Rendi menggerutu di setiap langkahnya, hatinya sangat kesal mengingat ucapan Devian. Dirinya sudah memperingatkan ketiga temannya untuk jangan berkomunikasi lagi dengan Nur, atau bahkan membantu kelanjutan hidup gadis itu. Dirinya benar-benar sakit hati dengan sikap pembangkang yang tak tahu diri itu, sudah bertahun-tahun Rendi mempermudah semua masalah hidupnya, tapi Nur malah membalasnya dengan tatapan kesal seperti malam itu. Bukannya meminta maaf saja, malah memutuskan minggat dan berkata seolah dirinya sudah tak membutuhkan bantuan dari Rendi.
Tentu akan mudah baginya untuk mencari pekerjaan berkelas sekarang, karena Nur sudah lulus dan wisuda dari salah satu universitas terbaik di negeri ini. Hal itulah yang membuat Rendi kembali kesal karena merasa telah di manfaatkan oleh gadis yang sudah di buang keluarganya sendiri.
"Mamamu sudah melahirkan, Bara?"
"Sudah om." jawab bocah kecil itu, "om darimana saja? Tadi simbah nyariin."
"Om pergi makan sebentar, kamu kenapa nggak masuk?"
Bara menghela nafas panjang, menatap Rendi begitu datar dan itu sangat menggelikan.
"Kamu kenapa, cah bagus?!"
"Bara kesal sama papa..."
Rendi menaikan satu alis, kepalanya menoleh ke semua arah lantas menarik lengan keponakan sulungnya untuk mengikuti langkahnya.
"Kenapa? Cerita sama om." bocah kecil itu menggelengkan kepala sambil menunduk.
"Hey..." Rendi menarik dagunya, "lihat om..." perintahnya lembut.
"Kenapa dengan keponakan om yang paling tampan ini? Apa yang mengganggumu?"
"Bara malu om."
"Malu?" Bara mengangguk, "malu kenapa?"
"Adik Bara banyak, semua temen Bara meledek karena Bara punya adik banyak."
Rendi tersenyum, ia mendeham lantas merangkul bahunya layaknya saudara seumuran.
"Dengar, harusnya kamu bersyukur..." ujar Rendi begitu hangat dan lembut.
"Kenapa begitu?" tanyanya polos.
"Kamu tau?" Rendi meraih ponsel lalu menunjukan sebuah gambar kepada Bara, "mereka juga seperti kamu. Lahir dari keluarga kaya serta kecukupan tapi yang menjadi beda mereka itu adalah anak tunggal. Mereka selalu merasa kesepian kalo di rumah dan harus di tinggal sendirian bersama para pekerja yang bekerja dengan keluarga mereka saja, karena orang tuanya lebih sering berpergian untuk bekerja serta urusan lainnya."
"Kesepian?" gumamnya lirih.
"Iya, mereka kesepian... Makanya setelah mereka bertemu satu sama lain di sekolah lalu saling mengenal akrab, mereka lebih mengganggap bahwa teman itu bisa mengerti bahkan kehadiran satu sama lain dari mereka seperti saudara sendiri karena pada dasarnya memang mereka tak memiliki saudara kandung."
Rendi diam sejenak, ia menelisik raut wajah Bara yang tampak sedang berfikir.
"Mereka itu teman-teman om?" tanya Bara lirih sambil menatap Rendi, sontak membuat Rendi mengangguk semangat.
"Tapi om kan punya mama, om punya saudara."
"Om punya saudara, tapi dulu om selalu merasa saudara perempuan itu sangat mengganggu maka om sangat senang bertemu dengan mereka bertiga."
"Om benar, saudara perempuan itu sangat mengganggu dan menyebalkan dan mama kembali melahirkan adik perempuan untuk Bara." gerutu Bara.
Rendi menggaruk ujung hidungnya yang tak gatal, "tapi kalo kamu hanya memiliki saudara laki-laki, itu juga sangat mengganggu atau mungkin sebaliknya, kamu akan sangat senang memiliki saudara perempuan di banding laki-laki." jelas Rendi.
"Kenapa begitu?"
"Karena kamu sebagai abang, kakak tertua mereka. Kamu harus melindungi serta bertanggung jawab kepada adik-adikmu."
Alis Bara menukik setelah mendengar kalimat itu, "Bara nggak paham."
"Kebanyakan, Kakak laki-laki tertua itu selalu di cap sebagai super hero."
"Super hero?"
"Iya... Kamu akan lebih di butuhkan di saat adik kamu lemah karena bagi mereka, kamu adalah abang yang keren dan mampu membantu dan melindungi mereka di saat mereka kesulitan serta dalam bahaya. Kamu kan tau, kalo papa sibuk bekerja dan mama harus mengurus kalian berlima. Kemungkinan adik-adik Bara akan merasa kesepian di saat papa sama mama tak memiliki waktu untuk mereka. Dan dengan begitu, kamu akan selalu ada buat mereka karena kamu adalah seorang abang." jelas Rendi lagi.
"Apa kamu mengerti sekarang?"
Bara tampak berfikir lagi, ia tersenyum kepada Rendi yang membuat lelaki itu bernafas lega.
"Bara nggak ngerti om." jawabnya polos.
Rendi meringis, "tapi kenapa kamu senyum gitu?"
"Karena bara sudah nggak kesal lagi."
"Benarkah?"
"Iya... Nggak masalah kalo Bara memiliki adik banyak, karena Bara akan menjadi super hero nantinya." ujar bocah kecil itu begitu antusias.
"Haha, terserah kamu mengerti dengan penjelasan om atau tidak. Yang penting sekarang kamu nggak kesel lagi kan?"
Rendi tergelak sendiri karena merasa dirinya sia-sia menjelaskan makna hidup pada keponakan kecilnya itu, ia pun bangkit dari duduk dan menarik lengan Bara lagi.
"Ayo masuk."
"Nggak mau."
"Loh?" Rendi menatapnya bingung, "kok masih nggak mau, katanya tadi sudah nggak kesal?"
"Bara lapar om..." cicitnya.
Rendi tergelak lantas meraih ponselnya, "lo masih di kantin?"
"Kesini cepat, gue butuh bantuan." ujarnya pada seseorang di telepon.
"Tunggu sebentar ya."
Beberapa menit kemudian, Devian datang menghampiri mereka.
"Ada apa?"
"Lo ada waktu setengah jam?"
"Buat?"
"Ajak ponakan gue ke kantin, dia lapar."
Devian menoleh ke arah Bara, "halo om..." sapa Bara begitu ramah.
"Hey, ayo ikut om."
Rendi menatap keduanya melangkah menjauh sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam ruang perawatan Riana.
Sangat riuh, mendengar celotehan emak serta mama Mira yang sedari tadi memuji kecantikan bayi mungil itu.
Rendi akhirnya memutuskan untuk duduk dan bermain dengan keponakannya saja karena mendekat demi melihat keadaan Riana sepertinya akan sedikit sulit. Yang ada emak serta mama Mira akan mengoceh ngalor ngidul sampai ujung-ujungnya memintanya segera menikah agar memiliki keturunan.
"Mas Bimo kenapa?" tanyanya heran.
"Mas lagi sebel sama mbakmu Ren."
Rendi terhenyak tapi hanya beberapa detik lantas terkekeh geli, "Mbak Riri kenapa kok sampe mas kayak orang susah gini?"
"Nanti kalo kamu udah gede, pasti bakal ngerti Ren."
Rendi mendelik sambil menatap Bimo yang sudah melangkah keluar dari ruangan.
"Apa manusia yang sudah berumur dua sembilan tahun tu masih anak-anak ya." gerutunya.
"Om Rendi kenapa?" tanya Arabela, putri kedua Bimo-Riana, saudara kembar Bara.
"Om sebel sama bapakmu." sahutnya ketus.
"Semua orang aneh, kurang minum s**u kali." Rendi tersenyum geli mendengar gerutuan Arabela.
"Apa dek?"
Rendi pun bingung kenapa ponakan kecil lainnya tiba-tiba menyodorkan s**u kotak pada Arabela.
"Katana kak ala mau num cucu." jawab bocah yang berumur empat tahun begitu cuek sambil menyedot minuman kotak miliknya sendiri.
Demi apa, Rendi tertawa terbahak-bahak melihat interaksi para makhluk kecil itu. Betapa lucunya mereka sehingga membuatnya gemas dan ingin sekali mencubit pipinya.
"Rendi baru datang?"
"Dari tadi kok ma."
"Ya sudah, mama pulang dulu. Soalnya papa lagi nggak enak badan katanya." Rendi mengecup pipi wanita paruh baya itu dan mengantarnya sampai depan pintu.
"Mama hati-hati di jalan."
"Ren antar anak-anak mbak pulang, sekalian emak juga biar istirahat di rumah." ujar Riana saat ia kembali masuk.
"Terus yang jagain mbak siapa?"
Rendi pun merapikan semua tas bawaan yang ada di ruangan teesebut.
"Ayo mak kita pulang dulu."
Ia melangkah mendekat dan mengecup pelipis Riana, "selamat ya mbak." bisiknya yang membuat Riana tersenyum teduh padanya.
"Kan ada mas Bimo, udah nggak papa kalian pulang aja. Kasian anak-anak kalo terlalu lama di sini."
"Abang mana kak?"
Arabela hanya menghela nafas panjang memasang wajah cemberut tak senang, "Kenapa sayang?" putrinya itu hanya menggeleng, membuat Riana mengerutkan alis heran dengan tingkah anaknya.
"Yowes emak sama anak-anakmu pulang dulu, kamu jaga diri baik-baik. Kalo ada apa-apa kabari kita ya nduk."
"Hati-hati di jalan Ren, tolong jangan ngebut-ngebut nyetirnya."
"Iya mbak."
Rendi pun mengantar mereka sampai di kediaman Bimo, membantu semua keponakannya turun terlebih dahulu lantas membantu emak turun dari mobilnya.
"Eh..." tiba-tiba ia ingat sesuatu.
"Depi... Ponakan gue masih sama elo kan?!" serunya panik saat menelepon Devian.
Masih... Ni udah gue antar sampai kamar nyokapnya.
"Oh... Oke makasih, lo tinggal aja. Pastikan orang tuanya tau."
Iye ngerti.
"I lop yu Depi." kekeh Rendi saat mendengar Devian seakan jijik dengan ucapannya.
Ia pun masuk dan ikut membantu para pekerja membawa barang-barang milik emak serta keponakannya.
"Makasih bi, pak." ujarnya tulus.
"Sama-sama den, lama nggak kemari tambah ganteng aja." sahut salah satu pekerja di sana.
Rendi tergelak, ia pun menyusul keponakannya masuk ke dalam kamar mereka.
Ting...
Rendi membaca email dari Devian yang kembali membuatnya kesal.
Biodata lengkap milik Nur yang sekarang resmi bekerja dengan perusahaan di tempat Devian bekerja.
"Maksud lo apa sih?"
Gue cuma ngasih tau.
"Gue udah nggak peduli lagi sama manusia satu itu." gerutunya.
Yakin?
"Iya, kenapa?"
Soalnya gue dengar, dia udah tunangan.
Jantung Rendi berdetak kencang, "tunangan?" tanyanya lirih.
Iya, apalagi dia berangkat kerja di antar jemput oleh tunangannya.
Rendi mendeham, "bukan urusan gue. Lo udah gue bilangin, gue udah nggak peduli lagi sama dia." geramnya lantas memutuskan panggilan secara sepihak.
Sialaan memang, Devian kembali membuatnya kesal karena memberitahunya sebuah kabar mengenai Nur yang sudah bertunangan.
Seharusnya ia tak peduli akan itu, tapi kenapa Rendi merasa tak rela dan malah semakin membenci gadis itu?
"Memang murahaan, haha... Berarti niat dia minggat itu hanya untuk menggaet cowok lain agar bisa ia manfaatkan seperti denganku dulu. Benar- benar benalu." ujar Rendi yang mengejek Nur secara sepihak tanpa mencari tahu kabar itu valid atau tidak.
Lelaki itu sudah muak, melihat tingkah para wanita yang bersikap seperti jalaang demi uang dan jabatan.