Tak tersampaikan

1584 Kata
Suatu pagi, waktu belum genap menunjukan pukul enam namun di dalam penthouse tersebut sudah tampak gaduh saja. Suara sepasang manusia paruh baya itu tampak riuh bersenda gurau membuat Nur yang baru saja selesai berdandan dan hendak turun untuk bergabung sarapan pun terheran. "Pagi..." sapa Nur. "Eh... Si enon udah mau berangkat?" "Iya, bu." jawabnya, "kalian berdua semangat banget, kayak masih abege aja." goda Nur. Wanita paruh baya itu pun tergelak, "biasa ini atuh, biar udah tua tapi perasaan cinta jangan sampe pudar." Nur ikut tergelak, selain sikap ramah mereka, Nur juga belajar banyak hal tentang arti hidup bersama mereka. "Bibi bisa aja." Nur mulai menyantap roti bakar buatan wanita paruh baya itu serta segelas s**u hangat begitu lahap. "Non sudah siap?" melihat Nur yang mencuci piring pun membuat Sasmito Mukti mendekatinya. "Sudah pak." "Mari bapak antar." Nur menggeleng cepat, ia melihat jam tangannya yang masih menunjukan pukul enam lewat lima. "Nggak usah pak, ini masih kepagian." ujar Nur setelah melihat jam tangannya. "Lagian semenjak tinggal bareng kalian, saya nggak pernah telat kerja." jelasnya bangga. "Pasti bangun pagi karena kita berisik ya non?" "Haha, benar bi, benar." sahut Nur, "kalian berdua berisik, tapi saya suka jadi nggak sepi." Mereka tertawa bersama mendengar jawaban polos dari gadis itu. "Aya-aya wae..." Nur meraih tangan sepasang paruh baya itu untuk mencium punggung tangan mereka. "Saya berangkat dulu, assalamualaikum." "Wa'alaikumsalam." sahut keduanya. Melihat Nur sudah menutup pintu rumah itu, pak Mukti pun berjalan mendekati istrinya, "sudah beberapa bulan si enon tinggal di mari, urang teh jadi kepikiran." ujarnya. "Yang penting kita harus selalu jagain dia pak." Memang Nur belum mengenal pasti, siapa gerangan pasangan paruh baya itu. Namun kehadiran mereka berdua mampu Nur rasakan seolah ada seseorang yang mengutus mereka untuk memperlakukan Nur sebaik mungkin. ***** Sulit untuk di pahami, dimana Rendi justru menanggapi perasaan Yesi dan menerimanya untuk menjadi pendamping hidupnya beberapa waktu ini. Wanita itu memang sempurna, cantik, pandai, mandiri serta mahir melakukan kegiatan yang biasa di lakukan untuk para istri pada umumnya. Selain urusan ranjang, Yesi sangat lincah bila sudah berada di dapur dan bertempur dengan peralatan masak. "Duduklah, minum kopi dulu." ujarnya lembut pada Rendi. "Kenapa selalu repot sendiri, sarapan roti tawar kasih selai aja sudah cukup." Yesi tergelak, ia menghidangkan salad sayur serta telur rebus untuk Rendi yang membuat lelaki itu menggerutu karena di paksa makan-makanan sehat ala Yesi. "Biar kamu kuat dan sehat menghadapi para klien kamu." canda Yesi. Rendi mendecih, namun tak hayal ia pun terkekeh menanggapi gurauan Yesi. "Apa aku kurang kuat?" ujar Rendi penuh arti. "Makanlah, sebelum pak Herman meneleponmu terus." Rendi terkekeh pelan, ia mulai menyuap irisan telur rebus itu. "Sudah seminggu kamu tidak pulang ke rumah, dan kakakmu dia semalam menemuiku." "Kakakku?" "Joseph." Yesi melotot tak percaya, "kenapa dia mendatangimu?" serunya. "apa dia memukulmu?" tanyanya panik lantas berdiri mendekati Rendi meneliti raut wajah serta sekujur tubuh lelaki itu. "Kamu ini kenapa? Joseph tidak seburuk yang kamu kira." gerutu Rendi. "Aku khawatir, jangan sampai dia melukaimu hanya karena aku." Rendi menarik pinggangnya memposisikan Yesi di tengah-tengah antara kedua pahanya. "Apa kamu akan melepaskanku?" "Tentu tidak." sahut Yesi. "Sulit bagiku mendapatkan perhatianmu seperti sekarang." ujarnya, "jangan sampai karena dia, maka kamu akan menjauhiku lagi." "Lalu apa yang kamu takutkan? Bukankah sekarang aku ada di hadapanmu?" Yesi menunduk