Naya, gadis manis dengan rambut sepunggung itu tengah asik mengunyah permen karet dengan jalan santainya menuju kelas.
"Ada Devin nggak ya," gumam Naya menyembulkan kepalanya kedalam kelas, ia menatap kursi Devin yang ternyata masih kosong. Dengan langkah cepat ia pun duduk dikursinya.
"Kok tasnya kebuka sih?" tanya Naya menatap ransel Devin yang terbuka. Ia pun berniat untuk menutupnya namun tiba-tiba tangannya tak sengaja menyentuh sebuah kertas yang tergulung.
"Hehehe... Mumpung yang punya nggak ada, gue liat ah." Naya mengambil kertas tersebut kemudian membukanya. Matanya menyempit menatap lukisan wajah pada kertas.
"Kok mirip gue?" gumam Naya bertanya pada dirinya sendiri.
"Gue harus tanya Anan!" Naya pun bergegas meninggalkan kelas, matanya menatap lega saat melihat Anan tengah bersama dua temannya dikantin.
"Kebetulan ada, Devin!" girang Naya menghampiri tiga pemuda itu.
"Devin!" panggil Naya menepuk bahu Devin hingga pemuda itu tak sengaja tersedak makanannya sendiri.
"Dev! Hello!? Good mor--"
"Cuih!" Naya mengusap bibirnya saat Devin tiba-tiba saja menyumpal mulutnya dengan sepotong siomay. Anan hanya terkekeh begitu pula Danis.
"Devin, ini buatan lo?" tanya Naya memperlihatkan kertas tersebut pada Devin. Devin menoleh dengan mata melotot.
"Enggak!" balas Devin, Danis mengambil lukisan tersebut kemudian menunjukkannya pada Anan.
"Terus? Kok ada di tas lo? Kalau bukan elo yang buat terus siapa? Hantu? Siomay yang elo makan?" tanya Naya bertubi-tubi membuat Devin kesal sekaligus malu karena lukisannya tersebut diketahui oleh Naya dan juga teman-temannya.
"Tau," balas Devin sinis dan kembali melanjutkan makannya.
Naya mengambil alih kertas tersebut dari tangan Danis. Sebelum pergi ia sempat-sempatnya meneguk air mineral milik Devin.
"Gue cabut ya, lukisannya gue simpan. Cantik, kayak gue!" Naya pergi dengan senyum lebar pada semua orang.
"Cewek nggak jelas," umpat Devin lalu meraih botol minum yang diminum Naya tadi.
Devin menyerngit. "Manis?" tanyanya entah pada siapa.
"Tadi Naya minum, lo nggak sadar?" tawa Danis pecah setelah mengucapkan kalimat tersebut. Devin yang kelewatan kesal pun memilih pergi.
"Woy! Siomay lo belum abis nih!" teriak Anan menatap kepergian Devin.
Kring!!!
Bel masuk berbunyi, lorong sekolah menjadi sunyi seketika karena semua siswa tengah mengikuti pelajaran dikelas masing-masing.
"Ya ampun, gue secantik ini?" tanya Naya pada dirinya sendiri menatap lukisan yang ia tidak tahu siapa pembuatnya.
"Ekhem!" Devin berdehem hingga membuat Naya menyimpan lukisan tersebut kedalam tasnya.
"Kenapa? Lo juga terpesona sama kecantikan gue?" tanya Naya menatap Devin dengan senyum manis. Devin bergidik dan memilih mengalihkan pandangannya sesegera mungkin.
Beberapa menit berlalu, Devin merasakan sunyi pada gadis disampingnya.
"Dasar putri tidur!" ucap Devin membatin.
•••
"Naya! Wake up!"
"Woy!!!"
"Anak ngen--"
Naya terbangun sebelum Danis meneriakinya tepat ditelinga.
"Udah bel?" tanya Naya menggeliat kecil.
"Ck! Buruan ah kekantin, gue laper nih!" gerutu Lena pada Naya.
"Devin mana?" tanya Naya menatap kursi kosong disebelahnya.
"Rapat OSIS, dia 'kan ketua." Anan menjawab yang langsung diangguki oleh Naya.
Mereka berjalan bersamaan menuju kantin, beberapa siswa yang melihat sontak saja memuji melihat para famous SARANAYA tersebut, apalagi jika di tambah Naya yang dikabarkan adalah saudara kembar dari Anan.
"Devin..." sapa Naya pada seorang pemuda yang menunggu mereka didepan pintu ruangan OSIS.
Lengkap sudah, sesekali Danis menggandeng Lena karena mereka memang sudah dekat dari lama namun masih saling ragu untuk memgungkapkan rasa. Naya berjalan di apit oleh Anan dan Devin. Sungguh membuat iri kaum hawa.
Mereka tiba di kantin, Sindy sudah menunggu disana untuk menjaga meja agar tak ada yang berani menduduki.
"Bangun juga tuan putri," cibir Sindy membuat Naya cengengesan. Mereka duduk bersama-sama.
"Mau pesan apa?" tanya Anan pada teman-temannya.
"Gue---"
"Aw!" Naya meringis saat rambutnya dijambak oleh seorang siswa yang tidak ia kenali.
"Eh! Lepasin!" Lena panik menatap Cessy yang nampaknya sangat marah pada Naya.
"Heh! Murid baru! Nggak usah deketin Devin bisa nggak sih!?" tanya Cessy masih dengan jambakannya. Antek-anteknya pun memberikan tatapan rayuan pada Anan dan Danis.
"Lepasin!" bentak Naya mulai tersulut emosi.
"Nan! Naya tuh!" tegur Sindy pada Anan yang hanya acuh.
"b*****t!" Naya balas menjambak Cessy dalam satu sentakan saja. Anan pun tersenyum dan memilih menonton perdebatan dua siswi itu.
"Elo yang b*****t! Mentang-mentang adiknya Anan, lo bisa ngedeketin Devin!? Cih! Jalang lo!" maki Cessy pada Naya.
Naya menarik napas dalam. "Lepas jambakan lo, atau kulit kepala lo yang bakal lepas!?" ancam Naya membuat pertarungan semakin menegang.
"b***h! Gue bilang lepas!!!" Naya mulai menjambak rambut Cessy dengan dua tangannya dan hal itu membuat ia unggul setelah menendang perut Cessy dengan lututnya.
"Aw! Devin! Dia nyakitin aku!" Cessy bersembunyi dibalik punggung Devin yang sudah bangkit dari duduknya. Devin menatap Naya dingin, Naya pun balas menatap Devin dengan tatapan sinisnya.
Tanpa berucap sepatah kata pun, Devin pergi hingga membuat Cessy semakin kesal.
"Devin! Aku cewek kamu, masa kamu nggak belain aku!?" tanya Cessy menghentakkan kedua kakinya. Danis bergidik jijik begitu pun Lena dan Sindy.
Kalimat Cessy berhasil membuat langkah Devin terhenti. Pemuda itu kembali menghampiri teman-temannya kemudian mengecup sudut bibir Naya dihadapan semua orang. Anan melotot tak percaya.
"Cewek gue cuma, Naya!"
Cessy menahan tangisnya sebisa mungkin, ia pun pergi diikuti antek-anteknya dengan langkah kesal.
"Ce... Cewek!?" tanya Naya menyentuh pipinya pelan.
Bruk!
Naya terjatuh dalam pelukan Devin.
TBC