Trauma

1566 Kata
Nur melangkah balik arah dengan langkah tergesa kembali menuju pintu masuk tadi. Memikirkan uang sewa yang nanti semakin bertambah tentu membuatnya bergidik ngeri. Perasaan tak nyaman rumit tak karuan, apalagi menjadi miskin lagi seolah bayangan itu seliweran di hadapannya. Lagipula siapa juga yang mau mengeluarkan biaya banyak hanya untuk tempat beristirahat bila malam tiba. Di ruangan satu kotak alias kamar kost pun, dia sama sekali tak keberatan. "Mending aku ngontrak di gang sempit aja, kenapa malah kelamaan mengagumi tempat ini." gerutunya sambil sesekali menepuk jidatnya sendiri. Bodoh sekali, Nur pun segera meninggalkan tempat itu. Namun saat dirinya hendak menutup pintu kayu dengan ukiran rumit itu, suara hentakan kaki serta roda pengangkut barang menggelinding terdengar nyaring penuh irama membuat Nur sontak mematung. "Anda mau kemana?" suara bernada datar itu bagai berperan menjadi seorang pegawai sipir saja. Genggaman jemarinya terlepas dari gagang pintu begitu saja akibat terkejut karena lelaki asing itu kembali menyapanya. Nur pun gelagapan sebab pintu di depannya itu malah tertutup sempurna dan tingkahnya seolah tertangkap basah mencuri mangga milik tetangga. "Duh..." cicitnya lirih merasa bodoh sendiri. Setelah beberapa detik diam seribu bahasa seakan menjadi narapidana buronan, Nur menegakan punggungnya, lalu memutar tubuhnya menghadap ke arah mereka. Dipandangi oleh beberapa lelaki asing yang sudah mengangkut semua barang miliknya sampai di hadapan, meskipun itu hanya dua koper serta dua kardus berukuran sedang, membuat Nur tentu merasa terintimidasi dengan tatapan fokus mereka. "Nona?" "Oh itu-" Nur menelan ludah kasar, ia menggaruk pelipisnya yang tak gatal lantas tertawa kecil seakan dirinya lupa akan sesuatu. "Pintunya terkunci." jawabnya asal sambil menunjuk ke arah kayu ukir tersebut, "dan bodohnya saya, kartu yang anda berikan tadi malah tertinggal di dalam. Padahal tadinya saya mau turun sebentar, beli pembalut di minimarket depan." begitu alasannya, gadis itu meringis salah tingkah ia mengambil alih kopernya secepat kilat, menggenggamnya erat-erat. "maaf merepotkan kalian." Ya... Nur harus bisa membuat rencana agar dirinya batal masuk dan tinggal di penthouse tersebut. "Anda bisa menekan password saja, nona." "Hah?!" Nur sempat tak paham dengan kata-kata lelaki yang berdiri di hadapannya itu, "maaf, tapi kan saya tidak tau passwordnya." jawabnya polos. "Passwordnya tanggal lahir anda." Nur mematung, sekelompok pasukan berwajah datar itu menunduk sekejap lantas meninggalkan Nur sendirian di sana. ***** "Lo keterlaluan bro." Devian terkekeh geli, "sudah jelas ada cinta di ma-ta-mu." ejeknya. "Ck... Memang pengacara yang kurang kerjaan." Rendi mengecek kembali surat kerja sama yang tadi belum sempat ia baca dengan seksama. Mengingat dirinya akan di pertemukan lagi dengan Nur membuatnya lupa bahwa Devian bisa saja bermain curang, apalagi ini adalah kerja sama perdana mereka setelah Devian terus saja memohon agar Rendi menggunakan jasa Firma milik keluarga Giotama. "Kenapa di sini tertulis jangka waktu tak terhingga." Rendi menukikan alisnya bingung, "bisa-bisanya mengambil keuntungan dari gue, lo ya?!" geramnya. "Hey, tenang dulu." "Ganti perjanjian baru, atau gue tuntut perusahaan Firma hukum kalian atas penipuan murahan lo..." seru Rendi. "Mana bisa begitu." Devian mendeham, "lo nggak boleh main perintah ganti begitu, karena perjanjian ini sudah di sepakati oleh kedua belah pihak tanpa paksaan. Lo bahkan udah ngecek dulu kan sebelum menandatangani kontrak tadi." kilahnya, Devian pun tak mau kalah dengan ancaman Rendi. "Oh itu, lo bener juga sih..." Rendi mengangguk-angguk paham. "Gue denger-denger, Vania habis keguguran ya, bro?" ujar Rendi dengan nada rendah tentu dengan seringai tipis di wajahnya, "bahkan tu cewek sempat pendarahan dan hampir tak tertolong." Rendi menyandarkan punggungnya di kursi putar dengan kedua tangan bersidekap. Lihatlah, begini saja pesona Rendi tampak luar biasa. Tak hayal semua mata akan kagum hanya dengan melihatnya. "Bukankah a******i lo juga sempet mampir menyirami rahim cewek malang itu?" Devian menghela nafas panjang, sepertinya beradu argumen atau bermain licik dengan Rendi memang membutuhkan strategi yang matangnya sampai ke akar. Kalau tidak, maka Rendi akan membalas balik sesuatu yang lebih kejam dari permainan licik itu. "Ngomong apa sih lo..." gerutu Devian, "dia sepupu gue...!!!" elaknya tegas. "Sepupu tiri." sahut Rendi. "Ya tapi, tetep sepupu gue." "Se-pupu yang pernah lo jilat pupu-nya?" ejek Rendi, "ganti perjanjian ini dengan kesepakatan awal kita, kalo tidak nama baik lo akan hancur saat keluarga besar lo mengetahui ini." Rendi mengangkat lengannya ke arah pintu begitu angkuh, jangan karena hubungan persahabatan akan membuatnya merasa iba, itu tak ada dalam kamus besar Rendi, "pintu keluar di sana... Lo tau jalan pulang, kan?!" Devian bangkit dari duduknya, kedua bahunya merosot dengan langkah terkulai meninggalkan ruang kerja Rendi. ***** Nur. Gadis itu sedari tadi mengerjapkan mata menatap angka-angka di atas tombol yang tertera di sebelah pintu kayu ukir. Tak bergerak dari tempatnya meski lebih dari tiga puluh menit dirinya berdiri di sana. Gadis itu terheran, darimana lelaki asing yang tak memiliki wajah ramah itu bisa mengetahui tanggal kelahirannya? Bahkan Bagas, yang sudah bersamanya hampir dua tahun menjadi kekasihnya, lelaki itu tidak pernah tahu menahu kapan Nur akan berulang tahun. "Sebenarnya siapa mereka?" gumamnya. Nur menghela nafas panjang, tampak ragu-ragu jemarinya menekan tombol sesuai tanggal yang di maksud. Salah. Mata Nur berkedip beberapa kali untuk sesaat, ia pun kembali menekan tombol itu. Salah. Gadis itu semakin tak mengerti, alisnya mengerut menyatu, dua kali dirinya menekan tombol sesuai tanggal lahirnya, tapi kenapa masih salah? "Oke, kita coba lagi." gumamnya. Salah. Mohon tunggu lima belas detik, tekan kombinasi angka yang benar. "Haiish... Apa sih maunya?" erangnya kesal. "Apa orang tadi mau ngerjain aku?" "Kalo mau ngusir ya to-the-point aja, jangan pake acara di pindah-pindah gini." gerutu nya memberondong saat menoleh ke arah lift dimana dirinya tadi melihat sekelompok lelaki asing meninggalkannya sendiri tampak konyol. Tak selang lama, wanita paruh baya keluar dari kotak besi itu. Sempat membuat Nur terlihat bingung namun detik berikutnya dirinya mendecak kesal setelah menyadari sesuatu. "Oh rupanya aku kena tipu beneran." ujarnya lirih. Nur kembali merapikan koper serta dua kardus yang tergeletak di sampingnya, ia sesekali mengangguk ke arah wanita paruh baya itu di saat mata mereka bersibobrok. Bukan, di saat Nur menyadari wanita tersebut yang ternyata memperhatikannya sedaru tadi. "Anda siapa?" "Saya-" Nur tampak berfikir sejenak. "saya salah naik lift bu, sebenarnya saya mau ke lantai tujuh belas." terangnya. "Oh, silakan masuk." seru wanita paruh baya itu riang. "mari masuk, non." Wanita bertubuh gempal yang tadinya memandangnya dengan raut wajah penuh curiga, sekarang berubah drastis menjadi riang seakan bertemu kembali dengan putri kesayangannya. "Ta-tapi saya tidak tinggal di sini bu, saya takut kalo-." "Haish..." sela wanita itu mengibaskan tangan sambil berdecak, "takut kenapa? Memangnya saya hantu?!" "Bukan-bukan..." Nur menggeleng cepat, "bukan itu maksud saya. Saya hanya takut kalo tinggal di sini-" "Nggak perlu takut, ada saya yang nemenin kok." selanya lagi. "Bukan... Bukan itu maksud saya." Nur menghela nafas panjang, "saya permisi dulu bu." "Eitz..." lengan Nur di tahan wanita gempal itu, "kok malah pergi?!" tanyanya heran. "Mari silakan masuk atuh non." Nur menggeleng lagi, "jangan bu, saya nggak mau." jawabnya cepat. "Loh...? Kenapa? Bukankah pak Mul mengatakan pada anda, agar pindah di mari?" "Siapa pak Mul?" "Yang bawain barang-barang Non naik ke sini." "Oh..." "Sudah tau kan? Mari masuk." "Ta-tapi." "Udah ayok, nggak usah malu atuh..." Huft... Sudahlah, Nur akhirnya pasrah. Lengannya di tarik oleh wanita asing yang entah siapa dan dari mana asalnya, hal itu membuatnya menurut saja. Apalagi setelah dirinya sudah kembali masuk ke dalam penthouse itu, Nur tak di biarkan menggotong barang-barangnya sendiri karena wanita paruh baya itu meminta lelaki paruh baya membantunya memindahkan semua barang-barang miliknya ke dalam kamar yang terdapat di lantai dua. "Kenapa saya tadi tidak lihat si bapak di dalam?" Wanita paruh baya yang mulai mencuci beras dan hendak memasak sesuatu itu menoleh ke arahnya, "mungkin suami saya sedang magrib-an non." "Anda berdua suami istri?" tanya Nur terkejut. "Benar." "Terus kenapa saya malah di suruh tinggal dengan ibu? Apa nggak papa?" Wanita itu tergelak mendengar nada canggung yang keluar dari mulut Nur. "nggak papa atuh, justru malah rame kalo ketambahan anggota baru di sini. Bukankah malah seru? Non boleh anggap kita orangtua non, keluarga non sendiri, kalo non nggak keberatan." Nur tercenung mendengar kalimat yang hangat keluar dari mulut wanita paruh baya itu. Anggota baru, keluarga...? "Saya semakin takut bu, biarkan saya pergi saja dari sini. Maaf." "Mau kemana atuh non?" "Pak, bolehkah saya mengambil barang saya lagi?" "Loh... Kumaha i'eu?" lelaki paruh baya itu menatap istrinya bingung, "kenapa si enon?" "Katanya takut dia." "Takut kanapa? Kita nyeremin?" lelaki itu menoleh ke arah Nur, "kita nggak ada niat jahat atuh." "Bukan... Bukan begitu maksud saya." Nur bingung bagaimana menjelaskan kepada sepasang paruh baya itu, "uang saya nggak cukup kalo harus nambah biaya sewa tempat." Sudahlah, Nur pun menjelaskan apa yang sebelumnya membuatnya resah, "saya harus irit, agar hutang saya cepat lunas. Pak, bu..." "Oh gitu... Tapi tinggal di sini, non nggak perlu bayar. Kan, non udah bayar setahun." jawab lelaki itu. "Memangnya sama ya sewa tempatnya?" "Sama atuh." Nur menghela nafas lega, "syukurlah." "Hey... Sudah-sudah... Kebanyakan ngobrolnya, mari makan dulu." Wanita paruh baya itu melambaikan tangan, agar mereka bergabung di meja makan. "Keburu dingin nanti." "Wuah..." mata Nur berbinar, "bebek goreng." serunya antusias. "Non suka?" Nur mengangguk cepat, "banget." "Bagus, ayo buruan makan." Mereka makan begitu lahap, terutama Nur. Gadis itu memakan semua yang di hidangkan oleh pemilik penthouse tersebut. Mubazir melewatkan menu istimewa ini. "Seneng banget, rasanya seperti keluarga utuh ya pak." "Iya..." Rasa tak nyaman kembali merebak, Nur masih trauma dengan kebaikan-kebaikan orang lain yang nantinya justru meninggalkannya di saat dirinya merasa bahagia. "Makan yang banyak, non." Nur mengangguk saja, ia kembali menyuap lalapan serta bebek goreng itu meski tak selahap sebelumnya. Sebenarnya siapa mereka, kenapa mereka begitu baik sama aku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN