Bab 7

1476 Kata
“Apa tidak ada cara lain selain membekap mulutku?” Sheila memandang lelaki di depannya ini dengan kesal. Sheila bahkan benar-benar takut tadi karena mengira ada orang jahat tapi dia baru ingat bahwa sekarang dia ada di kampus dan penjahat mana yang bodoh menculik seseorang di area kampus. Tawa renyah itu keluar begitu saja dari laki-laki yang di marahai oleh Sheila. Wajah kesal Sheila membuat dia gemas dan mengacak rambut Sheila yang semakin membuat Sheila melotot kesal ke arahnya. Sheila mengambil langkah mundur. “Adam, kamu membuat rambutku berantakan!” seru Sheila sambil merapikan rambutnya. Lagi-lagi Adam tertawa melihat tingkah Sheila yang di matanya terlihat lucu. “Maaf,” katanya sambil memandang Sheila yang juga memandang ke arahnya dengan delikan tajam. Adam berdama kemudian berucap, “Jika aku tidak melakukan itu, kamu akan berteriak dan membuat semua orang menatap kita.” Sheila mendengus sebal mendengarnya sampai-sampai memutar bola matanya bosan. “Lalu sekarang apa maumu Adam? Aku tidak punya banyak waktu meladenimu,” jelas Sheila karena dia harus segera berangkat bekerja. Adam lelaki itu tertawa. “Aku hanya ingin meneraktirmu minuman, melihatmu yang belajar dengan giat pasti kamu lelah.” Adam mengakui bahwa dia sedari tadi di dalam perpustakaan memperhatikan Sheila tapi dia tidak bisa menghampiri gadis itu karena Sheila tampak sangat serius seakan di wajahnya tertera bahwa dia tidak ingin diganggu. Melihat wajah Sheila yang tampak ragu membuat Adam cepat-cepat berucap, “Meneraktir minuman di vending machine.” Adam memberikan kode pada vending machine di dekat mereka sekarang berada. “Ok, aku terima.” Sheila tidak bisa menolak niat baik Adam untuk meneraktirnya minuman hangat. Sheilapun mengikuti langkah Adam yang membawanya kepada vending machine yang tak jauh dari mereka. “Kopi?” tanya Adam yang dijawab anggukan Sheila. Adam adalah lelaki yang ramah pada semua orang dan tak heran bagi Sheila bahwa Adam memiliki banyak teman dari jurusan yang lain, sepertinya. Karena sering bertemu di perpustakaan membuat mereka akhirnya berkenalan dan berteman sampai sekarang, tidak lebih. Tangan Sheila terasa sedikit lebih hangat saat Adam memberikannya kopi. “Makasi ya,” ucap Sheila tulus. Adam tersenyum dan berucap, “Semangat!” “Pastinya.” Sheila berbalik dan meninggalkan Adam. Bertemu dengan orang yang sepositif dan seceria Adam membuat hari Sheila lebih baik. Kopi yang dibelikan Adam dia pandangi dan tanpa sadar tersenyum kecil. Untuk pergi ke convenience store tempatnya bekerja Sheila harus menaiki bus dan dari kampusnya dia hanya perlu melewati satu halte. Cukup jauh dari rumahnya memang, tapi karena menggunakan bus jadi Sheila tidak pernah masalah dengan itu, buspun masih beroprasi hingga jam pulangnya. Sembari menunggu tiba di tempatnya bekerja, Sheila meminum kopi pemberian Adam. Matanya memandang ke luar jendela bus, dulu dia suka musim dingin tapi sekarang musim dingin akan sangat merepotkan bagi Sheila. Di musim dingin seperti ini dia harus memberi asupan yang bergizi untuk neneknya dan harus memastikan bahwa penghangat rumah mereka selalu berfungsi dengan baik. Jika sampai rusak Sheila harus menggunakan sebagian tabungannya untuk memperbaikinya. Setibanya di convenience store tempatnya bekerja Sheila segera mengganti pakaiannya. Kadang dia akan berdua berjaga, tapi Sheila lebih sering berjaga convenience store ini seorang diri, seperti kali ini. Walau dingin hari ini cukup banyak pengunjung yang datang hingga menjelang malam pengunjung tidak ada lagi yang masuk. Di saat seperti ini Sheila gunakan untuk sekedar membaca buku dan menandai bagian-bagian penting yang bisa dia gunakan untuk menjawab tugasnya. Saat tengah asik membaca seorang pengunjung masuk yang membuat Sheila menyimpan bukunya kembali. Dia menatap pengunjung tersebut yang hanya menggunakan kaos dan celana jeans. Di udara dingin seperti ini ada lelaki yang memakai pakaian setipis itu membuat Sheila bingung. “Selamat datang,” ucap Sheila seperti yang biasa dia ucapkan pada pengunjung yang datang. Lelaki itu melirik Sheila dengan ekor matanya, hanya terlihat matanya saja, karena lelaki itu menggunakan topi dan masker, tapi itu cukup membuat Sheila diam tidak berani berkata-kata lagi karena lirikan itu mengintimidasinya. Lelaki itu cukup mencurigakan yang membuat Sheila memperhatikan lelaki itu dari layar yang sudah terhubung dengan cctv di ruangan ini. Tidak ada hal yang mencurigakan, lelaki itu mengambil beberapa minuman dan makanan. Sadar akan lelaki itu yang akan ke kasir Sheila memutuskan pandangannya dari layar monitor. Senyum Sheila tersungging saat lelaki itu datang menyerahkan belanjaannya. Ini memang salah satu hal yang diharuskan untuk Sheila lakukan, bukan karena lelaki ini tampan atau sebagainya. Ya, Sheila bisa merasakan bahwa pengunjungnya ini adalah lelaki tampan dari sorot matanya yang indah walau tajam dan Sheila yakin bahwa jika masker itu dibuka wajah tampan akan tersuguhkan. “Ingin menggunakan kantung plasti?” tanya Sheila.  “Tidak usah.” Singkat padat dan Sheila hanya bisa mengangguk kecil hingga dia melihat black card tersodor di depannya. Sheila hampir saja ternganga melihat kartu itu tersodor di depannya. Apakah orang ini bercanda? Berbelanja dengan black card di tempat seperti ini? Lelaki ini pasti punya pesuruh yang biasa dia suruh tanpa harus pergi ke sini seorang diri. Mimpi apa Sheila sampai bertemu orang kaya gila seperti ini? Setelah melakukan pembayaran Sheila kira lelaki itu akan pergi tapi ternyata dia memilih duduk di dalam convenience store, tempat yang memang disediakan untuk pengunjung yang ingin menyantap makanan yang dibelinya. Tubuh Sheila merasa kaku saat memandangi punggung yang membelakanginya itu. Walau jarak mereka duduk cukup jauh tapi Sheila masih bisa melihat lelaki itu walau hanya bagian punggung dan wajar dia merasa gugup karena lelaki di depannya adalah seorang miliader. Bagaimanapun juga lelaki di depannya adalah seorang miliader, rakyat jelata mana yang tidak gugup jika berhadapan dengan seorang miliader? Satu jam berlalu dan lelaki itu bangun dari duduknya, Sheila kira lelaki itu akan pergi tapi perkiraannya salah karena lelaki itu malah ke bagian belakang rak-rak, tengah mencari-cari sestau dan Sheila mengawasi hal itu dari cctv. Tapi ternyata lelaki itu membeli minuman lagi. Untuk sekali lagi Sheila kembali berhadapan dengan lelaki itu. Di meja kasir dia mengambil permen karet dan menyerahkannya pada Sheila. Sheila sejujurnya penasaran kenapa lelaki ini keluar dengan pakaian seperti ini di tengah cuaca yang dingin dan apakah karena itu lelaki ini diam di convenience store? “Apa Anda membutuhkan kantung plastik?” tanya Sheila. Sekarang hanya gelengan yang Sheila dapatkan. Black card itu kembali terulur ke arahnya. Belanja seperti ini tidak akan mengurangi angka dari isi black card tersebut. Saat akan mengembalikan black card itu Sheila takut-takut bertanya, “Apa Anda membutuhkan pakaian hangat?” Mata Sheila bertatapan dengan mata hitam itu, begitu dekat dan Sheila sampai-sampai tidak berkedip. “Tidak.” Sheila sadar akan kesalahannya kemudian dia menunduk. “Ah, maaf, saya kira Anda membutuhkan pakaian hangat karena memilih convenience store ini untuk menghangatkan diri.” “Tak masalah.” Jawaban itu diiringi oleh suara langkah kaki yang menjauh. Sheila mengangkat pandangannya dan memandang lelaki itu yang kembali duduk di tempatnya semula. Tidak seharusnya Sheila mempertanyakan pelanggan yang diam dan menyantap apa yang dibelinya di convenience store ini, dia sudah terlalu lancang mengurusi hidup orang lain. Lelaki itu duduk sangat lama dan selama itu tidak ada pengunjung yang datang. Tidak ada suara yang lelaki itu timbulkan, hanya ada suara dari musik yang memenuhi convenience store ini. Akhirnya pergantian jam kerjanya tiba dan Sheila melirik laki-laki itu yang sedikit memiringkan tubuhnya sehingga Sheila bisa melihat bahwa dia lihat tengah memainkan ponselnya. Semakin malam udara terasa semakin dingin yang membuat Sheila merapatkan jaket yang dikenakannya. Seharusnya dia menggunakan yang lebih tebal dari ini dan besok Sheila harus menggunakan yang lebih tebal agar tidak sakit. Jika dia sakit Sheila tidak tahu bagaimana nasib pekerjaannya. Bus yang biasa Sheila gunakan untuk pulang akhirnya tiba. Dia masuk ke dalam bus yang berisikan beberapa orang. Dia kira bus akan sepi karena hari yang semakin dingin ini. Perjalanan untuk sampai di halte bus dekat rumahnya cukup memakan waktu. Sheila ingin segera sampai rumah dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia tadi malam tidak bisa tidur cepat dan dia bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan dan segera berangkat kuliah. Beruntung besok pagi Sheila memiliki kelas di jam yang tidak terlalu pagi sehingga malam ini dia bisa tidur lebih lama. Sesampainya di rumah saat Sheila membuka pintu rumahnya. Keadaan rumah sudah sepi karena neneknya pasti sudah tidur. Sebelum tidur Sheila harus membersihkan dirinya. Saat dia akan pergi ke kamar mandi, Sheila melihat lampu dapur yang menyala yang membuat Sheila berjalan ke arah dapur berniat untuk mematikan lampu dapur. Tangannya yang hendak mematikan saklar lampu terhenti saat melihat sesuatu tersaji di atas meja makan. Sheila urung mematikan lampu dapur dan berjalan ke arah meja makan. Di atas meja makan tersaji makanan yang sudah dingin, neneknya sampai menulis memo di samping makanan itu. Panasi dulu, baru dimakan Senyum Sheila mengembang saat membacanya. Padahal neneknya tidak perlu melakukan ini tapi Sheila tidak bisa menolak jika sudah tersaji seperti ini. Jadi, sesuai pesan neneknya Sheila memanasi makanan itu tak lupa juga segelas s**u hangat yang akan menemaninya. Setelah selesai menyantap makan malam yang di buatkan neneknya, Sheila membersihkan dirinya. Dia tidak ingin mandi, yang Sheila lakukan hanyalah mencuci wajah dan menggosok giginya. Hari ini begitu banyak hal yang Sheila alami terutama kejadian seperti bertemu orang kaya gila di convenience store tempatnya bekerja. Kimberlly pasti akan berteriak kegirangan saat mendengar ceritanya ini, tapi sayang sekali Sheila tidak bisa melihat wajah lelaki itu. Selain karena posisi duduk laki-laki itu menghadap tembok, arah cctv tidak bisa menyoroti wajah lelaki itu. Sheila menepuk pipinya sendiri. “Kenapa juga aku memikirkan hal itu,” ucapnya setelah sadar. Dia harusnya segera tidur sekarang untuk mengganti jam tidurnya yang hilang.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN