Apartemen

1627 Kata
Alasan yang membuat Nur tak terlihat gugup di hadapan orang banyak dalam ruangan tersebut adalah bahwa dirinya sebelumnya sudah mengetahui Rendi-lelaki yang di maksud oleh para karyawan selama ini. Seorang pemimpin, pengusaha muda berparas tampan yang nantinya akan bekerja sama dengan Firma hukum milik keluarga besar Giotama. Nur tentu sebelumnya penasaran, mengingat ia sendiri telah di rekrut sebagai sekretaris tanpa seleksi khusus setelah permintaan Devian beberapa minggu yang lalu. Dan sekarang Nur mengerti, kenapa Devian mengatakan kepadanya agar mengambil cuti sehari untuknya. Lelaki itu menjelaskan bahwa itu bonus waktu istirahat untuk Nur yang sudah bekerja keras padanya, yang telah terforsir tenaga serta otaknya karena bekerja sampai malam beberapa hari yang lalu. Sebenarnya cukup masuk akal mengingat Nur memang kurang istirahat, namun karena Devian hanya mengontraknya satu tahun atau kurang dari waktu prediksi sambil menunggu sekretaris yang di ajukan dari perusahaan, maka Nur tak ingin bermalas-malasan, sebab baginya bekerja pada Devian lumayan menyenangkan. Di satu sisi Nur merindukan ke empat sosok kakak laki-laki yang sempat hadir di dalam hidupnya setelah dirinya di usir dari rumah orang tuanya, di sisi lainnya Nur merasa gaji yang Devian tawarkan lumayan tinggi. Dengan begitu Nur akan lebih cepat mengumpulkan uang serta melunasi hutang yang sempat ia janjikan kepada Rendi, bukan? Tentu Nur tak mau melewatkan kesempatan ini. Sebelumnya nama Devian yang mendadak melambung tinggi di kalangan kalayak artis pada tahun ini, sontak banjir akan pengajuan dari banyaknya klien dengan berbagai masalah yang lumayan pelik membuat Devian kerepotan. Entah kebetulan atau itu takdir, lelaki itu telah di pertemukan dengan Nur secara tidak sengaja di sebuah butik langganan keluarganya, saat Devian mengantar sang bunda memesan gaun untuk beliau sendiri yang nantinya akan di kenakan pada saat acara ulang tahun perusahaan Firma hukum keluarga mereka yang bersamaan dengan hari ulang tahun pernikahan pasangan Deni Giotama bersama sang istri Rosa Nada pada minggu lalu. Devian sangat yakin, Nur pasti membantunya. Hingga tanpa pikir panjang, Devian datang menghampirinya disaat Nur hendak keluar dari butik dan pulang bersama seorang lelaki yang tak ia kenal. Devian tak peduli, yang jelas gadis cantik serta imut itu tetaplah adik baginya. Meskipun Rendi terus saja menekannya untuk melupakan segala hal mengenai gadis itu, tapi Devian tidak akan mendengar perintah Rendi kali ini. Baginya, selain Rendi Gilang serta Toni, Nur juga sudah masuk ke dalam daftar kategori sebagai saudara baginya. "Boleh aku tanya sesuatu, Genta?" "Apa?" "Berkas yang tadi aku taruh di meja, kenapa bisa berbeda? Yang aku bawa, justru bukan berkas yang kita siapkan tadi." ujar Nur penasaran. "Oh itu..." Nur mengangguk cepat, "iya, kau tau siapa yang menukarnya?" "Pak Devian tadi yang nuker." "Pak Devian?" "Iya..." Genta menunjuk ke arah tempat sampah di bawah meja kerja Nur, "yang kau taruh di meja, udah di buang." jelasnya. Nur sontak menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Genta, ia tersenyum tipis lantas meraihnya. "makasih Genta." Lelaki berkumis tebal berkulit agak gelap itu mengacungkan ibu jarinya tanpa menoleh karena terlalu fokus pada layar komputernya. "Tapi kapan ya?!" tanyanya heran, seingatnya sedari tadi dirinya tak melihat seseorang mendekati meja kerjanya. Lelaki itu menelengkan kepala sejenak, "waktu nge-print tadi kalo nggak salah." Nur menghela nafas panjang, rasanya ingin sekali teriak bila mengingat apa yang barusan terjadi padanya. "Mas Rendi." gumamnya lirih. Devian seperti ikut mempermainkan dirinya yang mengganti begitu saja berkas dokumen yang tadinya ia siapkan. Tanpa sepengetahuan darinya dan merubahnya begitu saja, sehingga Rendi dengan sengaja membisikan bahwa ide yang di presentasikan oleh Devian tadi adalah ide miliknya. Maka dengan angkuhnya, Rendi mengejeknya mengatakan dirinya hanyalah benalu yang tak akan meringankan beban Devian kalau saja Rendi tidak membantunya. ***** "Maaf tidak memberitahumu yang sebenarnya." "Nggak papa, kita pasti akan di pertemukan kembali, bukan." Devian menghela nafas panjang, "Aku beri kamu cuti tiga hari." "Tidak-tidak..." sahutnya. "mana bisa begitu." "Tenanglah... Aku nggak akan memotong gajianmu." canda Devian, "maaf sekali lagi, soal pagi tadi." Nur tahu, Devian pasti akan membahas hal ini. Apalagi sekarang dirinya sudah pulang kerja di antar sampai lobi apartemen tempatnya tinggal. "Ngomong-ngomong... Dari mana kakak tau, kalo Nur tinggal di sini?" tanyanya heran. "Padahal alamat tempat tinggal yang Nur isi di formulir lamaran pekerjaan, masih pakai alamat rumah mas Rendi kan?!" Bukannya menjawab, Devian justru meraih secarik kertas dari dalam dashboard mobil lantas menyerahkan pada Nur, "bacalah..." "Apa ini?" "Baca itu... Setelah itu akan aku jelaskan." Nur menatap Devian sejenak, lantas membaca keterangan dari dokumen kepemilikan sebuah apartemen, lebih tepatnya tempat dirinya tinggal sekarang. "Apart itu kamu sewa atau beli?" "Teman yang mencarikan tempat itu, untuk Nur sewa." Devian memangguk, ia lalu meraih ponselnya dan menunjukan sebuah gambar yang terposting di salah satu sosial media milik seseorang padanya. "Pemiliknya adalah dia." jelasnya. "Oh, gitu." "Dia sepupuku." "Tapi, kenapa kakak memberitahu hal ini padaku, apa pemiliknya ingin aku pindah dari apart'nya?" "Bukan begitu..." Devian menggeser layar ponselnya, "kamu tau kan, siapa dia?" Mata Nur terbelalak, ia melihat sepasang anak manusia yang tersenyum lebar seakan sedang di mabuk asmara dalam gambar yang di tunjukan padanya. "B-bukankah itu mas Bagas?" "Benar..." Nur shock bukan main, matanya tampak berkaca-kaca sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Apa hubungan mereka?" tanyanya ragu "Aku tidak tau tepatnya, tapi yang jelas pria ini sudah pernah ikut di acara keluarga kami." Devian mengusap pundak Nur yang masih setia dengan keterkejutannya, sebenarnya dirinya tidak ingin mengatakan hal terkutuk ini sebelum akhirnya Devian jengkel dengan sikap lelaki yang sedang berusaha mendapatkan gadis yang dulu pernah singgah di hatinya itu. "Vania semalam mengumumkan kalo dia akan menikah dengan Bagas." Nur menelan ludah kasar, sekujur tubuhnya gemetar seakan tulang-tulangnya berubah menjadi jeli saat mendengar kalimat itu. "Aku ingin kamu putus dengannya, dia bukan pria yang baik untukmu." "Nur nggak akan putus dengannya." "Maksudnya?" Nur menghela nafas panjang, menatap ke arah Devian dengan senyum tipisnya setelah berhasil menguasai perasaan hancur dengan fakta yang baru saja ia ketahui. "Mas Bagas dia orang baik, aku rasa kak Devian jangan menuduhnya seperti ini." "Tapi dia mengkhianatimu." seru Devian. "Tidak, foto tadi masih terlihat normal. Bahkan Nur bisa menganggap kalo mereka hanya teman." sahut Nur. "Bukankah teman foto berdua seperti tadi, sekarang sudah sangat wajar?!" "Tapi-" "Sudahlah." sela Nur, gadis itu melepas sabuk pengaman yang melingkar di pinggangnya lantas meraih jemari Devian. "makasih atas tumpangannya." pamitnya setelah mencium punggung tangan Devian seperti dulu, hal yang sama pernah ia lakukan pada ke-empat sekawan itu. Nur melangkah sedikit berlari, bukan dirinya tak percaya dengan apa yang Devian katakan padanya. Hanya saja, memutuskan hubungan dengan Bagas seperti ini tentu tidak akan ia lakukan. Nur tidak mau Devian kembali mengejarnya seperti dulu, yang memintanya memohon untuk menjadi kekasihnya sebelum Nur mengatakan bahwa dirinya memiliki kekasih yaitu Bagas. "Akhirnya anda pulang, nona." Nur mengerutkan alis, terdapat beberapa lelaki asing yang berdiri di depan pintu apartemennya lantas salah satu di antaranya menghampiri langkah Nur. "Anda siapa?" "Anda tidak bisa menempati apartemen ini lagi." "Hah?!" Nur melirik ke belakang punggung lelaki itu, barang-barang miliknya sudah tertata rapi, berjajar di sana. "Memangnya kenapa ya?" tanyanya. "Karena apartemen ini di sita oleh bank." "Tapi saya sudah membayar sewa satu tahun penuh." keluhnya. "Tidak masalah..." sahut lelaki bertubuh kekar itu, "kami sudah menyiapkan tempat untuk anda sebagai ganti rugi." jelasnya. Nur menatap lelaki itu cukup lama. Ada rasa tak percaya namun setelah membaca surat segel akan kepemilikan yang di tunjukan untuk Nur, membuat gadis itu hanya menghela nafas pasrah. "Lalu saya akan di pindahkan di mana, kalo boleh tau?" Lelaki itu mengangguk, tangannya menengadah agar Nur melangkah mengikuti lelaki tersebut. "Barang-barang saya?" "Mereka akan membawakan untuk anda." "Apa itu tidak merepotkan kalian?" Lelaki itu menggelengkan kepala, "silakan masuk nona." ujar lelaki itu agar Nur memasuki lift terlebih dahulu. "Oh masih di gedung ini juga ya-" dia mendeham. "p-pak?" tanyanya ragu. Lelaki itu hanya mengangguk. Nur meliriknya dengan bibir yang masih setia mengatup rapat bahkan sesekali menghentakan ujung sepatu nya untuk mengurai rasa jenuh di dalam kotak besi tersebut. Pagi bertemu dengan Rendi, lalu pulang dengan drama yang di tunjukan oleh Devian. Sekarang? Dirinya harus pindah tanpa pemberitahuan sebelumnya terlebih dahulu. Benar-benar hari yang mengesankan, keluh Nur dalam hati. "Lewat sini, nona." Nur mengangguk saja, membuntut di belakangnya yang ternyata kembali memasuki sebuah lift di ujung koridor tersebut. "Naik lift lagi?" ujarnya takjub tak percaya. "Kalo pindahnya sampai jauh begini mending saya cari kontrakan saja di lu-" "Sudah sampai." sela lelaki itu. Nur menghela nafas panjang, namun ia tetap mengikuti langkah lelaki itu menuju ke arah sebuah pintu kayu yang terdapat ukiran rumit di lantai tersebut. "Pak, beneran deh. Soalnya saya kerja itu harus pagi-pagi banget, belum naik bis juga. Tapi kalo pindahnya di lantai paling atas begini, bisa-bisa setiap pagi saya telat berangkat kerja pak." rengeknya, "apa nggak ada apart di lantai paling bawah, gitu?" "Anda bisa naik lift itu sampai lantai dasar." sahut lelaki itu datar. "khusus penghuni lantai ini yang bisa menaiki lift tadi, nona. Selain itu tidak di perbolehkan." terangnya. "Ya tapi kan lama, pak." gerutunya. "Hanya dua sampai tiga menit saja." "Masa? Tapi yang barusan kenapa lama banget." Nur mendelik kesal menatap lelaki itu, tanpa mengatakan apapun pada Nur yang hanya menyerahkan sebuah kartu seukuran kartu identitas lalu meminta Nur untuk menempelkannya ke arah tembok di dekat pintu. "Silakan masuk, barang-barang milik anda akan menyusul." lelaki itu menunduk pamit sejenak lantas pergi meninggalkan Nur tanpa mengatakan hal yang lainnya. "Yang benar saja?!!!" seru Nur kesal melongo tak percaya saat melihat lelaki itu menghilang di balik pintu besi. Nur pun masuk ke dalam apartemen itu setelah puas menggerutu. Namun semua berbanding terbalik saat dia melihat bangunan di dalam ruangan tersebut. Ini adalah penthouse mengingat bangunan itu terletak di lantai teratas dengan ruangan sangat luas bahkan terdapat dua lantai di dalamnya. "Wuaaah...." kagum Nur. "Ini nggak salah kan?" gumamnya. Di dalam otak Nur sekarang adalah bagaimana cara dirinya bisa beralasan keluar dari penthouse itu, karena Nur yakin harga sewanya akan berkali lipat lebih mahal di banding tempat tinggalnya sebelumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN