Mobil Danis melaju mengejar mobil merah yang dikendarai oleh Naya dalam kecepatan tinggi.
"Naya! Naya!!" tunjuk Lena, sontak Anan mengerem secara mendadak sehingga membuat teman-temannya terkejut.
"Ngeri..." gumam Danis bergidik.
Bagaimana tidak, saat ini seorang gadis berseragam SMA tengah berhadapan dengan beberapa pria yang mungkin adalah komplotan begal jalan tersebut. Lebih mengejutkannya lagi, kurang dari dua menit, para pria itu sudah terkapar tak berdaya, bahkan senjatanya terlempar jauh akibat ulah Naya.
Mobil merah Naya kembali melesat pergi hingga membuat Anan dan yang lain harus menarik napas panjang.
"Biarin Naya sendiri," ucap Devin menatap Anan. Anan mengangguk saja kemudian memutar arah untuk pulang.
Pukul dua pagi, seorang gadis tengah mengendap-ngendap memasuki kediamannya sendiri yang minim pencahayaan.
"Dari mana?"
"Ups!" Naya terkejut, ternyata sedari tadi Anan berdiri ditangga nan megah menatap dirinya.
"Dari mana?" ulang Anan bertanya sembari melangkah menghampiri adiknya.
"Em... Nay, dari... dari... em..."
Anan langsung memeluk Naya dengan erat.
"Jangan diulangin, maafin gue. Gue udah kasar dan bentak elo, maafin Anan ya..."
Naya tersenyum, perlahan membalas pelukan saudaranya.
"Maafin Nay juga." Ucap Naya pelan.
"Mau Anan gendong?" tawar Anan tersenyum lebar.
"Go!!!" balas Naya langsung melompat kepunggung pemuda itu. Mereka tertawa bersama meskipun sesekali berbisik takut membangunkan beberapa pekerja rumah.
Disekolah, Anan dan Naya yang kebetulan tengah sarapan bersama didatangi oleh Sindy dan juga Danis.
"Pulang juga, lo!" kekeh Sindy yang hanya dibalas gumaman kecil dari Naya.
"Kalian masih berantem?" tanya Danis ragu saat melihat tingkah Naya yang sepertinya tak mempunyai semangat.
"Nay ngantuk," ucap Naya pada Anan.
Anan mengubah posisi duduknya, ditariknya dengan lembut kepala Naya agar dapat bersender pada dadanya dengan nyaman.
"Sakit?"
Sindy, Danis dan Anan mendongakkan kepalanya pada pemilik suara yang tiada lain adalah Devin. Devin menghampiri mereka disusul oleh Lena.
"Naya pulang jam dua, terus insomnia. Dia putusin buat main game sampai pagi, emang rada-rada nih anak," kekeh Anan menjelaskan yang sebenarnya sembari mengusap kepala Naya.
"Dasar!" rutuk Lena dan Sindy bersamaan sementara Danis hanya geleng-geleng kepala.
Devin duduk, seperti biasa hanya menampilkan tatapan dingin pada teman-temannya. Tangannya bergerak meminum sebotol air mineral yang memang dibawanya.
"Dev."
"Lo suka ya sama, Naya?"
Anan bertanya sontak membuat Devin tersedak hingga matanya terlihat berkaca-kaca.
"Gak!" tegas Devin menatap Anan, lain halnya dengan tiga temannya yang nampak saling tatap dengan tatapan membicarakan dirinya.
"Ya, siapa tau 'kan. Elo suka sama adik tersayang gue ini. Awas aja kalau, elo sampai bikin Naya nangis!"
"Hayo lo... Devin di was-was in sama calon kakak ipar!" rayu Danis kemudian tertawa bersama Lena dan Sindy.
Devin hanya acuh, seperti biasa menampilkan tatapan jengahnya hingga bel masuk berbunyi. Mereka masuk kekelas masing-masing termasuk Naya yang saat ini kembali merebahkan kepalanya dimeja.
"Putri tidur," cibir Devin pelan.
"ANAYA!!!"
Brak!
Naya terkejut, hingga spontan tangannya memegang tangan Devin saat guru bahasa Inggris memukul meja hingga ia terbangun dari tidur lelapnya.
"Cie... cie..." goda seisi kelas membuat Naya kikuk kemudian menatap guru tersebut dengan senyum cengengesan.
"Kamu lagi, kamu lagi. Lari lima putaran!" perintah guru tersebut.
Tanpa berniat beradu argumen, Naya mengacungkan jari jempolnya kemudian pergi setelah tersenyum lebar pada Lena dan Sindy.
"Huh..." keluh Naya mengusap keringatnya, ia duduk ditengah lapangan membiarkan cahaya mentari pagi menerpa kulitnya.
"Ratu hukuman!" panggil seorang pemuda yang menghampiri Naya diikuti beberapa temannya.
"Hah?" tanya Naya lelah.
"Perasaan elo mulu yang kena hukum," tegur Galih, selaku ketua tim basket sekolah.
"Lo rasa gue mulu yang kena hukum?" tanya Naya balik membuat Galih dan teman-temannya menyerngit kebingungan.
"Sinting," kekeh Galih mengulurkan tangannya yang langsung diterima oleh Naya.
Kring!!! Kring!!!
"Udah ah, gue pinjamin nih lapangan buat lo pada, jaga baik-baik!" cerocos Naya kemudian pergi.
"Gak jelas tuh cewek!" ucap Galih.
"Dia 'kan Anaya. Anaknya pemilik sekolah, kembarannya Anan." Salah satu teman Galih angkat suara.
"Oh gitu..." Galih hanya bergumam.
Tiba di kantin, Naya menghampiri teman-temannya yang memang sudah berkumpul menunggu kehadiran dirinya, mungkin.
"Hai Anan!!!" teriak Naya tepat ditelinga saudaranya.
Anan langsung menyentil hidung adiknya dengan kesal lalu mempersilahkannya untuk duduk.
"Devin mana?" tanya Danis.
"Itu Devin!" tunjuk Naya pada seorang pemuda yang berdiri didepan pintu kantin menatap ponsel ditangannya.
"Dev!" panggil Anan.
Devin menghampiri teman-temannya, ia sempat melirik Naya yang dibanjiri keringat akibat hukuman lari yang diberikan guru kelas.
"Gue ada rapat," ucap Devin singkat kemudian pergi.
Naya yang memang memiliki sifat kepo lantas melangkah lincah menyusul kepergian Devin.
"Bikin onar lagi tuh anak," ucap Sindy.
"Bikin Devin jatuh cinta kali," balas Lena diangguki Danis.
Kembali lagi pada Naya yang sadar kalau Devin tak pergi keruangan OSIS tetapi menuju taman belakang gedung utama.
Naya menghentikan langkahnya lalu menutup mulutnya rapat-rapat sembari bersembunyi dibalik dinding.
"Mereka ciuman!?"
Batin Naya kembali mengintip sepasang remaja dimana sang pemuda nampak menolak bahkan mendorong tubuh gadis itu.
"Devin! Aku cinta sam kamu, aku rela kasih semuanya kekamu asal kamu mau jadi milik aku!"
Cessy mulai menangis atas penolakan Devin pada dirinya.
"Gue nggak pernah cinta sama lo atau sama siapa pun itu!" tegas Devin lalu merapikan kembali pakaiannya.
"Kamu gini karena Naya 'kan!? Jawab aku!" Cessy berlutut di kaki Devin dan hal itu tak luput dari pandangan Naya. Katakan saja kalau Cessy tergila-gila pada Devin dan itu memang benar.
"Devin!!!" panggil Cessy memelas saat Devin pergi meninggalkannya.
Nampaknya keberuntungan tidak berpihak pada Naya, Devin mengetahui keberadaan dirinya dan langsung menariknya memasuki sebuah ruangan.
"Devin!" ucap Naya kaget.
"Hm?" tanya Devin dingin, seperti biasanya.
"Jauhin gue! Gue nggak mau jadi penyebab rusaknya hubungan lo sama Cessy!" ucap Naya membuat Devin melotot beberapa saat.
"Dan yang kalian lakuin tadi! Bener-bener bikin gue jijik!" ketus Naya menatap Devin tanpa rasa takut.
"Lo salah... faham..." ucap Devin larut dalam pikirannya sendiri.
"Naya! Lo salah fah---"
"Lepasin tangan lo dari tangan gue!" dingin Naya. Devin langsung melakukan hal itu.
"Oke! Gue bakal jauhin lo! Emang bagusnya gitu!" Devin pergi meninggalkan Naya sendiri.
Mata gadis itu terlihat berkaca-kaca dan perlahan ia mengangkat tangan mengusap pipinya.
"Nyebelin!!!"