BAGIAN TUJUH

885 Kata
Naya terbangun dalam keadaan sudah memakai pakaian santainya. Ia memperhatikan sekitar dan ternyata ia berada dikamarnya sendiri. Naya bernapas lega. "Untung cuma mimpi..." gumam gadis itu menatap jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia pun bergegas memakai seragam sekolah kemudian menuruni tangga dengan langkah cepat. "Anan!" Naya memeluk saudaranya yang tengah sarapan itu dari belakang. "Good morning," sapa Anan mempersihlahkan Naya duduk. "Nan! Lo tau nggak!? Gue mimpi aneh! Masa gue mimpi dicium sama Devin!? Di kantin, lagi. Malu banget gue!" celoteh Naya lalu meminum segelas s**u yang tersedi diatas meja. "Hahaha! Mimpi lo kayak nyata ya," tawa Anan jahil.  Naya berdecak. "Loh, mami papi belum pulang?" tanya Naya. Memang benar kalau orang tua mereka tengah mengurus pekerjaan diluar kota sejak kemarin. "Belum, sayang. Buruan sarapan, nanti telat." Titah Anan pada adiknya itu. Tak lama kemudian, mobil pun tancap gas menuju sekolah. "Eh, jadi Devin sama Naya itu pacaran?" "Itu Naya sama Anan." "Kak Naya cantik ya." "Pantesan Devin naksir, dia adiknya Anan." "Duh, hawanya kok nggak enak gini sih?" tanya Naya pada Anan.  "Naya! Liat mading!" teriak Lena dari kejauhan. Naya pun berlari mencari letak mading sekolah yang ternyata sudah dikerumuni oleh siswa-siswi. "WTF!" Naya mengumpat kasar menatap foto yang tertempel di mading, dimana ia tengah... Ekhem, berciuman dengan Devin. "Anan!!!" Naya menghampiri saudaranya itu dengan wajah memerah menahan malu. Suasana menjadi hening saat Devin datang bersama Danis. "Gue mau ngomong," ucap Devin pada Naya. "Gue tolak!" balas Naya memilih pergi setelah melepas semua foto dirinya dan Devin pada mading. "Ciah! Adek lo malu," cibir Danis pada Anan. Anan hanya menampilkan senyuman. "Cie... Cie..." goda seisi kelas pada Naya.  "Diam lo pada!" rutuk Naya lalu duduk dikursinya dengan tatapan frustasi. Devin datang bersama Pak Bandi, guru Matematika. Berbarengan dengan beberapa siswa yang tergesa-gesa memasuki kelas. "Baiklah, pelajaran saya mulai." Pak Bandi mulai menuliskan soal-soal di papan tulis yang langsung dicatat oleh murid-muridnya. Kecuali Naya yang sedari tadi melamun menatap tembok. "Itu! Yang dipojok!" tegur Pak Bandi. Naya masih tak sadar, saat Devin mencubit tangannya pelan tiba-tiba ia terkejut dan sontak tak sengaja mengeluarkan u*****n, lagi. "b***h!" umpat Naya lalu menutup mulutnya rapat saat seisi kelas menatapnya. "Kamu! Kerjakan soal ini!" Pak Bandi menuliskan soal yang kelihatannya lebih sulit dari soal-soal sebelumnya. Devin yang notabenya sebagai juara kelas saja menyerngit. Ia menatap Naya yang nampak fokus mengucapkan sesuatu. "Ayo! Kerjakan!"  Naya bangkit dari duduknya kemudian pergi setelah menendang kursi Devin cukup kuat hingga menimbulkan suara yang lagi-lagi menjadi pusat perhatian seisi kelas. "Sorry, Pak. Ini soalnya keliru," ucap Naya membuat seisi kelas melongo. "Sok tau! Bilang aja kalau kamu nggak bisa ngerjain!" elak Pak Bandi mengambil penggaris kayu. "Yaelah Pak, nggak percaya banget!" Naya menatap keluar dan kebetulan kepala sekolah lewat. "Aunty!" panggil Naya membuat Lisa mundur beberapa langkah. "Come here," panggil Naya santai. Lisa memasuki kelas dengan senyum ramah pada semua siswa. "Apaan sih?" tanya Lisa pada Naya. "Lo liat deh soalnya, salah 'kan?" tanya Naya.  "Yang sopan sama gue!" balas Lisa menatap papan tulis. Wanita itu mencoba mencerna soal kemudian menatap Pak Bandi yang menampilkan tatapan lugunya. "Maaf, Pak. Ini soalnya ada kesalahan, rumusnya pun terlalu panjang." Lisa berucap membuat Naya menatap jengah pada Pak Bandi. "Baik, Bu Lisa. Terimakasih, anda bisa pergi." Ucap Pak Bandi sopan. Lisa mengangguk dan sebelum pergi ia sempat menginjak kaki Naya masih dengan senyum ramah pada semua siswa. "Oke, kamu bisa duduk." Perintah Pak Bandi lalu menghapus soal tersebut. "Loh, soalnya nggak mau dibenerin?" tanya Naya bingung. "Biar aja salah, kayak saya yang selalu salah dimata isteri." Tawa tak dapat terhindari termasuk dari Naya. Pak Bandi juga ikut tertawa kemudian melanjutkan pelajarannya setelah Naya duduk dikursi. Kring!!! "Baik anak-anak, kalian bisa istirahat karena berjuang sendiri itu butuh tenaga." Pak Bandi kembali berucap dan gelak tawa kembali terdengar. Itu lah yang mereka suka dari guru Matematika. "Ngantin yuk!?" ajak Naya saat Devin hendak bersuara. Naya pergi bersama dua temannya meninggalkan Devin yanga hanya bisa berdecak atas kebodohannya kemarin. "Kenapa orang-orang yang gue sayang selalu ngejauh dari gue!" tanya Devin saat semua siswa sudah pergi meninggalkan kelas. Jadi Devin menyayangi Naya? Beralih pada kantin. Naya tengah tengah bercanda bersama Sindy dan Lena sambil memakan makanan yang tersedia diatas meja. Byursss! Tiba-tiba saja seseorang menyiramkan segelas air pada wajahnya dan orang itu adalah Cessy. Cessy menarik kerah baju Naya. Plak! Naya memegang pipinya yang memerah akibat tamparan Cessy. Lena dan Sindy sama kagetnya.  "Aw!" kini Cessy yang meringis saat seorang pemuda memegang lengannya dengan sangat kuat. "Beraninya elo nampar, Naya!" ucap Devin tajam hingga membuat seisi kantin takut. "Dev, udah Dev!" Naya berusaha melepaskan genggaman kuat Devin namun tak berhasil.  "Aw! Devin, sakit!" rintih Cessy berderai air mata. "Devin udah!" pinta Naya namun Devin tetap tak mendengarkan ucapan gadis itu. Plak! Devin mendapat tamparan dari Naya hingga genggamannya pada Cessy terlepas. "Pergi lo," usir Naya pada Cessy. Gadis itu pun pergi. "Lo kasar tau nggak!" kini Naya yang berhadapan dengan Devin. "Gue cuma--" "Gue nggak suka sama cowok kasar!" potong Naya hendak pergi namun Devin menahan tangannya. "Tapi dia udah nampar lo!" bentak Devin mengepalkan tangannya.  Naya melihat hal itu. "Lo mau balas tamparan dari gue? Ha?" tanya Naya melepaskan cekalan Devin secara paksa. Devin menendang kursi dengan cukup kuat kemudian pergi. "Nay, Devin cuma ngebela elo," ucap Sindy menenangkan. Naya menatap pintu kantin, Devin sudah tak terlihat. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN