BAGIAN DELAPAN

991 Kata
Mobil Devin berhenti didepan sebuah rumah yang cukup mewah. Seorang siswi pun turun dengan senyum yang terkesan lebay. "Makasih ya, udah anterin aku." Cessy berucap namun Devin tak menghiraukannya dan langsung pergi hingga membuat Cessy kembali kesal. Devin tiba dikamar apartemennya, ia langsung merebahkan diri dikasur sambil melepas satu persatu kancing seragam sekolah. Pemuda itu nampak sangat lelah, setiap harinya tak ada yang membuatnya tertarik pada dunia ini kecuali. "Naya..." Devin bergumam kecil kembali mengambil alat lukisnya. Tak butuh waktu lama, lukisan itu pun selesai. ''Kamu unik, jahil dan pembuat onar. Menyebalkan, sangat. Tapi aku suka." -Dave Devin tersenyum menatap lukisan tersebut, ditambah ia menyisipkan sebuah pesan yang hanya tertuju pada Naya karena hanya Naya yang memilik sifat tersebut. Kelelahan, ia pun tertidur. Devin tak menyadari kalau mentari sudah menampakkan sinarnya. Tanpa pikir panjang, ia pun masuk kekamar mandi guna membersihkan diri dan memakan sedikit roti yang tersedia dikulkasnya. Ia berniat untuk pergi kesekolah agar rencananya berhasil. "Aman..." Devin bernapas lega menatap kelas yang masih kosong. Ia mengeluarkan lukisan yang dibuatnya tadi malam kemudian menaruhnya didalam laci Naya.  Devin pun memutuskan untuk pergi meninggalkan kelas sebelum ada siswa yang menyadari kehadirannya. "Pagi Devin sayang!"  Devin berdecak pada suara menjijikkan itu. Niatnya mengantarkan Cessy kemarin sebatas perintah dari Anan karena perlakuan kasarnya dan Devin rasa itu adalah balasan permintaan maafnya untuk Cessy. Namun yang terjadi adalah, Cessy semakin menjadi-jadi. "Anan!" panggil Devin memilih pergi meninggalkan Cessy.  Devin menyerngit menatap Anan yang hanya berjalan bersama Sindy. Ingin sekali ia menanyakan dimana keberadaan Naya. "Kenapa?" tanya Anan bingung. "Gue tunggu dikantin," alibi Devin tidak ingin mengganggu Anan dan Sindy. Meja kantin sudah penuh dan hanya satu kursi yang terlihat kosong. "Loh, Naya mana?" tanya Danis yang baru sadar atas ketidakhadiran gadis itu. "Enggak masuk, katanya nunggu game baru dipublis," jawab Anan seadanya. "Ck! Tuh anak tikus kenapa nggak masuk sih!" Devin mengumpat dalam hatinya. "Game baru? Emang gila game si Naya," ucap Lena diangguki Sindy. "Eh, Nan. Btw, lo tau nggak isi buku hitam yang ada di tas Naya. Yakali elo pernah ngecek tasnya gitu," tanya Sindy. Devin mulai tertarik dengan pembicaraan karena ia juga ingin tahu apa isi dari buku hitam tersebut. "Kalian mau tau?" tanya Anan pelan. Keempat remaja itu pun mendekatkan kepalanya guna mendengarkan kalimat pelan dari Anan. "Jadi isi buku itu, cuman dunia halunya Naya! Hahaha!" Anan tertawa hingga Devin berdecak. "Dunia halu? Maksudnya?" tanya Danis lebih dalam. Anan melanjutkan ceritanya. "Gue pernah baca tuh buku diam-diam, ya sekedar catatan harian Naya selama di London. Misalnya dia---" "Langsung ke inti." Devin berucap membuat tatapan yang lain tertuju padanya. "Catatan tentang perdagangan manusia, senjata, apa lagi ya. Obat-obatan, ya gitu deh! Naya emang suka sama yang berbau kayak gitu. Gue mah ngeri," ucap Anan menjelaskan. "Darkweb?" tanya Devin menyerngit. "Hah? Maksudnya?" tanya Lena tak faham. "Situs dunia ilegal," jawab Devin malas. "Kok serem ya," gumam Danis takut. "Gitu 'lah pokoknya! Mungkin pas di rahim gue sama Naya ketukar. Harusnya gue yang cewek, dia yang cowok." Kalimat Anan sontak mengundang