sambil menggeleng pelan, ia memainkan kancing baju Rendi karena suasana hatinya sekarang membuat dirinya kalut serta bingung. "Ngomong-ngomong, kalian ketemu dimana?" Rendi kembali menyuap sarapannya sambil sesekali menyuapi Yesi, "semalam aku ada rapat dengan klien di hotel dekat sini, dia mengenal seseorang yang sedang rapat denganku." "Joseph?" gumam Yesi, "Dia baru pulang dari Amsterdam, bagaimana mungkin kenal seseorang di sini?" tanya Yesi heran. "Memangnya siapa klien kamu?" "Papa kamu." Yesi terhenyak, ia menatap wajah Rendi dalam-dalam lantas tertawa pelan, "kamu ada kerja sama dengan papa?" Rendi mengangguk, "Proyek apa?" "Proyek saling menguntungkan." sahut Rendi bangga. "Sekarang komunikasi melalui ponsel sudah merabah di penjuru kota hingga pelosok, jadi elektronik komunikasi yang sebentar lagi launching dari perusahaan kalian, mulai sekarang aplikasi di dalamnya terinstal otomatis aplikasi grob-on kami yang memudahkan bagi siapa saja yang sebelumnya tidak mengenal apa itu grob-on." "Kalo di kota, aplikasi ojek-online dari perusahaan kalian memang rame. Tapi kalo di desa, kayak Wonogiri misalnya. Memang bisa?" tanya Yesi meragukan itu. Rendi tersenyum tipis, ia memaklumi pola pandang Yesi yang memang sebelumnya selalu menggunakan kendaraan pribadi ketimbang fasilitas kendaraan umum. "Grob-on sudah menyebar di beberapa kabupaten kecil di seluruh negara kita." Yesi melongo, "serius?" "Tentu..." sahutnya, "maka dari itu, papa kamu ingin berkolaborasi dengan perusahaanku karena beliau ingin memperkenalkan juga telepon gengam produk dalam negeri yang harganya terjangkau dengan kualitas setara produk luar negeri." jelas Rendi. "Waahhh..." Yesi kagum seakan menerawang sesuatu hal yang di jelaskan oleh Rendi tadi. "Kalo begitu, papa pasti sangat bangga padamu." Rendi menaikan satu alis tak paham, "karena aku pandai, tampan, atau sukses?" tanyanya penuh percaya diri. Yesi tergelak, ia meraih satu lembar tissue lantas mengusap ujung bibir Rendi yang sedikit belepotan, "karena calon menantunya sangat istimewa." jelas Yesi. Rendi tersenyum tipis, ia mendorong pinggang Yesi lantas bangkit dari duduk. "Ayo berangkat sekarang." "Biar aku cuci piring dulu." "Tidak perlu, nanti akan ada yang membersihkan." sahut Rendi lantas mendorong punggung Yesi, "kamu bersiap-siaplah." Yesi tak punya pilihan lain, ia pun berlari kecil masuk ke dalam kamar Rendi untuk mengambil tas kerja miliknya. ***** "Jadi... Apa kau sudah mengatakannya pada putriku?" Rendi duduk di salah satu sofa yang tersedia dalam ruangan tersebut yang sudah di sambut oleh lelaki paruh baya berkulit pucat bermata sipit. "Santai dulu tuan Jodi..." ujar Rendi terkekeh geli, "kenapa anda tidak membiarkan saya duduk nyaman terlebih dahulu di sofa empuk ini." Rendi melepas semua kancing jas yang ia pakai agar dirinya duduk nyaman di saat kaki panjangnya menyilang bertumpu begitu elegan. "Putri anda terlalu mencintai saya, apa anda tidak merasakan bagaimana dia memperlakukan saya barusan?" ejeknya. Jodi Bintang Buana menghela nafas panjang, ia menatap Rendi dalam-dalam dengan pandangan menyesal. "Aku tau, kau tak akan melepaskan aku karena sikapku terhadap orang tua mu dulu. Tapi apa kau masih kurang puas dengan harga saham kami yang setiap harinya menurun karena berita buruk yang kalian sebarkan bulan lalu?" "Tenanglah..." sahut Rendi santai, ia membakar ujung rokoknya setelah Herman membuka jendela kaca pada ruangan tersebut. "Setelah produk kalian yang lahir di bawah naungan saya, pasti akan menyelamatkan harga diri anda kembali." Jodi yang merasa mulai sesak nafas karena kepulan asap yang Rendi hisap itu lantas meraih sapu tangan kecil dari saku jas miliknya guna menutup