BAGIAN SEPULUH

1053 Kata
Naya dan Devin berlari bersama, sedari tadi tidak sedikit orang yang menertawakan mereka.  "Cie udah jadian." "Sweet banget sih!" "Kalian cocok 'kok!" "Cie cie!!!" "Hahaha jadi iri deh!" Naya menghentikan larinya, sontak saja Devin juga ikut berhenti. "Mereka ngetawain kita?" tanya Naya polos.  "Buset! Cie udah jadian!" Danis datang dari belakang bersama Anan, Sindy dan Lena. "PJ nya mana!?" tanya Lena merayu Naya. "Udah, jangan diganggu. Pasangan baru!" goda Sindy lagi. Anan tertawa kemudian mengajak teman-temannya pergi. Naya dan Devin makin bingung, ditambah para siswa yang teluh tertawa melewati mereka. "Devin! Mereka kok bilang gitu?" tanya Naya lalu membuka bungkus permen karetnya. Ia berbalik untuk membuang bungkus tersebut ketempat sampah terdekat. "Stop!" ucap Devin pada Naya. "Hah?" Naya menyerngit. Devin mengambil kertas yang tertempel pada seragam mereka lalu menunjukkannya pada Naya, ia juga meraih punggungnya yang ternyata juga terdapat kertas. "ANJINGGG!" Naya mengumpat membaca tulisan dikertas. Devin pun sama kesalnya dan langsung membuang kertas tersebut ketempat sampah. 'Pacar gue disebelah' "Pantesan mereka ngetawain kita!" Naya berucap kemudian pergi mencari keberadaan kepala sekolah yang telah mengerjai mereka, Devin pun mengikuti. "Lisa!" panggil Naya mendapati wanita yang dicarinya tengah berada diruangannya. "Hahaha!" Lisa tertawa terbahak-bahak. "Enggak lucu." Devin berucap sinis dengan tangan melipat kedada. "Sorry, yaudah kalian bisa balik kekelas! Sana! Hus!!!" Lisa mengusir mereka dengan paksa. Naya pun hanya bisa menendang-nendang pintu kepala sekolah sebagai bentuk kekesalannya. "Ih! Gue malu!" ucap Naya kesal. "Punya malu, lo?" tanya Devin dingin lalu pergi. Kini Naya yang mengikuti pemuda itu sambil terus mengomel dan sesekali mencubit lengan Devin. "Eh!" Naya berhenti, tangannya menarik lengan Devin untuk mundur beberapa langkah. "Apaan sih?" tanya Devin malas. Samar-samar keduanya mendengar suara  beberapa orang yang tengah berbicara dari dalam ruangan yang berada didekat mereka. "Lo serius, mau ngerjain Naya? Kalau gagal gimana?" "Gagal! Nggak ada kata gagal dalam kamus gue! Selama gue belum dapatin Devin, nggak ada yang boleh dapatin dia!" "Gue bakalan bikin tuh cewek centil malu! Kalau perlu sampai dia cabut dari sekolah!" Brak! Naya menendang pintu yang tidak terkunci itu. Tangannya terkepal menatap tiga orang siswi dihadapannya. Cessy dan dua antek-anteknya, Cindai dan Fanny. "Apa? Lo mau bikin gue cabut dari sekolah gue sendiri?" tanya Naya mendekati mereka. Devin diam saja dan memilih menonton perdebatan tersebut. "Iya! Kenapa!?" tantang Cessy mengangkat wajahnya. "Ya ampun, Cessy Andira. Anak dari pengusaha kain yang sukses di tahun lalu, tapi sayangnya bangkrut karena bosnya, yaitu bokap lo! Selingkuh sama asistennya sendiri." "Ibu lo sakit hati, terus jadi wanita malam deh di klub! Oh gue juga ingat, kakak laki-laki lo yang namanya Dirga sekarang ada di penjara karena kasus pengedaran n*****a. Ups! Malang banget ya elo, hidup sendiri. Pantesan mau ngerusak kebahagiaan gue!" "Kayaknya gue unggul satu point dari lo. Orang bodoh, gunain fisik buat ngalahin musuhnya. Tapi orang cerdas, bakalan ngejatuhin mental lawan. Jadi, apa mental lo udah jatuh?" "Ups! Sorry, gue ngomongnya kebanyakan ya?" Devin menatap Naya tak percaya. "Hah! Enggak! Dari mana lo tau!? Gue... Nggak! Itu nggak benar!" Cessy meminta pembelaan pada dua temannya. "Naya, lo serius?" tanya Cindai tak percaya. Naya tertawa dengan aura yang berbeda dari biasanya. "Diam lo! Cewek jal---" Saat tangan Cessy kembali terangkat untuk menampar Naya, Devin menahannya. "Jangan pernah remehin seorang Samdrick." Naya berucap pelan lalu mendorong d**a Cessy dengan jari telunjuknya. "Argh!" Cessy pergi berderai air mata diikuti dua temannya. Sementara Naya masih diam sambil menetralkan napasnya. "Apa?" tanya Naya dingin lalu pergi tanpa ekspresi apa pun. Mereka tiba dikelas dan ternyata Bu Dila telah mengajar. Bu Dila tak berani berucap apa pun pada Naya. Saat Naya sudah duduk dikursinya, tiba-tiba ponselnya bergetar. Naya menerima panggilan tersebut dengan hati-hati. "Apaan? Gue lagi sekolah!" Devin melirik gadis itu sekilas kemudian kembali fokus pada papan tulis. "Gue bukan Naya yang dulu!" "Nanti Anan marah sama gue!" "Malam juga nggak bisa!" "Oke! Oke!" Naya menyimpan ponselnya. Ia menatap Bu Dila yang nampak fokus menuliskan sesuatu di papan tulis. Tanpa ragu, Naya merangkak menuju jendela yang terbuka. Devin menyaksikannya, ia berdecak dengan tingkah laku Naya yang seperti anak kecil itu. "Stt... Gue ada jadwal nih, udah lama enggak!" bisik Naya pada Sindy. Belum sempat Sindy menjawab, Naya sudah melompat dari jendela setelah menjatuhkan tasnya lebih dulu. Devin menganga tak percaya. "Cewek stress!" umpat Devin yang takut terjadi sesuatu pada Naya, lagi. Jam istiraha telah tiba, Anan masuk kekelas Naya diikuti Danis. Ia menyerngit menatap kursi kosong Naya. "Loh? Naya mana?" tanya Anan pada Devin. Devin mengendik acuh. "Sindy, Naya kemana?" tanya Anan mendekat. "Ngantin duluan, apa bolos pelajaran?" tanya Anan pada gadis itu. Sindy mengalihkan pandangannya. "Anu... Naya, itu loh... Apa ya namanya... Em..." Danis menggebrak meja. "Ada yang ngajakin Naya balapan terus dia cabut lewat jendela!" Lena berucap cepat. "Ups!!! Gue... Ah!" gadis itu menutup mulutnya rapat-rapat saat tatapan tajam Anan tertuju padanya. "Balapan!?" tanya Devin tak sabaran. "Ikut gue." Anan pergi enggan menatap Sindy dan yang lainnya. Kini mobil Anan mendatangi sebuah jalanan yang cukup ramai dengan seragam sekolah yang berbeda-beda. Banyak mobil terparkir, mungkin semacam balapan jalanan. "Darkan!" Anan meneriaki nama seorang yang tengah santai duduk disalah satu mobil. "Anan!? Apa kabar lo?" tanya pemuda berseragam putih abu-abu itu. "Banyak bacot! Mana Naya!?" tanya Anan menarik kerah baju Darkan hingga memancing perhatian dari teman-temannya Darkan. "Tuh." Darkan menunjuk dua buah mobil yang sudah berada di garis start. Belum sempat Anan berucap, dua mobil itu sudah melesat pergi. Lagi-lagi Devin terkejut dengan apa yang dilakukan Naya. Beberapa menit kemudian setelah balapan singkat dimenangkan oleh Naya. Gadis itu turun dari mobil dengan tawa tanpa beban sedikit pun. "Gue menang!!!" teriak Naya diacungi jempol dan tepuk tangan meriah. "ANAYA!" panggil Anan berteriak. Naya menatap Anan gelagap, saudaranya nampak berlari menghampirinya. Darkan mengacungkan dua jempol pada Naya dan hal itu membuat Devin risih. Anan tiba dihadapan sang adik. Kedua tangannya langsung berada dibahu Naya. "Mami dan papi minta gue buat jagain lo! Please jangan bebanin gue sama hal ini, kalau elo kenapa-napa gimana!?" "Gue---" "Diam, Nay!" bentak Anan mengguncangkan tubuh Naya sekaligus membuat cairan bening jatuh tiba-tiba dari pelupuk mata indah Naya. "Kalau elo ngerasa terbebanin! Gue bisa jaga diri, sendiri!" Naya mendorong Anan agar cengkraman pada dua bahunya terlepas.  "Nay, gue nggak maksud buat bentak lo!" "Naya!"  Naya sudah pergi membawa mobil salah satu teman Darkan dengan kecepatan penuh.  "Anan! Kejar Naya!" teriak Devin memanggil pemuda itu. Anan menatap Darkan dengan tajam kemudian kembali kemobil. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN