercampur jadi satu dari gelagat Devian. Rahangnya mengeras maka Rendi menyentuh paha lelaki itu agar tidak ikut emosional saat menjelaskan perkara yang menimpa mereka.
"Ini..." Devian menyerahkan sesuatu dan menaruhnya di atas meja. Sebuah kertas salinan foto kopi bukti mereka saling mengirim pesan serta bukti video pertemuan mereka tak lupa suara telepon dari Liona pada kedua lelaki itu.
"Mungkin ini tak cukup mengobati atau sebagai bentuk alasan pembelaan dari gue- tapi waktu itu gue juga di jebak."
"Lo di jebak?" ejek Gilang, lelaki itu menunjuk wajah Devian dengan tatapan penuh jijik.
"Lo menikmatinya, makanya jalaang itu hamil anak lo."
"Terserah lo mau marah sama gue bro." sahut Devian, nada suara mereka mulai meninggi.
"Karena waktu itu Liona memberiku minuman yang mengandung afrodisiak, gue udah berencana menghindarinya tapi Liona terus saja menyentuhku. Dan obat yang dia berikan cukup banyak, gue kalah..." Devian mengeluarkan juga hasil pemeriksaan darah setelah lelaki itu melakukan hubungan terlarang itu pada Liona.
"Karena gue nggak mau bo'ongi lo, makanya gue kasih tau ke elo, bro."
Devian menunjuk bukti waktu pesan terakhir mereka sebelum terjadi dirinya tidur dengan istri Gilang adalah, enam bulan lalu.
"Tapi lo musti tau, bayi itu bukan anak gue. Liona sudah hamil sebelum gue tidur sama dia." jelasnya.
"Omong kosong."
Devian menghela nafas panjang, "gue tau, lo pasti nggak percaya itu. Dan ini-" Devian kembali menyodorkan selembar kertas lalu di taruh di atas meja.
"Hasil lab, gue bukan ayah biologis bayi itu."
Rendi penasaran, ia meraih kertas tersebut dan membacanya, "kalo bukan elo, berarti Gilang bapaknya?"
Devian tertawa lirih, tawa yang mengisyaratkan sedih. "dia juga bukan ayah dari bayi itu."
Devian memberi hasil lab lain pada Rendi, "Liona hamil dengan pria lain, dan hanya dia yang tau siapa ayah biologis bayi malang itu." ujarnya lemas.
Gilang menyahut selembar kertas tersebut, membacanya dengan seksama meskipun tangannya gemetar. Tampak jelas wajah Gilang hampir saja gila, tatapan sayu menatap Devian membuat Rendi merasa iba.
"Gue harus mengumpulkan bukti ini bro, maaf itu harus bikin lo kecewa."
Rendi mengumpulkan merapikan kertas-kertas tersebut, lantas menatap Devian penuh intens, "siapa ayah kandung bayi itu?" tanyanya.
"Nggak tau."
"Kasih tau gue, siapa?" tanya Rendi lagi.
"Nggak tau...!"
Rendi menyodorkan setumpuk bukti tadi, menatap Devian kesal lantas mendeham. "pengacara kok hobi nipu." gerutunya.
"Siapa?"
"Lo lah..."
"Gue nipu lo apa?"
"Semua bukti yang lo berikan tadi palsu."
"Maksud lo?"
"Lo ngarang cerita, biar Gilang nggak marah sama lo, gitu kan maksud lo?!"
"Itu bukti konkrit." geramnya.
"Tapi lo nggak bisa ngebuktiin siapa ayah bayi itu."
Devian mengerutkan alis, "yang jelas bukan gue dan Gilang." sahutnya.
"Gue masih nggak percaya, karena bukti ini bisa saja lo manipulasi."
"Ren, lo kira gue-"
"Apa yang di katakan Devian, semua benar." sela Gilang lirih.
"Apa?" seru Rendi semakin tak paham.
"Gue sengaja mengatakan padanya kalo gue nggak mau punya anak setelah sah menikahinya, karena gue pengen tau siapa ayah dari bayi itu." jelasnya putus asa.
"Gue kira Liona akan mengaku sendiri sama gue." Gilang tertawa lirih, "ternyata sikapnya semakin tak masuk akal dan menyeret orang yang salah."
Gilang bangkit dari duduk, ia menepuk bahu Devian, "gue percaya sama lo, bro." ujarnya, "makasih udah ngumpulin bukti-bukti ini, setidaknya setelah ini gue bisa lepas dari dia tanpa beban."
Rendi melongo melihat Gilang yang berlalu begitu saja, raut wajahnya tak sekacau tadi bahkan wajahnya berkali-kali lipat tampak bahagia sebelum menghilang dari hadapan mereka.
"Gue pusing."
"Kenapa?"
"Lo bedua, gila." gerutu Rendi.
"Kok bisa."
"Gimana rasanya nidurin istri temen sendiri...?"
Devian mendelik lalu menyahut sebotol mineral yang terdapat di meja, "malu dan merasa bersalah, tapi yang jelas gue lupa gimana rasanya." ujarnya sambil terkekeh.
"Mana bisa lupa."
"Gue dalam pengaruh obat, asal lo tau."
"Lo yakin kalo dia juga bukan ayah dari bayi malang itu?"
"Liona sendiri yang ngaku tadi."
"Bukannya dulu lo bilang ke Gilang kalo lo ayah bayi itu." ejek Rendi, "kenapa malah ngasih bukti-bukti itu?"
"Liona sempat mengatakan kalo dia telat seminggu setelah kejadian itu. Karena gue bukan pria pecundang, gue kira emang dia hamil karena gue, tapi nggak taunya setelah enem bulan, Liona udah lairan." gerutunya.
Rendi tergelak, "rupanya masih bodoh saja teman-teman kesayangan gue." Devian mendecak kesal mendengar ejekan itu.
"Lo sendiri, ngapain lo di sini?"
"Mbak Riana lahiran." ujar Rendi yang membuat Devian tersedak, "perasaan baru kemarin nglahirin bayi kembar."
"Lo sendiri kapan?"
"Apanya?"
"Punya anak?" sahut Devian.
"Kalo lo bertiga nggak bodoh lagi, gue akan nikah dan bikin banyak anak."
"Sialan, gue nggak sebodoh itu." ujar Devian kesal yang membuat Rendi tertawa puas.
"Ya udah gue mau gabung dengan keluarga gue."
"Ren." panggil Devian ragu, "Nur dia kerja di perusahaan kami, sudah hampir dua minggu."
Rendi yang tadinya sumringah setelah meledek Devian, sontak berubah datar.
"Bukan urusan gue."
"Gue cuma ngasih tau, dia tinggal di gedung apartemen sebelah rumah gue. Lantai tujubelas, paling ujung sebelah kiri dari lift. "
Rendi berlalu begitu saja tanpa peduli dengan ucapan Devian yang sukses membuatnya kesal. Dirinya sudah damai sejak Nur minggat dari hidupnya, kenapa si Depi memberitahu kabar yang tak penting ini.