hidungnya agar tidak terlalu mencium aroma tembakau karena dirinya memiliki riwayat penyakit asma sejak kecil. "Namun jangan salahkan saya, apabila pemilik saham di perusahaan anda meminta anda turun jabatan atau lebih parahnya bahkan memaksa anda melepaskan perusahaan keluarga kalian untuk saya." "Maaf..." ujarnya Jodi, "sebenarnya mobil kami tidak apa-apa, kami lalai karena semua itu adalah perbuatan Joseph." "Saya sudah tau itu, tuan." sahut Rendi tenang. Mata Jodi berkaca-kaca, "Saat itu istri saya sedang mengandung hingga kecelakaan dan menyebabkan janin kami tak tertolong." "Lalu kenapa anda mengatakan pada polisi bahwa orang tua saya telah seolah sengaja merusak mesin anda?" geram Rendi. "Maaf." Jodi sangat menyesal, mulanya ia memang menuduh bengkel langganannya telah lalai tidak mengecek kanvas yang sudah mengendur akibat terlalu panas sebab minyak rem mendidih dan tidak bisa memberi tekanan pada kaliper untuk menghentikan laju mobil. Namun saat salah satu keluarga Jodi yang memang menyukai segala macam mesin mobil serta kegunaannya, dia menjelaskan pada Jodi bahwa semua mesin terlihat normal hanya saja ada hal yang menggajal saat melihat beberapa serbuk kokain telah tumpah di sela-sela gerigi mobil. Joseph saat itu baru saja pulang dari main dengan teman-teman SMA nya, namun karena sang mama mengeluh perutnya sakit ia begitu panik sehingga berusaha menyetir mobil sendiri tanpa pikir panjang hingga terjadi kecelakaan saat mereka tidak sempat menghindari mobil di depannya yang melaju sama-sama kencang. Semua yang menimpa keluarga Jodi mengenai istri serta sang putra sulung mereka, sudah Rendi ketahui semenjak David menjelaskan semua hal itu yang menyebabkan usaha bengkel sang bapak harus gulung tikar. Mungkin dulu terkesan naif karena pak Suprapto memilih untuk diam lantas membayar denda yang mereka sebutkan ketimbang menjelaskan perkara sebenarnya. Sebab saat itu lelaki paruh baya yang membangun sebuah bengkel dari hasil tabungannya sendiri, merasa bahwa setiap masalah yang terjadi adalah tanggung jawabnya sebagai pemilik tunggal bengkel tersebut. "Memang menjadi kaya adalah sebuah kebanggaan." Rendi bangkit dari sofa, ia sengaja melempar puntung rokoknya ke lantai di mana kepala Jodi Bintang Buana menunduk sehingga matanya mampu menangkap bagaimana Rendi menggilas rokok tersebut seolah mewakili raganya yang sedang di injak. "Tentang putri anda, saya akan menikahinya." Jodi mendongak matanya melotot tak percaya, "A-apa yang kau katakan?" "Saya akan menikahi Yesi, putri anda." "Tidak...!!!" sahut Jodi. "Jessica tidak boleh menikah denganmu, tidak." "Kenapa? Apa anda takut saya akan melukai putri anda?" ejek Rendi, "apa anda ingin saya meninggalkannya sehingga putri anda akan menggila atau lebih parahnya sungguhan gila?" "Kita tidak satu keyakinan, aku tidak mengijinkan kau menikahinya." keukeuh Jodi. "Sampah..." ujar Rendi dingin, ia berlalu begitu saja tanpa mempedulikan raut wajah Jodi yang sangat keberatan dengan keputusan Rendi. "Jangan membawa masalah yang sudah berlalu itu dengan putriku sebagai imbasnya!!!" serunya tak terima. Rendi berhenti di ambang dengan rahang mengetat sebelum akhirnya Herman mendeham sebagai peringatan untuknya agar tidak gegabah. "Anda cukup merestui saja, karena dengan begitu perusahaan anda akan selamat." ujar Rendi dingin lantas menghilang di balik pintu kayu itu. Rendi melangkah dengan amarah yang membumbung tinggi, meninggalkan perusahaan digital nomor satu di jagat raya ini. "Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Herman penasaran. "Lihat saja nanti." Rendi menyeringai membuat Herman semakin penasaran dengan tingkah lelaki itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN