Tak lama kemudian, bel istirahat berbunyi. Naya menoleh kesamping, sedari tadi ia hanya diam sebab teman sebangkunya sedang tak ada. Yap, Devin sedang melakukan rapat bersama anggota OSIS lainnya.
"Kantin yuk!" ajak Lena semangat begitu pun Sindy. Mereka pun berjalan bersama menuju kantin dan ternyata Anan, Danis dan juga Devin sudah menunggu disana.
Naya tersenyum girang, tiba-tiba senyumnya kembali luntur antara harus menyapa Devin atau tidak. Dan Naya memutuskan untuk...
"HAI!!--"
Byursss!!
Naya memejamkan mata saat semburan dari Devin yang terkejut akibat sapaannya membasahi wajahnya.
"Hahaha! Lucu banget sih!" tawa Anan pecah begitu pun Danis.
"Santai, santai..." kekeh Naya kemudian duduk disamping Devin.
"Liat deh," tunjuk Lena pada layar ponsel kepada teman-temannya.
"Baru-baru ini, polisi setempat berhasil menemukan markas perdagangan manusia di Dermaga Kota *****. Menurut pihak kepolisian, ada seorang hacker yang menjadi dalang dibalik terbongkarnya sindikat tersebut. Selaku kepolisian dan beberapa pihak mengucapkan terimakasih---"
"Sama -sama," ucap Naya memotong ucapan Sindy yang membaca sebuah berita lewat ponsel milik Lena.
"Pede amat," cibir Danis masih melanjutkan membaca berita tersebut.
"Nih ya, masa situs perdagangan nggak digembok, dibiarin terbuka. Anak kecil juga bisa nge-akses!" tegas Naya dengan santainya menusuk siomay milik Devin lalu memakannya.
"Nay, lo serius?" tanya Anan tak percaya.
Naya diam sejenak kemudian tertawa. "Hahaha! Enggak lah! Gue cuma bercanda!" jawab Naya diakhiri tawa kecil.
Devin menoleh saat Naya hampir menghabiskan makanannya.
"Devin, lo tinggal dimana?"
Nada gadis itu terdengar begitu menggemaskan bagi seorang Devin.
"Bumi," jawab Devin singkat berhasil mengundang gelak tawa teman-temannya.
"Heh, Nay nanya serius! Dirumah sendiri, apa kost-kost an, atau apartemen mungkin?" tanya Naya dengan polosnya.
"Emang mau ngapain?" tanya Sindy memastikan.
"Dev, gue boleh main nggak keru---"
"Enggak."
"Boleh ya!" ucap Naya cepat.
Lagi-lagi perdebatan kecil terjadi diantara Naya dan Devin.
"Anan, Nay boleh main kerumah Devin?" tanya Naya pada saudaranya.
"Boleh aja, siapa tau Devin butuh pembantu, iya kan?" tanya Anan pada Danis dan mereka pun melakukan high five kemudian tertawa.
"Boleh ya!?" pinta Naya pada Devin.
"Enggak, gue bilang enggak ya---"
"Am...." celah Naya memasukkan siomay kemulut Devin.
"Nay boleh main kerumah Devin?" tanya Naya lagi.
Devin mengangguk perlahan sembari mengunyah siomaynya.
"Yey! Nanti pulang bareng ya! Okey!?"
Bak terhipnotis, lagi-lagi Devin mengangguk kemudian pergi begitu saja meninggalkan Naya dan yang lain.
"Yakin Nay?" tanya Sindy diikuti Lena.
"Yakin dong! Pokoknya Anaya Syella Samdrick bakalan runtuhin tembok esnya Devin! Camkan itu!" tekat Naya percaya diri hingga membuat Lisa, sang kepala sekolah yang kebetulan lewat tertawa sendiri.
Tak terasa jam pulang sekolah tiba. Naya berdiri didepan kelas menunggu Devin yang masih memasukkan alat tulisnya kedalam tas.
"Ayo!" ucap Naya semangat.
"Dah Lena, dah Sindy!" lambai Naya pada dua temannya yang nampak khawatir.
"Jadi, lo tinggal dimana?" tanya Naya saat diperjalanan menuju parkiran.
"Sama orang tua atau sen---"
"Berisik, pakai helm. Buruan!"
Naya membatin memaki Devin saat pemuda itu menyodorkan helm padanya.
"Ini gimana sih?" tanya Naya polos.
Devin berdecak kemudian memakaikan helm pada Naya hingga membuat beberapa siswa terperagah.
"So switt!!!" ucap Naya lalu naik kemotor.
Naya melambaikan tangan pada Anan yang tengah bersantai bersama satpam sekolah, namun mereka malah tertawa.
"Kenapa sih?" tanya Naya pada dirinya sendiri saat beberapa pengendara nampak tertawa melihat kearahnya. Hingga tiba dilampu merah.
"Cantik, cantik sinting..." ucap salah seorang pengendara.
Devin pun merasakan hal yang sama dengan Naya hingga ia memutuskan untuk mengarahkan spion padanya.
"Bhaks!!" tawa Devin pecah menatap ekspresi wajah Naya.
"Kok bisa!?" ucap Devin kemudian menepi lalu turun dari motor diikuti Naya.
"Helm gue!" kaget Naya antara malu dan lucu, ia tertawa bersama Devin ditepi jalan. Mungkin ini adalah kejadian langka dimana Devin tertawa bersama seorang gadis akibat tingkah lucu gadis itu.
"Pantesan Anan sama satpam ketawa," gerutu Naya dengan wajah memerah saat Devin kembali memasangkan helm dengan benar.
Bagaimana tidak, karena ketidakpekaannya Devin yang terburu-buru memakaikan helm pada Naya, maka kaca helm berada dibelakang sedangkan wajah Naya terlihat bulat sebab yang dibelakang terpasang didepan.
Mereka melanjutkan perjalanan hingga motor berhenti didepan gedung sebuah apartemen mewah. Naya diam sejenak bahkan tak menyangka kalau Devin melepaskan helm untuknya. Dan soal helm, Devin meminjam milik salah satu anggota OSIS cuma-cuma untuk Naya seorang.
"Jadi lo tinggal di apartemen?" tanya Naya saat mereka berdua berjalan menuju lift.
"Hm," jawab Devin dingin.
"Sendiri atau sama orang tua? Saudara?" tanya Naya lagi.
Mereka memasuki lift dan Devin memencet nomer lima tanpa menghiraukan pertanyaan Naya. Setelah keduanya keluar dari lift, Devin berhenti didepan sebuah pintu kemudian memencet beberapa angka dan pintu pun terbuka.
"AYO MASUK! Anggap aja apart sendiri!" ajak Naya nyelonong masuk hingga Devin berdecak, bukan kah ini memang apartemennya, dasar Naya.
"Lo tinggal sendiri?" tanya Naya yang sudah bersantai duduk disofa kemudian menyalakan televisi.
"Buta mata lo?" tanya Devin balik.
Naya cengengesan dan kemudian hal yang tak terduga pun terjadi.
"Toilet dimana?" tanya Naya. Devin menunjukkan tempat tersebut dan Naya langsung berlari sembari memegang perutnya.
Beberapa saat kemudian, Devin memberanikan diri mengetuk pintu sebab Naya tak kunjung keluar.
"Naya?" panggil Devin.
Naya membuka pintu, menyembulkan kepalanya dengan ekspresi sulit diartikan.
"Devin punya... em.... pembalut?"
Dengan wajah memerah Naya melontarkan pertanyaan aneh hingga Devin melotot padanya.
"Pem----"
"Hiks... tolongin Nay..." pinta Naya dengan wajah menyedihkan.
"Bentar, maksud lo?" tanya Devin masih tak mengerti.
"Beliin pembalut..." cicit Naya nyaris tanpa suara.
"Hell... enggak! Gue nggak mau!" tegas Devin menolak sembari melipat tangannya didada.
"Devin jahat..." racau Naya dengan wajah memerah menahan tangis dan malu.
"Telponin Anan aja, kalau gitu..." rengek Naya.
"Gue nggak punya nomer Anan."
Naya menganga lebar, ia juga lupa membawa hp. Lalu bagaimana, gadis itu kembali terisak menggigit bibirnya sendiri.
"Iya! Iya!"
Devin angkat bicara membuat Naya dapat bernapas lega kemudian tersenyum padanya.
"Makasih, es cream juga ya!" ucap gadis itu sebelum menutup pintu lalu menguncinya.
Devin membuang napas gusar kemudian mengambil jaket dan pergi meninggalkan Naya sendirian di apartemennya. Lagi-lagi hal tersebut adalah kejadian pertama bagi Devin, seorang gadis masuk ke apartemennya.