tawa teman-temannya kecuali Devin yang hanya diam dengan lamunannya. "Pantas..." gumam Devin pelan. "Hah?" tanya Anan yang mendengar ucapan Devin. "Bu Dila kaget," ucap Devin sebelum pergi kekelas untuk mengambil kembali lukisan buatannya kemudian membuangnya ketempat sampah. Naya, gadis itu tengah fokus pada layar besar dihadapannya. Ia tengah memainkan game yang baru dirilis beberapa jam lalu. Bukannya mendapat kemenangan, ia malah menerima kekalahan karena emosi yang sedang tidak stabil. "Ah! Kenapa gue mikirin Devin sih!?" rutuk Naya pada dirinya sendiri. Tak terasa hari kembali pagi, Naya dan Anan pun pergi kesekolah seperti biasa. Saat dimobil Naya terus bergulat dengan pikirannya, ia berniat akan meminta maaf kepada Devin atas tamparan kemarin, padahal Devin hanya berniat untuk membelanya dari Cessy. Saat gadis itu hendak memasuki kelas, ia pun membuang bungkus permen karet dan matanya tak sengaja menatap sebuah kertas yang didalamnya terdapat lukisan. Lagi-lagi mirip seperti wajahnya yang cantik. "Kamu itu unik... Kamu itu gue? Jahil dan pembuat onar. Pasti ini gue! Menyebalkan, ya enggak juga sih. Tapi aku suka... Dave." "Dave?" "Dave? Dev?"  Naya melangkah memasuki kelas, karena terlalu fokus pada lukisan. Kakinya tak sengaja menginjak sampah plastik. Hampir saja ia terpeleset namun seseorang menahan punggungnya. "Devin!" kaget Naya pada pelukan pemuda itu. "Cie!!!" goda seisi kelas, membuat Devin melepaskan pelukannya hingga p****t Naya kembali berciuman dengan lantai. "Awww! Sialan!" umpat Naya menatap Devin yang sudah melanjutkan langkahnya menuju kursi. Buk! Sebuah cap sepatu mendarat dipunggung Devin dan Naya 'lah yang melakukan hal itu. Sangat disayangkan seragam putih Devin menjadi kotor karena ia tak memakai jas. "Lo!" bentak Devin kembali menghampiri Naya yang sudah bangkit dari jatuhnya. "Apa!?" tantang Naya berkacak pinggang. "Anak tikus!" oceh Devin balas menatap Naya tajam. "Siomay dingin!" balas Naya tak mau kalah. Naya menarik dasi pemuda itu hingga wajah mereka berjarak sangat dekat. "Mau adu jotos? Ayo! Gue nggak takut! Jangan lo kira gue cewek, gue takut sama lo!" Devin tidak mendengarkan karena terlalu fokus pada bibir merah ranum yang terus mengomel itu. "Argh!" Devin terkejut saat Naya menjambak rambutnya. Al hasil, karena tak mau kalah. Jambak-jambakan pun terjadi antara Naya dan Devin. Sorak-sorak penonton terdengar jelas. "NAYA!!! DEVIN!!!" "Kalian lagi, kalian lagi!"  Lisa masuk kekelas dengan berkacak pinggang. "Hormat ke bendera!" perintah wanita itu kemudian pergi. Devin menarik napas panjang lalu membenarkan tatanan rambutnya yang sangat berantakan karena ulah Naya. "Awas lo!" ancam Devin kemudian pergi diikuti Naya. "Gara-gara lo, kita kena hukum!" Naya mengusap keringatnya dengan kasar. "Lo yang mulai." Devin tak mau kalah, lagi.  "Aw! Anak tikus! Stop!" Devin kembali meringis saat Naya kembali menjambak rambutnya, terik matahari begitu cerah membuat keringat juga bercucuran di wajahnya. "Stop!" "Cewek nggak jelas!" "NAYA STOP!" Naya melotot dengan d**a naik turun. "Sakit!" bentak Devin lalu mengusap kepalanya. "s**t!" Devin mengumpat menatap Naya yang berkaca-kaca. "Gue--" "Lo kasar lagi!" ucap Naya sebelum jatuh pingsan saat sebuah cairan merah keluar dari hidungnya. "Bikin repot lagi!" ucap Devin lalu menggendong gadis itu dengan tatapan jengah dan membawanya ke UKS. TBC ''
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN