"Anan tolong!!!"
Teriak seorang gadis dari arah dapur hingga membuat saudaranya bergegas berlari menghampiri dirinya.
"Buset! Naya!!!"
Antara bingung dan melucukan kejadian tersebut, Anan bergegas mematikan kompor yang dimana api menyala dari wajan, mengerikan.
"Naya, nggak papa!?" tanya Anan panik menatap sang adik yang bersembunyi dibawah meja.
"Hehehe..." Naya cengengesan kemudian menaruh sudip ditempat semula.
"Lo masak, serius!?" tanya Anan tak percaya.
"Mimpi apa gua tadi malam, pagi-pagi dimasakin adik tercinta," bangga Anan mencubit pipi sang adik.
"Jangan kepedean! Nay masak buat Devin," ceplos Naya kemudian mengambil tempat untuk makanan yang sudah dibuatnya, entah bagaimana rasanya.
"Masakin Devin? kok?" tanya Anan mencolek sedikit masakan sang adik yang berupa nasi goreng.
"Sebagai permintaan maaf, kemarin ada insiden. Ya gitu lah, nggak mau bahas ah!" ucap Naya kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Heh, lo suka sama Devin?" rayu Anan menaik turunkan alisnya.
"Apaan sih! Mending lo pakai baju sana!" alih Naya pada pertanyaan sang kakak.
Anan tersadar kalau ternyata ia hanya menggunakan celana pendek karena saking terkejutnya mendengar teriakan Naya.
"Sekali-kali gue pamer roti sobek ke elo, gimana? Gue idaman nggak?" tanya Anan hingga membuat Naya bergidik geli.
"Anan jangan iseng deh!" kesal Naya hendak memukul pemuda itu namun tiba-tiba ia meringis dan pandangan Anan tertuju pada beberapa goresan kecil pada tangan gadis itu.
"Kenapa nih?" tanya Anan cepat.
"Kecipratan minyak, hehehe..."
Anan geleng-geleng kepala lalu membiarkan Naya menyelesaikan tugas membuatkan makanan untuk Devin.
"Sini gue obatin, makanya lain kali kalau mau masak minjam kostumnya Ultraman atau Bima Sakti," gerutu Anan pada tindakan Naya yang terkesan membahayakan diri sendiri.
Jam sekolah pun tiba, Naya berjalan bersama Devin membawa papper bag berisi bekal makanan.
"Devin bakalan suka nggak ya?" tanya Naya membuat Anan menoleh.
"Pasti, enak gitu." Puji Anan mengusap pucuk kepala sang adik.
"Ih, elo nyicipin ya?" tuduh Naya.
"Dikit," jawab Anan seadanya.
"Nah itu Devin!" tunjuk Anan membuat Naya menoleh dan dengan senyum lebar berlari menghampiri Devin yang berjalan sendiri.
"Devin!" panggil Naya mensejajarkan langkahnya.
"Soal yang kemarin, gue minta maaf. Kalau kata-kata gue terkesan kasar dan---"
Devin mempercepat langkahnya.
"Dan gue masakin lo sesuatu!" ucap Naya sembari berdiri dihadapan Devin hingga langkah pemuda itu terhenti.
"Sogokan?"
Naya diam beberapa saat.
"Gue ikhlas! Nggak ada niat nyogok elo! Ini sebagai tanda permintaan maaf gue!" ucap Naya lagi dengan senyum semanis mungkin.
Devin diam saja membiarkan gadis itu tersenyum padanya. Di sisi lain terdapat Anan dan Sindy yang memperhatikan sembari menahan tawa.
"Terima dong!" pinta Naya mulai kesal.
"Kata Anan, ini enak!" tambah gadis itu guna meyakinkan sang pemuda.
"Terima!" cegah Naya saat Devin hendak pergi melewatinya.
"Ayo dong!" ucap Naya lagi dengan kaki yang dihentakkan beberapa kali menandakan kalau ia kesal sebab tak mendapat jawaban apapun.
"Bodo amat," singkat Devin kemudian pergi dan tentu saja Naya kembali mengejarnya sembari mengoceh tak jelas.
"Ayo ambil!"
"Ini pertama kalinya Nay masak!"
"Nasi goreng pakai telor!"
"Devin terima!!"
"Huh, nasgor ini emang nggak seenak masakan nyokap lo tapi----"
"Naya!" bentak Devin menghentikan langkahnya. Ia bergerak menarik tangan Naya menuju lorong sepi disekolah.
"Aw!"
Devin terdiam lalu melepaskan cekalannya, ia menatap beberapa hansaplas kecil yang menempel pada tangan gadis itu.
"Kenapa?" sontak Devin bertanya.
"Luka kecil, Nay 'kan masak pakai minyak panas bukan pakai es batu," kekeh Naya tak jelas membuat Devin semakin larut dalam pikirannya.
"Ayo, terima---"
"Mau lo apasih!?" tanya Devin mengambil paksa tempat makan tersebut hingga membuat Naya bertepuk tangan kegirangan.
"Yay! Langsung di mak---"
Srekkk!!!
Devin menjatuhkan tempat makan tersebut dengan sengaja hingga membuat nasi goreng buatan Naya berserakan dilantai. Ekspresi Naya langsung berubah, senyumannya luntur berganti dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Mau lo apasih?" ulang Devin sinis. "Bukannya kemarin lo minta gue buat jauhin elo?!" tanya Devin dengan tangan terkepal.
Naya berlutut memungut nasi goreng tersebut dan sesekali mengusap pipinya yang basah akibat air mata.
"Kalau nggak mau, tinggal bilang. Diluar sana masih banyak orang yang belum makan dari kemarin." Serak Naya berucap menahan isakannya.
Kepalan tangan Devin melonggar, ia diam tak berkutik membiarkan Naya memungut makanan tersebut meskipun dengan jelas ia melihat tetesan air mata Naya jatuh kelantai.
Apa yang sudah ia lakukan, Devin mulai menyesali perbuatannya. Seharusnya ia tinggal menolak, lalu pergi, bukannya malah memperkeruh keadaan.
"Maaf," ucap Devin kemudian pergi begitu saja.
Anan tiba bersama Sindy, pemuda itu langsung membantu sang adik untuk bangkit, mimik wajah Sindy terlihat sangat khawatir.
"Jangan dipikirin, Devin emang gitu," kekeh Anan menenangkan.
"Naya, mending nggak usah dekat sama Devin lagi," tambah Sindy mengusap bahu Naya.
"Nay salah ya?" tanya Naya pada Anan.
"Enggak kok, Nay nggak salah. Devin aja yang salah paham tentang maksud Nay, jangan sedih lagi, anak cantik..." puji Anan mengusap pipi Naya sembari merapikan tatanan rambut sang adik.
"Kita masuk kelas yuk? Lena udah nungguin," ajak Sindy dan mereka pun pergi.