BAGIAN SEMBILAN

780 Kata
Naya dirujuk kerumah sakit oleh perintah Lisa. Ia takut keponakan tercintanya itu kenapa-napa. Anan berada disana ditemani oleh Sindy. Devin? Entahlah. "Anan..." Naya membuka matanya perlahan. "Naya! Akhirnya lo bangun!" Anan dapat bernapas lega begitupun Sindy. "Minum dulu," titah Sindy pada Naya. Naya menerima segelas air dari Sindy. "Kepala gue masih pusing," keluh Naya memijat pelipisnya perlahan. "Yaudah lo istirahat dulu, nanti kalau udah baikan kita pulang kok." Anan berucap lembut sambil mengusap rambut adiknya. "Devin mana?"  Sindy berdehem medengar pertanyaan Naya. "Cie! Ekhem! Devin yang gendong lo ke UKS abis itu dia pergi. Ekhem!" rayu Sindy menatap kearah lain. "Co cwittt!!!" teriak Naya heboh. "Aw!" setelahnya ia kembali meringis. Anan hanya geleng-geleng kepala, Sindy pun tertawa. Seorang pemuda yang mendengarkan dari luar sontak saja tersenyum. Tanpa menunjukkan kedatangannya, ia pergi begitu saja. Siapa lagi kalau bukan Devin. Devin tiba di apartemennya. Ia langsung meraih alat tulis kemudian menuliskan sesuatu pada kertas. Senyumannya tak pernah luntur, apa Naya sebegitu berpengaruhnya untuk Devin? "Pasti si anak tikus bakalan nyari tau soal Dave." ••• Hari kembali pagi, Naya sudah lebih sehat dari sebelumnya. Bahkan ia tengah memasangkan dasi untuk Anan. "Yakin mau sekolah?" tanya Anan memastikan keadaan Naya. "Iya! Ck, Nay nggak papa. Lagian kalau Nay kenapa-napa, Anan 'kan selalu ada!" Anan tersenyum lalu memeluk saudarinya itu dengan penuh rasa sayang, sesekali ia mengecup pucuk kepala Naya. Tak butuh waktu lama, mobil keduanya tiba di SMA SARANAYA. Anan turun kemudian membukakan pintu untuk Naya. Gadis itu terlihat sibuk membuka bungkus permen karet, bahkan ia tak sadar kalau lengan Anan sudah merangkul bahunya. "Pagi Naya!" sapa Danis dengan senyum manis. "Pagi!" balas Naya pada pemuda itu.  Anan dan Danis mengantarkan Naya kekelas. Danis menatap kursi Devin yang masih kosong. Sebelum pergi, Anan kembali mengusap kepala Naya. "Jangan bandel!" ucap Anan. "Enggak jamin," balas Naya tertawa memasuki kelas. "Bye guys! Lena, Sindy!" panggil Danis melambaikan tangan yang hanya dibalas oleh anggukan dari dua gadis itu. Memastikan Danis dan Anan sudah pergi. Sindy pun angkat bicara. "Nay! Sini! Buruan!" panggil Sindy. Naya menghampiri. "Apaan nih? Surat?" tanya Naya menatap sebuah kertas yang terlipat dikursinya. "Makanya itu! Ayo buka!" perintah Lena yang sudah sangat kepo. Naya membukanya tanpa ragu sambil duduk dikursi. "Cewek paling rese!" Naya tertawa setelah membaca begitu pun Sindy dan Lena. "Cewek paling unik, aneh, gila. Tapi, aku suka." Eja Naya. "Dave? Lagi?" tanya Naya pada Lena dan Sindy. "Gue liat!" Sindy mengambil kertas tersebut. "Dave?" tanya gadis itu. "Mungkin Dev--" "Ekhm!" Kalimat Lena terpotong, Naya kembali mengambil kertas tersebut dari Sindy dan mempersilahkan Devin untuk duduk. "Anak tikus." Devin berucap pelan sambil meletakkan tasnya diatas meja. "Apa!?" tanya Naya mendekatkan kupingnya. "Apaan!?" tanya Devin seolah tak peduli. "Lo bilang apa tadi?" tanya Naya menantang. Sindy dan Lena sudah duduk dikursinya kembali. "Anak tikus!" ucap Devin. "Tuli lo!?" balas pemuda itu dengan mata melotot. "Ihh! Lo nyebelin banget sih!" Naya mencubit Devin tanpa ampun. Saat mata Devin menatap kertas tersebut, ia pun merampasnya. "Apaan nih? Bhaks! Haters lo!?" tanya Devin setelah membaca isi dari kertas tersebut. "Balikin!" pinta Naya berusaha mengambil kembali namun Devin malah pergi meninggalkan kelas dan Naya mengejarnya. "Devin!!! Siomay dingin!" "Balikin kertas gue!" "Balikinnn!" Naya melompat-lompat berusaha mengambil kertas yang berada ditangan Devin. Devin pun berjinjit lalu mengangkat kertas tersebut agar Naya tak dapat menggapainya. "Pendek!" Devin tertawa pelan menatap ekspresi Naya. "Devin!!!" "Pendek! Pendek! Pendek!" ejek Devin tertawa tak henti-henti. Bahkan beberapa siswa terkejut mengetahui kalau Devin ternyata bisa tertawa. Naya berdecak lalu berkacak pinggang. Devin masih memegang kertas tersebut. Naya berinisiatif untuk mendorong Devin, biar saja pemuda itu kesakitan. Bruk! "KYA!!!" Naya berteriak histeris saat rencananya gagal dan sekarang ia malah jatuh tepat diatas tubuh Devin. "Aw! Berat!" rintih Devin menahan rasa sakit di punggungnya, belum lagi beban tubuh Naya yang berada diatasnya. Belum sempat Naya bangkit, tiba-tiba suara yang sangat familliar terdengar. "NAYA!!! DEVIN!!!" Lisa berteriak lalu menjewer telinga Naya dan Devin hingga keduanya terpaksa bangkit dari jatuhnya. Penonton makin ramai, beberapa dari mereka mengabadikan moment tersebut lewat ponsel masing-masing. "Keruangan saya!" Lisa menyeret mereka masih dengan dua tangan menjewer Naya dan Devin. "Duduk!" titah Lisa pada keduanya. Naya dan Devin duduk bersebelahan, penampilan mereka nampak berantakan. "Yang satu pembuat onar! Yang satu ketua OSIS!" gerutu Lisa lalu menuliskan sesuatu dikertas. "Ya ampun Aunt---" "Cukup! Saya nggak mau dengar penjelasan apapun!" Lisa menepuk punggung keduanya. "Lari keliling koridor! Itu hukuman kalian! Cepat!!!" "Naya melongo, sedangkan Devin nampak kesal bukan kepayang. "Koridor!? Lo mau bikin gue kurus kaya lidi!?" tanya Naya tak terima. "Lari atau gue laporin ke bokap lo!?" ancam Lisa berkacak pinggang. "Oke. Oke." Devin bangkit lebih dulu diikuti Naya. Mereka pun pergi meninggalkan ruang kepala sekolah, setelahnya Lisa langsung tertawa terbahak-bahak. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN