Sikap asing

1515 Kata
"Kalo jalan lihat depan." Nur sontak menoleh ke arah mobil yang sudah berhenti di dekat trotoar, "mas Bagas...!!!" pekiknya senang. Nur langsung masuk ke dalam mobil tersebut dengan begitu riang setelah Bagas menelengkan kepala sebagai kode, tanpa peduli dengan penumpang yang duduk di belakang mereka. "Kau ini bagaimana, mana bisa memasukan penumpang lain di saat sudah ada penumpang di dalam?!" seru wanita itu begitu ketus kepada Bagas. "Maaf nona, dia adik saya. Atas ketidaknyamanan anda, saya akan memberi diskon separuh harga untuk tarif grob-ong anda." Bagas meringis, namun ia yakin penumpang di belakangnya itu pasti akan menyetujuinya. "Baiklah, kali ini saya maafkan. Lagipula mobil yang saya tumpangi lumayan nyaman." Bagas mengangguk semangat, tak lupa berterima kasih padanya dan kembali fokus pada jalanan depan. Setelah mengantar penumpang tersebut sampai ke tempat tujuan, kini giliran gadis pujaan hatinya harus dia antar sampai ke tempat ia bekerja. Bagas akan rela bangun pagi-pagi untuk menjadi supir online agar dirinya bisa mengantar jemput Nur seolah pertemuan mereka karena hal yang tidak sengaja. Kalau tidak, Nur akan selalu menolak permintaannya yang ingin selalu siaga dengan alasan bahwa Bagas sendiri termasuk orang yang sibuk dan tak ingin merepotkan. "Mas Bagas nggak capek kerja serabutan begini?" tanya Nur penasaran. "Nggak donk, demi menabung untuk masa depan kita berdua, kenapa capek?" sahut Bagas. "Idih, tapi kalo malam selalu minta pijit sama ibu'nya mas, ya kan?" Bagas terkekeh, ia meraih jemari Nur lantas mengecupnya. "Jadi nggak sabar buat halalin kamu." "Apaan sih, mas." sahut Nur malu. "Loh, beneran sayang... Biar gantian kamu yang pijitin aku nantinya." Wajah Nur memerah setiap kali Bagas memperlakukan dirinya begitu manis seperti ini. Lelaki itu tampak amat memujanya seolah hanya dirinya gadis satu-satunya di muka bumi ini. "Nanti malem lembur lagi?" "Nggak tau, mas." "Kamu baru dua minggu di sana, tapi kerjaan kamu menumpuk seperti pengacara handal saja. Padahal kamu cuma sekretaris biasa kan?" Nur hanya tersenyum menanggapinya. "Mending belajar menjahit aja di tempat ibu kerja, di sana kamu bisa mendalami hobi kamu." "Hehe... Kan sudah belajarnya, bahkan bu Cindy bilang kalo karya-karyaku cukup unik." "Maka dari itu, kenapa kamu malah terima pekerjaan dari orang asing. Bahkan aku sangat kesal lihat cara dia menatapmu." "Dia kak Devian, bukan orang asing." sahut Nur lembut. "Ya tetap saja... Apa kamu lupa, gimana mereka membuangmu?" "Haha... Mereka bukan membuangku mas, mas Bagas ni kenapa sih? Kenapa membahas hal yang sudah aku lupakan...?!" Nur tetap berbicara lembut padanya, ia sangat memaklumi kekesalan lelaki yang menjadi kekasihnya itu. Pasalnya Nur menangis dan meminta bantuan darinya agar menjeputnya kembali setelah malam dimana Nur berargumen dengan Rendi. Nur hanya tidak bisa berfikir waktu itu, karena selain ke-empat sekawan itu hanya Bagas yang senantiasa bersamanya. "Aku kesal sayang, kamu ngerti nggak sih..." Nur menghela nafas panjang, "aku ngerti mas. Lagian nggak papa kok, soalnya ini hanya pekerjaan sementara. Kan nantinya Nur kerja bareng mas Bagas." ujarnya riang mencoba mengalihkan pembicaraan mereka, dan ternyata berhasil. Raut wajah Bagas sudah berubah tak semasam tadi. Bagas adalah salah satu fotografer handal di media cetak, karena perusahaan tempatnya bekerja masih terbilang baru maka Bagas selalu mengatakan pada Nur bahwa di sana sangat membutuhkan karyawan yang ulet dan cekatan seperti gadis itu. "Kalo ada kamu di sana, berangkat kerja akan menyenangkan." sahut Bagas begitu antusias. "Pasti mas bakalan fokusnya ke aku, ya kan?" "Tentu..." sahut Bagas terkekeh, ia mengangguk cepat dengan ekspresi wajah yang menggemaskan. "Karena kamu selalu mengalihkan duniaku, sayang." balasnya. Nur memutar bola mata malas mendengar kata-kata manis itu, "kalo gitu aku nggak mau kerja di sana, biar mas bisa fokus dengan pekerjaan mas." "Hey... Aku hanya bercanda." sahut lelaki itu panik. "Justru kalo kamu nggak ada, aku malah nggak semangat." ujarnya lemas. Nur mengulum bibirnya, menahan tawa karena melihat tingkah Bagas yang menurutnya lucu. "Aku juga bercanda kok..." Nur meraih jemarinya dan mencium punggung tangan Bagas, "aku masuk dulu ya... Mas hati-hati di jalan." Perasaan hangat merebak di dalam hati Bagas, gadis pujaannya selalu memperlakukannya begitu manis. Inilah alasan Bagas sangat mencintai Nur. Gadis polos yang berhati lembut. "Iya sayang, kamu juga hati-hati. Pulang nanti kabari aku ya." Nur mengangguk dengan senyum manisnya, gadis itu segera turun dari mobil Bagas dan sedikit berlari masuk ke dalam gedung tempatnya bekerja, karena hari ini akan ada rapat namun dirinya belum menyiapkan apa saja yang nantinya di butuhkan. "Katanya lo nggak peduli sama dia?" tanya Devian remeh. "Gue tau, lo tu cinta sama Nur." "Sok tau lo." Devian mendecak, ia menyerahkan semua dokumen mengenai Nur kepada Rendi. "Lo nggak usah ikutan meeting, gue nggak mau dia gagal fokus." Rendi tak peduli, lelaki itu begitu menikmati kepulan asap tembakau dengan seringai samar di bibirnya. "Tetep di sini, jangan ikutan masuk...!" tegas Devian sekali lagi. "Lo bapaknya ya, Depi? Posesif amat lo jadi atasannya..." cibir Rendi, ia menekan ujung rokoknya ke dalam asbak. "Gue pernah jadi kakaknya." sahut Devian kesal. "kalo bukan karena sikap lo yang kekanak-kanakan itu, mungkin Nur masih rukun sama kita-kita." "Pernah.." Rendi mengangguk-anggukan kepala dan bangkit dari duduk lantas melangkah keluar, "berarti kalian pada dasarnya bukan siapa-siapa, jangan terlalu berlebihan dengan orang asing." lanjutnya hingga tubuhnya menghilang di balik pintu. "Apa beliau teman anda pak?" Devian menghela nafas panjang, ia mengangguk lemas menatap asisten ayahnya. "dia sahabat saya." "Yang akan mengontrak kita sebagai pengacara tetap mereka?" "Iya..." Lelaki itu mengangguk sambil ber'o ria, "tapi kenapa kayak pernah lihat ya?!" "Dia pemilik perusahaan jasa Grob-Ong, serta yang nantinya akan memimpin Budiono Enterprice Corp." "Wah, iya betul... Beliau adalah Rendi Kusuma Jaya." Devian bangkit dari duduk, ia melangkah terlebih dahulu di susul lelaki tersebut. "Anda boleh kembali ke ruangan ayah, kontrak kita dengan mereka sudah di tanda tangani. Harap di rinci kembali apa saja schedule untuk kita ke depannya." "Baik pak." "Terima kasih pak Harun." lelaki itu mengangguk sekali lagi setelah lift itu terbuka untuk Devian. "Semoga rapat anda berjalan lancar." Devian mengangguk tanpa menjawab, ia menekan tombol Door Close dengan tak sabaran mengingat Rendi sudah mendahului dirinya memasuki ruang rapat. "Selamat pagi pak." sapa Nur yang baru datang menghampirinya dengan langkah tergesa dan belum memasuki ruangan tersebut, "pagi..." jawab Devian. "Apa semua berkas yang saya butuhkan sudah anda siapkan?" tanya Devian dengan nada formal. "Semua sudah siap pak." sahut Nur sedikit mengangkat sesuatu yang ia pegang erat dalam genggamannya. "Baiklah." Devian masuk terlebih dahulu, di susul dengan Nur lantas mengambil tempat duduk yang sudah di siapkan. Nur membagi satu persatu dokumen tadi kepada para anggota rapat yang tentu membuat Devian sedikit harap-harap cemas. Langkah Nur semakin mendekati Rendi, namun Nur tidak menunjukan reaksi apapun seakan kondisi saat ini bukanlah apa-apa. Kenapa Nur bertingkah seakan tak mengenal Rendi? Apa yang terjadi dengan mereka malam itu? Devian memandangi kedua anak manusia itu bergantian, hingga Nur kembali mengambil tempat duduk di dekatnya. "Rapat bisa di mulai pak." ujar Nur. "Baiklah... Selamat pagi semua." Devian memulai rapat mereka mengenai project yang akan mereka tangani setelah terjadi beberapa masalah yang lumayan pelik sehingga Rendi menginginkan strategi dari pihak perusahaan yang nantinya akan di pimpinnya tanpa kendala sama sekali. Mulanya Devian memimpin rapat begitu tenang serta lancar tanpa kendala sama sekali. Sampai pandangannya menangkap bagaimana Rendi menatap Nur penuh intens dan sangat dingin membuatnya tak nyaman serta terganggu. Devian mendeham setelah merasa Nur tak merasa terganggu atau di perhatikan oleh lelaki yang duduk di antara mereka yang menghadiri rapat pagi itu. "Bagaimana pendapat anda pak Rendi, mengenai rapat hari ini?" ujarnya mencoba menarik atensi Rendi. Semua mata menatap ke arah Rendi, mereka begitu penasaran dengan apa yang akan lelaki itu lontarkan. Namun apa yang terjadi, Rendi diam untuk beberapa detik dengan mata yang masih memaku ke arah Nur, hingga akhirnya Rendi tersenyum tipis dan mengangguk puas. "bagus... Itu sangat kompeten dan saya yakin kalian tidak akan merugikan pihak kami." ujarnya. Devian menghela nafas lega, di sisi lain meski dia sangat mengkhawatirkan momen yang terpampang jelas di depannya. Dirinya juga sangat menginginkan komentar dari Rendi yang tidak meragukan kemampuannya setelah sekian lama. Karena bagaimana pun juga menurut Devian, Rendi tetap segala-segalanya untuk Devian selain otak komputernya. "Baiklah rapat kali ini kita akhiri sampai di sini." Sekelompok dari mereka membubarkan diri dan keluar dari ruang rapat. Tinggal empat orang di dalam yaitu Rendi beserta asistennya, Devian dan Nur. "Boleh saya permisi pak?" Devian sontak menoleh ke arah Rendi, "ya, kembali lah bekerja." ujarnya pada Nur, namun pandangan masih ke arah Rendi. Entah ada apa dengan Rendi, lelaki itu hanya memainkan pena miliknya yang memang sedari tadi di ketuk-ketukan pada permukaan meja kaca itu. Lelaki itu dengan sigap berdiri, gerakannya sangat gesit menahan lengan Nur, lantas membisikan sesuatu pada gadis yang hanya berdiri kaku di ambang pintu tanpa ada orang lain yang bisa mendengar ucapan Rendi itu. Seringai puas tampak pada raut wajah Rendi setelah Nur pergi meninggalkan ruang rapat. "Apa yang lo katakan padanya?!" Rendi hanya mengendikan kedua bahunya. "Lo bilang nggak akan peduli lagi dengannya." Rendi menaikan satu alisnya, menatap Devian dengan tatapan yang sangat sulit di artikan. "Apa anda tidak tahu cara berbicara dengan rekan bisnis anda, pak Devian?" Devian memutar bola mata malas, ia bangkit dari duduknya lantas meninggalkan Rendi karena kesal dengan sikap songongnya. Sedangkan Rendi-ia tertawa terbahak-bahak sangat puas akan apa yang terjadi hari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN