Lepas atau abaikan

1502 Kata
Rendi terheran mengapa apartemen miliknya tampak terang benderang setelah dirinya membuka pintu dan hendak masuk. Sempat lelaki itu berfikir, tidak mungkin pekerja yang bertugas membersihkan apartemen ini lupa mematikan lampu. Apa mungkin dirinya teledor hingga salah memasuki apartemen orang lain atau kemungkinan lain seseorang telah masuk tanpa izin darinya. "Akhirnya kamu pulang juga..." pekik seseorang dari arah dapur begitu senang, "aku sudah siapin makan malam buat kamu." Sudah ia duga, Rendi melepas jas serta dasi miliknya dengan malas lalu melemparkan begitu saja di atas sofa. Ia melangkah ke arah dapur, membuka lemari pendingin untuk meraih sebotol air mineral dingin lantas menegaknya begitu liar. "Siapa yang mengijinkanmu masuk?" ujarnya ketus. "Si bibi kan sedang ijin sakit, jadi aku kesini siapin makanan untukmu." ujar Yesi lembut, ia lantas memeluk lengan Rendi, "kamu pasti belum makan deh..." tebaknya, "aku masakin banyak loh dan semua itu kesukaan kamu." bujuknya, karena raut wajah lelaki di hadapannya sekarang tampak garang. Rendi mengurai pelukan tangan Yesi dari lengannya, ia sedang malas meladeni wanita itu malam ini. "Mandilah, baju kamu sudah aku siapkan." Rendi berlalu tanpa kata, masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri. Bekerja hingga larut malam memang melelahkan. Sudah belum Ren? Keburu dingin nanti. seru Yesi dari luar kamar mandi. Rendi menghela nafas panjang, tangannya meraih handuk lantas melangkah keluar dari kamar mandi sambil bertelanjang d**a dengan handuk putih itu yang sudah melingkar di bawah pinggang, hingga menampilkan otot-otot keras yang menonjol begitu seksi dan panas. Pandangannya menangkap baju yang masih terlipat rapi di atas ranjang, ia meraih lalu memakainya dengan cepat. "Sudah selesai?" Rendi mengangguk sekali, lagi-lagi ia hanya menghela nafas melihat tingkah Yesi yang sudah memeluk pinggangnya erat-erat. "Ayo makan, aku lapar." rengeknya. Rendi sontak menoleh ke arah ponsel yang di genggam oleh Yesi, dirinya terhenyak saat menengok waktu yang sudah menunjukan pukul hampir sepuluh malam. "Apa kau bodoh?!" serunya kesal. Yesi mencebik, Rendi menyeretnya keluar dari kamar lantas mengangkat tubuhnya begitu ringan agar duduk di kursi bar kecil itu. "Kau akan sakit kalo menunda makan terlalu lama begini." bentak Rendi marah. "Aku ingin makan bareng kamu, ponsel kamu sedari tadi susah di hubungi." adunya. Rendi menghela nafas panjang, ia mengambil piring bersih lantas menuangkan nasi serta lauk pauk yang sudah dingin itu. "Aku panasin dulu." "Nggak usah." sahut Rendi, "kau tak akan mati dengan masakanmu sendiri, bukan?!" tanyanya sengit. "Tapi itu sudah dingin." Rendi menyodorkan sendok ke arah mulut Yesi, "makan." ujarnya tak peduli dengan keluhan wanita itu, "Aaakkk.." Yesi tersenyum lebar lantas menyuap sesedok nasi penuh semangat yang sebenarnya terlalu banyak untuk masuk kemulutnya yang kecil itu, tampak pipinya mencembung saat mengunyah semua yang ada dalam mulutnya, "tunung bunut dutuupun tumu." "Makan, jangan mengoceh. Nanti keselek." Yesi tersenyum lagi, hingga matanya menyipit sambil mengangguk cepat. Ia berinisiatif menyuapi lelaki itu, namun Rendi malah menolak menoleh dan merebut kembali sendoknya. "Aku sudah kenyang." terangnya. Wajah Yesi mendadak mendung, kunyahan dalam mulutnya yang cepat tadi kini mulai melambat. Ia meraih segelas airnya sendiri dan meminumnya. "Kalo gitu istirahatlah." ujar Yesi lembut, "aku bisa makan sendiri, kok." ia mengambil alih piring serta sendok itu. "Kamu pasti lelah, bukan?" Rendi menggeleng, ia meraih kembali sendok tadi namun di tahan oleh Yesi. "Biar aku suapi." ujarnya pada Yesi. "Nggak..." sahut Yesi cepat. "aku ini sudah besar, jangan perlakukan aku seperti anak kecil. Oke?!" Seakan semua baik-baik saja, Yesi masih tersenyum hangat dengan mata yang masih memancarkan rasa cinta terhadap Rendi, dirinya makan begitu lahap tanpa menunjukan rasa sakit hati akan sikap penolakan lelaki itu barusan. Yesi bukan tidak senang, dengan Rendi tak memakan masakan darinya. Hanya saja sikap Rendi yang selalu dingin padanya membuat dirinya tak berdaya. Namun apa? Dirinya malah semakin mencintai lelaki itu, yang terang-terangan sering menolaknya. "Terserah kau saja, aku akan lembur malam ini, kalo kau ngantuk tidurlah terlebih dahulu." Yesi mengangkat tangannya sebagai tanda OK karena mulutnya masih penuh dengan makanan. Mungkin terdengar bodoh melihat tingkah Yesi yang sering sekali mengejar Rendi. Meskipun sudah jelas, sikapnya sekarang menegaskan bahwa lelaki itu menolaknya. Namun Yesi mampu merasakan, lelaki itu ada rasa tertarik padanya, peduli dengannya bahkan mungkin memiliki rasa untuknya. Hanya saja sikapnya yang keras kepala serta tak menunjukan rasa peduli pada wanita siapapun di sekitarnya, membuat orang lain beranggapan bahwa Rendi tidak akan pernah mempedulikannya. "Sudah malam, kenapa belum tidur." tanya Yesi lembut. Dirinya memasuki ruang kerja yang hanya tampak cahaya dari layar laptop Rendi sehingga penerangan di sana terlihat minim. "Masih ada yang perlu di beresin ya?" dengan jemari lentiknya ia memijat pundak Rendi berupaya memberi sedikit kenyamanan pada lelaki itu. "Aku sengaja nggak bikinin kopi buat kamu, nanti kamu nggak bakal tidur semalaman kayak yang udah-udah." terangnya saat Rendi mulai menikmati secangkir s**u hangat buatannya. "Ini sudah cukup, makasih." Yesi tersenyum tipis, ia memeluk leher Rendi dari belakang, meletakan kepalanya di pundak kiri lelaki itu. "Jangan lembur terlalu larut malam, tidak bagus untuk kesehatanmu." Rendi masih fokus pada layar laptopnya, jemarinya sedari tadi menari di atas keyboard. Lelaki itu hanya mengangguk tanpa menjawab sepatah kata lagi. "Selamat malam." putusnya tak lupa kecupan ringan di pipi lelaki itu. Sepertinya Rendi memang sedang sangat fokus dengan pekerjaannya, dan dirinya menyadari bahwa tak baik untuknya bila mengganggu konsentrasi lelaki itu. Yesi pun mengurai pelukannya, ia beranjak dan berlalu yang baru saja dua langkah namun pinggangnya tertahan lantas ditarik oleh Rendi. "Temani aku." ujarnya, ia memangku Yesi menarik kepala wanita itu agar bersandar di pundaknya. "Tidurlah, kalo kamu ngantuk." "Apa nanti aku tidak mengganggumu?" "Tidak." jawab Rendi lembut, ia mengecup pelipis Yesi begitu dalam, "tidurlah." Yesi tentu senang, ia mengangguk lantas mengalungkan lengannya di leher Rendi. Meskipun Rendi seperti memiliki dua kepribadian yang aneh, namun Yesi tahu lelaki itu suatu saat akan membalas perasaannya dengan tulus. ***** Entah perasaan apa ini, merebahkan tubuh di ranjang yang dua kali lebih lebar, sangat lembut serta empuk begini membuat Nur merasa ada hal yang mengganjal di dalam lubuk hatinya. Dia pikir dirinya di tempatkan di dalam penthouse ini memang karena sebuah alasan apartemen yang ia tempati dan di sewa sebelumnya telah di sita oleh pihak bank seperti yang di katakan oleh sekelompok lelaki asing tadi. "Jadi mas nggak tau tentang hal itu?" Nggak... Sumpah... Memangnya kamu pindah di mana sayang? Aku barusan ke apartemen kamu, kok kamunya nggak ada? "Ngapain mas malam-malam ke sana?" Ya mau lihat kamu donk, ngapain lagi emang? Jadi kamu sekarang di mana? Kenapa tadi nggak bilang sama aku dulu, pas mau pindah?! Nur bingung harus menjawab apa. Ada sesuatu yang tak ingin ia katakan secara gamblang pada Bagas setelah mengetahui kenyataan yang Devian ungkapkan padanya. "Aku pindah di rumah kerabatku kok mas, mas nggak usah khawatir. Soalnya di sana kalo aku mau berangkat kerja sering kerepotan, apalagi terminal bis sama angkot jauh." terangnya. Ya, kamu harusnya kasih tau aku dulu kan... Aku sampe ngiira kamu hilang, atau di culik. ujar Bagas dengan nada suara rendah yang terdengar sangat frustasi. Sumpah sayang, mas ketakutan, kamu malah ketawa gini. Nur terkekeh pelan, "tenang saja, aku baik-baik saja kok." Terdengar suara helaan nafas lega dari seberang. Ya sudah, tidur lah. Nur menatap layar ponsel miliknya yang sudah menggelap. Ia memang mendengar Bagas mengatakan kalimatnya yang terakhir sebelum dirinya membalas ucapan manis sebelum tidur itu. Namun Nur sempat mendengar ada suara wanita yang memanggil nama Bagas begitu lembut sebelum telepon itu terputus sepihak. Ting. Nur membaca sebuah pesan yang dikirim oleh Devian. Gadis itu mulai mengunduh file dari email yang di terimanya, yang ia pikir lelaki itu akan membahas hal mengenai pekerjaan atau rapat mendadak seperti pagi tadi. Entah harus menanggapi bagaimana, karena Devian mengirim sebuah video acara keluarga mereka. Meski pikirnya tak ada yang menarik, namun apa salahnya menonton video itu hingga selesai. Dirinya melihat Rendi dengan setelan celana kain hitam serta jas hitam tanpa dasi yang melilit lehernya, apalagi dua kancing atas kemeja berwarna putih itu sengaja di biarkan terbuka sehingga dadanya yang bidang pun terpampang begitu mempesona nan seksi. "Meskipun menyebalkan, tapi kamu memang lelaki yang paling tampan yang sudah membuat perasaanku tak karuan mas." gumamnya dengan senyum tipis. Jemarinya mengusap layar ponselnya, senyum yang tadi ia layangkan untuk Rendi pun hilang sudah. Matanya menangkap sepasang manusia yang tampak serasi dengan penampilan wanita anggun berbalutkan gaun berwarna silver lantas menggandeng lelaki dengan berpakaian resmi tuxedo berwarna senada yang tampak begitu gagah. Senyum mereka seolah menegaskan kepada siapapun yang hadir dalam acara tersebut bahwa sepasang sejoli itu sedang bahagia. Nur hanya menghela nafas panjang, bukan karena sakit hati di khianati atau merasa di tipu dengan keadaan. Dirinya tahu ini akan terjadi, meskipun sempat merasa ucapan Devian adalah bualan belaka. Namun dirinya mengenal Devian bukan sehari atau dua hari, maka tak ada alasan untuknya tak percaya atau merasa di bohongi oleh lelaki itu. "Selamat atas pertunangan sungguhanmu mas, semoga hidupmu lebih bahagia kedepannya." ujarnya tulus. "Maaf tidak bisa membalas perasaanmu, padahal kamu sudah baik banget sama aku." Nur menyimpan ponselnya di atas nakas, menenggelamkan tubuhnya di balik selimut tebal, berharap esok segera tiba karena perjalanan cerita hidup untuk hari ini cukup berwarna meski sampai sekarang dirinya masih penasaran siapakah yang telah memutuskan dirinya agar pindah di penthouse ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN