Hampir sepuluh menit, Devin berdiri memandangi benda-benda yang tak ia mengerti. Beberapa pengunjung supermarket bahkan menatapnya dengan tatapan bingung.
"Mas? ada yang bisa saya bantu?" tanya salah seorang pegawai setelah cukup lama memperhatikan Devin.
"Pem... balut?" ucap Devin ragu.
"Iya benar, yang pakai sayap apa enggak?" tanya pegawai wanita itu.
Argh, Devin kembali berpikir.
"Naya 'kan bukan bidadari, jadi dia nggak punya sayap. Tapi kalau gue beli yang nggak pakai sayap nanti dia cerewet, alasan pakai sayap biar bisa terbang, sial!"
"Dua duanya!" tegas Devin mantap.
"Baik, bisa temui saya di kasir," ucap wanita itu kemudian tersenyum.
Beberapa saat kemudian, Devin menatap kresek berwarna putih yang menggantung dimotornya.
"Naya..." ucapnya dengan penuh kekesalan luar biasa.
Setibanya di apartemen.
"Buset, banyak banget. Devin lagi dapet juga?" tanya Naya polos saat Devin melempar kresek tersebut kearahnya.
"Berisik!" singkat Devin kemudian pergi.
Devin duduk disofa menatap layar televisi yang menyala. Hingga Naya tiba, ia hanya diam membiarkan gadis itu duduk disampingnya dengan tatapan lugu.
"Es creamnya mana?" tanya Naya menadahkan tangan.
Devin melupakan itu!
"Lupa ya?" tanya Naya pelan.
"Sorry." Hanya itu yang keluar dari mulut Devin.
"Makasih ya, udah beliin pem---"
"Sttt..." potong Devin enggan mendengar celotehan Naya.
Devin menatap jam dinding yang menunjukkan pukul enam sore, samar-samar suara perut dari gadis disampingnya terdengar. Naya mengalihkan pandangannya sambil memegang perut. Devin pun bangkit melangkah menuju dapur, tentu saja Naya mengikuti.
"Lo bisa masak!?" tanya Naya antusias saat Devin menyiapkan beberapa bahan masakan.
"Orang tua lo kemana?"
Ting!!
Pisau yang dipegang Devin jatuh kelantai.
"Jangan tanya itu lagi," ucap Devin mengambil pisau yang terjatuh.
"Maaf," cicit Naya pelan.
Tak butuh waktu lama, dua buah piring berada diatas meja makan. Naya tersenyum lebar kemudian mengambil sendok.
"Ini boleh dimakan?" tanya Naya menatap sup buatan Devin.
"Hm," jawab Devin makan lebih dulu.
"ENAK BANGET!!!" puji Naya jujur.
"Boleh nambah 'kan!? Huh... coba aja lo nyobain masakan gue, kata Anan sih enak!" cerocos Naya hingga aktivitas makan Devin terhenti.
"Kok berhenti?" tanya Naya menatap Devin yang juga tengah menatapnya.
"Gue udah kenyang," dingin Devin kemudian pergi begitu saja masuk kedalam sebuah ruangan yang Naya yakini adalah kamar Devin.
Naya menyusul masih dengan mulut mengunyah makanan.
"Devin tung----"
Bruk!
Hampir saja Naya terjatuh saat hendak mendobrak pintu, untung saja Devin menahannya dan begitu terkejutnya Naya menatap seisi kamar Devin yang seperti galery seni.
"Ini semua lukisan lo?" tanya Naya terkagum-kagum.
"Keluar," perintah Devin, namun Naya menolak dan bahkan duduk santai disalah satu kursi dengan kaki menjuntai yang diayunkan.
Devin berdecak, tak ada gunanya bicara dengan Naya, sudah pasti gadis itu tak mematuhi perintahnya.
"Gue mau mandi, lo mau ikut?"
"Ma---"
Naya menutup wajahnya dengan dua telapak tangan.
"Yaudah kalau mau mandi, ya mandi! Nggak usah ngajak-ngajak!" telak Naya membuat sudut bibir Devin terangkat.
"Dasar siomay m***m!" cibir Naya namun Devin masih bisa mendengarnya.
"Anak tikus," balas Devin setelah masuk kekamar mandi.
Naya diam saja kembali mengedarkan pandangannya, sesekali ia menyentuh beberapa lukisan diruangan tersebut hingga tangannya berhenti pada sebuah album foto. Naya menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup kemudian memberanikan diri membuka album tersebut.
"Ini Devin waktu kecil? lucu banget..."
"Privasi!"
Devin mengambil paksa album tersebut kemudian menaruhnya didalam lemari. Naya diam tak berkutik saat aroma maskulin pemuda itu menyeruak masuk kedalam indera penciumannya.
"Heh!" tegur Devin membuyarkan lamunan Naya.
Rambut pemuda itu masih terlihat basah dengan kaos lengan pendek dan celana santai yang membuat Naya semakin jatuh dalam pesona seorang Devin.
"Devin, ganteng banget sih!" puji Naya tanpa berpikir panjang hingga Devin terdiam menatap gadis itu.
"Huh... gue bosan, minjam HP lo dong!" Naya menadahkan tangannya, Devin langsung memberikan sebelum Naya nyerocos tanpa henti.
"Passwordnya?" tanya Naya.
Devin membuka sandi tersebut dan kembali menyerahkannya pada Naya. Naya membuka aplikasi sosial media milik Devin kemudian menambahkan nomer dan juga ID/Line nya.
"Ngapain sih?" tanya Devin duduk disamping gadis itu.
"Nambahin nomer gue, siapa tau lo kangen," ucap Naya garing.
Naya menghubungi nomernya lewat ponsel Devin dan beberapa detik kemudian panggilan terhubung.
"Hai Anan!!!" heboh Naya.
"Duh ketahuan deh gue main game di hp lo!"
Balas Anan dari seberang sana.
"Anan, liat Devin deh!" Naya mengarahkan layar ponsel pada Devin dimana hanya tatapan acuh yang ditampilkan pemuda itu.
"Buset, Dev. Kaku amat kayak tiang listrik!"
Anan tertawa begitu pun Naya.
"Kapan pulang?"
Anan bertanya kemudian Naya menyerahkan ponsel tersebut pada Devin. Gadis itu pergi meninggalkan kamar menandakan ia tak ingin pulang untuk sekarang ini.
"Nanti gue antar, dia udah makan." Devin bersuara dan Anan hanya mengangguk mengiyakan.
"Dev, kalian nggak ngapa-ngapain 'kan?"
Devin menatap Anan dengan tatapan sulit diartikan.
"Jhahahaha! Bercanda! Gue percaya kok sama lo, yaudah telponnya gue matiin. Ganggu main game aja, dah Devin muach---"
TUT!
Devin lebih dulu mematikan panggilan tersebut. Ia menaruh ponselnya dan kembali terdiam sembari mengusap wajah.